Articles
Ramadan Adalah Bulan Turunnya Al-Qur'an
Ramadan menyandang nama Al-Qur'an karena alasan historis, bukan sekadar simbolis — malam turunnya wahyu, murajaah tahunan teks Al-Qur'an oleh malaikat yang dilakukan dua kali lipat pada tahun wafatnya Nabi, serta sebuah hadis berderajat hasan tentang apa yang akan dijumpai oleh para penghafalnya. Inilah yang sebenarnya dikatakan oleh sumber-sumber primer, halaman demi halaman.
- Penulis
- Tim Quran Gallery
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 7 menit
Bulan-bulan lain dalam kalender Hijriah dinamai berdasarkan musim, peristiwa, atau sekadar urutannya dalam setahun. Namun, Ramadan dinamai berdasarkan sebuah kitab. Ini bukan sekadar kiasan — inilah makna yang secara gamblang disebutkan dalam ayat yang mengistimewakan bulan ini. Hal ini juga didukung oleh kebiasaan tahunan yang tidak pernah dilakukan di bulan-bulan lain sepanjang hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: sebuah murajaah (pengecekan ulang) teks Al-Qur’an itu sendiri, yang dilakukan dengan cara yang sama, pada jadwal yang sama, di setiap bulan Ramadan yang beliau lalui.
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ … “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) …” — Surah Al-Baqarah, 2:185
Sebagian besar bulan mengambil namanya dari sesuatu yang terjadi di dalam bulan tersebut setiap tahunnya — entah itu musim, ibadah haji, atau sebuah peringatan. Ramadan mengambil namanya dari sesuatu yang hanya terjadi satu kali, pada bulan kesembilan kalender Arab, di tahun 610 Masehi: ayat-ayat pertama Al-Qur’an turun kepada seorang pria yang sedang menyendiri di sebuah gua di pinggiran Makkah. Setiap Ramadan sejak saat itu dinamai berdasarkan peristiwa tunggal tersebut, layaknya hari ulang tahun seseorang yang dinamai berdasarkan hari kelahirannya, bukan karena ia lahir berulang kali setiap tahun. Yang membuat Ramadan istimewa bukanlah sekadar peringatan peristiwa tersebut. Keistimewaannya terletak pada fakta bahwa Al-Qur’an itu sendiri—yang secara langsung menyebutkan waktu penurunannya di bulan ini—kemudian dimurajaah dan dicocokkan kembali dengan momen aslinya setiap tahun selama wahyu masih terus turun. Dan proses murajaah inilah yang sering kali terlewatkan dalam berbagai kisah tentang “bulan Al-Qur’an”.
Sebelum Al-Qur’an, tradisi Islam meyakini bahwa kitab-kitab suci yang turun sebelumnya juga memiliki keterikatan dengan bulan ini. Sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keempatnya:
“Suhuf Ibrahim ‘alaihis salam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan, Taurat diturunkan setelah berlalu enam malam dari bulan Ramadan, Injil setelah berlalu tiga belas malam, dan Al-Furqan [Al-Qur’an] diturunkan setelah berlalu dua puluh empat malam dari bulan Ramadan.”
— Musnad Ahmad, halaman cetak 28/191 dari
Hal yang tidak perlu diragukan lagi, karena sama sekali tidak membutuhkan hadis, adalah bahwa ayat 2:185 secara langsung menetapkan waktu turunnya wahyu Al-Qur’an di bulan ini, melalui firman Al-Qur’an itu sendiri. Detail yang belum pasti hanyalah malam tepatnya; fakta mengenai bulannya tidak bergantung pada ‘Imran al-Qaththan atau siapa pun.
Inilah bagian dari sejarah Ramadan yang tidak bisa ditangkap hanya dari sekadar nama dan tanggal: Al-Qur’an tidak sekadar diturunkan sekali lalu ditinggalkan begitu saja. Setiap bulan Ramadan di sepanjang hidup Nabi setelah wahyu pertama turun, Malaikat Jibril ‘alaihis salam datang dan mengulang kembali semua yang telah diturunkan sejauh itu, dari awal, untuk menyimak bacaan Nabi dan mencocokkannya dengan apa yang sebenarnya telah diwahyukan. Dan pada Ramadan terakhir di sisa hidup Nabi, pengecekan tahunan itu terjadi dua kali.
أَسَرَّ إِلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي بِالْقُرْآنِ كُلَّ سَنَةٍ، وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الْعَامَ مَرَّتَيْنِ، وَلَا أُرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِي) Fathimah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik kepadaku, “Jibril biasanya memurajaah Al-Qur’an bersamaku setahun sekali, tetapi tahun ini ia memurajaahnya bersamaku dua kali, dan aku tidak melihat hal ini melainkan sebagai pertanda bahwa ajalku telah dekat.”
— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 4/1911 dari , di bawah judul bab “Jibril biasa menyimak bacaan Al-Qur’an Nabi”
Nabi menafsirkan pelipatgandaan ini dengan tepat — beliau wafat dalam hitungan bulan setelah Ramadan tersebut. Namun, perhatikanlah apa sebenarnya makna dari murajaah ganda ini, terlepas dari pertanda yang dibawanya: ini adalah pengulangan kedua yang menyeluruh atas semua yang telah Allah wahyukan kepada beliau hingga saat itu, dicek baris demi baris bersama malaikat yang menyampaikannya. Ini bukanlah sekadar ibadah tambahan di bulan Ramadan. Ini adalah hal yang paling mendekati proses proofreading (pemeriksaan akhir) dalam sejarah Al-Qur’an itu sendiri, yang waktunya sengaja ditetapkan pada bulan yang sama setiap tahunnya, dan dilipatgandakan pada satu tahun yang krusial untuk memastikan bahwa teks tersebut telah paten sebelum sosok yang menerima seluruh wahyu itu tiada dan tak bisa lagi ditanya.
Inilah sebabnya mengapa hubungan antara Ramadan dan Al-Qur’an bukan sekadar masalah etimologis. Sebuah bulan yang dinamai berdasarkan peristiwa tiga belas abad yang lalu hanya akan menjadi catatan kaki sejarah jika tidak ada hal lain yang mengikatnya. Hal yang mengikat Ramadan dengan Al-Qur’an setiap tahunnya adalah bahwa ini merupakan bulan terjadinya pengecekan tersebut — yang juga, bukan suatu kebetulan, menjadi alasan mengapa Ramadan menjadi bulan di mana umat Islam membaca Al-Qur’an lebih banyak daripada gabungan bulan-bulan lainnya dalam setahun. Praktik ini tidak bermula sebagai sebuah instruksi untuk memperbanyak bacaan. Ia bermula sebagai deskripsi tentang apa yang dilakukan oleh Nabi sendiri setiap tahun di bulan khusus ini, dan instruksi tersebut kemudian mengikuti deskripsi yang ada.
Jika bulan ini menjadi istimewa karena Kitabullah dimurajaah di dalamnya, pertanyaan wajarnya adalah mengapa membacanya menjadi sangat penting — di luar pahala yang melekat pada setiap ibadah. Sebuah riwayat, yang dinilai hasan oleh para editor edisi ini dan secara terpisah dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, dengan menggambarkan apa yang akan dilakukan oleh Al-Qur’an itu sendiri kepada pembacanya di Hari Kiamat kelak:
“Al-Qur’an akan menemui orang yang membawanya (menghafal dan mengamalkannya) pada Hari Kiamat … dalam wujud seorang pria berwajah pucat. Ia akan berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mengenaliku?’ Orang itu akan menjawab: ‘Aku tidak mengenalimu.’ Ia akan berkata: ‘Aku adalah sahabatmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan di siang hari yang terik dan membuatmu terjaga di malam hari …’ Orang itu akan diberi kekuasaan di tangan kanannya dan kekekalan di tangan kirinya, mahkota kehormatan diletakkan di kepalanya, dan kedua orang tuanya dipakaikan pakaian yang tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan dunia. Mereka akan bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan pakaian ini?’ Akan dijawab, ‘Karena anakmu telah mengambil (berpegang teguh pada) Al-Qur’an.’ Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Bacalah, dan naiklah melalui tingkat-tingkat dan kamar-kamar Surga’ — dan ia akan terus naik selama ia membaca, baik dengan cepat maupun perlahan.”
— Musnad Ahmad, halaman cetak 38/42 dari , dinilai hasan oleh para editor edisi ini dan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya
Detail yang patut kita renungkan adalah bagaimana Al-Qur’an menyebut dirinya sendiri dalam riwayat tersebut: shahibuk — “sahabatmu”. Bukan sekadar buku yang selesai Anda baca. Melainkan seorang sahabat yang mengingat persis apa pengorbanan dari hubungan tersebut — rasa haus di siang hari yang terik yang dihabiskan untuk membaca Al-Qur’an alih-alih beristirahat, waktu tidur yang direlakan di malam hari alih-alih dinikmati. Ramadan melipatgandakan kedua pengorbanan tersebut dengan sengaja: hari berpuasa adalah hari tanpa makan dan minum, dan sebulan penuh salat malam adalah sebulan dengan waktu tidur yang berkurang. Apa yang digambarkan oleh riwayat ini bukanlah pahala terpisah untuk ibadah yang terpisah. Ini adalah Ramadan yang sama yang sedang dijalani — puasanya, malam-malam yang terjaga — yang diakui, pada satu hari yang paling menentukan, oleh Kitab yang dimurajaah di bulan yang sama setiap tahun selama Nabi masih hidup untuk memurajaahnya.
Rangkailah kepingan-kepingan ini, maka nama Ramadan tidak lagi sekadar label, melainkan menjadi deskripsi tentang apa yang sebenarnya terjadi: wahyu pertama yang ditetapkan pada bulan ini oleh firman Al-Qur’an itu sendiri, murajaah tahunan atas semua yang telah diwahyukan sejauh itu yang menjadikan bulan ini sebagai titik tetapnya setiap tahun, dan — di tahun terakhir — murajaah tersebut dilipatgandakan seolah-olah teks itu sendiri sedang ditutup dan dipastikan kesempurnaannya. Tidak ada satu pun dari sejarah tersebut yang mewajibkan siapa pun yang hidup hari ini untuk melakukan sesuatu. Namun, hal ini menjelaskan mengapa memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadan bukanlah sekadar tradisi acak yang disematkan pada bulan ini di kemudian hari. Ini adalah kelanjutan dari satu-satunya tujuan bulan ini sejak awal, dari tahun pertama ia ada hingga tahun terakhir Jibril datang dua kali.
Anda dapat membaca, mendengarkan, dan mempelajari setiap ayat yang disebutkan di atas — termasuk teks lengkap dari ayat 2:185 — di Qur’an reader kami, lengkap dengan teks bahasa Arab, terjemahan, dan fitur kata-per-kata di halaman yang sama.
Jika kami keliru dalam menerjemahkan, menilai derajat hadis, atau mencantumkan halaman di sini, beri tahu kami dan kami akan memperbaikinya secara terbuka — itulah sebabnya setiap kutipan di halaman ini akan membuka halaman cetak dari sumber aslinya.
Semoga Allah ﷻ menjadikan Ramadan kali ini sebagai momen di mana kita kembali kepada Kitab-Nya, sebagaimana Kitab tersebut diulang kembali setiap tahun di sepanjang hidup Nabi — bukan hanya sekali, melainkan sebagai kebiasaan tetap yang terus kita jaga hingga kita tidak lagi mampu melakukannya.