Articles
Haji Dimulai dari Rumah: Lima Kebiasaan yang Harus Dibangun Sebelum Berangkat
Urusan visa, penerbangan, dan vaksinasi bisa diselesaikan beberapa minggu sebelum keberangkatan. Namun, bekal yang sebenarnya akan menopang Anda selama ibadah—ilmu, zikir, kesabaran, teman seperjalanan, dan doa—harus dibangun jauh sebelum itu, di rumah, saat keseharian Anda belum terasa seperti suasana haji.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Di antara memesan tiket pesawat dan mengemas barang bawaan, sebagian besar persiapan haji biasanya hanya di atas kertas: visa, sertifikat vaksin, daftar barang bawaan, hingga menukar uang riyal. Semua itu memang penting, tetapi bukan itu yang sebenarnya akan menopang Anda saat berada di Tanah Suci—saat menghadapi antrean yang tak kunjung bergerak, kelelahan luar biasa di Arafah, atau saat ada orang tak dikenal tertidur di bahu Anda di dalam bus menuju Muzdalifah. Kekuatan untuk melewati hari-hari itu tidak ada dalam daftar periksa yang bisa Anda serahkan kepada agen perjalanan. Hal tersebut harus dibangun, perlahan-lahan, jauh sebelum Anda naik pesawat, di minggu-minggu biasa ketika keseharian Anda belum terasa seperti suasana haji.
Ada lima kebiasaan yang bisa melatih hal tersebut. Tak satu pun dari kelimanya membutuhkan tanggal keberangkatan untuk mulai dilakukan.
Perhatikan rombongan jemaah mana pun saat beribadah dan Anda akan melihatnya: seseorang ragu-ragu, melirik orang tak dikenal di sebelahnya, lalu meniru apa pun yang orang itu lakukan—entah benar atau salah. Ibadah yang didasari ilmu tidaklah seperti itu. Haji memiliki urutan kewajiban, rukun, dan sunah yang jelas. Apa yang harus dilakukan ketika salah satunya terlewat atau tidak berurutan sudah diatur secara matang dalam ilmu fikih, bukan sekadar tebakan yang dibuat di bawah tekanan teriknya matahari Arafah.
Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengaitkan pemahaman semacam itu secara langsung dengan kebaikan dari Allah. Mu’awiyah (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa beliau bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 1/39 dari kitab , di bawah bab yang diberi judul oleh al-Bukhari secara khusus untuk hadis ini: pemahamanlah yang menjadi tolok ukur kebaikan, bukan sekadar banyaknya amal. Sebelum Anda berangkat, luangkan waktu untuk mempelajari urutan ibadah haji Anda yang sebenarnya—apa nama jenis haji Anda (ifrad, tamatuk, atau qiran), apa saja yang wajib dan sunah di setiap tahapannya, serta apa yang harus dilakukan jika Anda melewatkan satu langkah. Mengikuti manasik, membaca buku yang tepercaya, atau berdiskusi dengan orang yang sudah pernah berangkat dan paham hukum-hukumnya akan jauh lebih bermanfaat bagi Anda di Arafah daripada pencarian mendadak saat Anda sudah berada di sana, di mana sinyal internet sering kali tidak stabil dan kerumunan orang tidak akan menunggu Anda.
Seberapa sering Anda berzikir pada minggu-minggu sebelum keberangkatan, kira-kira sebesar itulah kekuatan yang Anda miliki saat Anda kurang tidur, dehidrasi, dan berdiri berjam-jam di bawah terik matahari. Haji tidak meningkatkan kapasitas Anda; haji menguji kapasitas yang sudah Anda bangun. Allah menjelaskan dengan tepat apa fungsi zikir pada saat-saat seperti itu:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ketenteraman yang dijanjikan di sana bukanlah sekadar suasana hati; melainkan sesuatu yang secara otomatis dicari oleh hati yang lelah, jika memang sudah dilatih. Dan latihannya sendiri tidak perlu muluk-muluk. ‘Aisyah (radhiyallahu ‘anha) meriwayatkan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah ditanya tentang amalan apa yang paling dicintai Allah, lalu beliau menjawab:
“Yang paling berkesinambungan (rutin), meskipun sedikit.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 5/2373 dari kitab , di bawah judul bab yang secara lugas menyebutkan intinya: kesederhanaan dan keistikamahan dalam beramal. Pilihlah amalan yang cukup ringan untuk benar-benar bisa dipertahankan—jumlah tasbih yang tetap setelah setiap salat, target halaman Al-Qur’an per hari, atau doa pendek yang dihafal di luar kepala—dan pertahankan mulai sekarang, selama berbulan-bulan, sampai Anda tidak perlu bersusah payah lagi untuk mengingatnya. Itulah kebiasaan yang akan tetap bertahan ketika Anda terlalu lelah untuk membangun kebiasaan baru.
Tidak ada bagian dari perjalanan ini yang menguji karakter seperti hal-hal yang sekilas tidak ada hubungannya dengan ibadah: menunggu bus selama lima jam, teman sekamar yang kebiasaannya membuat Anda kesal, atau antrean yang diserobot orang tak dikenal. Allah menyinggung hal ini secara spesifik ketika Dia mensyariatkan bulan-bulan haji:
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَـٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ …
“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji…”
Perhatikan apa yang Allah tekankan: bukan kemalasan dalam beribadah, melainkan kelemahan-kelemahan yang justru dipicu oleh keramaian dan kelelahan—kata-kata kasar, mudah marah, dan berdebat tentang siapa yang benar. Ayat tersebut tidak sedang menggambarkan suasana hati yang Anda harapkan akan datang dengan sendirinya pada hari H; ayat itu menyebutkan sebuah kedisiplinan yang diharapkan sudah Anda latih. Setiap hal yang menjengkelkan antara hari ini hingga hari keberangkatan—pengendara yang memotong jalan Anda, kerabat yang menguji kesabaran Anda, atau rekan kerja yang menyebalkan di hari yang berat—adalah tempat latihan yang tepat untuk hal ini. Berlatihlah untuk menahan diri dari perdebatan sekarang, ketika risikonya kecil, dan hal itu akan menjadi refleks alih-alih pergulatan batin ketika risikonya adalah ibadah haji Anda.
Siapa yang berdiri di sebelah Anda dalam antrean, berbagi kamar dengan Anda, dan mewarnai suasana rombongan Anda akan membentuk pengalaman haji Anda lebih dari yang Anda bayangkan sebelum berangkat. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjelaskan hal ini dengan gamblang kepada Abu Musa (radhiyallahu ‘anhu):
“Perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau engkau sekadar mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi mungkin akan membakar bajumu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 2/741 dari kitab . Teman yang memilih berzikir saat lelah akan menarik Anda untuk ikut berzikir; teman yang memilih mengeluh akan menarik Anda untuk ikut mengeluh, dan dalam perjalanan yang dibangun di atas ketahanan fisik serta mental, tarikan semacam itu jauh lebih berpengaruh dari biasanya. Jika Anda memiliki kebebasan untuk memilih dengan siapa Anda bepergian atau sekamar, pastikan hal tersebut sebelum Anda memesan tiket, bukan setelah Anda mendarat.
Saat Anda sudah benar-benar berada di sana—mengelilingi Kakbah, wukuf di Arafah, berjalan antara Safa dan Marwah—Anda tentu tidak ingin menghabiskan waktu tersebut hanya untuk mengingat-ingat siapa saja yang harus didoakan. Allah memberi tahu kita dengan jelas untuk apa momen-momen memohon kepada-Nya itu:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ …
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku…”
Tulislah daftarnya sekarang, selagi Anda punya waktu dan pikiran yang jernih: orang tua Anda, pasangan dan anak-anak Anda, kerabat yang sedang sakit, teman-teman yang menitipkan doa, umat Islam secara umum, serta hal-hal spesifik yang secara pribadi Anda minta kepada Allah. Bacalah daftar itu berulang kali sebelum Anda berangkat, sehingga nama-nama tersebut sudah melekat di ingatan, bukan sesuatu yang harus Anda ingat-ingat dengan susah payah saat kelelahan dan dikelilingi oleh ratusan orang lain yang melakukan hal serupa.
Tak satu pun dari kelima kebiasaan ini membutuhkan tiket pesawat untuk mulai dilakukan. Mulailah kebiasaan tersebut hari ini, dan pada saat Anda berdiri di tempat ibadah-ibadah ini benar-benar dilaksanakan, kebiasaan itu sudah menyatu dengan diri Anda. Koleksi Adhkar di Quran Gallery memuat zikir dan doa-doa sahih yang bisa Anda gunakan untuk membangun kebiasaan tersebut—sebuah tempat untuk memulai rutinitas itu sekarang, jauh sebelum pesawat lepas landas.