Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Surah Al-Mulk Mengubah Segalanya Menjadi Bukti

Surah Al-Mulk menghabiskan tiga puluh ayat untuk membangun satu argumen dari kedaulatan, presisi, peringatan, dan kepakan sayap burung. Sebuah pembacaan mendalam atas bukti-bukti yang ditawarkannya, ayat demi ayat.

Penulis
Tim Quran Gallery
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 9 menit

Seekor burung menyeimbangkan diri melawan angin dan mempertahankan ketinggiannya tanpa motor penggerak sayap, komputer penerbangan, atau satu otot pun yang bisa Anda tunjuk dan anggap cukup untuk melakukan tugas tersebut. Perhatikanlah cukup lama, dan pertanyaannya bukan lagi sekadar tentang aerodinamika. Surah Al-Mulk, surah keenam puluh tujuh dalam Al-Qur’an, menanyakan hal yang sama persis pada ayat kesembilan belasnya — dan ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti dalam sebuah argumen yang jauh lebih besar.

Surah ini terdiri dari tiga puluh ayat, cukup pendek untuk dibaca dalam beberapa menit, dan setiap ayatnya melakukan tugas yang sama: membangun bukti untuk satu klaim yang ditegaskan pada baris pertama. Kekuasaan — al-mulk (ٱلْمُلْكُ), kedaulatan dan kepemilikan mutlak — hanyalah milik Allah semata. Apa yang dijabarkan setelahnya bukanlah sekadar hiasan untuk memperindah klaim tersebut. Itu adalah argumennya itu sendiri, yang disampaikan melalui penciptaan, kematian, api, burung, dan air, secara berurutan.

تَبَـٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

— Surah Al-Mulk, 67:1

Surah ini dibuka dengan sebuah vonis, bukan pengantar menuju vonis tersebut. Kekuasaan tidak dibagi, didelegasikan, atau diperebutkan — kekuasaan sepenuhnya berada di satu tangan. Segala sesuatu yang ada, di dunia ini maupun di luarnya, dimiliki dan diatur oleh otoritas yang sama yang membuka surah ini.

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.

— Surah Al-Mulk, 67:2

Perhatikan kata yang dipilih oleh ayat ini: lebih baik, bukan lebih banyak. Ujiannya bukanlah siapa yang mengumpulkan volume salat, sedekah, atau tilawah terbanyak — melainkan siapa yang beramal dengan paling ikhlas dan tepat. Seorang mukmin yang beramal sedikit namun dengan hati yang tenang dan niat yang benar telah lulus ujian, sementara mukmin yang beramal banyak namun asal-asalan justru gagal. Perbedaan ini patut kita renungkan sejenak sebelum melangkah lebih jauh ke dalam surah ini, karena semua ayat setelahnya berasumsi bahwa kita telah memahami apa tolok ukur dari kata “lebih baik” tersebut.

ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَـٰنِ مِن تَفَـٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?

— Surah Al-Mulk, 67:3

ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Kemudian pandanglah sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan pandangan itu dalam keadaan letih.

— Surah Al-Mulk, 67:4

Ayat ini tidak sekadar menegaskan bahwa penciptaan itu tanpa cacat. Ayat ini memberikan sebuah instruksi — lihatlah sekali lagi — dan kemudian instruksi kedua, pandanglah sekali lagi (dan) sekali lagi. Klaim ini sengaja dibuat agar bisa diuji kebenarannya: pergilah dan cobalah cari celah, retakan, atau ketidakkonsistenan. Kata bahasa Arab untuk retakan tersebut, fuṭūr (فُطُورٍ), berasal dari akar kata yang sama yang digunakan di bagian lain dalam Al-Qur’an untuk menyebut retakan atau patahan pada sesuatu yang seharusnya utuh. Ajakan ini bukanlah sekadar retorika. Ini adalah tantangan terbuka yang masih bisa dijawab oleh pengamat mana pun, di abad mana pun, cukup dengan melangkah ke luar dan menatap ke langit.

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

— Surah Al-Mulk, 67:6

إِذَآ أُلْقُوا۟ فِيهَا سَمِعُوا۟ لَهَا شَهِيقًا وَهِىَ تَفُورُ

Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak,

— Surah Al-Mulk, 67:7

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلْغَيْظِ ۖ كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?”

— Surah Al-Mulk, 67:8

قَالُوا۟ بَلَىٰ قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ كَبِيرٍ

Mereka menjawab, “Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar.”

— Surah Al-Mulk, 67:9

Hal yang paling menonjol dalam percakapan ini adalah urutan peristiwanya. Sebelum hal lain, para penjaga Neraka bertanya tentang peringatan — bukan tentang dosa, bukan tentang kekafiran itu sendiri, melainkan apakah seorang pemberi peringatan telah mendatangi mereka terlebih dahulu. Jawaban yang diberikan oleh para penghuni neraka bukanlah “tidak ada yang memberi tahu kami.” Melainkan “seseorang telah memberi tahu kami, dan kami menyebutnya pendusta.” Surah ini sedang menegaskan poin tentang keadilan sebelum berbicara tentang hukuman: nasib yang digambarkan di sini didahului oleh sebuah pesan, dan menolak pesan tersebut adalah sebuah pilihan yang dibuat dengan kesadaran penuh.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَـٰٓفَّـٰتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَـٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.

— Surah Al-Mulk, 67:19

Ayat ini tidak meminta kita untuk mempelajari ornitologi. Ayat ini meminta kita untuk memperhatikan sesuatu yang terus-menerus kita lihat dan sudah berhenti kita pertanyakan. Sayap burung membentang, mengatup, membentang lagi, dan di antara setiap gerakan itu ada momen di mana tidak ada sesuatu pun yang terlihat menahannya. Al-Qur’an secara sengaja menyebutkan satu sifat yang bekerja di sini: al-Raḥmān, Yang Maha Pengasih. Kasih sayang yang sama yang membuat seekor burung tetap melayang di udara adalah kasih sayang yang diminta oleh sisa surah ini untuk kita sadari pada segala hal lainnya.

Ini juga merupakan ayat yang paling mungkin dilewati begitu saja tanpa dilihat dua kali, karena burung yang terbang bukanlah hal yang langka. Justru itulah inti dari pemilihannya. Surah ini telah menggunakan langit sebagai contoh, dan bisa saja mengambil sesuatu yang jelas-jelas lebih spektakuler — komet, gerhana, atau badai. Namun, surah ini justru menunjuk pada seekor merpati di atas kabel. Bukti yang mengharuskan Anda bepergian untuk melihatnya sangat mudah untuk ditunda dan dikategorikan sebagai “suatu hari nanti.” Bukti yang bertengger tepat di luar jendela tidak memberikan alasan semacam itu.

قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَآؤُكُمْ غَوْرًا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَآءٍ مَّعِينٍۭ

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”

— Surah Al-Mulk, 67:30

Surah Al-Mulk menutup argumennya pada sumber daya yang paling jarang kita syukuri: air yang mengalir begitu saja saat keran dibuka. Ayat ini tidak menggambarkan kelaparan atau kekeringan sebagai sebuah hukuman. Ayat ini hanya mengajukan satu pertanyaan yang tenang — jika permukaan air tanah menyusut besok, rekayasa teknik siapa yang bisa memperbaikinya? Jawaban jujurnya adalah tidak ada pipa, sumur, atau pabrik desalinasi yang menciptakan air; semuanya hanya memindahkan air yang sudah ada. Ayat ini tidak anti-teknologi. Ayat ini bertanya siapa yang bertanggung jawab atas keberadaan air itu sendiri sebelum ia bisa dipindahkan.

Kebergantungan, dalam kosakata surah ini, bukanlah sekadar perasaan. Itu adalah kesimpulan yang ditarik dari sebuah audit — telusuri kenyamanan apa pun cukup jauh ke belakang, dan jejaknya akan berujung pada sesuatu yang tidak diproduksi oleh siapa pun. Hujan, akuifer, sungai yang dialiri lelehan salju di pegunungan yang tidak dibangun oleh siapa pun: semuanya sudah mengalir jauh sebelum sumur pertama digali. Menutup argumen di sini, pada sesuatu yang sangat biasa, adalah sebuah kesengajaan. Ini berarti alasan untuk bersyukur tidak perlu menunggu krisis terjadi agar terlihat; alasan itu sudah ada saat terakhir kali sebuah keran dibuka.

Bacalah keenam bagian di atas secara berurutan dan sebuah pola akan muncul, pola yang mudah terlewatkan jika dibaca ayat demi ayat. Setiap bukti adalah sesuatu yang biasa — langit, api, burung, sumur — dan setiap kali, surah ini tidak sekadar menyajikannya lalu beralih ke topik lain. Surah ini memberikan instruksi: lihatlah sekali lagi, katakanlah, tidakkah mereka memperhatikan. Bukti-bukti ini tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar menjadi fakta yang kita akui lalu kita simpan. Bukti-bukti ini dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah respons.

Hal ini patut ditegaskan secara gamblang, karena sangat mudah untuk membaca surah seperti ini sebagai puisi tentang alam dan berhenti sampai di situ. Tujuh lapis langit tidak ditawarkan agar kita mengagumi simetrinya. Sumur yang kering tidak ditawarkan agar kita menghargai sistem perpipaan. Keduanya ditawarkan agar kita menyadari betapa banyak hal yang membuat kita tetap hidup sebenarnya tidak pernah menjadi milik kita sejak awal, dan agar kita bertindak sesuai dengan kesadaran tersebut — dengan rasa syukur yang terwujud dalam ibadah, bukan sekadar perasaan. Seorang mukmin yang membaca tiga puluh ayat berisi akumulasi bukti lalu menutup halamannya tanpa perubahan apa pun, sama saja telah membaca surah ini layaknya membaca laporan cuaca.

Dua hadis dalam Jāmiʿ al-Tirmidhī menjelaskan apa yang dilakukan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan surah ini, dan apa manfaat yang dilaporkan dari membacanya. Hadis pertama mencatat kebiasaan tersebut:

كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Beliau tidak akan tidur sampai beliau membaca Alif-Lām-Mīm — As-Sajdah [Surah As-Sajdah] — dan Tabārak, Yang di tangan-Nya segala kerajaan [Surah Al-Mulk].

— Jāmiʿ al-Tirmidhī, halaman cetak 5/161 dari . Para editor cetakan ini menilai hadis tersebut secara keseluruhan berderajat sahih, sembari mencatat bahwa sanad khusus ini melewati seorang perawi yang lemah jika berdiri sendiri dan hanya menjadi kuat karena ada jalur kedua yang menguatkannya.

Hadis kedua menyebutkan sebuah angka:

إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Ada sebuah surah dari Al-Qur’an, yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang memberikan syafaat bagi seorang laki-laki hingga ia diampuni — surah itu adalah Tabārak, Yang di tangan-Nya segala kerajaan.

— Jāmiʿ al-Tirmidhī, halaman cetak 5/160 dari , dinilai hasan oleh para editor.

Riwayat ketiga, dari Sahabat ʿAbdullāh bin Masʿūd, memberikan nama untuk surah ini dari generasi tersebut:

مَنْ قَرَأَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ كُلَّ لَيْلَةٍ مَنَعَهُ اللهُ بِهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَكُنَّا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُسَمِّيهَا الْمَانِعَةَ، وَإِنَّهَا فِي كِتَابِ اللهِ سُورَةٌ مَنْ قَرَأَ بِهَا فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فَقَدْ أَكْثَرَ وَأَطَابَ

Barang siapa membaca Tabārak, Yang di tangan-Nya segala kerajaan, setiap malam, Allah akan melindunginya melalui surah itu dari azab kubur. Pada masa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam), kami biasa menyebutnya al-māniʿah (الْمَانِعَة) — sang pencegah. Ia adalah sebuah surah dalam Kitab Allah: barang siapa membacanya setiap malam, maka ia telah melakukan banyak kebaikan, dan melakukannya dengan sangat baik.

— al-Nasāʾī, al-Sunan al-Kubrā, halaman cetak 9/262 dari . Edisi ini mencetak hadis pada bagian tersebut tanpa disertai catatan penilaian derajat, jadi kami menyebutkannya tanpa penilaian daripada meminjam derajat dari tempat lain.

Bacalah ketiganya bersama-sama dan polanya akan cocok dengan metode surah ini sendiri: ia tidak sekadar menegaskan sebuah hasil, ia memberi Anda sebuah mekanisme. Tilawah sebelum tidur, tiga puluh ayat yang berdiri sebagai pemberi syafaat, sebuah nama — al-māniʿah — yang digunakan oleh generasi Sahabat Nabi karena mereka telah melihat sendiri apa yang dihasilkan oleh tilawah tersebut bagi mereka. Semua itu tidak meminta pengamatan yang lebih sedikit daripada langit atau burung-burung. Ia hanya meminta agar kebiasaan tersebut diperlakukan sebagai bukti, sama seperti bagian surah lainnya.

Surah Al-Mulk tidak meminta untuk dikagumi. Ia meminta untuk dibaca, dicocokkan dengan langit dan burung-burung di luar jendela Anda sendiri, dan kemudian diamalkan sebelum tidur. Bacalah surah ini, atau mulailah membaca mushaf yang lebih luas, di /quran. Jika ada bagian di atas yang salah dalam menafsirkan ayat atau riwayat, beri tahu kami — kami lebih suka dikoreksi daripada membiarkan sebuah kesalahan tetap ada. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat syafaat dari surah ini, dan melindungi kita, di dunia ini maupun di alam kubur, dengan rahmat-Nya.