Articles
Kesunyian yang Tak Pernah Ia Tinggalkan: Apa yang Diminta Iktikaf dari Hati Kita
Sebelum wahyu pertama turun, Rasulullah telah terbiasa menyendiri di sebuah gua di luar Makkah. Setelah masa kenabian, kesunyian itu menjelma menjadi ibadah yang disebut iktikaf — dan sejarah mencatat beliau rutin melakukannya setiap tahun, bahkan melipatgandakannya di tahun wafatnya.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 8 menit
Sebelum Jibril turun membawa ayat pertama, sosok yang kelak menjadi Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sudah memahami apa yang harus dilakukan saat menyendiri. Beliau meninggalkan Makkah — kebisingannya, hiruk-pikuk perdagangannya, keramaiannya — dan mendaki menuju sebuah gua di Gunung Hira. Aisyah (radhiyallahu ‘anha) menggambarkan kebiasaan tersebut dalam hadis pertama di Shahih al-Bukhari:
ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ Kemudian kesunyian dijadikan terasa indah baginya, dan beliau pun menyendiri di gua Hira, mengabdikan diri di sana untuk beribadah selama beberapa malam berturut-turut.
— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 1/4 dari , dari bab pembuka tentang bagaimana wahyu dimulai.
Kalimat tersebut menggambarkan seorang pria yang belum menerima syariat agama, namun telah memilih untuk menyendiri. Islam tidak menciptakan kebutuhan beliau akan kesunyian tersebut; Islam mensyariatkan tempat untuk terus mengamalkannya. Bentuk syariat ini disebut iktikaf — mengurung diri di dalam masjid, memutus diri dari hiruk-pikuk duniawi, semata-mata karena Allah — dan seberapa teguh beliau memegang amalan ini, begitu beliau mampu melakukannya, adalah inti dari tulisan ini.
Satu-satunya ayat yang mengatur tentang iktikaf tidak memperkenalkannya sebagai topik baru. Ayat ini muncul di tengah pembahasan tentang hal yang sama sekali berbeda — apa yang dihalalkan dan diharamkan antara suami istri pada malam hari di bulan Ramadan — dan mengasumsikan bahwa pembaca sudah tahu apa itu iktikaf:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٔـٰنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam — dan janganlah kamu campuri mereka, ketika kamu sedang beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.
Ada dua hal yang bisa dipetik dari sini. Pertama, iktikaf sudah ada sebagai praktik yang dipahami sebelum ayat ini menetapkan satu aturannya — kalimat “kamu sedang beriktikaf dalam masjid” tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut bagi orang-orang yang menerima wahyu tersebut. Kedua, satu-satunya baris yang membahasnya adalah sebuah batasan, bukan pengantar: jangan lakukan satu hal ini saat kamu sedang beriktikaf. Segala hal lain yang diketahui tentang apa sebenarnya isi iktikaf, dan untuk apa ia dilakukan, tidak datang dari ayat-ayat lain, melainkan dari bagaimana Nabi menjalankannya.
Dua riwayat — satu dari keluarganya, satu lagi dari seorang Sahabat yang mengamati ibadahnya dengan saksama — menggambarkan kebiasaan yang sama dari dua sudut pandang.
Istri Nabi, Aisyah, meriwayatkan:
… كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ …beliau selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beriktikaf setelahnya.
— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 2/713 dari , diriwayatkan dari Aisyah.
Abu Hurairah menambahkan detail yang membuat kebiasaan ini luar biasa, bukan sekadar rutinitas biasa:
… يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا …beliau biasa beriktikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadan; pada tahun wafatnya, beliau beriktikaf selama dua puluh hari.
— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 2/719 dari , diriwayatkan dari Abu Hurairah.
Jika dibaca bersamaan: sebuah kebiasaan yang diulang setiap tahun tanpa pengecualian, dan di tahun terakhir hidupnya — karena alasan yang tidak dijelaskan oleh riwayat itu sendiri — justru dilipatgandakan, bukan dikurangi. Seseorang di bulan-bulan terakhirnya, dari sudut pandang mana pun, memiliki lebih sedikit hal yang layak dilakukan dua kali lipat. Al-Zuhri, seorang ulama dari generasi setelah Sahabat (Tabi’in), melihat betapa cepatnya praktik ini memudar di kalangan umat Islam dan merasa heran:
عَجَبًا لِلنَّاسِ كَيْفَ تَرَكُوا الِاعْتِكَافَ Aku heran melihat orang-orang — bagaimana mereka bisa meninggalkan iktikaf.
— al-Bahr al-Raiq, komentar Ibnu Nujaym, halaman cetak 2/322 dari . Pernyataan lengkap al-Zuhri, sebagaimana dicatat oleh Ibnu Nujaym, langsung memberikan alasan keheranannya: Nabi sering kali memulai suatu amalan lalu meninggalkannya, berulang kali — kecuali yang satu ini. Dari semua hal yang beliau lakukan, iktikaf adalah satu-satunya amalan yang tak pernah sekalipun beliau tinggalkan, sejak beliau menetap di Madinah hingga wafatnya.
Perhatikan bentuk argumen tersebut. Bukan “Nabi melakukan ini, jadi kita harus melakukannya.” Melainkan “Nabi meninggalkan hal-hal lain dan mempertahankan yang satu ini” — sebuah amalan tunggal yang diistimewakan karena konsistensinya di antara banyak amalan lain yang beliau perlakukan dengan lebih fleksibel. Ini adalah penegasan yang lebih kuat daripada sekadar kebiasaan. Ini adalah penegasan tentang prioritas.
Gambaran lahiriah iktikaf — berdiam diri di dalam masjid, meminimalkan bicara, mengurangi tidur — memberi tahu Anda apa yang dilakukan oleh tubuh. Hal itu tidak memberi tahu Anda untuk apa amalan tersebut dilakukan. Untuk memahaminya, lensa paling jernih yang ditawarkan oleh Sunah adalah definisi yang diberikan untuk kata yang sama sekali berbeda: ihsan, tingkatan ibadah tertinggi, yang dijelaskan oleh Nabi ketika seorang asing bertanya langsung kepada beliau tentang hal itu.
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.
— Shahih Muslim, halaman cetak 1/36 dari , dari hadis Jibril.
Segala hal yang disingkirkan oleh masjid selama iktikaf — pasar, ponsel, obrolan ringan, urusan sehari-hari — disingkirkan agar kalimat tersebut memiliki ruang untuk menjadi nyata selama sepuluh hari berturut-turut tanpa gangguan. Kehidupan biasa mengisi waktu dengan orang-orang yang bisa melihat Anda dan hal-hal yang perlu dikerjakan; iktikaf mengosongkan waktu tersebut hingga satu-satunya kehadiran yang tersisa untuk dipertanggungjawabkan adalah Dia yang selalu mengawasi sepanjang waktu. Itu bukanlah suasana hati yang bisa didapatkan seseorang secara kebetulan. Itulah hasil yang memang dirancang dari pengosongan tersebut.
Kata iktikaf sering diterjemahkan sebagai “pengasingan diri” atau “menyepi,” dan keduanya memang akurat, tetapi kata-kata itu hanya menggambarkan wadahnya, bukan isinya. Seseorang bisa saja benar-benar sendirian namun tetap tenggelam dalam kekhawatiran, kenangan, atau bahkan tidak memikirkan apa pun. Menyendiri bersama Allah — dalam keadaan di mana mengingat-Nya, dan tidak ada yang lain, mengisi ruang yang dibuka oleh kesunyian — adalah target yang sebenarnya. Dan secara gamblang, ini juga merupakan salah satu dari tujuh golongan yang disebutkan Nabi yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan lain yang tersedia:
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ …dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesunyian, lalu kedua matanya berlinang air mata.
— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 1/234 dari .
Perhatikan apa yang memicu air mata dalam gambaran tersebut: bukan ceramah, bukan keramaian, bukan pula momen emosi yang dirasakan bersama — melainkan seseorang yang sendirian, tanpa ada lagi yang perlu dipertontonkan kepada siapa pun. Iktikaf sengaja menciptakan kondisi tersebut, selama sepuluh malam berturut-turut, yang menjadi salah satu alasan mengapa literatur Islam menganggapnya sebagai ibadah yang menuntut kesungguhan, bukan sekadar waktu untuk bersantai. Kesunyian yang dipamerkan tidak membutuhkan pengorbanan. Kesunyian yang menghasilkan tangisan seperti ini menuntut pengorbanan yang nyata.
Iktikaf penuh selama sepuluh malam terakhir membutuhkan masjid yang bersedia memfasilitasinya dan sepuluh hari yang benar-benar bisa diluangkan oleh seseorang. Sebagian besar pembaca, di sebagian besar tahun, tidak akan memiliki keduanya. Apa yang ditawarkan Sunah bagi orang lain — termasuk mereka yang tidak bisa meninggalkan rumah sama sekali — adalah versi yang lebih kecil dari perintah yang sama: setidaknya datanglah ke masjid, untuk salat dan berzikir, dan teruslah kembali. Kebiasaan itu, terlepas dari iktikaf formal apa pun, dijelaskan secara tersendiri:
مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ، إِلَّا تَبَشْبَشَ اللَّهُ إِلَيْهِ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ Tidaklah seorang muslim menjadikan masjid sebagai tempat yang rutin ia kunjungi untuk salat dan berzikir, melainkan Allah menyambutnya dengan hangat — sebagaimana sebuah keluarga menyambut pulang seseorang yang mereka rindukan, ketika ia akhirnya tiba.
— Sunan Ibnu Majah, halaman cetak 1/512 dari , diriwayatkan dari Abu Hurairah.
Gambaran tersebut — sebuah keluarga yang berlari ke pintu menyambut seseorang yang telah lama pergi — melukiskan apa yang tersedia bagi siapa saja yang tidak mampu meluangkan sepuluh hari tanpa putus: waktu yang lebih singkat, dihabiskan dengan cara yang sama, dan tetap diperhitungkan. Seseorang yang tidak bisa menginap tetap bisa duduk di masjid antara Magrib dan Isya, atau datang lebih awal untuk Subuh dan bertahan hingga matahari terbit, atau mengambil satu akhir pekan di sepertiga terakhir Ramadan daripada tidak sama sekali. Iktikaf penuh dan kebiasaan sederhana ini adalah dorongan hati yang sama dalam dua skala yang berbeda — dan hanya satu dari keduanya yang membutuhkan sepuluh hari luang sebelum Anda bisa mulai mengamalkannya hari ini.
Aplikasi zikir kami mengumpulkan zikir-zikir yang menjadi fondasi iktikaf — pagi, petang, dan setelah setiap salat — untuk malam-malam di bulan Ramadan ini ketika masjid terasa dekat namun sepuluh hari penuh tidak bisa didapatkan.
Jika kami keliru dalam terjemahan, penilaian hadis, atau nomor halaman di sini, beri tahu kami dan kami akan memperbaikinya secara terbuka — itulah sebabnya setiap kutipan di halaman ini membuka halaman cetak asalnya.
Semoga Allah ﷻ menerima iktikaf setiap orang yang mampu melaksanakan sepuluh malam penuh, dan satu malam di masjid dari mereka yang hanya mampu melakukan itu — serta mengaruniakan kepada kita semua bagian dari kesunyian yang digambarkan Aisyah: menyendiri, tanpa ada lagi yang menjadi tempat berpulang selain Dia.