Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Adzan Bukan Sekadar Anjuran: Alasan Mengapa Kita Harus Salat Berjamaah Tanpa Menunda

Salat berjamaah bukanlah sekadar bonus bagi mereka yang rajin — dalil-dalil yang ada menempatkan tindakan mendengar panggilan dan segera memenuhinya sebagai standar dasar. Berikut adalah empat kutipan yang menjelaskan mengapa masjid dan takbiratul ihram pertama sangat layak untuk dikejar.

Penulis
Tim Quran Gallery
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Sebagian besar dari kita menganggap adzan sebagai pengingat — suara yang memberi tahu bahwa waktu salat telah tiba, lalu kita abaikan sejenak sampai pekerjaan kita selesai. Padahal, dalil-dalil yang ada justru menggambarkannya lebih mirip seperti sebuah panggilan wajib. Anda tidak sekadar diberi tahu bahwa waktu salat sudah masuk; Anda sedang dipanggil untuk melaksanakannya. Catatan sejarah Islam memandang tindakan mendengar panggilan tersebut lalu menunda untuk memenuhinya sebagai sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi berat, bukan sekadar masalah pengaturan jadwal.

Sudut pandang ini muncul dua kali dalam bagaimana tradisi Islam membahas salat berjamaah: ada pahala besar bagi yang hadir, dan ada teguran yang sangat tegas bagi mereka yang mendengar panggilan tersebut namun tidak datang.

Mari kita mulai dengan hitungan matematis sederhana yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai perbedaan antara salat sendirian dan salat berjamaah:

Salat berjamaah itu dua puluh tujuh derajat lebih utama daripada salat sendirian.

Diriwayatkan dari ʿAbdullāh bin ʿUmar, tercetak pada halaman 1/131 dari

, kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Angka yang begitu spesifik ini patut kita renungkan. Para ulama sejak lama menafsirkannya bahwa Allah tidak hanya memberi pahala pada salatnya itu sendiri, tetapi juga pada segala hal yang menyertainya — langkah kaki menuju masjid, waktu menunggu iqamah, serta berdiri bahu-membahu dengan orang-orang yang tidak kita pilih sendiri namun tetap salat bersama mereka. Semua itu tidak akan terjadi jika salat hanya dijadikan sekadar pengisi waktu luang di sela-sela kesibukan Anda, dilakukan sendirian, di mana pun Anda berada.

Kutipan kedua ini mungkin lebih berat untuk diterima, karena dalil ini menghapus anggapan bahwa salat berjamaah adalah sebuah pilihan bagi siapa saja yang masih bisa mendengar suara adzan:

Barangsiapa mendengar panggilan (adzan) lalu ia tidak datang, maka tidak ada salat baginya — kecuali jika ia memiliki uzur.

Disandarkan kepada Ibnu ʿAbbās, tercetak pada halaman 1/507 dari

, kitab Sunan Ibn Mājah. Para penyunting edisi ini mencatat bahwa para perawi dalam sanadnya adalah perawi tepercaya yang juga digunakan dalam dua kitab Ṣaḥīḥ (Bukhari dan Muslim), sembari memberi catatan bahwa beberapa perawi mempertahankan riwayat ini sebagai perkataan Ibnu ʿAbbās sendiri, bukan sesuatu yang ia sandarkan kepada Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* — sebuah perbedaan pendapat yang belum sepenuhnya diselesaikan oleh para ulama hadis. Namun, catatan tersebut tidak menghapus inti pesannya; justru semakin mempertajamnya. Bahkan jika dibaca dengan hati-hati sebagai pandangan matang dari salah satu sahabat paling senior mengenai kewajiban yang ditimbulkan oleh adzan, frasa "kecuali jika ia memiliki uzur" adalah pintu yang sangat sempit. Berjalan lima menit lebih jauh dari ruang tamu Anda, atau sekadar sedang tanggung mengerjakan sesuatu, tidak termasuk dalam uzur tersebut. Sakit yang sebenarnya atau halangan yang nyata barulah bisa dikategorikan sebagai uzur.

Dengan kata lain, masjid bukanlah sekadar pilihan tambahan bagi mereka yang kebetulan sedang luang. Mendengar panggilan adzan adalah pemicunya; dan memenuhinya adalah kewajiban dasarnya.

Ketika salat berjamaah sudah menjadi tujuan, dalil-dalil yang ada mendorong kita lebih jauh lagi — bukan hanya bahwa Anda harus pergi, tetapi kapan Anda harus tiba. Sampai di masjid sebelum imam mengucapkan takbir pembuka (takbiratul ihram) dianggap sebagai sebuah pencapaian tersendiri:

Barangsiapa salat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, dan selalu mendapati takbir pertama, maka akan dicatat baginya kebebasan dari dua hal: bebas dari api neraka dan bebas dari kemunafikan.

Diriwayatkan dari Anas bin Mālik, tercetak pada halaman 1/281 dari

, kitab Sunan al-Tirmidhī — di mana al-Tirmidhī sendiri menambahkan sebuah catatan yang lebih patut untuk disampaikan daripada disembunyikan: beliau mengatakan bahwa riwayat ini sebagian besar ditransmisikan sebagai perkataan Anas sendiri, dan beliau tidak mengetahui ada orang yang menyandarkannya (marfu') kepada Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* kecuali melalui satu jalur ini saja. Kejujuran dari sang pengumpul hadis inilah yang menjadi alasan mengapa kami mengutip dengan cara seperti ini — sebuah hadis menjadi lebih bernilai ketika Anda bisa melihat dengan jelas seberapa yakin orang-orang yang menjaganya, alih-alih sekadar menyebutkan nama kitab tanpa ada yang bisa diverifikasi. Meskipun dipegang secara longgar, riwayat ini menangkap sebuah kebenaran tentang nilai yang ditempatkan oleh tradisi Islam pada kedatangan lebih awal, bukan sekadar menyelinap masuk ke dalam saf di tengah-tengah salat: tujuannya bukanlah sekadar hadir, melainkan berada di sana sebelum salat dimulai, bukan saat salat sudah berlangsung.

Kutipan terakhir ini menjawab pertanyaan yang lebih sunyi — apa yang terjadi pada seseorang yang terus-menerus hadir di masjid, minggu demi minggu, tanpa pernah terlewat:

Tidaklah seorang muslim menjadikan masjid sebagai kebiasaannya untuk salat dan berzikir, melainkan Allah akan menyambutnya dengan gembira — sebagaimana sebuah keluarga menyambut seseorang yang telah lama pergi, lalu pulang ke rumah.

Diriwayatkan dari Abū Hurayrah, tercetak pada halaman 1/512 dari

, kitab Sunan Ibn Mājah — dinilai sahih oleh al-Ḥākim, disepakati oleh al-Dhahabī, dan secara terpisah disahihkan oleh al-Būṣīrī. Ini adalah hadis yang patut diingat pada hari-hari ketika salat berjamaah terasa seperti sebuah beban alih-alih sebuah karunia: tolak ukurnya bukanlah satu salat yang dramatis, melainkan pola untuk terus kembali. Masjid tidak hanya mencatat kehadiran; berdasarkan riwayat ini, masjid adalah tempat di mana kehadiran yang rutin akan disambut, bukan sekadar dicatat.

Di balik keempat dalil ini, terdapat satu peringatan yang dinyatakan secara langsung oleh Al-Qur’an. Allah tidak mengecam orang-orang karena mereka tidak salat — Dia mengecam sebuah kelalaian spesifik di dalam salat itu sendiri:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.

Surah al-Māʿūn, 107:4–5

Para ahli tafsir sejak lama memaknai kelalaian tersebut dalam dua hal: meninggalkan salat sama sekali, atau terbiasa menundanya hingga salat tersebut diselipkan pada sisa waktu yang ada. Salat berjamaah adalah salah satu dari sedikit struktur yang dibangun Islam secara khusus untuk menjaga kita dari jenis kelalaian yang kedua. Sebuah salat dengan waktu berkumpul yang tetap, orang yang secara khusus memanggil Anda untuk melaksanakannya, dan orang-orang lain yang sudah berdiri di dalam saf menunggu, jauh lebih sulit untuk diabaikan begitu saja dibandingkan dengan salat yang hanya menjadi urusan Anda sendiri, kapan pun Anda sempat mengerjakannya.

Semua ini tidak menuntut kesempurnaan sejak hari pertama. Hal ini menuntut adanya pergeseran dalam menentukan apa yang menjadi jangkar utama. Daripada menganggap jadwal Anda sebagai sesuatu yang tetap dan salat sebagai hal yang diselipkan di antaranya, jadikanlah adzan sebagai titik tetap dan susunlah rencana harian Anda yang lain — rapat, urusan pekerjaan, waktu bermain gawai — mengitarinya. Mengetahui rentang waktu salat yang pasti di mana pun Anda berada akan menghilangkan alasan paling mudah untuk menunda: tidak tahu berapa banyak waktu yang sebenarnya tersisa. Fitur waktu salat dari Quran Gallery memberikan rentang waktu tersebut sesuai lokasi Anda, lengkap dengan notifikasi, sehingga alasan “saya lupa waktu” tidak lagi masuk akal ketika Anda tiba setelah takbiratul ihram pertama diucapkan.

Pahala yang dijelaskan di atas bukanlah untuk kehadiran sempurna dari seseorang yang tidak pernah merasa kesulitan melakukannya. Pahala tersebut diperuntukkan bagi mereka yang terus memilih untuk memenuhi panggilan tersebut, empat puluh hari berturut-turut, dari satu salat ke salat berikutnya.