Articles
Qiyam: Ibadah yang Menghidupkan Malam-Malam Ramadan
Qiyam, tahajud, dan tarawih pada dasarnya merujuk pada ibadah yang sama—mendirikan salat saat seisi rumah telah terlelap. Enam sumber, yang telah diverifikasi dengan pustaka, mengupas keutamaan waktu sepertiga malam tersebut.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 8 menit
Tiga istilah ini sering digunakan bergantian untuk ibadah yang sama: tarawih, salat malam berjemaah khusus di bulan Ramadan; tahajud, salat malam yang sama namun dikerjakan sepanjang tahun; dan qiyam, istilah umum untuk keduanya. Apa pun istilah yang dipakai, bentuk ibadahnya tetap sama—seseorang meninggalkan kasur yang hangat, di waktu malam ketika rasa kantuk sedang berat-beratnya, untuk berdiri dan membaca ayat suci.
Al-Qur’an tidak menyebut ibadah ini sekadar sebagai salah satu dari sekian banyak ketaatan. Al-Qur’an membandingkan orang yang mengerjakannya dengan yang tidak, lalu bertanya mungkinkah keduanya setara:
أَمَّنْ هُوَ قَـٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
— Surah Az-Zumar, 39:9
Perbandingan ini menitikberatkan pada ilmu, bukan sekadar usaha. Ayat ini tidak sedang memuji siapa yang paling kuat begadang; melainkan menggambarkan apa yang akan dilakukan oleh orang yang benar-benar paham saat pertengahan malam tiba. Berdiri untuk salat bukan lagi sebuah beban, melainkan respons alami atas apa yang mereka yakini.
Dari sekian banyak keutamaan qiyam, yang paling jelas adalah satu kalimat dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai keseluruhan bulan ini, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang mengerjakan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 3/44 dari , dalam kitab salat tarawih, bab keutamaan salat malam di bulan Ramadan.
Ada dua kata kunci yang menjadi penentu dalam kalimat tersebut: īmānan dan iḥtisāban—karena keyakinan yang tulus, dan semata-mata mengharap pahala. Seseorang bisa saja tidak pernah absen tarawih sebulan penuh namun gagal memenuhi syarat ini, jika yang menggerakkannya hanyalah kebiasaan, ikut-ikutan teman, atau sekadar rutinitas belaka. Ampunan ini dikaitkan dengan alasan mengapa seseorang salat, bukan sekadar fakta bahwa ia mengerjakannya.
Kitab yang sama juga menyimpan gambaran yang lebih tajam tentang kedudukan salat malam di bulan Ramadan. Seorang pria mendatangi Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan bertanya terus terang: jika ia bersaksi dengan dua kalimat syahadat, mendirikan salat lima waktu, menunaikan zakat, serta berpuasa dan salat malam di bulan Ramadan, akan termasuk golongan manakah ia?
مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ “Termasuk golongan orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan para syuhada.”
— Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, halaman cetak 1/225 dari , di bawah judul bab yang menyebutkan kedudukan ini secara langsung: catatan bahwa Allah menetapkan orang yang berpuasa dan salat malam di bulan Ramadan, beserta salat lima waktu dan zakat, ke dalam golongan shiddiqin dan syuhada.
Ini bukanlah kedudukan yang main-main, dan patut direnungkan baik-baik alih-alih sekadar dibaca lalu dilewatkan. Hadis ini tidak mengatakan bahwa qiyam bisa menggantikan kedua kedudukan tersebut. Hadis ini menegaskan bahwa kombinasi amalan tadi—menjaga rukun Islam, ditambah amalan ekstra berupa salat malam di bulan Ramadan—itulah yang menempatkan pria tersebut di barisan orang-orang mulia itu.
Membaca kedua riwayat di atas mungkin bisa membuat sebagian orang merasa kecil hati: kebanyakan orang tidak sanggup berdiri berjam-jam, dan merasa jauh tertinggal dibandingkan ibadah generasi terdahulu. Namun, ada keringanan khusus untuk menjembatani jarak tersebut, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzar. Ia mengenang suatu Ramadan ketika Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengimami mereka pada beberapa malam dan tidak pada malam lainnya, dengan durasi salat yang bervariasi—hingga pada suatu malam Abu Dzar bertanya apakah beliau bersedia mengimami mereka semalaman suntuk, Nabi tidak sekadar menjawab ya, melainkan memberikan sebuah prinsip:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ “Sesungguhnya barang siapa yang salat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala salat semalam suntuk.”
— Sunan al-Nasā’ī, halaman cetak 3/318 dari , dalam kitab salat malam, bab salat malam di bulan Ramadan.
Pahala ini tidak diukur dari seberapa kuat fisik seseorang. Siapa pun yang mengikuti salat berjemaah sampai tuntas—seberapa pun lamanya imam memimpin salat malam itu—akan mendapatkan pahala seolah-olah ia salat semalaman penuh. Pesan dari hadis ini sangatlah praktis: selisih waktu antara pulang lebih awal dan bertahan sampai imam selesai memiliki nilai yang jauh lebih besar dari kelihatannya.
Riwayat ketiga, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, menempatkan qiyam—yang di bulan Ramadan berjalan beriringan dengan puasa dan tilawah Al-Qur’an yang lebih intens—sejajar dengan puasa itu sendiri sebagai amalan yang akan membela seseorang pada Hari Kiamat:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’ Dan Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda: ‘Maka keduanya pun diberi izin untuk memberi syafaat.‘”
— Musnad Aḥmad, halaman cetak 11/199 dari .
Jika disandingkan dengan hadis Bukhari di atas, gambarannya menjadi saling melengkapi, bukan sekadar pengulangan: ampunan bagi mereka yang salat dengan ikhlas, dan—berkat waktu tidur yang dikorbankan itu—sebuah pembelaan di hari ketika seseorang sangat membutuhkan setiap pertolongan yang ada.
Baik Al-Qur’an maupun literatur hadis mengistimewakan satu rentang waktu di malam hari yang nilainya melampaui waktu-waktu lainnya. Allah menggambarkan orang-orang yang dipuji-Nya sebagai mereka yang terbiasa memohon ampunan menjelang fajar:
… وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ “…dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sebelum fajar.”
— Surah Ali ‘Imran, 3:17 — diulang dengan redaksi yang hampir sama persis di bagian lain Al-Qur’an, dalam Surah Az-Zariyat 51:18, yang menggambarkan orang-orang yang sama: “dan pada akhir malam mereka memohon ampunan”.
Hadis menjelaskan apa yang membuat waktu khusus ini berbeda dari waktu-waktu hening lainnya di malam hari. Dari Abu Hurairah:
يَنْزِلُ رَبُّنَا ﵎ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.‘”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 2/53 dari , dalam bab-bab tentang tahajud, bab doa dalam salat di akhir malam.
Ibnu Rajab al-Hanbali, saat menulis tentang keutamaan salat malam, menarik garis beda antara pertengahan malam dan sepertiga malam terakhir. Perbedaan ini patut diingat justru karena ia meringankan beban, bukan memberatkannya: pertengahan malam, tulis beliau, adalah milik mereka yang begitu taat hingga menghabiskannya untuk bermunajat dengan Zat yang mereka cintai. Sementara itu, waktu menjelang fajar adalah bagi mereka yang sadar diri sebagai pendosa dan mengharap ampunan sebelum malam berganti—dan siapa pun yang tidak sanggup masuk ke golongan pertama, jangan pernah merasa dirinya tidak pantas untuk masuk ke golongan kedua.
— Ibnu Rajab al-Hanbali, Laṭāʾif al-Maʿārif, halaman cetak 45 dari .
Ini adalah standar yang sengaja dibuat ringan. Ia tidak menuntut ketahanan fisik layaknya “para ahli ibadah malam”. Ia hanya meminta siapa saja yang sudah terbangun, atau bersedia bangun, di penghujung malam sebelum fajar, untuk meluangkan sedikit waktunya memohon ampunan.
Daya tarik Al-Qur’an lainnya di malam hari terletak pada bacaannya itu sendiri. “Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan,” firman Allah tentang waktu tersebut — 73:6 — dan sebuah hadis dari Jabir memberikan tolok ukur nyata untuk menilai bacaan siapa yang mencerminkan ayat tersebut:
إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِي إِذَا سَمِعْتُمُوهُ يَقْرَأُ حَسِبْتُمُوهُ يَخْشَى اللَّهَ “Sesungguhnya di antara orang yang paling indah suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah orang yang apabila kalian mendengar ia membaca, kalian mengira bahwa ia takut kepada Allah.”
— Sunan Ibn Mājah, halaman cetak 2/364 dari . Para penyunting menilai sanadnya lemah jika berdiri sendiri namun berderajat ḥasan li-ghayrihi—dapat diandalkan karena adanya jalur-jalur periwayatan lain yang menguatkan—bukan sahih secara mutlak. Hal ini perlu disampaikan secara jujur alih-alih menaikkan derajatnya dengan menyembunyikan fakta tersebut.
Ini adalah standar yang berbeda dari sekadar suara yang merdu. Hadis ini menitikberatkan pada apakah bacaan tersebut terdengar seperti keluar dari lisan seseorang yang benar-benar menghayati maknanya—sebuah kriteria yang bisa diterapkan langsung oleh jemaah saat memilih di belakang imam mana mereka akan salat tarawih, atau saat memilih muratal siapa yang akan diputar di rumah.
Dua ayat dari Surah As-Sajdah menggambarkan qiyam dari sudut pandang yang berbeda—bukan tentang pahala yang didapat, melainkan seperti apa rasanya dari dalam hati, bagi seseorang yang mengerjakannya saat tak ada satu pun mata yang melihat:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
— Surah As-Sajdah, 32:16–17
Sifatnya yang tersembunyi bukanlah suatu kebetulan belaka—justru itulah intinya. Qiyam adalah satu dari sedikit ibadah yang hampir mustahil dipamerkan kepada orang lain, karena pada dasarnya ia dilakukan saat semua orang sedang tertidur lelap. Janji dalam ayat ini pun sepadan dengan hal itu: balasan yang tersembunyi untuk amal yang tersembunyi, yang hanya digambarkan sebagai sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun, disimpan rapat-rapat alih-alih diumumkan.
Ramadan membuat tarawih menjadi ibadah yang terlihat dan dilakukan berjemaah, dan hal itu memiliki nilai tersendiri—keluarga yang salat bersama, jemaah yang mengkhatamkan Al-Qur’an sepanjang bulan. Namun, salat malam yang digambarkan oleh ayat dan hadis ini tidak lantas tertutup begitu malam terakhir Ramadan usai, atau saat saf-saf tarawih digulung. Siapa pun yang menginginkan ibadah dalam kesunyian, di sepertiga malam terakhir, bisa memulainya di malam setelah Ramadan berlalu sama mudahnya dengan malam-malam sebelumnya.
Aplikasi pendamping salat kami dilengkapi dengan pelacak ibadah sunah yang mencakup Tahajud dan Witir di samping salat lima waktu, sehingga sepertiga malam terakhir tidak perlu lagi dikira-kira secara manual.
Jika ada kutipan atau terjemahan di atas yang perlu diperbaiki, beri tahu kami; kami lebih memilih untuk dikoreksi daripada membiarkan kekeliruan tetap ada. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang berdiri mendirikan salat saat seisi rumah sedang terlelap.