Articles
Setelah Adzan, dalam Tasyahud, di Hari Jumat: Waktu-waktu Nabi Menganjurkan Shalawat
Shalawat kepada Nabi bisa diucapkan kapan saja, tetapi Sunnah mengkhususkan waktu-waktu tertentu dengan bacaan yang spesifik. Berikut adalah lima waktu tersebut, lengkap dengan rujukan kitab cetaknya.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Bershalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak pernah mengenal batas waktu. Tidak ada hadis yang membatasinya pada keharusan bersuci, menghadap kiblat, menggunakan bahasa tertentu, atau waktu tertentu, dan tidak ada seorang pun yang butuh izin untuk memulainya. Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah shalawat itu diperbolehkan, melainkan sesuatu yang lebih spesifik dan praktis: adakah waktu-waktu tertentu yang dianjurkan langsung oleh Nabi?
Jawabannya ada, dan sangatlah konkret. Dalam beberapa keadaan, beliau tidak hanya menyebutkan waktunya—beliau juga mengajarkan lafalnya, menetapkan urutan bacaannya, atau menjelaskan kepada para Sahabat keutamaan dari shalawat yang mereka ucapkan. Berikut adalah lima waktu tersebut, masing-masing ditelusuri hingga ke halaman kitab cetak yang memuatnya, sehingga pembaca yang ingin merujuk langsung ke sumber aslinya dapat melakukannya dengan mudah.
Waktu pertama adalah yang sudah dilakukan setiap Muslim beberapa kali dalam sehari, terlepas dari apakah mereka menyadarinya sebagai waktu khusus atau tidak.
‘Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan bagaimana ia mempelajarinya. Ka’b bin ‘Ujrah (radhiyallahu ‘anhu) menghentikannya dan menawarkan apa yang ia sebut sebagai hadiah—sesuatu yang didengarnya langsung dari Nabi. Hadiah tersebut ternyata adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan para Sahabat karena ketidaktahuan mereka dalam beramal: mereka sudah tahu cara mengucapkan salam kepada Nabi, karena lafal tersebut ada di dalam tasyahud itu sendiri, tetapi mereka belum tahu cara mengucapkan shalawat kepadanya. Jawaban beliau adalah lafal yang terus dibaca oleh umat Islam sejak saat itu:
“Katakanlah: Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim—sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim—sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Riwayat ini tercatat pada halaman cetak 3/1233 dari kitab . Perhatikan bagaimana percakapan ini berlangsung. Para Sahabat tidak mengarang-ngarang bacaan sendiri lalu meminta persetujuan setelahnya; mereka menyadari ada yang belum mereka ketahui, lalu bertanya. Dan jawabannya bukanlah sekadar prinsip untuk diterapkan, melainkan teks pasti untuk diulang-ulang—inilah sebabnya mengapa shalawat khusus ini, tidak seperti kebanyakan doa yang dibaca seorang mukmin dalam shalat, diwariskan kata demi kata melintasi empat belas abad tanpa terpecah menjadi belasan variasi lokal.
Waktu kedua datang lima kali sehari dan berlangsung sekitar satu menit. Imam Muslim menempatkannya di bawah judul bab yang merupakan ringkasan dari amalan tersebut: mengulang ucapan muazin, lalu bershalawat kepada Nabi, kemudian memohon wasilah kepada Allah untuk beliau. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash (radhiyallahu ‘anhuma) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:
“Apabila kalian mendengar muazin, ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali karenanya. Lalu mohonkanlah wasilah kepada Allah untukku—sebuah kedudukan di Surga yang hanya layak bagi salah satu hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaat.”
Riwayat ini tercatat pada halaman cetak 1/288 dari kitab . Tiga instruksi diberikan dalam urutan yang tetap, dan yang di tengah adalah shalawat. Apa yang ditambahkan oleh hadis ini selain soal waktu adalah perhitungannya: satu dari hamba, dibalas sepuluh oleh Allah—lalu ada balasan kedua yang terpisah, yang dikaitkan dengan permohonan wasilah. Seorang mukmin yang tidak melakukan amalan lain di sela-sela adzan dan iqamah, dalam satu menit itu, telah melakukan sesuatu yang hasilnya sudah dijamin.
Waktu ketiga sama sekali bukan tentang jam. Ini adalah tentang posisi—di awal setiap permohonan yang dipanjatkan seseorang.
Fadhalah bin ‘Ubaid (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi mendengar seorang pria berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan tanpa bershalawat kepadanya, lalu beliau berkomentar bahwa pria itu terburu-buru. Beliau kemudian memanggilnya dan menjelaskan urutannya: pujian kepada Tuhan terlebih dahulu, lalu shalawat kepada Nabi, barulah memohon apa pun yang diinginkan. Sanadnya dinilai shahih oleh para penyunting edisi yang mencatatnya pada halaman cetak 2/605 dari kitab .
Jika dipahami sebagai sebuah waktu khusus alih-alih sekadar aturan adab, ini adalah yang paling luas cakupannya dari kelima waktu tersebut. Hal ini tidak menambah jadwal baru dalam keseharian; melainkan menyematkan shalawat pada sesuatu yang sudah dilakukan oleh seorang mukmin setiap kali mereka membutuhkan sesuatu.
Waktu keempat adalah yang paling sering disebut, dan patut disampaikan dengan kehati-hatian yang sama seperti yang diterapkan oleh para ulamanya.
Aws bin Aws (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda bahwa hari Jumat adalah salah satu hari terbaik—Adam diciptakan pada hari itu, diwafatkan pada hari itu, dan tiupan Sangkakala serta pingsannya seluruh makhluk terjadi pada hari itu—lalu beliau bersabda: “maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian dihadapkan kepadaku.” Ketika ditanya bagaimana hal itu bisa terjadi setelah tubuh beliau hancur di tanah, beliau menjawab bahwa Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi. Riwayat ini ada pada halaman cetak 2/279 dari kitab .
Para penyunting edisi tersebut tidak serta-merta meloloskan sanadnya begitu saja, dan alasannya patut untuk dicermati. Semuanya berpusat pada identitas satu perawi, ‘Abdurrahman bin Yazid. Jika ia adalah Ibnu Jabir, maka ia terpercaya dan sanadnya shahih; jika ia adalah Ibnu Tamim, maka ia lemah dan sanadnya tidak shahih. Al-Bukhari, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban mengambil pandangan yang kedua. Para penyunting mencatat perbedaan pendapat ini dengan jelas, lalu memberikan catatan bahwa isi hadis ini tidak hanya bergantung pada sanad ini saja: keutamaan hari Jumat telah ditetapkan oleh hadis shahih dari Abu Hurairah, dan anjuran untuk memperbanyak shalawat pada hari itu, serta riwayat bahwa shalawat tersebut dihadapkan kepada beliau, didukung oleh riwayat-riwayat lain.
Hal ini patut diingat, karena begitulah tradisi keilmuan ini sebenarnya bekerja. Sebuah amalan bisa memiliki dasar yang kuat meskipun salah satu jalur periwayatannya diperdebatkan, dan para ulama yang melestarikannya menuliskan hal tersebut di lembaran kitab alih-alih diam-diam menganggap sanadnya sempurna.
Waktu kelima tidak memiliki jadwal. Ia terjadi kapan saja—dalam sebuah kajian, dalam percakapan, atau di tengah kalimat saat sesuatu dibacakan dengan lantang. Abu Hurairah (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:
“Celakalah seseorang—yang namaku disebut di hadapannya namun ia tidak bershalawat kepadaku. Dan celakalah seseorang—yang bulan Ramadhan datang kepadanya lalu berlalu sebelum ia diampuni. Dan celakalah seseorang—yang kedua orang tuanya mencapai usia senja di masa hidupnya namun mereka tidak memasukkannya ke dalam Surga.”
Riwayat ini tercatat pada halaman cetak 5/513 dari kitab , di mana al-Tirmidzi menilainya hasan gharib melalui jalur ini. Konteks yang menyertai kalimat ini sangatlah menggugah: shalawat yang terlewat disejajarkan dengan Ramadhan yang tersia-sia dan orang tua yang tidak terlayani—tiga kesempatan yang datang dengan sendirinya dan tertutup dengan sendirinya.
Halaman yang sama memuat sebuah keringanan praktis, yang diriwayatkan dari sebagian ahli ilmu: ketika seseorang bershalawat kepada Nabi satu kali dalam sebuah majelis, maka itu sudah mencukupinya untuk majelis tersebut. Tujuannya bukanlah untuk membuat orang cemas saat berbicara. Tujuannya adalah untuk memastikan nama beliau tidak berlalu tanpa balasan.
Jejerkan kelimanya dan sesuatu menjadi jelas tentang bagaimana waktu-waktu ini dipilih. Tak satu pun dari kelimanya menuntut alokasi waktu yang baru. Semuanya disematkan pada hal-hal yang sudah ada dalam keseharian: tasyahud yang memang sedang diduduki seseorang, adzan yang memang sedang berkumandang, permohonan yang memang sedang dipanjatkan, hari Jumat yang memang sedang tiba, dan nama yang memang sedang diucapkan di dalam ruangan. Sunnah tidak menambah jadwal baru. Ia hanya menandai jadwal yang sudah ada.
Jika Anda ingin mengetahui lafal-lafalnya secara langsung—shalawat dalam tasyahud, doa setelah adzan, serta zikir pagi dan petang—koleksi zikir Quran Gallery menyediakannya dalam bahasa Arab beserta transliterasi dan terjemahannya, sehingga sebuah bacaan dapat dipelajari sekali lalu tinggal diamalkan. Semoga Allah menerima setiap shalawat yang diucapkan untuk Rasul-Nya (shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan mencatat kita termasuk di antara mereka yang mendapatkan balasan sepuluh kali lipat.