Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Sepuluh Tujuan Ramadhan: Kerangka Kerja untuk Bulan yang Mengubah Diri Anda

Ramadhan tanpa target hanya akan menjadi rutinitas tiga puluh hari yang terus berulang. Berikut adalah sepuluh tujuan konkret yang diambil dari prioritas bulan ini menurut tradisi Islam, serta cara memilih satu atau dua tujuan yang paling Anda butuhkan tahun ini.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Sebagian besar orang sudah bisa membayangkan suasana Ramadhan sebelum bulan itu tiba: menahan lapar dan haus dari terbit hingga terbenamnya matahari, malam-malam yang lebih panjang di masjid, dan ritme keseharian yang berubah. Namun, yang jarang dimiliki adalah rencana tentang apa sebenarnya tujuan akhir dari semua itu. Puasa adalah sebuah metode, bukan tujuan akhir — dan Al-Qur’an menyebutkan tujuan tersebut secara langsung, pada ayat yang sama yang mewajibkan puasa:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

— Surah Al-Baqarah, 2:183

Takwa — kesadaran penuh kepada Allah yang membentuk apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda jauhi — adalah target yang sebenarnya. Rasa lapar, perubahan jadwal, dan ibadah tambahan hanyalah sarana yang dibangun untuk mencapainya. Menghabiskan waktu sebulan penuh menjalankan sarana tersebut tanpa pernah memeriksa apakah targetnya tercapai, hanya akan membuat tiga puluh hari itu terasa berlalu begitu saja, bukan karena sesuatu yang telah Anda rencanakan sejak awal. Para ulama yang menulis tentang tujuan Ramadhan cenderung memecah satu kata tersebut menjadi beberapa tujuan yang lebih konkret, karena target yang terlalu abstrak akan sulit untuk dibidik secara langsung. Berikut adalah sepuluh tujuan tersebut — yang sebaiknya dibaca sebelum bulan Ramadhan dimulai, bukan saat sedang menjalaninya.

Empat dari sepuluh tujuan ini berada paling dekat dengan inti, dan tak satu pun darinya bisa diukur dengan aplikasi pelacak ibadah. Meningkatkan iman — bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang memiliki unsur-unsur nyata: pengetahuan Anda tentang Allah, cinta Anda kepada-Nya, rasa takut Anda jika tidak memenuhi hak-Nya, harapan Anda pada rahmat-Nya, serta keyakinan Anda bahwa Dia mengatur apa yang tidak bisa Anda kendalikan. Mewujudkan penghambaan diri. Kehidupan di luar Ramadhan berjalan dengan aturan sederhana — ingin sesuatu, lakukan saja — dan puasa sengaja memutus aturan tersebut, melatih diri untuk patuh pada perintah yang tidak dipilihnya sendiri. Merasakan manisnya ibadah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Shalat yang sekadar dikerjakan dan shalat yang menggetarkan hati terlihat sama dari luar; namun perbedaan di antara keduanyalah yang menjadi alasan utama mengapa kita terus mendirikan shalat. Menyucikan hati. Rasa iri, dendam, sombong, dan sikap keras kepala saat dinasihati tidak akan hilang hanya karena Anda lapar — sifat-sifat itu hilang karena rasa lapar memberi Anda alasan untuk menyadarinya dan secara sadar memperbaikinya.

Kelompok tujuan berikutnya lebih kasatmata, dan dimaksudkan untuk bertahan lebih lama dari sekadar tiga puluh hari, bukan berakhir bersamanya.

Akhlak adalah yang paling konkret dari kesepuluh tujuan ini, dan tradisi Islam sangat spesifik mengenai dari mana ia bermula — yaitu dari lisan Anda, terutama saat terpancing emosi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan puasa dengan sesuatu yang lebih spesifik daripada sekadar menghindari dosa secara umum:

“Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahil. Jika ada orang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.‘”

— diriwayatkan dari Abu Hurairah, dalam kitab Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 2/806 edisi

Instruksinya bukanlah sekadar “hindari dosa saat berpuasa” secara umum. Instruksi ini lebih spesifik dan lebih sulit: puasa secara khusus merupakan perisai terhadap sisi diri Anda yang kerap membalas provokasi dengan provokasi. Jika Ramadhan mampu mengubah cara Anda berdebat dengan keluarga sendiri pada saat bulan ini berakhir, itu bukanlah efek samping dari Ramadhan — melainkan salah satu dari sepuluh tujuannya yang bekerja tepat seperti yang diharapkan.

Keterikatan dengan Al-Qur’an adalah kebiasaan kedua yang patut dibangun. Ramadhan menyandang namanya karena sebuah alasan:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

— Surah Al-Baqarah, 2:185

Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an dibaca pada bulan ini — melainkan diturunkan di dalamnya. Membaca tanpa merenungi maknanya mungkin bisa memenuhi target khatam, namun tidak akan pernah berfungsi sebagai petunjuk seperti yang digambarkan oleh ayat tersebut; membaca seluruh mushaf barulah awal dari tujuan ini, bukan keseluruhannya. Qiyamul lail juga berada dalam kategori yang sama — bukan sekadar ibadah khusus Ramadhan, melainkan kebiasaan yang patut dilanjutkan setelah Idul Fitri setelah mengakar selama tiga puluh malam.

Shalat, zikir, dan doa yang dilakukan dengan ihsan melengkapi kelompok ini — bukan sekadar memperbanyak jumlahnya, melainkan peningkatan kualitas yang disengaja dalam pelaksanaannya: lebih khusyuk dalam shalat, zikir pagi dan petang yang diucapkan dengan penuh penghayatan alih-alih terburu-buru, serta doa yang dipanjatkan lebih lama dari sekadar rutinitas. Konsistensi mengikat seluruh kelompok ini menjadi satu: ujian sesungguhnya dari Ramadhan bukanlah apa yang berubah selama tiga puluh hari, melainkan apa yang bertahan pada sebelas bulan setelahnya.

Dua tujuan terakhir lebih menyoroti hasil akhir daripada metodenya. Ramadhan membawa peluang yang sangat besar untuk mendapatkan ampunan Allah, pembebasan dari siksa Neraka, dan jalan masuk ke Surga — sebuah balasan atas usaha yang tidak tersedia dengan intensitas yang sama di bulan-bulan lainnya, yang patut diperlakukan sebagai tawaran istimewa alih-alih sekadar angin lalu. Dan di balik semua itu, terdapat takwa yang telah disebutkan pada ayat di atas: menundukkan hawa nafsu. Dengan menolak keinginan diri akan makanan, minuman, dan tidur saat itu juga, Anda tidak sekadar menjalankan ritual — Anda sedang membangun kapasitas umum untuk menahan diri, yang akan terbawa pada godaan apa pun di sisa tahun tersebut.

Sepuluh tujuan terdengar sangat banyak, dan memperlakukan semuanya sebagai sepuluh tugas terpisah adalah cara yang ampuh untuk membuat Ramadhan terasa melelahkan alih-alih membawa perubahan. Lebih baik baca daftar ini sekali, lalu lakukan evaluasi singkat dan jujur tentang di mana posisi Anda saat ini. Mungkin shalat lima waktu Anda sudah terjaga, tetapi tidak ada ibadah sunnah yang menyertainya — tidak ada witir, tidak ada dhuha, tidak ada kebiasaan di luar yang wajib. Mungkin rasa iri bukanlah masalah Anda tahun ini, melainkan sifat mudah marah. Pilihlah satu atau dua tujuan yang benar-benar dibutuhkan dalam hidup Anda saat ini, dan biarkan delapan tujuan lainnya tetap menjadi konteks, bukan sekadar daftar periksa yang gagal Anda penuhi pada minggu kedua.

Setiap dari sepuluh tujuan ini akan menghadapi penolakan yang sama: diri yang menginginkan apa yang diinginkannya saat ini juga. Akan sangat membantu jika kita menganggap bulan ini bukan sekadar serangkaian tugas, melainkan sebuah pertarungan dengan lawan yang nyata — lawan yang bahkan telah mengalahkan Anda lebih dari sekali sebelum Ramadhan ini dimulai.

Ada sebuah trik lama untuk menghadapi saat-saat ketika penolakan itu memuncak. Bisyr al-Hafi pernah berjalan menuju sebuah kota bersama seorang teman yang ingin berhenti dan minum dari sebuah sumur di sepanjang jalan. “Kita akan minum di sumur berikutnya,” kata Bisyr kepadanya. Di sumur berikutnya, jawabannya tetap sama: “Di sumur berikutnya.” Pada saat mereka tiba di kota, temannya itu tidak pernah berhenti — dan komentar Bisyr tentang hal itulah yang terus diingat oleh orang-orang yang menceritakan kisah ini setelahnya: begitulah cara seseorang melewati dunia ini, dengan melangkah “sedikit lebih jauh” setiap kalinya, bukan dengan menghitung seluruh jarak yang masih harus ditempuh.

Bulan ini memberikan ganjaran atas penundaan-penundaan kecil yang berulang seperti itu, lebih dari sekadar ledakan tekad sesaat di malam pertama. Dan orang-orang sebelum kita yang menyikapi Ramadhan dengan sungguh-sungguh, memperlakukan masa persiapan menjelangnya sebagai bagian dari proyek tersebut, bukan hanya pada bulan itu sendiri:

Mereka terbiasa berdoa kepada Allah selama enam bulan, memohon agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan — dan berdoa selama enam bulan berikutnya, memohon agar Dia menerima amal ibadah yang telah mereka kerjakan di dalamnya.

— Mu’alla bin al-Fadhl, dalam kitab al-Targhīb wa-l-Tarhīb, halaman cetak 2/354 edisi

Satu tahun yang dijalani dengan pola seperti itu tidak memiliki musim di mana Ramadhan bukanlah fokus utamanya. Separuh tahun dihabiskan dengan harapan untuk mencapai bulan tersebut; separuh lainnya dihabiskan dengan harapan agar apa yang dikerjakan di dalamnya diterima.

Sepuluh tujuan ini akan lebih mudah dipertahankan jika ada tempat untuk kembali setiap harinya, daripada sekadar ingatan tentang sebuah artikel yang dibaca sekali sebelum bulan Ramadhan dimulai. Jika tujuan-tujuan yang berkaitan dengan Al-Qur’an di atas adalah hal yang perlu Anda perbaiki, fitur pembaca Al-Qur’an kami menyatukan teks Arab, terjemahan, dan tafsir di satu tempat — sangat layak untuk disimpan (bookmark) sebelum malam pertama tarawih, daripada baru dicari saat pertengahan Ramadhan.

Kami memohon kepada Allah, Al-Hayy, Al-Qayyum, agar mempertemukan kita dengan Ramadhan kali ini, menerima segala kebaikan yang dikerjakan di dalamnya, dan tidak membiarkan kita bersandar pada diri kita sendiri walau hanya sekejap mata.