Articles
Tiga Kata yang Tak Pernah Dibaca Tergesa-gesa oleh Nabi
Qatadah mengajukan satu pertanyaan kepada Anas tentang bagaimana Nabi membaca Al-Qur'an, dan jawabannya adalah tiga kata yang dibaca lebih panjang dari yang lain. Jawaban tersebut merupakan perintah dalam Surah al-Muzzammil, bukan sekadar pilihan gaya bacaan — dan riwayat-riwayat tentang memperindah suara juga menyampaikan hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 9 menit
Suatu ketika, Qatadah mengajukan pertanyaan sederhana kepada Anas bin Malik: bagaimana cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an? Anas tidak menjelaskan sebuah gaya bacaan. Ia langsung mempraktikkannya, memanjangkan tiga kata dalam Surah al-Fatihah lebih lama dari kata-kata di sekitarnya.
كَانَتْ مَدًّا، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾ يَمُدُّ بِبِسْمِ اللهِ، وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ، وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ “Bacaan beliau dipanjangkan (mad).” Kemudian ia membaca: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang” — memanjangkan bismillāh, memanjangkan al-Raḥmān, dan memanjangkan al-Raḥīm.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 6/195 dari .
Tiga kata, ditahan dan dipanjangkan. Bukan seluruh ayat dibaca tergesa-gesa lalu suku kata terakhirnya ditarik panjang demi efek dramatis — setiap suku kata dari ketiga kata tersebut diberikan hak panjangnya secara penuh sebelum beralih ke kata berikutnya. Mengingat detail suara seseorang seperti ini setelah empat puluh tahun berlalu adalah hal yang luar biasa, kecuali jika hal itu memang ciri yang paling menonjol dari bacaan beliau.
Surah al-Muzzammil memberikan nama pada perintah yang digambarkan oleh Anas tersebut:
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا Atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).
Tartil tidak bisa diterjemahkan secara utuh ke dalam satu kata bahasa Indonesia, itulah sebabnya makna ini sering kali disederhanakan menjadi “membaca dengan pelan” dan berhenti sampai di situ. Tartil berarti memberikan hak pada setiap huruf — mad ditahan sesuai hitungannya, tempat berhenti (waqaf) diperhatikan, dan setiap kata diucapkan dengan jelas tanpa diseret atau digabung dengan kata lain — sebuah disiplin ilmu yang diajarkan secara rinci dalam tajwīd. Membaca dengan pelan adalah efek samping dari penerapan tajwid yang benar, bukan inti dari perintah itu sendiri. Seseorang bisa saja membaca pelan namun huruf-hurufnya tetap terdengar menyatu dan tidak jelas; sebaliknya, seseorang yang memberikan hak pada setiap huruf tidak akan bisa membaca dengan cepat, karena pemenuhan hak huruf itulah yang memakan waktu.
Tujuan utama dari disiplin ilmu ini bukanlah sekadar keindahan suara, melainkan ruang yang tercipta dari suara tersebut. Lisan yang sibuk melafalkan huruf dengan benar tidak akan bisa sekaligus berpacu menuju akhir surah. Pembaca yang tidak tergesa-gesa memiliki waktu untuk merenungi makna kata-kata yang diucapkannya — sebuah proses perenungan yang dalam tradisi Islam disebut tadabbur. Tartil adalah mekanismenya; tadabbur adalah hasil yang dimungkinkannya. Mempelajari mekanismenya tanpa perenungan hanya akan menghasilkan bacaan yang benar secara teknis; sebaliknya, mengejar perenungan tanpa mekanisme berarti tidak ada yang menahan lisan cukup lama agar perenungan itu bisa terjadi. Perintah dalam ayat 73:4 menuntut keduanya dalam satu kata.
Gambaran paling jelas tentang apa yang bukan merupakan tartil datang dari sebuah teguran, bukan perintah. Seorang pria memberi tahu ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia bisa membaca sepertiga terakhir Al-Qur’an — lebih dari enam puluh surah — hanya dalam satu rakaat. Jawaban Ibnu Mas’ud bukanlah sebuah kekaguman.
أتى ابنَ مسعودٍ رجلٌ فقال: إني أقرأ المُفَصَّل في رَكعة، فقال: أهذّاً كهذِّ الشِّعرِ ونثراً كنثر الدَّقَل؟ Seorang pria mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata, “Aku membaca seluruh mufaṣṣal dalam satu rakaat.” Ia menjawab, “Apakah engkau membacanya dengan cepat seperti membaca puisi, dan berjatuhan seperti kurma busuk yang berguguran?”
— Sunan Abī Dāwūd, edisi cetak halaman 2/543 dari , dinilai sahih dalam catatan penyunting, serta diperkuat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim.
Puisi yang dibaca dengan baik adalah puisi yang dibaca dengan ritme dan kecepatan, karena tujuannya adalah untuk menyesuaikan dengan ketukan (metrum). Al-Qur’an yang dibaca dengan cara seperti itu akan kehilangan hal yang membedakannya dari ketukan puisi: jeda yang memungkinkan pendengar meresapi apa yang baru saja diucapkan sebelum ayat berikutnya tiba. Ibnu Mas’ud tidak keberatan dengan seberapa banyak hafalan Al-Qur’an pria tersebut. Ia menentang dampak dari bacaan yang cepat terhadap hubungan antara pembaca dan kata-kata yang dibacanya — sebuah teguran dari seorang sahabat, yang sejalan dengan riwayat Anas tentang memanjangkan bacaan dari sudut pandang yang berlawanan.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah satu istri Nabi, pernah ditanya secara langsung seperti apa suara bacaan beliau. Ia tidak menggambarkan suasana hati atau nada suara. Ia menjelaskan di mana beliau berhenti.
كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً: ﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾ “Beliau memutus bacaannya ayat demi ayat” — “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” [Berhenti.] “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” [Berhenti.] “Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” [Berhenti.] “Pemilik hari pembalasan.” [Berhenti.]
— Musnad Aḥmad, edisi cetak halaman 44/206 dari , dinilai sahih li-ghairihi dalam catatan penyunting.
Empat ayat dari Surah al-Fatihah, empat kali berhenti, masing-masing cukup lama sehingga pendengar — atau pikiran pembaca itu sendiri — dapat mencerna kalimat yang baru saja selesai sebelum kalimat berikutnya dimulai. Ini bukanlah riwayat tentang nada suara. Ini adalah riwayat tentang bentuk jeda, dan memberikan tolok ukur nyata yang bisa kita uji pada bacaan kita sendiri: apakah kita benar-benar berhenti setelah “Pemilik hari pembalasan,” atau lisan kita langsung menyambungnya ke “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah”? Jawaban Ummu Salamah menegaskan bahwa lisan Nabi berhenti. Sedangkan lisan kita, yang sering kali membaca dengan cepat demi menyelesaikan target hafalan sebelum kelas dimulai atau sebelum jadwal penerbangan, biasanya tidak berhenti.
Ujian yang sama berlaku untuk bacaan dalam salat berjemaah, di mana seorang imam yang membaca satu juz penuh dalam satu waktu bisa melaju begitu cepat sehingga ayat-ayat terdengar menyatu sebelum pendengar sempat meresapi ayat sebelumnya. Kecepatan dalam hal ini sering kali hanya melayani durasi salat, bukan jemaah yang mendengarkannya. Mengikuti ritme cepat tersebut hanya karena semua orang di sekitar kita sudah terbiasa, tidaklah sama dengan memilihnya secara sadar.
Semua ini bukan berarti kita dianjurkan membaca dengan nada datar dan monoton. Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan perintah yang sebaliknya dari lisan Nabi sendiri:
زَيِّنُوا القرآنَ بأصواتِكُم Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian.
— Sunan al-Nasāʾī, edisi cetak halaman 2/309 dari , dinilai sahih dalam catatan penyunting.
Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dengan apa keindahan tersebut dibandingkan:
مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ، مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ، يتغنى بالقرآن، يجهر به Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu dengan saksama seperti Dia mendengarkan seorang Nabi yang bersuara indah melantunkan Al-Qur’an dengan suara keras.
— Ṣaḥīḥ Muslim, edisi cetak halaman 1/545 dari .
Kata yang diterjemahkan sebagai “hiasilah” — zayyinū — berasal dari akar kata yang sama yang digunakan untuk menghiasi sesuatu yang berharga, bukan sekadar menambahkan dekorasi pada sesuatu yang biasa. Suara kita tidak membuat Al-Qur’an menjadi lebih bernilai; sebaliknya, suara kitalah yang dituntut untuk naik derajatnya agar pantas bersanding dengan keagungan Al-Qur’an. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan harapan yang sama, namun dinyatakan sebagai sebuah batasan alih-alih sekadar anjuran:
لَيسَ منَّا مَنْ لم يَتَغن بالقرآن Barang siapa yang tidak melagukan (memperindah suara saat membaca) Al-Qur’an, maka ia bukan golongan kami.
— Sunan Abī Dāwūd, edisi cetak halaman 2/595 dari , dinilai sahih dalam catatan penyunting.
Jika dibaca berdampingan dengan riwayat Anas tentang memanjangkan bacaan dan teguran Ibnu Mas’ud, makna hadis ini bukan lagi sekadar “memiliki suara nyanyian yang merdu.” Maknanya adalah: berikanlah perhatian pada suara sebagaimana tartil menuntut perhatian pada huruf-hurufnya. Suara yang tergesa-gesa melibas kata-kata secepat mungkin bukanlah suara yang diperindah dalam konteks riwayat-riwayat ini, seberapa pun merdunya suara tersebut saat melakukannya.
Jabir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi tentang apa yang sebenarnya diisyaratkan oleh suara yang indah kepada pendengarnya:
إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ، الَّذِي إِذَا سَمِعْتُمُوهُ يَقْرَأُ، حَسِبْتُمُوهُ يَخْشَى اللَّهَ Sesungguhnya di antara manusia yang paling indah suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah orang yang apabila kalian mendengarnya membaca, kalian mengira bahwa ia takut kepada Allah.
— Sunan Ibn Mājah, edisi cetak halaman 2/364 dari , dinilai hasan li-ghairihi dalam catatan penyunting — sanad ini secara mandiri berstatus daif, namun dikuatkan oleh riwayat-riwayat pendukung yang dicantumkan penyunting di sampingnya.
Ini adalah pernyataan spesifik dan terukur tentang apa arti “indah” di sini: bukan sekadar keterampilan teknis, bukan pula warna suara yang merdu, melainkan suara yang terdengar seperti milik seseorang yang menganggap serius kata-kata yang dibacanya. Suara seorang penampil dan suara yang penuh rasa takut tidak selalu sama, dan riwayat ini menegaskan bahwa hanya satu di antaranya yang menjadi tujuan utama.
Literatur sumber di balik topik ini sering kali merujuk pada argumen yang lebih kuat: bahwa Nabi menggambarkan Al-Qur’an “turun dengan kesedihan” dan memerintahkan pembacanya untuk menangis, atau memaksakan diri untuk menangis. Riwayat tersebut memang ada — Sunan Ibn Mājah mencatatnya dua halaman sebelum riwayat “takut kepada Allah” di atas — namun para penyuntingnya menilai sanadnya lemah (ḍaʿīf) karena adanya perawi bernama Abu Rafi’, dan mereka menyatakannya dengan jelas dalam catatan kaki. Kami tidak mengutipnya sebagai sabda Nabi di sini, karena standar tulisan ini mengharuskan setiap klaim ucapan kenabian bersandar pada sanad yang diterima oleh otoritas yang dapat diverifikasi, dan riwayat ini, berdasarkan catatan edisi rujukan itu sendiri, tidak bisa berdiri sendiri.
Namun, apa yang Al-Qur’an katakan tentang menangis saat mendengarkan ayat-ayat-Nya tidak memerlukan pengecualian semacam itu:
…إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُ ٱلرَّحْمَـٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا “…Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Yang Maha Pengasih, mereka tunduk sujud dan menangis” — klausa penutup dari sebuah ayat yang menyebutkan para nabi dan keturunan mereka yang saleh.
Ini bukanlah sebuah teknik yang bisa ditiru sesuai aba-aba. Ayat ini dihadirkan di sini sebagai landasan yang jujur untuk gagasan tersebut, menggantikan hadis yang bahkan para penyuntingnya sendiri tidak sepenuhnya mendukungnya — sebuah disiplin dalam memverifikasi sumber sebelum mengutipnya, sama seperti disiplin yang coba diterapkan oleh seluruh tulisan ini terhadap cara membaca Al-Qur’an.
Gambaran paling jelas tentang bagaimana semua elemen ini berpadu datang dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Suatu malam ia pulang terlambat dari salat Isya, dan Nabi bertanya kepadanya apa alasannya.
إِنَّ فِي الْمَسْجِدِ رَجُلًا مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ قِرَاءَةً مِنْهُ “Ada seorang pria di masjid — aku belum pernah mendengar orang yang bacaannya lebih indah darinya.”
Beliau pun bangkit untuk pergi dan mendengarkannya sendiri. Pria itu adalah Salim, mantan budak Abu Hudzaifah, dan setelah mendengarkannya, Nabi bersabda:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي أُمَّتِي مِثْلَكَ “Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan orang sepertimu di tengah umatku.”
— Musnad Aḥmad, edisi cetak halaman 42/196 dari , dinilai hasan li-ghairihi dalam catatan penyunting, dengan riwayat yang sama juga tercantum dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim.
Tidak ada satu pun dalam riwayat tersebut yang menggambarkan sebuah teknik. Riwayat itu menggambarkan sebuah dampak: seorang istri yang rela menunda waktu istirahat malamnya demi terus mendengarkan, dan Nabi sendiri yang bangkit dari tempat duduknya untuk ikut menyimak. Salim tidak diriwayatkan memiliki suara alami yang langka — ia dikenang karena bagaimana ia membaca, bukan karena bakat bawaan sejak lahir. Setiap elemen yang telah ditelusuri secara terpisah dalam tulisan ini — bacaan yang dipanjangkan, keengganan untuk tergesa-gesa, jeda pada setiap ayat, suara yang diperhatikan alih-alih dibiarkan datar — adalah hal-hal yang dicari orang-orang ketika mereka menghentikan aktivitasnya demi mendengarkan bacaannya.
Semua itu tidak membutuhkan suara yang terlatih. Hal itu hanya menuntut kita untuk memberikan waktu pada Al-Qur’an sebagaimana yang diminta oleh tartil, dan meresapi makna kata-katanya saat lisan kita melafalkannya. Mulailah, atau kembalilah, pada bacaan Anda sendiri di /quran — dengan cukup pelan agar Anda menyadari apa yang sedang Anda ucapkan. Beri tahu kami jika kami salah menafsirkan salah satu riwayat di atas; kami lebih suka dikoreksi daripada mengulangi sebuah kesalahan. Semoga Allah menjadikan bacaan kita, seberapa pun biasanya suara kita, sebagai bacaan yang Dia dengarkan.