Reflections
Sepuluh Tahun Tanpa Kata Kasar: Akhlak yang Disaksikan oleh Keluarganya
Anas bin Malik melayani beliau selama sepuluh tahun dan tidak pernah sekali pun mendengar teguran. Ketika diminta untuk menggambarkan sosok beliau, ʿAisyah menunjuk pada Al-Qur'an itu sendiri. Inilah kesaksian dari orang-orang terdekat Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) — mereka yang paling sering berinteraksi dan paling berpeluang melihat kekurangannya.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Menjelang usia paruh baya, Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah memakamkan kedua orang tuanya, kakeknya, istri pertamanya, paman yang melindunginya, dan—sebelum akhir hayat beliau sendiri—seluruh anaknya kecuali satu. Beliau dicemooh, dilempari batu hingga terusir dari sebuah kota, dan diperangi oleh orang-orang yang dulunya menggelari beliau sebagai sosok yang dapat dipercaya. Semua itu bukanlah hal yang diperdebatkan; itu adalah garis besar kehidupan beliau yang sudah jelas. Yang patut ditanyakan adalah hal yang lebih spesifik: bukan tentang apa yang menimpa beliau, melainkan apa yang sebenarnya dikatakan oleh orang-orang terdekatnya—mereka yang menghabiskan paling banyak waktu bersamanya dan paling tidak punya alasan untuk menyanjungnya—tentang siapa beliau yang sesungguhnya.
Karakter adalah hal yang paling mudah dipalsukan di depan khalayak, namun paling sulit disembunyikan dari seorang pelayan. Seorang pelayan melihat wajah lelah di pagi hari, waktu makan yang terganggu, dan momen-momen ketika tidak ada tamu yang perlu dibuat terkesan. Oleh karena itu, saksi yang paling kritis untuk dihadirkan bukanlah pengagum dari kejauhan—melainkan orang yang menghabiskan waktu satu dekade mengurus pekerjaan rumah tangganya.
Anas bin Malik diserahkan oleh ibunya untuk melayani Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sejak masih anak-anak, dan ia menjalani peran tersebut selama sepuluh tahun—menjalankan suruhan, mengambil air, beserta segala kesalahan kecil sehari-hari yang wajar dilakukan oleh seorang anak. Jika rasa kesal pernah muncul terhadap seseorang, biasanya itu akan dilampiaskan kepada orang yang memang posisinya harus menerimanya. Di masa tuanya, ketika ditanya seperti apa sebenarnya sepuluh tahun tersebut, Anas tidak menggambarkan suasana rumah tangga yang penuh tuntutan. Ia berkata:
“Aku melayani Rasulullah selama sepuluh tahun, dan demi Allah, beliau tidak pernah sekali pun berkata ‘ah’ kepadaku, tidak pula beliau pernah mengomentari sesuatu yang aku kerjakan dengan, ‘Mengapa engkau melakukan itu?’ atau pada sesuatu yang tidak aku kerjakan dengan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?‘”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 5/2245 dari kitab . Kata “ah” (uff) adalah bentuk keluhan paling ringan dalam bahasa Arab—kata yang sama yang dilarang oleh Al-Qur’an untuk diucapkan seorang anak kepada orang tua yang sudah renta (17:23) karena ketus sekecil itu pun tidak pantas diucapkan kepada mereka. Anas tidak sedang mengklaim bahwa pelayanannya tanpa cela. Ia bersaksi bahwa sepuluh tahun telah memberi Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) ribuan celah kecil untuk melontarkan satu suku kata kekesalan itu, namun tak satu pun yang beliau ucapkan.
Jika seorang pelayan melihat wajah lelah di pagi hari, seorang istri melihat malam-malam ketika tidak ada orang lain sama sekali. Beberapa dekade setelah wafatnya Nabi, seorang pria bernama Sa’ad bin Hisyam pergi ke Madinah karena ingin tahu bagaimana Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendirikan shalat malam, dan ia diberi tahu bahwa tidak ada seorang pun di muka bumi yang lebih mengetahuinya selain ʿAisyah. Ia pun langsung menemuinya. Bahkan sebelum sempat bertanya tentang shalat malam, ia mengajukan pertanyaan yang lebih luas terlebih dahulu: “Ceritakan kepadaku tentang akhlak Rasulullah.” Jawaban ʿAisyah tidak menceritakan sebuah kejadian. Ia justru menjawab dengan sebuah pertanyaan:
“Tidakkah engkau membaca Al-Qur’an? … Akhlak Nabi Allah adalah Al-Qur’an.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 1/512 dari kitab . Ia tidak sedang mencari-cari pujian. Sebagai saksi paling privat di keluarganya, ketika diminta untuk merangkum kehidupan yang telah ia amati dari jarak yang lebih dekat daripada siapa pun yang masih hidup, ia sama sekali tidak menggunakan anekdot, melainkan menunjuk pada standar yang ditetapkan oleh Al-Qur’an itu sendiri—kasih sayang, kesabaran, kejujuran, menahan amarah, menepati janji—dan seolah mengatakan bahwa halaman mana pun yang Anda buka, halaman itu juga merupakan gambaran dari sosok beliau.
Gambaran tersebut bukan sekadar penghormatan pribadi yang dicatat beberapa generasi kemudian. Hal itu tercantum di dalam Al-Qur’an itu sendiri, pada salah satu surah yang paling awal diturunkan, di saat para penentangnya di Makkah menyebut beliau gila. Alih-alih hanya menjawab tuduhan itu dengan bantahan, Surah Al-Qalam menjawabnya dengan sebuah pernyataan tentang akhlak beliau yang kelak akan diulangi kata demi kata oleh keluarganya sendiri:
﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (68:4)
Orang-orang yang paling berambisi untuk menjatuhkan reputasi beliau pada saat itu punya segala alasan untuk mencari dan menyebarluaskan satu saja kesalahan—luapan amarah, janji yang diingkari, atau kekejaman terhadap bawahan. Tak satu pun tuduhan yang tersisa dari masa itu yang menyiratkan hal tersebut. Kesenjangan antara tuduhan yang benar-benar dilontarkan kepada beliau dan tuduhan yang tidak pernah ada, dengan sendirinya merupakan sebuah kesaksian, dan hal ini sejalan persis dengan apa yang kelak dikatakan oleh Anas dan ʿAisyah dari dalam rumah.
Semua ini tidak menunjukkan sosok pria yang sedang berpura-pura sabar di depan penonton, karena karakter yang sama juga muncul di satu situasi yang sama sekali tidak ada penontonnya. ʿAisyah, saat melanjutkan percakapan yang sama dengan Sa’ad bin Hisyam, kemudian menceritakan bagaimana Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendirikan shalat ketika semua orang di rumah sudah tertidur—rakaat yang panjang dan tidak terburu-buru, malam demi malam, tanpa ada yang melihat. Di riwayat lain, ʿAisyah jugalah yang melaporkan apa yang beliau katakan ketika ia akhirnya bertanya mengapa beliau memaksakan diri sekeras itu, berdiri hingga kakinya bengkak, padahal beliau sudah diberi tahu bahwa dosa-dosanya telah diampuni:
“Beliau ditanya, ‘Mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?‘”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 1/380 dari kitab . Bandingkan jawaban tersebut dengan pembuka tulisan ini—kehilangan orang tua sebelum beliau bisa mengingat mereka, menguburkan istri dan paman dalam tahun yang sama, serta ditinggal mati oleh anak-anaknya satu demi satu. Seorang pria dengan begitu banyak alasan untuk merasa getir justru memilih, di saat-saat yang tidak disaksikan siapa pun, untuk memosisikan dirinya sebagai hamba yang berutang rasa syukur, alih-alih merasa dunia berutang maaf kepadanya. Itu bukanlah suasana hati yang lahir dari keadaan yang serba baik. Itu adalah sebuah karakter yang tetap kokoh tak peduli seperti apa pun keadaannya.
Tak satu pun dari ketiga saksi ini yang berusaha menyusun sebuah pembelaan. Seorang pelayan yang mengenang satu dekade pekerjaan rumahnya, seorang istri yang menjawab pertanyaan lugas, sebuah kitab suci yang membela diri dari hinaan—tak satu pun dari mereka sedang merangkai sebuah argumen. Mereka sekadar melaporkan apa yang benar-benar mereka lihat, dari posisi yang tidak mungkin tersentuh oleh sanjungan palsu. Hal itu jauh lebih berharga daripada sebuah sanjungan yang ditulis oleh seseorang yang mencari keuntungan dari memujinya.
Jika direnungkan, hal ini juga merupakan standar yang lebih berat daripada yang diterapkan oleh kebanyakan dari kita pada diri sendiri. Hanya sedikit dari kita yang diuji dengan persekusi publik; namun hampir semua dari kita diuji oleh orang yang menyajikan kopi untuk kita, atau oleh siapa pun yang berada paling dekat dengan kita saat kita sedang lelah. Shalawat—memohon kepada Allah agar melimpahkan rahmat kepada beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam)—bukanlah sekadar kalimat yang diucapkan dengan cepat setelah menyebut nama beliau. Jika diucapkan dengan penuh penghayatan, shalawat adalah cara untuk meresapi karakter tersebut di dalam pikiran kita cukup lama hingga kita bisa mengukur diri dengannya, tepat di situasi-situasi ketika tidak ada orang lain yang melihat. Koleksi Adzkar di Quran Gallery memuat bacaan sahih untuk shalawat dan untuk rasa syukur yang beliau contohkan dalam ibadah pribadinya—sebuah tempat untuk mulai mempraktikkan keduanya.