Articles
Cara Nyata Menghidupkan Ramadhan Bersama Al-Qur'an
Enam kebiasaan konkret untuk membangun hubungan nyata dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan ini — porsi harian yang pas agar bertahan sebulan penuh, terjemahan yang terbuka di sebelah mushaf, shalat malam yang memberi pelajaran alih-alih sekadar melelahkan, dan banyak lagi — semuanya merujuk pada sumber utama, bukan sekadar slogan.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 7 menit
Setiap bulan Ramadhan di sepanjang hidupnya, Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) duduk bersama malaikat Jibril (‘alaihis salam) dan mengulang kembali hafalan Al-Qur’an dari awal, malam demi malam, selama sebulan penuh.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk menyimak bacaan Al-Qur’an beliau. Sungguh, Rasulullah dalam keadaan itu lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 1/6 dari
Perhatikan makna sebenarnya dari murajaah (pengulangan) tersebut. Ini bukanlah sekadar membaca ulang dari nol setiap tahunnya — Rasulullah sudah hafal seluruh isi Al-Qur’an. Ini adalah sebuah pemeriksaan: apakah yang aku bawa masih sesuai dengan apa yang diturunkan kepadaku? Itulah teladan yang mendasari bulan ini, dan prinsip ini bisa diterapkan oleh pembaca biasa dengan jadwal yang biasa pula. Ramadhan pada dasarnya bukan tentang seberapa banyak halaman yang lewat di depan mata Anda. Ini tentang mengakhiri bulan dengan hubungan yang baru bersama Al-Qur’an, dan itu butuh rencana, bukan sekadar mengandalkan suasana hati. Berikut adalah enam kebiasaan untuk mewujudkannya.
Al-Qur’an terdiri dari 604 halaman cetak. Bagilah angka tersebut dengan dua puluh sembilan atau tiga puluh malam, dan Anda akan mendapatkan angka sekitar dua puluh halaman sehari, atau kira-kira satu juz — keduanya akan bermuara pada satu kali khatam saat Idul Fitri. Tuliskan target angka Anda sendiri sebelum bulan ini dimulai, berdasarkan sisa waktu luang di hari-hari biasa Anda, bukan berdasarkan semangat menggebu-gebu di malam pertama Ramadhan. Target yang Anda tetapkan pada pukul sebelas malam di hari pertama namun tak sanggup Anda pertahankan di hari kesepuluh justru lebih buruk daripada tidak punya target sama sekali: hal itu hanya akan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu lagi kegagalan Anda di Ramadhan ini, sesuatu yang sangat bertentangan dengan tujuan awalnya.
Jika tahun lalu Anda berhasil khatam satu kali dan tahun ini Anda punya lebih banyak waktu, tambah porsinya pada batas yang sanggup Anda pertahankan, bukan melipatgandakannya hanya bermodal nekat. Khatam perlahan yang diselesaikan hingga akhir jauh lebih baik daripada khatam cepat yang terbengkalai di pekan kedua — dan target yang tidak realistis pasti akan berujung pada hal tersebut.
Sekadar membaca tidak pernah dijadikan sebagai garis akhir. Al-Qur’an sendiri menyatakan hal tersebut, dalam sebuah ayat yang menjelaskan tujuan penurunannya:
كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.
Anda tidak butuh sesi belajar khusus untuk mengamalkan hal ini. Cara praktisnya jauh lebih sederhana: sebelum Anda membalik halaman, lihatlah terjemahan dari apa yang baru saja Anda baca dalam bahasa yang Anda pahami. Aplikasi pembaca Al-Qur’an kami menampilkan teks bahasa Arab dan terjemahannya di layar yang sama persis untuk tujuan ini — tidak perlu aplikasi kedua, tidak perlu takut kehilangan halaman bacaan. Memahami dua baris ayat jauh lebih berharga di akhir bulan nanti daripada membaca dua puluh baris tanpa kesadaran penuh.
Shalat Tarawih dan sepertiga malam terakhir adalah momen di mana kebanyakan orang mendengarkan porsi bacaan Al-Qur’an terbanyak sepanjang tahun — yang menjadikannya waktu terburuk untuk kehilangan fokus. Rasulullah menggambarkan keadaan di Akhirat kelak di mana kedudukan seorang pembaca Al-Qur’an ditentukan persis oleh sejauh mana bacaannya:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا Akan dikatakan kepada shahibul qur’an (orang yang selalu bersama Al-Qur’an): bacalah, dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia — karena sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.
— Sunan Abī Dāwūd, halaman cetak 2/592 dari , dinilai ṣaḥīḥ li-ghayrihi oleh penyunting edisi tersebut, Shuʿayb al-Arnaʾūṭ, dengan sanad yang berstatus ḥasan pada asalnya
Jika kedudukan Anda naik seiring dengan seberapa banyak Al-Qur’an yang benar-benar Anda resapi, maka membaca surah-surah pendek yang itu-itu saja setiap malam dalam shalat sama halnya dengan sengaja membatasi peningkatan tersebut. Mintalah siapa pun yang mengimami shalat Anda untuk menggilir bacaan yang lebih panjang selama sebulan, atau jika Anda shalat sendiri, pilihlah juz yang berbeda setiap malam alih-alih kembali ke lima surah andalan Anda. Ayat-ayat yang belum familier yang memaksa Anda untuk berkonsentrasi akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada ayat-ayat nyaman yang bisa Anda baca sambil setengah tertidur.
Ada pahala yang nyata dalam membaca Al-Qur’an, tetapi perjalanan ke kantor, kesibukan di dapur, atau mata yang lelah di penghujung hari puasa bukanlah sebuah kegagalan — justru di saat-saat itulah Al-Qur’an menyuruh Anda untuk mendengarkan:
وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
Perintah “dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang” memiliki makna yang tegas dalam ayat tersebut — ini bukanlah instruksi untuk menjadikannya sekadar suara latar. Pilihlah satu qari, unduh surah yang ingin Anda dengarkan sebelum Anda membutuhkannya (jeda iklan di tengah ayat akan merusak suasana), dan berikan perhatian penuh layaknya Anda sedang mendengarkan seseorang yang berbicara langsung kepada Anda. Sepuluh menit mendengarkan dengan cara seperti itu akan lebih membekas di hati daripada satu jam memutarnya pelan-pelan sebagai suara latar.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 4/1919 dari
Mengajar tidak selalu membutuhkan rencana pelajaran. Ia bisa berupa satu kalimat saat berbuka puasa: kisah semut yang memperingatkan kawanannya, unta betina yang menjadi ujian bagi seluruh kaum, atau anak laki-laki yang dibuang ke dalam sumur namun akhirnya menguasai negeri tempat ia dijual. Pilihlah satu kisah yang Anda baca pekan ini dan ceritakan kembali dengan bahasa Anda sendiri kepada siapa pun yang ada di meja makan Anda, dalam kalimat yang bahkan bisa dipahami oleh anak-anak. Intinya bukan sekadar pada ceritanya — melainkan agar Al-Qur’an menjadi topik perbincangan di rumah Anda, bukan sekadar kitab yang terlipat di rak di antara waktu-waktu shalat.
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul qur’an — merekalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.”
— Sunan Ibn Mājah, halaman cetak 1/146 dari , dinilai dengan sanad ḥasan oleh penyunting edisi tersebut
“Ahlul Qur’an” menggambarkan orang-orang yang karakternya dibentuk oleh apa yang mereka baca, bukan sekadar orang yang selesai membacanya. Resolusi berupa daftar panjang — “harus lebih sabar, lebih dermawan, lebih jujur, lebih bersyukur” — jarang bisa bertahan melewati hari sulit pertama. Alih-alih demikian, saat Anda membaca Al-Qur’an bulan ini, tandai sifat pertama yang disebutkan Al-Qur’an yang Anda tahu merupakan kelemahan Anda — entah itu bersabar menghadapi kekesalan kecil sehari-hari, bersedekah dengan sesuatu yang sebenarnya ingin Anda simpan, atau merendahkan suara saat sedang marah — dan pegang teguh satu hal tersebut setiap kali situasinya muncul, selama sisa bulan ini. Satu sifat yang benar-benar terbangun akan bertahan jauh lebih lama daripada empat sifat yang hanya sekadar diucapkan.
Kembalilah ke titik awal pembahasan ini: sebuah murajaah, bukan memulai dari nol. Di malam-malam terakhir, jangan menganggap khatam sudah selesai begitu Anda menutup halaman terakhir — luangkan satu waktu duduk untuk merenungkan kembali apa yang telah Anda baca, sebagaimana pertemuan malam hari di bulan Ramadhan itu sendiri adalah sebuah murajaah atas segala hal yang telah diturunkan. Bulan yang dihabiskan dengan cara seperti ini tidak akan berakhir saat mushaf ditutup. Ia berakhir dengan Anda membawa lebih banyak nilai Al-Qur’an di dalam diri Anda dibandingkan saat Ramadhan baru dimulai.
Anda dapat membaca, mendengarkan, dan menyimak terjemahan dari setiap ayat dan surah yang disebutkan di atas melalui aplikasi pembaca Al-Qur’an kami — teks Arab, terjemahan, dan audio tersedia di satu tempat, sehingga tak satu pun dari enam kebiasaan di atas membutuhkan aplikasi kedua untuk dipraktikkan.
Jika ada kesalahan terjemahan, penilaian hadits, atau nomor halaman di sini, beri tahu kami dan kami akan memperbaikinya secara terbuka — itulah sebabnya setiap kutipan di halaman ini akan membuka halaman cetak dari sumber aslinya.
Semoga Allah ﷻ mempertemukan kita dengan Ramadhan kali ini sebagaimana Rasulullah menyambutnya: dengan Al-Qur’an yang diperbarui di dalam diri kita pada malam berakhirnya bulan suci ini, bukan sekadar dibaca sambil lalu.