Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Penyejuk Mata: Mengapa Shalat Diciptakan Sebagai Ketenangan, Bukan Beban

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut shalat sebagai penyejuk matanya — bukan beban yang harus diselesaikan, melainkan tempat beliau meminta istirahat. Seperti apa sebenarnya rasa tenang itu, dan mengapa banyak dari kita justru merasakan hal sebaliknya saat berada di atas sajadah.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Tanyakan kepada seseorang apa yang ia rasakan tentang shalat, dan jawaban jujurnya, pada sebagian besar waktu, adalah kewajiban. Sesuatu yang harus diselipkan di sela-sela kesibukan hidup, bukan tempat untuk beristirahat dari kesibukan itu sendiri. Namun, bukan seperti itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan pengalamannya, dan perbedaan antara apa yang beliau rasakan dengan apa yang kita rasakan ini patut untuk kita renungkan.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Wanita dan wewangian dijadikan kecintaanku dari dunia ini, dan penyejuk mataku dijadikan pada shalat.

Hadits ini tercatat pada halaman cetak 7/61 dari kitab Sunan al-Nasāʾī, , dalam bab tentang adab kehidupan pernikahan. Dua hal yang diberikan kepada beliau murni sebagai kesenangan — wanita dan wewangian — lalu hal ketiga disebut memiliki kedudukan di atas keduanya, dalam kategori tersendiri: bukan sebagai tugas yang harus dipikul, melainkan sebagai penyejuk yang diberikan untuk matanya.

Ungkapan qurratu ʿaynī tersebut bukanlah sekadar kiasan biasa. Ini adalah sebuah penegasan khusus: bahwa shalat memberikan dampak bagi mata dan hati layaknya tempat teduh bagi seseorang yang berdiri di bawah terik matahari. Sebuah kelegaan, bukan beban yang menguras tenaga.

Ungkapan yang sama — qurrata aʿyun, penyejuk mata — muncul di dalam Al-Qur’an sebagai sesuatu yang diminta oleh orang-orang beriman kepada Allah:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Sūrat al-Furqān, 25:74

Orang-orang beriman meminta penyejuk ini kepada Allah melalui orang-orang terdekat mereka — pasangan, anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan telah menemukannya menanti beliau di dalam shalat itu sendiri, lima kali sehari, tanpa membutuhkan orang lain untuk memberikannya. Sebesar itulah makna dari ungkapan tersebut: shalat tidak dijadwalkan di sela-sela waktu istirahatnya. Shalat itu sendiri adalah istirahatnya.

Harapan yang sama terlihat dari cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil keluarganya untuk shalat. Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu adalah muazin beliau, dan seorang sahabat meriwayatkan kata-kata yang beliau gunakan untuk memanggilnya:

قُم يا بلالُ، فأرِحْنا بالصَّلاة

Bangkitlah, wahai Bilal — jadikanlah shalat sebagai istirahat kita.

Riwayat ini terdapat pada halaman cetak 7/339 dari kitab Sunan Abī Dāwūd, , di mana para penyunting menilai sanadnya shahih. Perhatikan kata kerjanya dengan saksama: beliau tidak meminta untuk diistirahatkan dari shalat, agar beliau bisa kembali melakukan aktivitasnya. Beliau meminta untuk diistirahatkan oleh shalat — sebagai tempat istirahat itu sendiri, bukan sebagai jeda yang mengganggu hal lain yang lebih baik.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang sebagian besar dari kita jalani. Kita memperlakukan shalat sebagai jeda di antara waktu-waktu yang sebenarnya kita inginkan, sesuatu yang harus segera diselesaikan agar kita bisa kembali ke urusan kita yang sebenarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menyebut shalat sebagai urusan utamanya. Segala hal di luar itu hanyalah jeda.

Al-Qur’an memberikan alasan mengapa ibadah yang satu ini memiliki bobot yang begitu besar. Bukan karena shalat sekadar ritual yang menyenangkan di antara ritual-ritual menyenangkan lainnya — shalat dibangun, baik secara fisik maupun lisan, dari zikir (mengingat) Allah, dan Al-Qur’an secara spesifik menjelaskan apa yang zikir lakukan terhadap hati:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Sūrat al-Raʿd, 13:28

Shalat bukanlah salah satu pilihan dari sekian banyak cara untuk menemukan ketenteraman tersebut; shalat adalah bentuk nyata dari mengingat Allah — sebuah struktur baku yang terdiri dari berdiri, rukuk, sujud, dan berbicara langsung kepada-Nya, yang diulang-ulang hingga menjadi bingkai yang menaungi sisa hari kita. Jika mengingat Allah dapat menenangkan hati, dan shalat adalah bentuk zikir yang terkonsentrasi dalam wujudnya yang paling sempurna, maka ketenangan yang digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah hadiah khusus yang hanya diperuntukkan bagi beliau. Ketenangan itu adalah hasil yang memang dirancang untuk dirasakan oleh siapa saja yang benar-benar mendirikannya — yang mana ini sangat berbeda dengan sekadar melakukan gerakan-gerakannya saja.

Jika shalat Nabi adalah sebuah ketenangan dan shalat kita sering kali tidak demikian, perbedaannya jarang sekali terletak pada fikihnya. Biasanya, perbedaannya ada pada di mana hati kita berada sebelum shalat itu dimulai. Hati yang menghabiskan harinya untuk mengejar dunia akan tiba di atas sajadah dengan keadaan masih mengejarnya, sehingga berdiri, rukuk, dan sujud menjadi lima gangguan yang harus disiasati, bukan lima kepulangan yang dinanti-nanti. Perhatikanlah bahasa yang sering diucapkan orang tanpa berpikir panjang: biar aku selesaikan shalatku dulu supaya bisa kembali bekerja memperlakukan shalat sebagai rintangan dan pekerjaan sebagai tujuan — benar-benar kebalikan dari apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama klasik yang pakar dalam ilmu hati, di antaranya Ibnu Taimiyyah, memandang ada atau tidaknya rasa manis dalam ibadah sebagai sebuah diagnosis, bukan sekadar hiasan: sebuah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah cenderung meninggalkan jejak ketenangan pada pelakunya, dan pelaksanaan shalat yang hambar serta tanpa sukacita—meskipun secara gerakan sudah benar—patut untuk dievaluasi alih-alih diabaikan sebagai sesuatu yang wajar. Hal ini bukan berarti setiap shalat harus terasa euforia. Namun, shalat yang selalu terasa berat setiap saat sebenarnya sedang memberi tahu seseorang tentang di mana hatinya saat ini berada — ini adalah sebuah informasi, bukan kegagalan, dan sesuatu yang bisa diubah dengan menghadirkan hati lebih utuh pada shalat berikutnya.

Semua ini tidak menuntut Anda untuk melakukan shalat yang lebih berat. Ini hanya meminta sikap batin yang berbeda saat memasuki shalat yang sudah biasa Anda kerjakan — datang dengan harapan untuk beristirahat alih-alih menunaikan beban tugas, dan berdiam cukup lama saat berdiri maupun sujud untuk menyadari apakah ketenangan itu hadir. Jadwal shalat Quran Gallery dapat memberi tahu Anda secara pasti kapan kesempatan berikutnya dimulai, di mana pun Anda berada; apa yang terjadi pada menit-menit setelah iqamah adalah urusan antara Anda dan Dia.

Jika ada hal di sini yang disampaikan kurang tepat, kami lebih memilih untuk dikoreksi daripada sekadar tampil meyakinkan. Semoga Allah menjadikan shalat kita seperti apa yang Dia jadikan pada shalat Rasul-Nya — sebuah penyejuk tempat kita kembali, bukan beban yang kita pikul. Amin.