Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Mencintai Nabi Melebihi Diri Sendiri: Apa yang Ramadan Minta dari Hati Kita

Cinta seorang mukmin kepada Nabi bukanlah sekadar perasaan — ia adalah sebuah pengakuan yang Al-Qur'an dan hadis minta untuk kita uji lewat prioritas, perilaku, dan dengan siapa kita ingin berdiri bersama di Hari Kiamat kelak. Di bulan Ramadan, ujian ini terasa semakin nyata.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Setiap tahun, Ramadan mengajukan sebuah pertanyaan yang mudah dijawab dengan lisan namun jauh lebih sulit dibuktikan lewat puasa: siapa yang begitu Anda cintai sampai-sampai Anda rela mengorbankan sesuatu karenanya? Hampir tidak ada satu pun amalan di bulan ini yang kita karang sendiri. Makan sahur, tata cara berbuka puasa, salat sunah setelah Isya, hingga sepertiga malam terakhir yang dihabiskan untuk beribadah — kita mengetahui semua itu karena Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) telah melakukannya lebih dulu dan mencontohkannya kepada para Sahabat. Mengikuti kebiasaan seseorang sedekat ini, selama tiga puluh hari berturut-turut, pada dasarnya sudah merupakan bentuk cinta. Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah apakah kita berani menyebutnya demikian jika ditanya secara langsung, dan apakah cinta tersebut memenuhi standar yang sebenarnya telah ditetapkan oleh dalil-dalil agama.

Standar ini tidaklah samar. Ia menyebutkan secara gamblang siapa yang harus mengalah dalam perbandingan ini:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidaklah beriman [dengan sempurna] salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 1/12 dari , hadis 15, diriwayatkan dari Anas bin Malik, dalam Kitab Iman, bab “Cinta kepada Rasul adalah sebagian dari iman.”

Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam hadis tersebut. Hadis ini tidak meminta kita untuk mencintai Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai pengganti orang tua atau anak-anak kita — Islam tidak pernah menyuruh siapa pun untuk berhenti mencintai keluarganya. Hadis ini meminta sebuah urutan prioritas: ketika cinta kepada beliau dan cinta kepada siapa pun atau apa pun benar-benar berbenturan, cinta kepada beliaulah yang harus menang. Ini adalah pengakuan yang bisa diuji, bukan sekadar perasaan pribadi. Hal ini terlihat dari apakah petunjuk beliau benar-benar membentuk sebuah keputusan atau justru diam-diam disingkirkan saat dirasa merepotkan, dan apakah teladan beliau menjadi rujukan pertama atau malah yang terakhir.

Al-Qur’an mengaitkan urutan prioritas ini secara langsung dengan pengakuan cinta kita kepada Allah, bukan sebagai bentuk ibadah yang terpisah, melainkan sebagai bukti nyata dari cinta itu sendiri:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Surah Ali ‘Imran, 3:31

Tidak ada jalan menuju cinta Allah yang bisa ditempuh dengan mengabaikan ketaatan kepada Rasul-Nya. Bukan dengan ibadah tambahan, bukan dengan perasaan takzim yang menggebu-gebu, bukan pula dengan niat baik semata — melainkan dengan mengikuti beliau. Inilah sebabnya mengapa Ramadan menjadi tolok ukur cinta yang sangat jujur: ini adalah bulan yang hampir seluruhnya dibangun di atas fondasi ketaatan mengikuti sunah. Kita berpuasa sebagaimana beliau berpuasa, membaca Al-Qur’an sebagaimana beliau menganjurkannya, dan menghidupkan malam sebagaimana beliau menghidupkannya. Setiap amalan tersebut bisa jadi merupakan bentuk ketaatan sejati yang dilakukan karena beliau melakukannya, atau sekadar ritual pribadi yang kebetulan kita jalankan di waktu yang sama setiap tahunnya. Hanya orang yang beribadah itulah yang tahu pasti mana yang sedang ia lakukan.

Mengikuti kebiasaan seseorang sedekat ini hanya masuk akal jika kebiasaan tersebut memang layak diikuti, dan Al-Qur’an menjawab pertanyaan tersebut dalam empat kata:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

Surah Al-Qalam, 68:4

Gambaran tersebut bukanlah pujian abstrak; ia mendeskripsikan seorang manusia yang para sahabatnya mampu menceritakan detail akhlaknya setelah puluhan tahun hidup berdampingan. Beliau memaafkan orang-orang yang telah menzaliminya padahal beliau memiliki kekuasaan penuh untuk menghukum mereka. Beliau sabar terhadap anak-anak, lemah lembut kepada mereka yang lemah, dan tetap jujur meskipun kejujuran itu merugikannya. Beliau memikul duka — kehilangan orang tua di masa kecil, kematian enam anak kandungnya, serta pembunuhan dan mutilasi pamannya, Hamzah, di Perang Uhud — tanpa membiarkan duka itu berubah menjadi kepahitan terhadap Allah atau kekejaman terhadap sesama manusia. Karakter seperti itu tidak sekadar untuk dikagumi dari jauh. Akhlak inilah yang membuat ketaatan kepada beliau tidak terasa seperti sebuah paksaan, melainkan sebuah bentuk kepercayaan.

Mencintai seseorang sedalam ini mengubah lebih dari sekadar perilaku di dunia — Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) memberi tahu seorang Sahabat secara pasti ke mana cinta itu akan bermuara di Hari Kiamat kelak:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun belum bisa menyamai [amal] mereka?” Rasulullah bersabda: “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 8/39 dari , hadis 6169, diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dalam Kitab Adab, bab “Tanda cinta kepada Allah.”

Laki-laki yang bertanya tersebut merasa khawatir dengan kesenjangan yang ia rasakan dalam dirinya: ia memiliki cinta yang tulus kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan orang-orang saleh terdahulu, namun catatan amalnya tidak sebanding dengan mereka. Jawaban beliau tidak menuntutnya untuk menutup kesenjangan itu dengan tekad baja agar cintanya diakui. Jawaban itu justru memberitahunya ke mana cinta itu sendiri akan membawa seseorang. Ini bukanlah dalih untuk berhenti berusaha — hadis ini ditujukan kepada seseorang yang sudah berjuang namun masih merasa kurang, bukan kepada orang yang tidak melakukan apa-apa sama sekali. Ini adalah alasan untuk terus berjuang dengan penuh harap, bukan dengan keputusasaan: pada Hari ketika keikhlasan akhirnya ditimbang dengan seadil-adilnya, cinta kepada beliau bukanlah sekadar catatan kaki dalam buku amal Anda. Cinta itulah yang menjadi salah satu jalan yang mengumpulkan Anda bersama beliau.

Klaim tentang akhlak yang baik sangat mudah disematkan pada siapa saja; namun yang membuat akhlak beliau berbeda adalah bahwa orang yang paling dekat dengannya dalam waktu yang paling lama telah bersaksi dan menggambarkannya dengan cara yang paling sederhana:

خَدَمْتُ النَّبِيَّ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلَا: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلَا: أَلَّا صَنَعْتَ

Aku melayani Rasulullah selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah sekalipun berkata “ah” kepadaku, tidak pula beliau pernah bertanya [tentang sesuatu yang aku kerjakan], “Mengapa kamu melakukan itu?” atau [tentang sesuatu yang tidak aku kerjakan], “Mengapa kamu tidak melakukannya?”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 5/2245 dari , hadis 5691, diriwayatkan dari Anas bin Malik, dalam Kitab Adab, bab tentang akhlak yang baik dan kedermawanan.

Anas bin Malik adalah seorang anak laki-laki yang diserahkan ke rumah tangga Nabi untuk melayani beliau, dan ia tinggal di sana selama satu dekade. Satu dekade adalah waktu yang lebih dari cukup bagi siapa pun untuk kehabisan kesabaran atas hal-hal sepele — pekerjaan yang salah, keterlambatan, atau piring yang pecah. Namun tidak sekalipun, selama sepuluh tahun, menurut kesaksian orang yang paling mengenalnya, Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) menghela napas kesal kepadanya. Pengendalian diri semacam itu bukanlah sekadar catatan kecil tentang akhlak; itu adalah karakter yang sama yang diminta untuk kita cintai di atas segalanya, yang diwujudkan secara nyata hingga seorang anak mengingatnya seumur hidup. Hal ini menetapkan standar tentang bagaimana kita seharusnya berbicara kepada orang-orang yang melayani dan bergantung pada kita — dan Ramadan, yang menghilangkan alasan perut kenyang dan tubuh yang bugar, adalah bulan yang tepat untuk menguji apakah kita telah memetik pelajaran dari akhlak beliau.

Tanda cinta paling jelas yang diberikan Al-Qur’an kepada kita bukanlah perasaan yang harus dipanggil, melainkan tindakan yang harus diulang-ulang:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Surah Al-Ahzab, 33:56

Allah sendiri bersalawat kepada Rasul-Nya, dan Dia memerintahkan kita untuk melakukan hal yang sama — sebuah bentuk cinta yang hanya sebatas satu kalimat dan bisa diucapkan saat mengantre, di sela-sela pekerjaan, atau di saat-saat terakhir menjelang berbuka puasa. Padukan hal tersebut dengan apa yang telah disebutkan dalam artikel ini: menjaga lisan kita terhadap orang-orang yang bergantung pada kita, menjadikan teladan beliau sebagai prioritas di atas kenyamanan pribadi ketika keduanya berbenturan, dan menjadikan ketaatan kepada beliau—bukan sekadar kekaguman—sebagai esensi dari bulan ini. Semua itu tidak membutuhkan informasi baru. Ia hanya menuntut agar urutan prioritas dari hadis pertama di atas benar-benar bertahan saat diuji.

Jika selawat kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah kebiasaan yang patut dipertahankan selepas Ramadan, pustaka Adhkar Quran Gallery menyediakan lafaz yang beliau ajarkan beserta doa-doa lain yang dihafal oleh para Sahabat dari beliau — mudah dicari dan siap untuk dirujuk kembali, bukan sekadar didengar sekali saat khotbah lalu dilupakan. Mintalah kepada Allah agar Dia mencintai kita sebagaimana Dia mencintai beliau. Kemudian, biarkan cinta itu terwujud di tempat yang sama di mana akhlak beliau selalu bersinar: dalam cara kita memperlakukan orang-orang di hadapan kita.