Articles
Ramadan Adalah Bulan untuk Mentadaburi Al-Qur'an, Bukan Sekadar Mengkhatamkannya
Ramadan meramaikan masjid-masjid dengan papan target khatam yang menghitung mundur sisa juz untuk dibaca. Namun, Al-Qur'an menyebutkan tolok ukur yang berbeda untuk bulan ini, dan praktik Ramadan Nabi sendiri menunjukkan seperti apa seharusnya membaca Al-Qur'an dengan tolok ukur tersebut.
- Penulis
- Tim Quran Gallery
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 7 menit
Masuklah ke sebagian besar masjid di pertengahan bulan Ramadan, dan Anda akan menemukan papan tulis, aplikasi, atau lembaran cetak yang tertempel di dekat pintu: sampai juz berapa imam tarawih tadi malam, juz berapa yang harus dibaca malam ini, dan berapa juz lagi yang tersisa menuju khatam di malam kedua puluh tujuh. Melacak bacaan seperti ini memang bermanfaat, dan mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan adalah pencapaian nyata yang patut direncanakan. Namun, catatan semacam itu hanya menjawab satu pertanyaan—seberapa jauh bacaan telah diselesaikan—dan perlu disadari bahwa Al-Qur’an itu sendiri, saat menjelaskan bulan tempat pelacakan ini terjadi, justru mengajukan pertanyaan yang sama sekali berbeda.
Ramadan disandingkan dengan Al-Qur’an sebelum disandingkan dengan ibadah lain yang dilakukan oleh seorang mukmin di dalamnya:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ … “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) …” — Surah Al-Baqarah, 2:185
Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan ini sebagai teks untuk diselesaikan. Ayat itu menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk—hudan lil-nās. Petunjuk bukanlah kuantitas yang menumpuk halaman demi halaman layaknya jarak yang bertambah di atas treadmill. Petunjuk adalah hubungan antara pembaca dan pesan: pesan tersebut harus sampai kepada pembaca, dipahami oleh pembaca, dan mengubah sesuatu dalam cara pembaca menjalani hidupnya. Jika tidak, pesan tersebut belum berfungsi sebagai petunjuk sama sekali. Sebuah mushaf bisa saja dibaca dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An-Nas oleh seseorang yang perhatiannya terus-menerus tertuju pada lalu lintas di luar jendela, dan bacaan itu tetap sah—setiap huruf yang diucapkan dengan benar akan mendapat pahala—tetapi petunjuk yang disebutkan dalam ayat ini belum terwujud. Ayat yang memberikan nama bagi Ramadan ini sekaligus memberikan tolok ukurnya, dan tolok ukur itu bukanlah jarak.
Hal ini menjadi jauh lebih penting di satu-satunya bulan di mana jarak bacaan sangat mudah untuk dikebut. Seseorang yang membuka Al-Qur’an selama sepuluh menit di hari Selasa biasa kecil kemungkinannya untuk menganggap volume bacaan sebagai tujuan utama, karena memang tidak banyak volume yang bisa disalahartikan. Namun, seseorang yang membaca satu juz atau lebih setiap malam selama tiga puluh malam berturut-turut akan lebih mudah terjebak pada perasaan bahwa hitungan itu sendiri adalah pencapaiannya—karena hal itu memang benar-benar sebuah pencapaian yang menuntut kerja keras. Ayat ini tidak meminta siapa pun untuk berhenti menghitung. Ayat ini hanya meminta agar hitungan tersebut tidak disalahartikan sebagai hasil akhir yang seharusnya dicapai.
Ramadan tidak hanya mengubah seberapa banyak Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bulan ini mengubah bagaimana beliau berinteraksi dengannya, melalui cara yang diriwayatkan dengan sangat presisi:
Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan di bulan Ramadan, saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan dan saling bertadarus Al-Qur’an dengannya (fa-yudārisuhu al-Qurʾān). Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam), ketika Jibril menemuinya, lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 1/6 dari , diriwayatkan juga oleh Muslim berdasarkan catatan kaki penyunting di halaman yang sama.
Kata yang menjadi titik berat dalam riwayat ini adalah mudārasah—berasal dari akar kata yang sama dengan dars (pelajaran), dan akar kata yang sama yang dijelaskan dalam catatan kaki riwayat tersebut sebagai “bergantian membaca satu sama lain.” Ini adalah bentuk interaksi yang spesifik, dan bentuknya berbeda dari sekadar membaca sendirian atau belajar sendirian. Seseorang yang membaca sendirian mengendalikan seluruh ritme bacaannya dan, jika perhatiannya teralihkan, ia bisa terus melafalkan bahasa Arab dengan benar tanpa ada yang menyadari bahwa maknanya tidak pernah sampai. Seseorang yang bergantian membaca dengan pihak lain tidak bisa melakukan hal itu. Setiap giliran menuntutnya untuk menyimak bacaan sebelumnya dengan saksama agar bisa melanjutkannya dengan benar, dan sebaliknya, bacaannya pun disimak dengan saksama sehingga jika ada kesalahan akan langsung ketahuan. Setiap malam di bulan Ramadan, bagi satu-satunya manusia yang paling tidak membutuhkan pengawasan, interaksi dengan Al-Qur’an justru disusun sebagai sebuah pengecekan, bukan pertunjukan tunggal.
Hal ini patut direnungkan justru karena riwayat ini menggambarkan Nabi, bukan seorang mukmin biasa yang sedang berjuang melawan sifat pelupa atau gangguan konsentrasi. Jika struktur saling menyimak dalam mudārasah dianggap sangat penting hingga menjadi praktik khusus yang melekat pada bulan Ramadan bagi beliau, maka ini bukanlah langkah perbaikan bagi pembaca yang lemah. Ini menjelaskan apa sebenarnya tujuan dari tambahan waktu bersama Al-Qur’an di bulan Ramadan: bukan sekadar membaca lebih banyak sendirian, melainkan sebuah interaksi yang dibangun agar dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak lain, bukan sekadar kepuasan pembaca karena telah menyelesaikannya.
Sebagian pembaca berasumsi bahwa tadabur—merenungkan makna Al-Qur’an—adalah praktik khusus bagi mereka yang memiliki lebih banyak waktu atau ilmu dibandingkan pembaca Ramadan pada umumnya yang harus membagi waktu antara pekerjaan, puasa, dan keluarga. Al-Qur’an justru memandang ketiadaan tadabur sebagai sebuah kegagalan mendasar, bukan sekadar kekurangan yang hanya dituntut dari para ulama:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” — Surah Muhammad, 47:24
Ayat ini hanya menawarkan dua kemungkinan bagi pembaca yang menelusuri Al-Qur’an tanpa merenungkannya: entah tadabur itu terjadi, atau ada sesuatu yang mengunci hati darinya. Tidak ada kategori ketiga yang dikhususkan untuk “membaca dengan benar tetapi tidak diwajibkan untuk tadabur.” Sudut pandang ini memiliki konsekuensi langsung bagi pembaca di bulan Ramadan secara khusus, karena Ramadan adalah bulan di mana jumlah bacaan yang sangat banyak akan melipatgandakan rasio antara ayat yang ditadaburi dengan ayat yang sekadar dibaca di sepanjang sisa tahun. Ritme yang membuat sebagian besar bacaan di minggu biasa berlalu tanpa tadabur tidak lantas menjadi lebih aman pada skala Ramadan—ia justru menjadi celah kosong sebesar satu mushaf penuh, yang diulang dalam tiga puluh malam alih-alih direntangkan sepanjang tahun.
Al-Qur’an juga memberikan kriteria yang benar-benar dapat diterapkan oleh pembaca pada bacaan di malam tertentu, alih-alih membiarkan pertanyaan “apakah bacaan ini terhitung” sekadar menjadi masalah perasaan:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetar hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” — Surah Al-Anfal, 8:2
Ayat ini menyebutkan dampak spesifik yang bisa diperiksa—bertambahnya iman—sebagai hasil dari dibacakannya ayat-ayat Al-Qur’an kepada orang-orang mukmin yang disebutkan, bukan sebagai bonus sesekali yang kebetulan dirasakan oleh sebagian pembaca. Jika diterapkan secara jujur pada malam tarawih atau sesi membaca pribadi, ini adalah pertanyaan nyata yang bisa diajukan oleh pembaca setelahnya: apakah bacaan ini mengubah sesuatu, ataukah juz tersebut sekadar dicoret dari daftar? Ramadan tidak mengubah apa yang disebutkan ayat ini sebagai dampak dari tilawah. Bulan ini melipatgandakan jumlah kesempatan di mana pembaca memiliki peluang untuk menyadari apakah dampak tersebut benar-benar terjadi.
Semua ini bukanlah argumen untuk menentang upaya mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan, dan bukan pula alasan untuk membaca lebih sedikit. Khatam yang ditargetkan oleh banyak masjid dan keluarga adalah kebaikan yang nyata, sesuatu yang sangat cocok dengan bulan ini, mengingat adanya tambahan salat malam dan hilangnya gangguan biasa berkat ibadah puasa. Yang berubah, ketika tolok ukur ayat 2:185, ekspektasi ayat 47:24, dan kriteria ayat 8:2 digabungkan, adalah apa yang dicari oleh pembaca saat menempuh jarak bacaan tersebut. Khatam yang diselesaikan dengan cepat dan khatam di mana beberapa ayat diresapi sebagaimana riwayat di atas menggambarkan interaksi Ramadan Nabi sendiri, bukanlah pencapaian yang sama, meskipun sama-sama menyelesaikan tiga puluh juz. Yang pertama bisa dibuktikan dengan papan tulis. Yang kedua hanya bisa dibuktikan oleh pembaca, secara jujur, terhadap kriteria yang benar-benar disebutkan oleh Surah Al-Anfal—dan tambahan waktu di bulan Ramadan ada untuk memberi ruang bagi keduanya, bukan untuk memaksa kita memilih salah satu.
Itulah sebabnya struktur mudārasah menjadi penting melampaui konteks sejarahnya. Seseorang yang selalu membaca mushaf sendirian tidak memiliki siapa pun untuk menyadari ketika bacaan malamnya beralih ke mode autopilot. Seseorang yang menyimak sebagian bacaan bersama guru, lingkaran studi, atau bahkan anggota keluarga secara bergantian telah membangun jenis pengecekan yang sama persis dengan yang dimiliki Nabi di bulan Ramadan—bukan karena membaca sendirian itu kurang baik, tetapi karena keharusan untuk mempertanggungjawabkan bacaan kepada perhatian orang lain adalah satu dari sedikit hal yang secara andal mampu menangkap apa yang sudah tidak lagi disadari oleh perhatian pembaca itu sendiri.
Aplikasi pembaca Quran Gallery menyandingkan teks bahasa Arab, terjemahannya, dan tafsir klasik dalam satu halaman justru karena alasan ini—agar berhenti di tengah juz untuk benar-benar meresapi sebuah ayat tidak akan mengorbankan progres bacaan malam itu. Jika ada kutipan atau terjemahan di atas yang perlu diperbaiki, beri tahu kami; kami lebih suka dikoreksi daripada membiarkan kesalahan tetap ada.
Kami memohon kepada Allah, di bulan yang disandingkan dengan Kitab-Nya ini, agar menjadikan kami orang-orang yang diubah oleh apa yang kami baca di dalamnya, bukan sekadar orang-orang yang menyelesaikannya.