Articles
Anda Sedang Berbicara dengan Allah, dan Dia Menjawab: Kesadaran yang Memperdalam Khusyuk
Dalam hadis, salat digambarkan sebagai percakapan pribadi, bukan sekadar bacaan yang diucapkan ke arah yang kosong — percakapan yang dijawab oleh Allah, kalimat demi kalimat. Menanamkan kesadaran ini saat Anda salat adalah salah satu jalan paling langsung menuju khusyuk.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Sangat mudah membiarkan salat menjadi sekadar rangkaian gerakan yang dilakukan menghadap ke satu arah — berdiri, membaca surah, rukuk, sujud — tanpa ada perasaan bahwa di seberang sana ada yang mendengarkan. Nas-nas agama dengan tegas menolak gambaran seperti itu. Nas tersebut menggambarkan orang yang salat sedang berada di tengah percakapan: ada yang berbicara, dan ada yang membalas, kalimat demi kalimat, selama salat itu berlangsung. Ketika sudut pandang ini benar-benar ditanamkan dalam pikiran dan bukan sekadar diketahui sebagai fakta, rasanya berdiri dalam salat akan sepenuhnya berubah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan hal ini sekadar menjadi kesimpulan tersirat dari aturan-aturan adab. Beliau menyebutkannya secara langsung, di tengah-tengah mengajarkan adab yang jauh lebih spesifik — ke mana seseorang boleh dan tidak boleh meludah saat salat:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، أَوْ، إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ … Jika salah seorang dari kalian berdiri dalam salatnya, sesungguhnya ia sedang melakukan percakapan pribadi (munājāh) dengan Tuhannya — atau, Tuhannya berada di antara dirinya dan arah kiblat yang ia hadap …
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 1/159 dari , hadis 397, diriwayatkan dari Anas bin Malik.
Kata yang digunakan, munājāh, bukanlah percakapan biasa. Ini adalah kata untuk pertukaran kata yang lirih antara dua orang yang cukup dekat sehingga bisa berbicara tanpa meninggikan suara — kebalikan dari pidato di depan umum. Hadis tersebut kemudian menginstruksikan agar seseorang tidak meludah ke arah kiblat justru karena Tuhannya digambarkan sedang menghadapnya di sana; adab ini sepenuhnya bersandar pada kenyataan bahwa percakapan itu nyata, bukan sekadar kiasan. Jika seseorang berhati-hati terhadap gerakan tubuh yang sekejap saat salat karena Tuhannya sedekat itu, logika yang sama juga berlaku untuk setiap kata yang diucapkan di dalamnya.
Bukti paling jelas bahwa pertukaran ini terjadi dua arah adalah sebuah riwayat di mana Nabi menyampaikan firman Allah sendiri, yang menggambarkan apa yang terjadi saat seorang hamba membaca surah Al-Fatihah, ayat demi ayat:
فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي. فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. Maka apabila hamba itu berkata, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,” Allah Yang Maha Tinggi berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Dan apabila ia berkata, “Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,” Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Apabila ia berkata, “Pemilik hari pembalasan,” Dia berfirman, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Kemudian apabila ia berkata, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” Dia berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Dan apabila ia berkata, “Tunjukilah kami jalan yang lurus — (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,” Dia berfirman, “Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, edisi cetak halaman 1/296 dari , diriwayatkan dari Abu Hurairah.
Bacalah dengan saksama, maka Al-Fatihah tidak lagi terlihat seperti formalitas pembuka yang dibaca secara otomatis sebelum bacaan yang “sebenarnya” dimulai. Setiap dari ketujuh ayatnya dijawab secara langsung — pujian dijawab dengan pengakuan, pengagungan dijawab dengan pengakuan, dan peralihan dari memuji Allah menjadi memohon petunjuk kepada-Nya dijawab dengan janji tegas bahwa permohonan itu akan dikabulkan. Seorang hamba yang menyadari hal ini tidak sedang mengucapkan tujuh baris kalimat ke dalam keheningan. Ia sedang berbicara dalam sebuah percakapan di mana Tuhan yang sama sekali tidak membutuhkan apa pun darinya, memilih untuk terus membalas ucapannya.
Al-Qur’an menyebutkan alasan mengapa balasan itu datang, dan itu bukanlah jarak yang berhasil diatasi dengan usaha keras — melainkan kedekatan yang tak pernah diragukan:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
Ayat ini tidak menggambarkan kebaikan sesekali yang diberikan kepada mereka yang ikhlas atau fasih berbicara. Ayat ini menyatakan kedekatan sebagai sebuah fakta tentang Allah, kemudian pengabulan doa sebagai akibat langsungnya — hal yang kedua mengikuti hal yang pertama secara tata bahasa, bukan bergantung pada seberapa baik orang yang berdoa merangkai kata-katanya. Itulah landasan dari hadis tentang Al-Fatihah di atas: balasan saat salat bukanlah hadiah khusus bagi orang-orang yang salat dengan tingkat konsentrasi yang luar biasa. Itulah yang terjadi setiap kali hamba ini berbicara kepada Tuhannya, karena Dia telah berfirman bahwa Dia dekat dan Dia mengabulkan doa.
Jika gagasan disapa secara pribadi oleh Allah masih terasa abstrak, reaksi salah seorang sahabat terhadap hal ini terekam dengan cukup rinci untuk menjadikannya nyata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tahu Ubay bin Ka’ab bahwa beliau diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an secara khusus kepadanya:
… إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ أُبَيٌّ: آللهُ سَمَّانِي لَكَ؟ قَالَ: اللهُ سَمَّاكَ لِي، فَجَعَلَ أُبَيٌّ يَبْكِي. … “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membacakan Al-Qur’an kepadamu.” Ubay bertanya, “Apakah Allah menyebut namaku kepadamu?” Beliau menjawab, “Allah menyebut namamu kepadaku.” Mendengar hal itu, Ubay pun menangis.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 6/175 dari , hadis 4960, diriwayatkan dari Anas bin Malik.
Ubay tidak menangis karena diajarkan sebuah surah. Ia menangis karena mendengar bahwa Allah telah menyebut namanya kepada Rasul-Nya — seorang hamba yang menyadari bahwa dirinya tidak luput dari perhatian. Setiap orang yang berdiri untuk salat, berdasarkan hadis di atas, berada dalam posisi yang serupa, beberapa kali dalam sehari: disapa, dan dijawab, tanpa harus melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatian tersebut selain hadir untuk berbicara.
Semua ini tidak menuntut salat yang lebih panjang atau lebih berat. Ini hanya menuntut satu penyesuaian fokus, yang diterapkan pada salat yang memang akan Anda kerjakan: sebelum Anda mengucapkan takbir, ingatlah dengan siapa Anda akan berbicara, dan saat Anda membaca Al-Fatihah, bayangkanlah — karena ini bukan sekadar imajinasi, melainkan apa yang digambarkan oleh hadis — bahwa setiap kalimat yang Anda ucapkan langsung mendapat balasan sebelum Anda beralih ke kalimat berikutnya. Ucapkan “segala puji bagi Allah” dan resapilah bahwa ucapan ini dijawab. Mintalah untuk ditunjukkan jalan yang lurus dan resapilah bahwa permohonan tersebut dijanjikan akan dikabulkan.
Inilah sebabnya mengapa postur tubuh dalam salat patut diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan bukan dianggap sebagai sesuatu yang kebetulan: berdiri, menghadap ke satu arah, merendahkan suara menjadi bacaan yang lirih adalah postur yang sama yang dilakukan seseorang untuk setiap munājāh dengan seseorang yang mereka hormati. Fitur salat dari The Quran Gallery hadir tepat untuk sisi praktis dari hal ini — jadwal salat yang akurat agar percakapan tersebut tidak terburu-buru di penghujung waktunya, dan arah kiblat agar posisi “menghadap” dalam hadis di atas tidak sekadar perkiraan. Namun, kesadaran itu sendiri bukanlah sesuatu yang bisa digantikan oleh sebuah alat. Kesadaran itu harus terus diingat, dari satu salat ke salat berikutnya, sampai akhirnya ia menyatu dan tidak perlu lagi diingat-ingat.
Jika ada hal di atas yang keliru — terjemahan yang meleset dari bahasa Arabnya, kutipan yang tidak kuat, atau klaim derajat hadis yang dinyatakan dengan keyakinan melebihi apa yang diizinkan oleh sumbernya — beri tahu kami. Koreksi tersebut jauh lebih berharga bagi kami daripada membiarkan tulisan ini tayang tanpa perbaikan.
Semoga Allah ﷻ menjadikan setiap salat yang kita dirikan sebagai percakapan yang nyata, dan semoga Dia mengabulkan apa yang kita minta di dalamnya.