Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Kenali Dia Lebih Dulu: Mengapa Makrifat Mendahului Setiap Amal Ibadah

Ibadah yang ditujukan kepada sosok yang tidak kita kenal tidak akan pernah terasa mendalam. Al-Qur'an memerintahkan kita untuk mengenal Allah sebelum memerintahkan kita untuk menyembah-Nya — artikel ini membahas mengapa urutan tersebut sangat penting dan empat cara nyata untuk menjembatani keduanya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Banyak orang mengejar kebahagiaan lewat harta, ketenaran, kesenangan, atau keahlian tertentu. Namun, anehnya, tidak sedikit dari mereka yang berhasil mendapatkannya tapi tetap merasa tidak bahagia. Penghasilan yang lebih besar tidak mampu mengisi kekosongan itu. Pengakuan yang lebih luas pun tidak. Ada satu perasaan yang terus muncul kembali — sebuah kehampaan di balik kepuasan tersebut, seolah-olah apa yang selama ini diraih bukanlah hal yang sebenarnya mereka cari.

Memang bukan itu yang mereka cari. Yang hilang bukanlah sebuah kepemilikan, melainkan sebuah hubungan. Hubungan yang dimaksud adalah ikatan yang memang sudah menjadi fitrah setiap manusia dengan Sang Pencipta. Kita tidak diciptakan untuk sekadar mengumpulkan harta; kita diciptakan untuk beribadah — dan ibadah yang ditujukan kepada sosok yang tidak kita kenal tidak akan pernah terasa mendalam. Anda tidak bisa mencintai sesuatu yang belum pernah Anda temui. Anda tidak bisa merasa takjub pada sebuah sifat yang tidak pernah benar-benar Anda resapi. Sebelum amal ibadah dilakukan, harus ada pengetahuan yang memberinya makna: makrifat, sebuah pengenalan yang mendalam dan hidup tentang Allah.

Urutan ini bukanlah sekadar preferensi ibadah semata; ini adalah urutan yang diberikan langsung oleh Al-Qur’an. Menjelang akhir Surah Muhammad, perintah tersebut turun dengan urutan yang persis seperti ini — ilmu terlebih dahulu, baru kemudian amal yang mengikutinya:

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usahamu dan tempat tinggalmu.

Surah Muhammad, 47:19 dibuka dengan kata i’lam — sebuah kata kerja perintah yang berarti “ketahuilah” — sebelum beralih ke kata istaghfir, “mohonlah ampunan.” Tobat, sebagai bentuk paling awal dan paling mendasar dari kembali kepada Allah, ditempatkan pada urutan kedua. Ilmu didahulukan karena ia adalah fondasi tempat berdirinya segala hal. Seorang ulama salaf, Qiwam as-Sunnah al-Ashbahani, menjelaskan logikanya dengan gamblang: hal pertama yang Allah wajibkan atas makhluk-Nya adalah mengetahui dan mengenal-Nya, karena hanya dengan mengenal-Nyalah ibadah itu menjadi mungkin untuk dilakukan. Anda tidak bisa mencintai keindahan yang tidak pernah Anda perhatikan. Anda tidak bisa mengagungkan kebesaran yang tidak pernah Anda renungkan. Anda tidak bisa merendahkan diri di hadapan keagungan yang kebesarannya tidak pernah Anda rasakan. Setiap amal ibadah yang dilakukan setelahnya bersumber dari cadangan ilmu yang telah ditanamkan sebelumnya — itulah sebabnya mengapa ilmu disebutkan pertama kali dalam ayat tersebut.

Ibnu Qayyim melangkah lebih jauh dengan menyebut ilmu ini sebagai substansi sebenarnya dari misi setiap rasul: bahwa seluruh dakwah dari setiap nabi yang diutus kepada setiap kaum, pada dasarnya, adalah ajakan untuk mengenal Allah melalui Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya dalam penciptaan — fondasi tempat seluruh risalah dibangun, bukan sekadar kata pengantar yang sifatnya opsional. Al-Ghazali, ketika menjabarkan apa yang membedakan manusia dari makhluk lainnya, menempatkan perbedaan tersebut tepat pada kapasitas ini: kemampuan untuk mengenal Allah, menurut kata-katanya, adalah keindahan, kesempurnaan, dan bekal seseorang untuk kehidupan setelah mati. Semua ini menegaskan bahwa makrifat bukanlah materi tingkat lanjut yang hanya dikhususkan bagi orang-orang tertentu. Makrifat adalah titik awal, bukan batas akhir.

Tidak ada seorang pun yang bisa mencapai pemahaman yang utuh tentang keagungan Allah — hal itu memang tidak pernah mungkin terjadi. Yang bisa kita capai adalah pengenalan yang terus meluas, yang didapatkan dengan cara yang sama seperti bagaimana sebuah hubungan menjadi semakin dalam: melalui interaksi yang berulang dan penuh perhatian. Ada empat amalan yang menjadi pilar utamanya.

Al-Qur’an adalah deskripsi Allah tentang diri-Nya sendiri, dengan firman-Nya sendiri, dan membacanya adalah jalan paling langsung yang ada untuk mengenal-Nya. Jebakannya adalah ketika kita menganggap sesi tilawah sebagai jarak yang harus ditempuh — sekian halaman, sekian menit — alih-alih sebagai firman yang sedang ditujukan kepada kita. Pelankan bacaan Anda saat menemui ayat yang menyebutkan sifat Allah — rahmat-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya — untuk benar-benar meresapinya, bukan sekadar melewatinya demi menuju ayat berikutnya. Memelankan bacaan itulah yang disebut tadabur, dan itulah yang membedakan antara sekadar melafalkan kata-kata dengan benar-benar mendengarkannya.

Tafakur adalah perenungan yang diarahkan ke luar, pada ciptaan itu sendiri, bukan pada teks wahyu. Al-Qur’an menegaskan bahwa keduanya saling terhubung — bahwa kebenaran yang sama yang ditegaskan dalam ayat-ayat-Nya juga tertulis di alam semesta:

سَنُرِيهِمْ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلْـَٔافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Belum cukupkah (bagi mereka) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Surah Fussilat, 41:53 menyebutkan dua ranah sekaligus — segenap penjuru (ufuk), yang berarti segala sesuatu di luar diri Anda, dan diri sendiri, yang berarti segala sesuatu di dalam diri Anda. Matahari terbenam, kerumitan struktur tangan, keteraturan sel tunggal yang luar biasa: tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang sekadar menjadi pemandangan biasa begitu Anda mulai mencari makna di baliknya. Melangkah ke luar rumah dengan niat yang sengaja untuk membaca ciptaan-Nya dengan cara seperti ini — bukan dengan pandangan yang teralihkan oleh layar ponsel, melainkan dengan pengamatan yang saksama — akan mengubah jalan-jalan biasa menjadi sebuah amalan yang membangun makrifat.

Allah telah mendeskripsikan diri-Nya kepada kita melalui Nama-nama yang membawa makna nyata — al-Karim, Yang Maha Mulia; al-Hakim, Yang Maha Bijaksana; ar-Rahim, Yang Maha Penyayang — dan setiap nama tersebut adalah undangan untuk mencari jejaknya dalam kehidupan Anda sendiri, bukan sekadar untuk dihafalkan sebagai sebuah fakta. Ketika Anda menyadari sebuah kesulitan berhasil teratasi, kaitkan hal itu dengan al-Lathif, Yang Maha Lembut, yang mengatur segala urusan dengan cara yang terlalu halus untuk selalu bisa diprediksi kedatangannya. Ketika Anda menerima lebih dari yang Anda minta, kaitkan hal itu dengan al-Karim. Membaca buku tentang Asmaul Husna, menghadiri kajian yang membahasnya, atau sekadar berhenti sejenak pada salah satu nama setiap kali nama itu muncul dalam tilawah adalah cara-cara untuk mengubah sebuah daftar hafalan menjadi sebuah hubungan yang bermakna.

Makrifat dan ibadah saling mengisi satu sama lain secara dua arah. Semakin Anda mengenal Allah, semakin ikhlas Anda beribadah kepada-Nya; dan ibadah yang dilakukan dengan penuh kehadiran hati — tidak terburu-buru, tidak sekadar menggugurkan kewajiban — akan mengajarkan Anda sesuatu tentang-Nya yang tidak Anda ketahui sebelum Anda memulainya. Tanyakanlah dengan jujur, setelah melakukan ibadah apa pun: apakah ibadah ini membawa saya menjadi lebih dekat, atau saya hanya sekadar menyelesaikannya? Pertanyaan itu sendiri adalah bentuk tadabur, yang diarahkan pada amalan Anda sendiri.

Pengetahuan yang hakiki tentang Allah tidak hanya berhenti di pikiran. Pengetahuan itu merestrukturisasi cara seseorang memandang segala hal lainnya. Semakin seseorang menyadari kebesaran Allah, semakin ia menyadari kekerdilan dirinya sendiri; semakin ia memahami kekuasaan-Nya, semakin ia merasakan ketergantungannya sendiri; semakin ia merasakan luasnya ilmu-Nya, semakin jujur ia mengakui keterbatasan ilmunya sendiri. Itu bukanlah sikap merendahkan diri yang dibuat-buat — itu adalah sebuah proporsi yang tepat, dan proporsi itulah yang menghasilkan ketundukan (‘ubudiyyah) yang sejati, bukan sekadar kerendahan hati yang pura-pura.

Ibnu Qayyim mengaitkan cinta secara langsung dengan pengetahuan ini: siapa pun yang mencapai pengenalan yang hakiki tentang Allah melalui Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya, dengan sendirinya akan mencintai-Nya — bukan karena mereka disuruh, melainkan karena cinta adalah respons alami ketika kita benar-benar melihat sosok yang pantas untuk dicintai. Cinta itu kemudian menguat menjadi iman dan yaqin, sebuah keyakinan yang tidak akan goyah di bawah tekanan, dan keyakinan semacam itulah yang membuat seseorang bersedia tunduk pada sebuah perintah bahkan sebelum mereka sepenuhnya memahami hikmah di baliknya, semata-mata karena mereka memercayai Dzat yang memberikan perintah tersebut.

Makrifat memiliki puncaknya, dan puncak tersebut disebutkan secara langsung dalam salah satu hadis yang paling terkenal dalam sejarah Islam — momen ketika seorang asing duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta beliau untuk mendefinisikan ihsan, puncak kesempurnaan dalam beribadah:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ. فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia pasti melihatmu.

— Shahih Muslim, halaman cetak 1/36 dari . Sang penanya, seperti yang kemudian disampaikan oleh Nabi kepada para sahabatnya, adalah malaikat Jibril, yang datang untuk mengajarkan agama secara langsung kepada orang-orang beriman.

Itulah tujuan akhir yang dituju oleh makrifat: ibadah yang dilakukan seolah-olah Dzat yang disembah terlihat langsung di depan mata, karena dalam setiap makna yang hakiki, Dia memang ada. Tidak ada seorang pun yang mencapai kedudukan itu secara kebetulan. Kedudukan itu dibangun, dari satu percakapan ke percakapan lain, dari satu ayat ke ayat lain, dari sebuah ilmu yang dikejar dengan sungguh-sungguh.

Keempat pintu di atas semuanya bermuara pada satu ruang yang sama: waktu yang dihabiskan bersama Al-Qur’an itu sendiri, yang dibaca dengan cukup perlahan agar kita benar-benar bisa mendengarkannya. Fitur pembaca Al-Qur’an dari Quran Gallery menyatukan mushaf, terjemahan yang tepercaya, dan catatan per kata dalam satu tempat, yang dirancang khusus untuk jenis tilawah tanpa tergesa-gesa yang dibutuhkan oleh tadabur, bukan sekadar mengejar target halaman sebelum tidur. Bukalah sebuah surah malam ini dan berhentilah di ayat di mana Allah sedang mendeskripsikan diri-Nya. Resapilah ayat tersebut lebih lama dari yang biasanya Anda lakukan. Momen perenungan itulah di mana makrifat — dan segala hal yang mengikutinya — benar-benar bermula.

Semoga Allah, al-Hadi, Yang Maha Memberi Petunjuk, mendekatkan kita untuk lebih mengenal-Nya, menyembah-Nya, dan mengagungkan-Nya sebagaimana Dia benar-benar pantas untuk diagungkan.