Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Ramadan: Bulan yang Menanti Kembalinya Dirimu

Puasa, salat malam, dan salat lima waktu masing-masing membawa janji ampunannya sendiri di bulan Ramadan — namun Nabi juga memperingatkan tentang bahaya meninggalkan bulan ini tanpa mendapat ampunan. Tujuh kutipan menelusuri secara pasti di mana setiap janji tersebut tertulis, dan apa saja syarat taubat yang tulus.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 8 menit

Nama Ramaḍān berasal dari kata ramaḍ, panas terik di puncak musim panas — panas yang membuat batu terlalu panas untuk disentuh. Para ahli bahasa terdahulu mengatakan nama ini cocok karena bulan ini membakar dosa sebagaimana panas tersebut menghanguskan tanah. Terlepas dari bagaimana asal-usul kata ini sebenarnya, maknanya menggambarkan fungsi bulan ini: tiga puluh hari yang dirancang, dari berbagai sudut, untuk membawa seorang hamba kembali suci dari kemaksiatan.

Ini adalah pernyataan yang kuat, sehingga Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak membiarkannya tanpa landasan. Beliau menyebutkan amalan-amalan spesifik yang membawa pengampunan tersebut, dan lebih dari sekali, beliau memperingatkan tentang kerugian besar jika membiarkan bulan ini berlalu tanpa meraihnya.

Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah mengucapkan “āmīn” tiga kali terhadap doa keburukan yang ditujukan kepada seseorang, dan yang kedua adalah ini:

Celakalah seseorang yang namaku disebut di hadapannya namun ia tidak bersalawat kepadaku. Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramaḍān lalu bulan itu berlalu sebelum ia diampuni. Dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya mencapai usia lanjut di masa hidupnya, namun hal itu tidak memasukkannya ke dalam Surga.

— Sunan al-Tirmidhī, halaman cetak 5/513 dari

, hadis 3545, berderajat ḥasan gharīb, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Kalimat kedua patut kita renungkan. Seseorang yang melewati seluruh bulan Ramaḍān — tiga puluh hari dengan tawaran ampunan terluas sepanjang tahun — dan keluar darinya tanpa diampuni, menurut perkataan Nabi sendiri, telah menuai kehinaan. Hal ini mungkin terdengar keras, namun memang demikianlah adanya karena bulan ini sungguh sangat pemurah. Buktinya:

Barang siapa berpuasa Ramaḍān karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barang siapa mendirikan salat pada Laylat al-Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 3/45 dari

, hadis 2014, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Terdapat dua janji terpisah di dalam satu hadis tersebut — berpuasa sebulan penuh, dan mendirikan salat di malamnya yang paling mulia. Janji ketiga mencakup setiap malam di bulan tersebut, bukan hanya malam terbaiknya saja:

Barang siapa mendirikan salat (malam) di bulan Ramaḍān karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 3/44 dari

, hadis 2009, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Dan janji keempat memperluas cakupannya melampaui Ramaḍān itu sendiri, lalu memasukkan kembali Ramaḍān sebagai bagian terbesar dari tiga kesatuannya:

Salat lima waktu, salat Jumat yang satu ke salat Jumat berikutnya, dan Ramaḍān yang satu ke Ramaḍān berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 1/209 dari

, hadis 233, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Empat hadis, empat amalan berbeda — puasa, salat malam pada Laylat al-Qadr, salat malam di sepanjang bulan, dan sekadar menjalani bulan ini sembari menjauhi dosa-dosa besar — dan semuanya berujung pada hal yang sama: dosa-dosa yang telah lalu diampuni. Jika kita tidak diampuni di bulan ini, lantas kapan lagi?

Dosa jarang terasa sebagai dosa saat sedang dilakukan. Dosa baru terasa setelahnya, seperti semacam penghalang antara kita dan segala hal yang dulunya terasa dekat — salat yang terasa hampa, doa yang tak kunjung terjawab, hati yang dulunya mudah tersentuh kini menjadi beku. Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menggambarkan dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi di balik kehampaan tersebut:

Ketika seorang hamba melakukan suatu dosa, sebuah titik hitam ditorehkan di hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertaubat, hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia mengulanginya, titik itu akan membesar hingga menutupi seluruh hatinya — dan itulah karat yang difirmankan oleh Allah ﷻ.

— Sunan al-Tirmidhī, halaman cetak 5/359 dari

, hadis 3334, berderajat ḥasan ṣaḥīḥ, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Ayat yang disebutkan dalam hadis tersebut sangat spesifik, bukan sekadar kiasan umum tentang “hati yang mengeras”:

Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

— Sūrat al-Muṭaffifīn, 83:14

Rān — karat, korosi — bukanlah metafora untuk hati yang sekadar terasa berat. Kata ini menggambarkan lapisan yang semakin menebal seiring pengulangan dosa, hingga permukaan di baliknya tidak lagi bisa ditembus oleh apa pun, termasuk oleh peringatan yang dulunya mampu menggetarkannya. Itulah sebabnya istighfār (memohon ampunan) tidak boleh sekadar menjadi ucapan sesekali yang diselipkan setelah hari yang buruk. Ia adalah bentuk perawatan — satu-satunya hal, menurut hadis ini, yang benar-benar mampu mengikis apa yang telah menumpuk.

Allah ﷻ tidak meminta kita untuk sekadar merasa bersalah. Dia meminta tawbah — sebuah tindakan kembali yang spesifik dan terstruktur, bukan sekadar perasaan samar karena telah berbuat salah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

— Sūrat al-Taḥrīm, 66:8

Kata “semurni-murninya” memiliki makna yang mendalam dalam ayat tersebut. Para ulama yang mengkaji taubat secara mendalam umumnya sepakat pada empat syarat yang membedakan taubat yang tulus dari sekadar formalitas: menghentikan dosa itu sendiri, merasakan penyesalan yang mendalam karena telah melakukannya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan — jika ada hak orang lain yang dilanggar — menyelesaikannya dengan mereka, baik melalui permintaan maaf maupun ganti rugi. Lewatkan salah satu dari keempat syarat ini, maka yang tersisa hanyalah penyesalan; penyesalan itu nyata, namun belum bisa disebut sebagai taubat.

Syarat keempat inilah yang paling sering menggoda orang untuk diabaikan, khususnya di bulan Ramaḍān. Meninggalkan suatu dosa selama tiga puluh hari sambil diam-diam berencana untuk kembali melakukannya begitu Idulfitri tiba bukanlah sebuah tekad yang kuat; itu hanyalah gencatan senjata sementara dengan sesuatu yang masih ingin kita pertahankan. Allah ﷻ tidak meminta kita untuk sekadar bertahan melewati Ramaḍān tanpa berbuat dosa. Dia meminta kita untuk benar-benar meninggalkan dosa tersebut.

Hal yang membuat proses ini terasa lebih ringan adalah bahwa langkah untuk kembali ini tidak pernah harus kita mulai sendirian:

Kemudian Dia menerima taubat mereka agar mereka tetap bertaubat. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

— Sūrat al-Tawbah, 9:118

Dia yang mengambil langkah pertama. Taubat kita adalah respons terhadap pintu yang telah Dia buka, bukan sebuah upaya yang kita lakukan dengan harapan Dia akan membukakannya.

Apa pun dosanya, seberapa sering pun dosa itu diulangi, batas ampunan tidak ditentukan oleh seberapa besar dosa tersebut — melainkan oleh apakah kita mau memintanya:

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

— Sūrat al-Zumar, 39:53

Itu bukanlah pernyataan umum tentang rahmat yang abstrak. Allah ﷻ menjelaskan secara spesifik apa yang Dia lakukan terhadap dosa yang dikumpulkan seumur hidup:

Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa pun yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.

— Sunan al-Tirmidhī, halaman cetak 5/509 dari

, hadis 3540, berderajat ḥasan gharīb, diriwayatkan dari Anas ibn Mālik.

Dan Dia tidak menerima permohonan itu seperti kita menerima pelunasan sebuah kewajiban. Dia menerimanya seperti seseorang yang menemukan kembali sesuatu yang sudah ia relakan kehilangannya:

Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang terbangun dan menemukan kembali untanya yang hilang di tengah gurun pasir.

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 4/2105 dari

, hadis 2747, diriwayatkan dari Anas ibn Mālik.

Dia juga tidak berhenti pada sekadar mengampuni. Di saat kita mungkin sudah puas jika catatan dosa itu dihapus, Dia justru menulis ulang catatan tersebut:

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

— Sūrat al-Furqān, 25:70

Jika dibaca secara harfiah, ayat tersebut menyatakan bahwa dosa itu sendiri — bukan sekadar catatannya — berubah menjadi amal kebaikan begitu taubat yang tulus dilakukan. Tidak ada satu pun dari ketetapan ini yang merupakan hak kita. Semua ini adalah murni karunia yang ditawarkan-Nya.

Taubat yang hanya dilakukan sekali lalu ditinggalkan begitu saja bukanlah apa yang diminta oleh bulan ini. Ramaḍān melatih sesuatu yang oleh para ulama disebut ināba — bukan sekadar tindakan kembali setelah tergelincir, melainkan kebiasaan yang melekat untuk terus-menerus kembali kepada Allah ﷻ, baik di saat lapang maupun saat merasa bersalah. Al-Qur’an menggunakan kata ini secara spesifik untuk menggambarkan Ibrāhīm (‘alaihis salam):

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar penyantun, lembut hati, dan suka kembali (kepada Allah).

— Sūrat Hūd, 11:75

Dan Al-Qur’an menyebutkan sifat yang sama sebagai tanda bagi orang-orang yang digambarkan berada paling dekat dengan Surga:

Inilah yang dijanjikan kepadamu — bagi setiap orang yang senantiasa kembali (kepada Allah) dan memelihara (aturan-aturan-Nya), yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan, dan datang dengan hati yang bertaubat.

— Sūrat Qāf, 50:32

Setiap dosa yang mungkin akan kita lakukan lagi setelah Ramaḍān berakhir bukanlah alasan untuk menganggap taubat di bulan ini sia-sia. Justru itulah alasannya mengapa kebiasaan bertaubat ini harus bertahan lebih lama dari bulan itu sendiri. Seorang hamba yang terus kembali, tak peduli seberapa sering ia harus kembali, bukanlah orang yang gagal dalam bertaubat — proses kembali yang berulang-ulang itulah wujud nyata dari taubat yang diamalkan sepanjang hayat, bukan sekadar dilakukan sekali untuk satu musim.

Ramaḍān tidak akan menetap untuk memaksakan semua ini. Ia datang, menawarkan tiga puluh hari ampunan terluas yang Allah ﷻ tetapkan pada satu rentang waktu, lalu ia akan pergi terlepas dari apakah kita memanfaatkannya atau tidak. Semoga Allah al-Tawwāb — Yang Maha Penerima Taubat — berkenan kembali kepada kita sebelum kita kembali kepada-Nya, menerima taubat yang berhasil kita lakukan, dan mengaruniakan kita ināba agar kita terus bertaubat jauh setelah bulan ini berlalu.