Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan: Untuk Apa Sepuluh Malam Terakhir Ramadan?

Malam yang Al-Qur'an sebut lebih baik dari seribu bulan datang setiap tahun, tersembunyi di antara sepuluh malam yang sering kali kita habiskan untuk berbelanja kebutuhan Lebaran. Artikel ini membahas makna sepuluh malam terakhir Ramadan, apa yang disampaikan surah tentang Lailatulqadar, dan lima amalan yang patut dilakukan sebelum fajar menyingsing.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Di suatu waktu pada sepuluh malam terakhir setiap Ramadan, terdapat satu malam yang Al-Qur’an sebut lebih baik dari seribu bulan — setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah biasa, yang terangkum dalam beberapa jam saja sebelum fajar menyingsing. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru menghabiskan sepuluh malam tersebut untuk bersiap-siap menyambut Lebaran.

Kesenjangan antara betapa berharganya malam tersebut dan apa yang sebenarnya kita lakukan untuk menyambutnya menjadi topik utama tulisan ini: apa yang Surah Al-Qadr sampaikan tentang malam itu, mengapa tanggal pastinya dirahasiakan, dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) saat menjumpai sepuluh malam ini.

Allah mendedikasikan satu surah penuh — lima ayat pendek — khusus untuk malam ini:

﴿إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ﴾ — “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (97:1)

﴿وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ﴾ — “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (97:2)

﴿لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾ — “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (97:3)

﴿تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ﴾ — “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (97:4)

﴿سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ﴾ — “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (97:5)

Ada dua hal dalam surah tersebut yang patut kita renungkan sebelum membahas hal-hal teknis. Pertama, pertanyaan pada ayat ke-2 — “tahukah kamu” — adalah penegasan dari Al-Qur’an bahwa keagungan malam ini terlalu besar untuk bisa kita pahami sepenuhnya. Kedua, ayat ke-3 tidak mengatakan bahwa malam ini setara dengan seribu bulan. Ayat tersebut menegaskan bahwa malam ini lebih baik. Satu malam yang diisi dengan ibadah yang tulus kedudukannya jauh melampaui lebih dari delapan puluh tahun yang dihabiskan untuk melakukan hal yang sama.

Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak pernah menetapkan tanggal pasti di kalender untuk Lailatulqadar. Sebagai gantinya, beliau memberikan kita rentang waktu pencarian:

“Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan” ( , Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 2017).

Ibnu ʿAbbas (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan versi yang lebih spesifik dari petunjuk yang sama, dengan menghitung mundur dari akhir bulan, bukan menghitung maju dari awal sepuluh malam tersebut:

“Carilah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan — Lailatulqadar itu pada malam kesembilan yang tersisa, malam ketujuh yang tersisa, malam kelima yang tersisa” ( , hadis 2021).

Merahasiakan malam yang pasti bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Hal ini memiliki hikmah yang sama dengan dirahasiakannya waktu mustajab pada hari Jumat: dengan menyembunyikan waktu pastinya, seorang hamba tidak akan membatasi ibadahnya hanya pada satu tebakan waktu saja, melainkan akan menyebarkannya di setiap malam yang berpotensi.

ʿAisyah (radhiyallahu ‘anha) menggambarkan perubahan nyata dalam rutinitas suaminya begitu sepuluh malam terakhir tiba:

“Apabila telah masuk sepuluh malam (terakhir), Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya [dengan ibadah], dan membangunkan keluarganya” ( , hadis 2024).

Ada tiga tindakan berbeda yang tersirat dalam satu kalimat tersebut. Beliau menjauhi istri-istrinya agar malam-malam itu sepenuhnya didedikasikan untuk beribadah. Beliau terjaga sepanjang malam dan tidak tidur seperti biasanya. Dan beliau tidak merasa cukup hanya beribadah sendirian — beliau membangunkan seluruh anggota keluarganya, sehingga seisi rumah ikut terjaga menyambut malam tersebut, bukan hanya beliau seorang.

Di antara semua hal yang bisa dilakukan seseorang pada Lailatulqadar, ada satu hadis yang secara khusus menyebutkan salat malam (qiyam) dan mengaitkannya dengan ampunan yang menyeluruh:

“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni, dan barang siapa mendirikan salat pada Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” ( , hadis 2014).

Dua syarat yang menyertainya — “karena iman” (īmān) dan “mengharap pahala” (iḥtisāb) — bukanlah sekadar basa-basi. Keduanya meniadakan qiyam yang dilakukan secara otomatis: berdiri hanya karena saf di sekitar Anda berdiri, selesai karena imam selesai, tanpa hati Anda benar-benar meminta apa pun kepada Allah. Hadis ini tidak sedang menggambarkan salat yang lebih panjang. Hadis ini menggambarkan kualitas kekhusyukan yang berbeda di dalam salat yang sama.

Sangat mudah untuk memusatkan seluruh malam pada rangkaian qiyam yang panjang dan menganggap dua salat wajib yang mengapitnya sekadar formalitas belaka. ʿUtsman bin ʿAffan (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) justru menilainya dengan cara yang sebaliknya:

“Barang siapa melaksanakan salat Isya berjemaah, maka seolah-olah ia telah mendirikan salat separuh malam, dan barang siapa melaksanakan salat Subuh berjemaah, maka seolah-olah ia telah melaksanakan salat semalam suntuk” ( , Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 260).

Pahamilah hitungan matematis ini secara harfiah. Dua salat berjemaah yang sering kali kita kerjakan secara otomatis ini, menurut hadis tersebut, nilainya setara dengan salat semalam suntuk — bahkan sebelum kita menambah satu rakaat qiyam pun. Jika di suatu malam Anda merasa terlalu lelah untuk berdiri lama, salat Isya dan Subuh berjemaah bukanlah sekadar hadiah hiburan; keduanya adalah porsi terbesar dari pahala yang sudah berhasil Anda amankan.

Abu Hurairah (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menggambarkan Ramadan dengan ungkapan yang hanya masuk akal jika salah satu malamnya memang seberharga ini:

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan — barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka ia benar-benar terhalang (dari kebaikan)” ( , Sunan al-Nasā’ī, hadis 2106).

Kata “terhalang” adalah ungkapan yang sangat tegas dalam sebuah hadis untuk menggambarkan hilangnya kesempatan beberapa malam tambahan untuk salat. Ini adalah kata yang digunakan untuk seseorang yang tidak mendapatkan jatah yang seharusnya menjadi haknya. Pahala malam tersebut sudah ditawarkan — hadir untuk menjemputnya bukanlah sebuah bonus, melainkan mengambil sesuatu yang memang tidak pernah ditahan dari kita.

ʿAisyah mengajukan pertanyaan paling praktis yang bisa ditanyakan siapa pun kepada Nabi tentang malam yang tanggalnya dirahasiakan ini: jika saya tidak tahu pasti malam yang mana, apa yang harus saya ucapkan? Beliau menjawab:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku” ( , Sunan al-Tirmidhī, hadis 3513, dinilai hasan sahih oleh al-Tirmidzi sendiri).

Tujuh kata dalam bahasa Arab — اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي — cukup singkat untuk diulang-ulang saat sujud tanpa membuat Anda lupa rakaat, dan cukup umum untuk mencakup setiap malam Anda mendirikan salat tanpa perlu tahu pasti malam yang mana yang merupakan Lailatulqadar.

Tak satu pun dari hal-hal ini mengharuskan Anda mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sepuluh malam atau berdiri salat sampai kaki Anda lemas. Ini semua tentang menjaga waktu yang benar-benar dibutuhkan oleh malam tersebut.

  1. Putuskan sejak awal salat berjemaah mana yang tidak akan Anda lewatkan. Bagi kebanyakan orang, itu adalah Isya atau Subuh — pilihlah mana yang paling rentan terlewat karena jadwal Anda, dan berkomitmenlah sebelum sepuluh malam terakhir dimulai, bukan saat malam-malam itu sudah berjalan.
  2. Pindahkan jadwal belanja Lebaran dan urusan lainnya sepenuhnya ke luar sepuluh malam terakhir. Setiap jam yang dihabiskan di pusat perbelanjaan pada malam ke-27 adalah satu jam yang tidak akan pernah bisa dikembalikan pada malam tersebut.
  3. Bersedekahlah pada jumlah malam yang sudah ditetapkan alih-alih memutuskannya secara spontan, meskipun jumlahnya kecil. Sebuah komitmen yang teguh akan lebih mampu bertahan di malam yang melelahkan dibandingkan sekadar mengandalkan suasana hati.
  4. Ucapkan doa singkat di atas setiap malam di sepuluh malam terakhir, bukan hanya pada malam-malam yang Anda tebak lebih berpeluang. Hadis tersebut tidak menyebutkan adanya pengecualian.
  5. Jika iktikaf tidak memungkinkan, jagalah satu jam tanpa gangguan setelah Isya alih-alih memaksakan diri mengejar semalam suntuk. Satu jam dengan kehadiran hati yang utuh jauh lebih baik daripada empat jam dengan fokus yang terbagi.

Lailatulqadar tidak pernah dirancang untuk memberi penghargaan kepada siapa pun yang memiliki waktu luang paling banyak di bulan Ramadan. Malam ini memberikan ganjaran kepada siapa saja yang hadir — tak peduli berapa lama, dengan segenap fokus yang bisa mereka kerahkan — dengan keyakinan bahwa malam itu nyata dan harapan bahwa Allah akan mengabulkannya. Bacalah surah yang berkaitan dengannya, dan apa pun yang bisa Anda baca pada malam itu, di qurangallery.com/quran.

Jika ada kekeliruan dalam penyebutan hadis atau terjemahan di atas, beri tahu kami. Setiap kutipan dalam tulisan ini ditautkan ke halaman cetak sumber aslinya, justru agar dapat diperiksa dan diperbaiki.

Semoga Allah ﷻ memperkenankan kita menjumpai Lailatulqadar, dan menerima amal ibadah kita di dalamnya.