Articles
Sebaik-baik Orang yang Berpuasa: Mengapa Ramadan Berpusat pada Zikir
Seorang pria pernah bertanya kepada Nabi tentang siapa di antara orang yang berpuasa, salat, dan berhaji yang mendapat pahala terbesar, dan selalu mendapat jawaban yang sama. Puasa, salat, dan sedekah di bulan Ramadan bukanlah ibadah yang terpisah — zikir adalah benang merah yang merangkai ketiganya.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 7 menit
Suatu ketika, seorang pria menghentikan langkah Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk bertanya tentang para mujahid: siapakah di antara mereka yang paling besar pahalanya? “Yang paling banyak mengingat Allah,” jawab beliau. Pria itu bertanya lagi tentang orang yang berpuasa. Jawabannya sama. Kemudian tentang salat, sedekah, lalu haji — empat pertanyaan tambahan, dengan empat jawaban yang identik. Abu Bakar menoleh kepada Umar dan berkata, “Orang-orang yang berzikir telah memborong semua kebaikan.” Nabi membenarkan: “Ya, benar.”
Percakapan tersebut bukanlah sekadar anekdot sambil lalu tentang siapa yang memenangkan kompetisi amal saleh. Ini adalah penegasan tentang apa yang sebenarnya membuat suatu ibadah bernilai sejak awal — dan maknanya terasa berbeda ketika Anda menyadari bahwa Ramadan adalah satu-satunya bulan yang menggabungkan semua ibadah dalam daftar tersebut sekaligus. Anda berpuasa, mendirikan qiyamul lail, memperbanyak sedekah, lebih sering membaca Al-Qur’an, dan jika mampu, menabung untuk ibadah haji. Jawaban Nabi menegaskan bahwa hal yang mengikat semuanya, hal yang menentukan seberapa besar nilai dari setiap ibadah tersebut, adalah seberapa banyak zikir di dalamnya.
“Zikir” sering diterjemahkan sekadar sebagai “mengingat”, sebuah padanan yang kurang mewakili makna aslinya. Al-Qur’an mengaitkannya langsung dengan hasil fisik yang dapat dirasakan:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
“Tenteram” di sini adalah thuma’ninah — tenangnya sesuatu yang sebelumnya goyah. Ramadan memberi Anda banyak alasan untuk merasa goyah: rasa lapar, emosi yang lebih mudah terpancing menjelang sore, hingga kecemasan ringan saat bertanya-tanya apakah puasa tahun ini benar-benar membawa perubahan dalam diri Anda. Ayat ini tidak menyodorkan zikir sebagai sekadar tambahan daftar tugas di samping puasa dan salat. Ayat ini justru menyebutkan satu-satunya hal dalam daftar tersebut yang seharusnya menenangkan hal-hal lainnya.
Ada alasan di balik ketenangan tersebut yang melampaui sekadar sensasi perasaan. Dalam sebuah hadis qudsi — sabda di mana Nabi menyampaikan firman Allah sendiri — kedekatan yang ditawarkan bukanlah sebuah kiasan:
إِنَّ اللَّهَ ﷿ يَقُولُ: أَنَا مَعَ عَبْدِي إِذَا هُوَ ذَكَرَنِي، وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku, dan kedua bibirnya bergerak karena-Ku.
— Sunan Ibnu Majah, edisi cetak halaman 4/707 dari , hadis 3792, dinilai sahih oleh para penyuntingnya.
Bacalah dengan saksama dan Anda akan mendapati bahwa janji tersebut sangat spesifik: bukan “Aku memberi pahala kepada hamba-Ku”, melainkan “Aku bersamanya”, yang terpicu tepat pada saat bibir itu benar-benar bergerak. Puasa mengosongkan hari dari makanan dan minuman; sebaliknya, zikir adalah hal yang seharusnya mengisi kekosongan hari-hari di bulan Ramadan.
Tidak semua zikir bentuknya sama, dan perbedaan ini penting untuk merencanakan hari-hari Ramadan Anda.
Jenis pertama tidak memiliki lafal yang baku, waktu yang tetap, maupun batasan jumlah. Ini seperti membaca Al-Qur’an di sela-sela pekerjaan, mengucapkan “subhanallah” sambil menunggu hidangan sahur matang, atau menyebut asma-asma Allah saat berjalan ke masjid untuk salat tarawih. Tidak ada ruginya memperbanyak zikir jenis ini, dan tidak ada istilah “berlebihan” dalam melakukannya selama Ramadan.
Jenis kedua bersifat terikat — lafal tertentu, pada waktu tertentu, dalam jumlah tertentu: zikir yang diucapkan saat bangun dan sebelum tidur, setelah setiap salat, sebelum makan, atau saat keluar rumah. Zikir ini tidak bisa ditukar dengan jenis yang pertama; ini adalah lafal warisan yang digunakan Nabi tepat pada momen-momen tersebut. Nilainya sebagian terletak pada kedisiplinan untuk mengulang kata-kata yang sama di waktu yang sama setiap harinya, terlepas dari apakah Anda sedang bersemangat atau tidak pada pagi itu.
Ramadan sangat ideal untuk membangun kebiasaan zikir jenis kedua ini, karena bulan ini dengan sendirinya menata ulang jadwal harian Anda di sekitar waktu sahur, waktu salat, dan berbuka. Fitur pendamping zikir di Adhkar menyesuaikan waktu zikir pagi dan petang dengan jadwal salat Anda yang sebenarnya, serta melacak hitungan untuk zikir yang harus diulang dalam jumlah tertentu, sehingga kebiasaan ini bisa bertahan melewati minggu pertama bulan puasa yang biasanya penuh euforia.
Prinsip yang sama — konsisten lebih baik daripada menggebu-gebu — terlihat dari cara Nabi menggambarkan ibadah yang berkelanjutan secara umum, menggunakan perumpamaan tentang perjalanan:
لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِرَحْمَةٍ، سَدِّدُوا، وَقَارِبُوا، وَاغْدُوا، وَرُوحُوا، وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا Amal seseorang saja tidak akan menyelamatkannya. Mereka bertanya, “Tidak juga engkau, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku — kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat dari-Nya. Maka berlakulah lurus, mendekatlah pada kesempurnaan, dan berjalanlah — pada waktu pagi, pada waktu petang, dan sedikit di akhir malam — dan dengan sikap pertengahan (konsisten) niscaya kalian akan sampai pada tujuan.”
— Shahih al-Bukhari, edisi cetak halaman 8/98 dari , hadis 6463.
Itu adalah metafora perjalanan yang persis menggambarkan apa yang telah diterapkan dalam jadwal zikir: pagi dan petang adalah dua etape perjalanan dalam sehari, dan sedikit tambahan sebelum tidur akan membawa Anda lebih jauh daripada satu lonjakan usaha yang menggebu-gebu. Nabi secara khusus menyebut zikir pagi dan petang sebagai titik jangkar yang patut dijaga, bersama dengan sepertiga malam terakhir — waktu di mana Ramadan telah membuat Anda terjaga, baik untuk mendirikan qiyamul lail maupun menyantap sahur.
Sahabat Mu’adz bin Jabal meriwayatkan sebuah hadis yang menyebutkan apa yang sebenarnya menjadi taruhannya:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ Tidak ada amal perbuatan manusia yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikir kepada Allah.
— Majma’ az-Zawa’id, edisi cetak halaman 10/73 dari . Al-Haitsami menyandarkannya kepada riwayat Ahmad dari Mu’adz bin Jabal dan mencatat bahwa setiap perawi dalam sanadnya terdapat dalam Shahihain kecuali satu orang, Ziyad bin Abi Ziyad, yang sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Mu’adz — sebuah celah yang patut diketahui meskipun sisa sanadnya kuat.
Dan di halaman berikutnya dari kitab yang sama, hadis Nabi tentang para mujahid, orang yang berpuasa, ahli ibadah, dan orang yang bersedekah — yang menjadi pembuka tulisan ini — langsung diikuti oleh riwayat lain dari Mu’adz. Ia menggambarkan apa yang disebutnya sebagai percakapan terakhirnya dengan Nabi:
أَنْ تَمُوتَ وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ [Amal yang paling dicintai Allah adalah] engkau meninggal dunia dalam keadaan lisanmu masih basah dengan zikir kepada Allah.
— diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Hibban, edisi cetak halaman 3/100 dari .
Mu’adz bertanya langsung kepada Nabi, pada momen yang mungkin disadari oleh keduanya sebagai pertemuan terakhir mereka, tentang amal apa yang paling dicintai Allah. Jawaban yang ia bawa pulang dan sampaikan bukanlah sebuah ritual ibadah tertentu — melainkan sebuah keadaan yang harus terus dijaga kapan pun ajal tiba, tanpa rencana dan tanpa jadwal. Ramadan tidak menjamin siapa pun akan bertemu dengan Ramadan berikutnya. Dalam sudut pandang ini, membangun kebiasaan di bulan ini sebenarnya bukanlah semata-mata tentang bulan ini saja.
Semua manfaat di atas tidak datang secara otomatis hanya karena suku kata yang diucapkan sudah benar. Zikir yang dilakukan hanya dengan lisan dan zikir yang dilakukan dengan kehadiran hati bukanlah ibadah yang sama dengan tingkat usaha yang berbeda — keduanya adalah ibadah yang sama sekali berbeda, yang kebetulan terdengar identik dari luar. Mengucapkan “Allahu akbar” sambil benar-benar merenungkan, meski sejenak, betapa kecilnya diri Anda dibandingkan dengan Dzat yang disebut dalam kalimat itu, adalah hal yang berbeda dengan membiarkan empat suku kata yang sama berlalu begitu saja tanpa makna untuk yang keseribu kalinya pada minggu itu.
Al-Qur’an memperluas cakupan ini jauh melampaui ucapan manusia:
تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.
Jika seluruh tatanan makhluk ciptaan-Nya sudah sibuk berzikir dalam frekuensi yang bahkan tidak dapat ditangkap oleh manusia, maka zikir seseorang tidaklah menambahkan sesuatu ke dalam alam semesta yang sunyi — melainkan secara sadar ikut bergabung dalam paduan suara yang sudah berlangsung, dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh gunung atau sungai. Itulah perbedaan yang dihasilkan oleh tafakur — kesadaran yang reflektif: kata-kata yang sama, diucapkan sambil benar-benar merenungkan apa yang digambarkannya, baik saat menatap langit di atas meja berbuka puasa, maupun saat meresapi rahmat spesifik yang memungkinkan Anda bisa terbangun untuk sahur.
Semua ini tidak membutuhkan perbendaharaan kata baru atau daftar tugas yang lebih panjang. Ini hanya menuntut Anda untuk memperlakukan zikir yang mungkin sudah Anda ucapkan — tasbih setelah setiap salat, doa sebelum berbuka puasa, bacaan Al-Qur’an yang memang sedang Anda rutinkan bulan ini — sebagai fondasi yang menopang seluruh aktivitas Anda, bukan sekadar formalitas pelengkap. Ucapkanlah zikir yang terikat pada waktu-waktu yang telah ditentukan jika Anda tidak sanggup melakukan hal lain; biarkan zikir yang tidak terikat mengisi celah-celah kosong yang ditinggalkan oleh puasa. Pustaka zikir menyediakan rangkaian zikir pagi dan petang, zikir setelah salat, serta penghitung untuk zikir yang harus diulang, seandainya Anda tidak ingin hanya mengandalkan ingatan di bulan ini.
Jika ada kesalahan dalam tulisan di atas — terjemahan yang meleset dari bahasa Arabnya, kutipan yang tidak akurat, atau klaim derajat hadis yang dinyatakan dengan keyakinan melebihi sumber aslinya — beri tahu kami. Koreksi tersebut jauh lebih berharga bagi kami daripada membiarkan tulisan ini tayang tanpa perbaikan.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita lisan dan hati yang tidak pernah lelah mengingat-Nya, di Ramadan kali ini dan di Ramadan mana pun yang kelak menjadi Ramadan terakhir kita.