Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Kedekatan di Balik Sebuah Permintaan: Mengapa Ramadan Diciptakan untuk Doa

Ramadan tidak sekadar memberi ruang untuk berdoa — ayat-ayat puasa di dalam Al-Qur'an, serta empat waktu yang disebutkan secara spesifik dalam hadis, memang dirancang untuk memanjatkan doa. Sebuah ulasan tentang mengapa Allah menjawab langsung di dalam Surah al-Baqarah, dan kapan sumber-sumber syariat menyebutkan bahwa jawaban-Nya paling dekat.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Puasa adalah bagian dari Ramadan yang ditandai oleh setiap kalender. Namun, doa adalah bagian yang menjelaskan mengapa bulan ini diciptakan. Jika Anda hanya menahan lapar tanpa pernah berserah diri kepada Allah di dalamnya, Anda sekadar menjalani diet, bukan menjalankan ibadah. Al-Qur’an menegaskan hal ini secara gamblang tepat pada rangkaian ayat yang mensyariatkan puasa. Hadis juga menyebutkan dengan sangat presisi kapan saja waktu di siang dan malam hari yang paling mustajab untuk berdoa.

Bacalah rangkaian ayat tentang puasa di dalam Surah al-Baqarah, dan Anda akan menemukan satu ayat yang mendobrak pola ayat-ayat di sekitarnya. Di bagian lain dalam Al-Qur’an, ketika para Sahabat mengajukan pertanyaan kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), jawabannya biasanya turun melalui perantara beliau: “Mereka bertanya kepadamu… Katakanlah…“. Namun, tidak dengan ayat ini.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

— Surah al-Baqarah, 2:186

Tidak ada kata “katakanlah” dalam ayat ini. Allah menjawab langsung menggunakan kata ganti orang pertama di tengah-tengah ayat, tanpa ada instruksi perantara. Disisipkan di antara perintah tentang puasa, safar, dan mengganti puasa yang tertinggal (qada), ayat ini tidak terasa seperti sebuah aturan, melainkan seperti pintu yang dibiarkan terbuka: seberat apa pun ujian saat berpuasa, jarak antara hamba yang meminta dan Tuhan yang diminta pada hakikatnya tidak pernah ada.

Hadis tidak membiarkan anjuran “berdoalah di bulan Ramadan” menjadi sekadar saran yang samar. Hadis menyebutkan waktu-waktu spesifik, masing-masing dengan riwayatnya tersendiri.

Saat sedang berpuasa. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi — Allah mengangkat doanya di atas awan dan membukakan pintu-pintu langit untuknya, lalu Tuhan berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.”

— Sunan al-Tirmidzi, edisi cetak halaman 5/548 dari , hadis 3598, dinilai hasan oleh al-Tirmidzi sendiri pada halaman yang sama.

Saat berbuka puasa. Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, pada saat ia berbuka, terdapat doa yang tidak tertolak.

— Sunan Ibnu Majah, edisi cetak halaman 2/636 dari , hadis 1753.

Di sepertiga malam terakhir. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni?

— Shahih al-Bukhari, edisi cetak halaman 1/384 dari , hadis 1094, diriwayatkan dari Abu Hurairah.

Saat bersujud. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), setelah dilarang membaca Al-Qur’an saat rukuk atau sujud, bersabda:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا. فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ. وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ. فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Ketahuilah — aku dilarang membaca Al-Qur’an saat rukuk atau sujud. Adapun saat rukuk, agungkanlah Tuhan kalian di dalamnya; dan adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena sangat pantas bagi doa tersebut untuk dikabulkan.

— Shahih Muslim, edisi cetak halaman 1/348 dari , hadis 479, diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Keempat waktu ini tidak eksklusif hanya ada di bulan Ramadan — sujud dilakukan dalam setiap salat, sepanjang tahun. Namun, Ramadan menggabungkan semuanya: sebuah bulan di mana setiap harinya selalu diakhiri dengan berbuka puasa, di mana puasa itu sendiri berlangsung hingga momen tersebut, dan di mana salat malam tambahan seperti tarawih membawa banyak orang tepat ke waktu-waktu yang disebutkan terakhir. Bulan ini tidak serta-merta menciptakan peluang baru untuk berdoa, melainkan melipatgandakan peluang-peluang yang biasa kita temui menjadi tiga puluh kali lipat.

Perintah untuk meminta juga dinyatakan dengan sangat jelas di bagian lain dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

— Surah Ghafir, 40:60

Ayat ini menempatkan seruan kepada Allah dalam kalimat yang sama dengan ibadah — keengganan untuk meminta dianggap sebagai bentuk kesombongan, bukan kerendahan hati. Sudut pandang ini mengubah makna dari doa itu sendiri. Doa bukanlah sebuah transaksi di mana pujian adalah biaya yang harus dibayar sebelum permintaan diproses; doa adalah inti dari ibadah itu sendiri, sebuah pengakuan bahwa hamba yang meminta tidak memiliki apa-apa dan Tuhan yang diminta memiliki segalanya.

Nabi Musa (‘alaihis salam) menunjukkan bagaimana wujud pengakuan tersebut tanpa dibuat-buat. Saat melarikan diri dari Mesir, tanpa uang sepeser pun dan sendirian di Madyan, beliau baru saja membantu dua orang asing memberi minum ternak mereka, lalu menepi ke tempat teduh dan berdoa:

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.”

— Surah al-Qashash, 28:24

Tidak ada deretan asma Allah yang mengawalinya, tidak ada rumus khusus. Hanya seorang manusia yang tidak memiliki apa-apa, mengutarakan kenyataan tentang kondisinya kepada satu-satunya Zat yang mampu mengubahnya. Sikap seperti inilah yang ingin ditangkap oleh keempat waktu di atas — bukan kefasihan berbicara, melainkan kebutuhan yang dinyatakan dengan jujur, tepat pada saat nas menyebutkan bahwa doa itu didengar.


Jika ada kutipan di atas yang keliru menurut pembacaan Anda, beri tahu kami — kami lebih memilih untuk dikoreksi daripada bersandar pada referensi yang tidak sejalan dengan argumen yang kami sampaikan.

Semoga Allah menerima setiap puasa kita, mendengar setiap doa yang dipanjatkan di bulan ini dan bulan-bulan setelahnya, serta mengabulkan permintaan-permintaan yang bahkan belum kita ketahui bagaimana cara memintanya.