Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Salat yang Tidak Diterima: Mengapa Al-Qur'an dan Sunnah Menekankan Khusyuk

Surah al-Mu'minun mengawali daftar orang-orang yang beruntung dengan kekhusyukan dalam salat, bukan dengan jumlah rakaat — dan sebuah riwayat dalam Musannaf Ibnu Abi Syaibah menyebutkan bahwa seseorang bisa saja salat selama enam puluh tahun tanpa satu pun yang diterima. Inilah penjelasan Al-Qur'an dan Sunnah tentang perbedaan antara salat yang sekadar sah dan salat yang benar-benar diterima.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Lima kali sehari, seorang mukmin berdiri, rukuk, dan sujud dalam urutan gerakan yang sama persis dengan yang dikenali oleh para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bentuk lahiriah dari salat bukanlah hal yang sulit — gerakan ini bisa dipelajari sejak kecil dan diulang seumur hidup tanpa ada satu pun kesalahan. Namun, hal yang terus ditekankan oleh Al-Qur’an dan Sunnah adalah sesuatu yang tidak bisa dijamin hanya dengan gerakan fisik semata: khusyuk, yaitu hadirnya hati di dalam setiap gerakan tubuh. Kedua sumber ini tidak menganggap hilangnya khusyuk sebagai kekurangan kecil. Keduanya justru menggambarkannya sebagai penentu antara salat yang sekadar sah secara fikih dan salat yang benar-benar diterima oleh Allah.

Allah mengawali Surah al-Mu’minun dengan daftar orang-orang yang benar-benar beruntung — bukan mereka yang paling banyak salatnya, melainkan mereka yang salat dalam keadaan tertentu:

قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَـٰشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.”

Surah al-Mu’minun, 23:1–2

Itulah ciri pertama dari orang-orang mukmin yang Allah sebutkan dalam surah ini, mendahului semua amal baik lain yang dipuji dalam daftar tersebut — seperti menjaga kemaluan, memelihara amanah, dan menjauhkan diri dari perkataan yang sia-sia. Daftar yang sama ditutup, sembilan ayat kemudian, dengan menyebutkan mereka yang memelihara salatnya. Jadi, ibadah salat membingkai keseluruhan ayat ini dari awal hingga akhir. Namun, perhatikan apa yang sebenarnya disebutkan di kedua ujungnya. Daftar ini dibuka dengan khusyuk, sebuah gambaran tentang kondisi hati, bukan dengan jumlah rakaat atau berapa tahun seseorang telah mendirikan salat. Menyempurnakan rukun-rukun lahiriah salat bukanlah hal yang membuat seseorang masuk ke dalam daftar ini. Menyempurnakannya dengan hati yang hadir, itulah kuncinya.

Jika khusyuk adalah hasil otomatis dari salat yang rutin, Sunnah tentu tidak perlu memperingatkan siapa pun tentang kehilangannya. Namun, peringatan itu ada, dan sangat spesifik:

أَوَّلُ شَيْءٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى لَا تَرَى فِيهَا خَاشِعًا

“Sesuatu yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyuk, sampai-sampai engkau tidak akan melihat seorang pun yang khusyuk di dalamnya.”

— diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, dikeluarkan oleh at-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dicatat oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id, halaman cetak 2/136 dari kitab , yang menilai sanadnya hasan.

Segala aspek lain dari kehidupan beragama suatu masyarakat bisa tampak utuh, sementara satu hal ini diam-diam menghilang. Masjid-masjid tetap penuh, saf-saf tetap lurus, dan jumlah rakaat masih dihitung dengan benar. Apa yang pertama kali lenyap tidak terlihat dari luar — yaitu kondisi hati orang-orang yang berdiri di dalam saf tersebut — dan justru karena itulah khusyuk harus disebut dan dijaga, bukan sekadar dianggap akan muncul dengan sendirinya.

Pernyataan paling jelas tentang apa yang sebenarnya menjadi taruhan terdapat dalam Musannaf Ibnu Abi Syaibah, di mana Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ، وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ

“Sesungguhnya ada seseorang yang salat selama enam puluh tahun, namun tidak satu pun salatnya diterima — mungkin ia menyempurnakan rukuknya tetapi tidak menyempurnakan sujudnya, atau ia menyempurnakan sujudnya tetapi tidak menyempurnakan rukuknya.”

— halaman cetak 1/257 dari .

Bacalah riwayat tersebut dengan saksama. Orang dalam riwayat ini tidak meninggalkan salat, ia juga tidak terburu-buru di tengah rakaat atau meninggalkan salah satu rukunnya. Ia menyempurnakan rukuk, menyempurnakan sujud — secara fikih lahiriah, salatnya sah selama enam puluh tahun — namun riwayat tersebut tetap menyatakan bahwa tidak ada satu pun salatnya yang diterima. Kecacatannya bukan sekadar pada gerakan fisiknya. Kecacatannya terletak pada apa yang menyertai, atau gagal menyertai, anggota tubuhnya saat bergerak.

Celah antara salat yang sah dan salat yang diterima itulah tempat di mana khusyuk berada. Sebuah salat bisa saja memenuhi setiap syarat yang akan diperiksa oleh seorang ahli fikih, namun tetap kehilangan satu hal yang sebenarnya diminta oleh ayat yang membuka tulisan ini.

Kita mungkin tergoda untuk membaca riwayat tersebut sebagai kasus ekstrem — kegagalan orang lain, bukan risiko nyata bagi seseorang yang sudah salat lima waktu sehari, tepat waktu, tanpa pernah meninggalkan yang fardu. Namun, riwayat itu tidak sedang menggambarkan kelalaian. Riwayat itu menggambarkan konsistensi tanpa kehadiran hati, sebuah jebakan yang jauh lebih lumrah terjadi daripada meninggalkan salat sama sekali.

Naluri yang sama — untuk menargetkan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar batas minimum yang menggugurkan kewajiban — terlihat dari bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabatnya untuk meminta surga kepada Allah:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan surga yang paling tinggi — di atasnya, aku kira, terdapat Arasy Sang Maha Pengasih, dan darinya memancar sungai-sungai surga.”

— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 4/16 dari .

Instruksinya bukanlah “tingkatan surga mana pun tidak masalah.” Instruksinya adalah: kejarlah yang terbaik dengan sungguh-sungguh, alih-alih puas dengan apa pun yang bisa didapat dari permintaan yang paling minimal. Salat menuntut sikap yang sama. Memenuhi syarat-syarat lahiriahnya adalah batas bawah yang wajib dipenuhi oleh seorang muslim, bukan batas atas yang layak dijadikan tujuan. Hati yang benar-benar hadir — yang menyadari di hadapan Siapa ia berdiri, dan menghayatinya dalam setiap bacaan serta doa, bukan sekadar bergerak karena kebiasaan — inilah yang mengubah salat yang sah menjadi salat yang diterima.

Tentu ada rasa syukur yang nyata ketika seseorang berhasil mencapai titik di mana ia bisa salat tepat waktu, lima kali sehari, tanpa meninggalkan yang fardu — terutama bagi siapa saja yang ingat masa-masa ketika mereka belum bisa melakukannya. Rasa syukur itu sangat beralasan dan patut diungkapkan. Namun, hal itu menjawab pertanyaan yang berbeda dari apa yang dituntut oleh khusyuk. “Saya sudah salat” dan “Hati saya hadir saat saya salat” bukanlah dua pernyataan yang sama, dan menganggap yang pertama sudah otomatis menyelesaikan yang kedua adalah titik di mana salat enam puluh tahun dalam riwayat di atas menjadi sia-sia.

Seseorang bisa saja sangat tulus merasa puas dengan pemikiran “setidaknya saya sudah salat”, namun ia tetap keliru karena menganggap fondasi sebagai keseluruhan bangunan. Kewajiban lahiriah salat memang benar-benar terpenuhi dengan hadir, berdiri, dan melakukan rukun-rukunnya dengan benar — syariat tidak meminta siapa pun untuk membuktikan di mana letak hati mereka sebelum menganggap sebuah salat itu sah. Namun, sah dan diterima bukanlah dua kata yang bersinonim, dan merasa puas dengan yang pertama sambil berasumsi bahwa itu otomatis menghasilkan yang kedua adalah celah yang telah dijelaskan di sepanjang tulisan ini.

Semua ini tidak lantas menjadikan khusyuk sebagai kondisi langka yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang. Hal ini justru menjadikannya sebagai tujuan utama dari perintah salat, yang patut dijaga dengan sungguh-sungguh sebagaimana syarat-syarat salat lainnya — dimulai dari hal-hal mendasar yang memungkinkan hadirnya hati sejak awal: mengetahui waktu yang tepat, tidak terengah-engah karena azan berkumandang saat Anda belum bersiap, dan berdiri untuk salat tanpa membiarkan pikiran Anda sudah melayang ke pekerjaan berikutnya. QG Prayer hadir tepat untuk lapisan pertama tersebut — menyediakan waktu salat yang akurat dan pengingat di mana pun Anda berada — sehingga pada saat Anda mengucapkan takbiratulihram, satu-satunya hal yang tersisa untuk dibawa hanyalah hati Anda.

Allah tidak meminta jumlah rakaat. Dia meminta seorang mukmin yang khusyuk di dalamnya. Semoga Dia menjadikan kita bagian dari mereka, dan mengampuni salat-salat yang kita kerjakan secara otomatis sebelum kita memahami perbedaannya.