Articles
Satu Amal, Berlipat Pahala: Cara Melipatgandakan Niat dalam Perjalanan Haji
Dua jemaah haji bisa melakukan ritual yang sama persis namun pulang dengan pahala yang jauh berbeda, karena apa yang terjadi di dalam hati mereka, bukan karena perbedaan tindakan lahiriah. Inilah cara generasi awal Islam mengubah satu amal menjadi berlipat ganda—dan bagaimana Anda bisa melakukan hal yang sama di setiap tahapan perjalanan haji.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 7 menit
Dua jemaah haji bisa melakukan tawaf tujuh putaran yang sama, wukuf di titik yang sama di Arafah, melempar kerikil yang sama di jamarat yang sama—namun pulang dengan pahala yang sama sekali tidak setara. Tidak ada satu pun dari gerakan lahiriah mereka yang bisa menjelaskan perbedaan ini. Jawabannya terletak pada apa yang mereka bawa di dalam hati saat mereka bergerak.
Hal tersebut bukanlah sekadar suasana hati atau perasaan yang datang dan pergi begitu saja. Ini adalah sebuah keterampilan yang sengaja dilatih oleh generasi awal umat Islam, dan ia memiliki nama: niat. Fondasi dari semua ini adalah sebuah riwayat tunggal yang disampaikan oleh ʿUmar bin al-Khaṭṭāb (semoga Allah meridainya), yang mendengar Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda dari atas mimbar:
“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 1/6 dari , sebagai hadis pembuka dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī—sengaja ditempatkan di awal kitab, karena setiap hadis lain yang menyusul setelahnya hanya akan bernilai jika hadis pertama ini telah dipahami. Keikhlasan—yakni meniatkan sesuatu semata-mata karena Allah—adalah fondasi dasar bagi segala hal yang akan dibahas di sini. Artikel ini tidak sedang membahas fondasi tersebut, melainkan tentang apa yang bisa Anda bangun di atasnya: bagaimana satu amal yang ikhlas, yang dilakukan satu kali, bisa diniatkan untuk beberapa hal sekaligus, dan membuahkan pahala yang berlipat ganda karenanya.
Ibnu Rajab al-Ḥanbalī, dalam syarahnya terhadap hadis ini, mengumpulkan sejumlah perkataan dari para ulama salaf di bawah sebuah subjudul yang secara sederhana ia sebut “niat, dalam perkataan generasi awal.” Yaḥyā bin Abī Kathīr, seorang Tabiin terkemuka, berkata kepada murid-muridnya:
“Pelajarilah niat, karena ia lebih jauh jangkauannya daripada amal perbuatan.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 1/68 dari . “Pelajarilah” adalah kata kuncinya—bukan “rasakanlah,” bukan pula “harapkanlah.” Niat, dalam tradisi ini, adalah sesuatu yang Anda pelajari dan latih sebagaimana Anda melatih bacaan Al-Qur’an, bukan sesuatu yang Anda tunggu kedatangannya secara pasif. Di halaman berikutnya pada karya yang sama, ʿAbdullāh bin al-Mubārak—seorang ulama yang juga merupakan prajurit dan saudagar, serta memandang pahala layaknya seorang perajin memandang bahan bakunya—menjelaskan mekanismenya dengan gamblang:
“Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat.”
Perkataan ini tercatat pada halaman cetak 1/69 dari . Ada dua konsekuensi langsung dari hal ini, dan ibadah haji adalah momen paling kaya dalam kehidupan seorang muslim untuk mempraktikkan keduanya.
Pertama, sebuah amal lahiriah yang besar—dan haji, perjalanan menuju Baitullah, adalah salah satu amal lahiriah terbesar yang dilakukan oleh seorang mukmin—tidak serta-merta menjadi amal yang besar pahalanya. Bobotnya di hadapan Allah ditentukan oleh apa yang memenuhi hati saat amal itu dilakukan.
Kedua, dan inilah yang sebenarnya menjadi inti artikel ini, adalah kebalikannya yang jauh lebih bermanfaat: satu amal tunggal, yang secara lahiriah tidak berubah, bisa diniatkan untuk beberapa hal berbeda sekaligus, dan masing-masing niat tersebut dihitung serta diberi pahala tersendiri. Anda tidak perlu melipatgandakan tindakan Anda saat haji—Anda nyaris tidak punya ruang dan waktu untuk itu. Yang perlu Anda lipatgandakan adalah niat dari tindakan-tindakan yang memang sudah pasti akan Anda lakukan.
Ambil contoh bagian paling biasa dan tidak glamor dari ibadah haji: berada di tengah kerumunan satu atau dua juta orang, bergerak perlahan, selama berhari-hari, di bawah terik matahari, sering kali dengan bahu yang saling berdesakan. Sebagian besar jemaah menjalani hal ini sebagai sesuatu yang harus ditahan dan dilalui begitu saja. Padahal, momen ini bisa menjadi tumpukan beberapa amal sekaligus.
Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan di hari kiamat; barang siapa yang memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat; barang siapa yang menutupi [aib] seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat—dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 4/2074 dari , dalam Ṣaḥīḥ Muslim. Bacalah hadis ini saat berada di tengah kerumunan di Mina atau di jalan menuju Muzdalifah, maka ia tidak lagi sekadar daftar keutamaan yang abstrak. Memberi ruang bagi seorang wanita tua yang tertinggal dari rombongannya adalah “memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan.” Mengantar jemaah yang kebingungan dan terpisah dari rombongannya kembali ke tenda yang benar adalah “melepaskan satu kesusahan.” Menahan diri untuk tidak membalas perkataan kasar seseorang yang sedang kelelahan adalah “menutupi aib seorang muslim.” Dan bertanya kepada seorang ustaz atau ulama yang berjalan di dekat Anda tentang tata cara manasik yang akan Anda lakukan—mengubah waktu menunggu menjadi momen belajar—adalah “menempuh jalan untuk menuntut ilmu.” Satu rentang perjalanan kaki, empat niat berbeda yang bisa dihadirkan di dalamnya, empat pahala terpisah yang disebutkan dalam satu hadis.
Semua ini tidak mengharuskan Anda melakukan sesuatu di luar apa yang memang sudah akan Anda lakukan. Anda hanya diminta untuk menyadari, saat Anda melakukannya, niat mana saja yang bisa Anda sertakan di dalamnya.
Setiap jemaah haji mengeluarkan uang untuk ibadah haji—untuk perjalanan, penginapan, makanan, oleh-oleh untuk keluarga di rumah, atau sedekah yang diberikan kepada peminta-minta. Allah menjelaskan akan menjadi apa pengeluaran tersebut ketika diniatkan dengan cara tertentu:
﴿وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۭ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَـَٔاتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾
“Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Perhatikan apa yang menjadi syarat pelipatgandaan dalam ayat tersebut: bukan pada besaran jumlahnya, melainkan “mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka.” Tiket pesawat yang sama yang dibayarkan ke maskapai yang sama bisa saja dikeluarkan murni sebagai biaya logistik, atau bisa juga dikeluarkan sebagai bentuk pemenuhan panggilan Allah, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan sebagai wujud rasa syukur karena memiliki kemampuan finansial ketika begitu banyak orang yang mendambakan perjalanan ini namun belum mampu. Biaya yang dikeluarkan tidak berubah. Namun, nilainya di sisi Allah berubah drastis.
Ibadah haji menempatkan Anda, untuk waktu yang singkat dan tak terulang, di antara orang-orang yang kemungkinan besar tidak akan pernah Anda temui lagi—banyak dari mereka yang merasa ragu tentang suatu hukum, bacaan, atau di mana mereka harus berdiri. Mengucapkan hal yang benar kepada salah satu dari mereka adalah sebuah amal tersendiri, dan nilainya jauh lebih besar dari kelihatannya:
Seorang pria datang kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) meminta tunggangan [untuk perjalanan yang tidak bisa ia lakukan tanpanya]. Beliau tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepadanya, maka beliau mengarahkannya kepada orang lain, yang kemudian memberinya tunggangan. Pria itu kembali dan menceritakan kepada Nabi apa yang telah terjadi, lalu beliau bersabda: “Orang yang menunjukkan kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 4/403 dari , dalam Sunan al-Tirmidhī, yang mencatat bahwa makna serupa juga diriwayatkan melalui Abū Masʿūd al-Badrī dan Buraidah. Menjawab pertanyaan orang asing tentang tata cara tawaf, meluruskan dengan lembut seseorang yang keliru memahami suatu manasik, atau sekadar menunjukkan arah gerbang yang benar kepada rombongan yang tersesat bukanlah sekadar tugas sampingan dari ibadah haji Anda. Jika diniatkan sebagai petunjuk kepada kebaikan, hal itu akan dihitung pahalanya sama seperti amal yang Anda tunjukkan kepada mereka.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan niat sebagai sesuatu yang hanya ditetapkan sekali, saat ihram, lalu dilupakan begitu saja. Para ulama yang dikutip di atas tidak berbicara tentang niat sebagai sebuah keputusan sekali jadi—mereka berbicara tentang mempelajarinya, melatihnya, dan terus kembali kepadanya. Tetapkan niat Anda sebelum berangkat, namun perbarui kembali saat wukuf di Arafah, perbarui lagi saat berjalan menuju Muzdalifah, perbarui lagi di setiap jamarat di Mina, dan perbarui lagi di setiap putaran tawaf. Amal yang ada di hadapan Anda jarang berubah dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Namun, apa yang Anda niatkan dari amal tersebut bisa diperbarui setiap saat.
Membawa niat yang spesifik dan ikhlas ke dalam setiap tahapan perjalanan adalah sebuah disiplin yang paling baik diungkapkan dengan kata-kata Anda sendiri kepada Allah, dan koleksi Adhkar di Quran Gallery mengumpulkan doa-doa sahih yang tepat untuk momen-momen ini—kalimat-kalimat yang telah terbukti kesahihannya, untuk dipanjatkan di hadapan Allah sembari Anda memperbarui, di setiap tahapan, seberapa besar nilai satu amal lahiriah di hadapan-Nya.
Semoga Allah menerima setiap langkah dari ibadah tersebut, dengan pahala yang berlipat ganda.