Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Harapan yang Menolak Putus Asa: Apa yang Sebenarnya Dituntut Rajāʾ dari Anda

Rajāʾ bukanlah sekadar optimisme tentang bagaimana segala sesuatunya akan berakhir. Ia adalah bentuk ibadah yang spesifik—harapan pada rahmat Allah yang tidak bisa dipisahkan dari amal perbuatan, pantang berubah menjadi keputusasaan, dan berlandaskan pada janji yang Dia tetapkan tentang diri-Nya sendiri.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Ada dua konsep dalam agama ini yang sering kali disederhanakan menjadi satu kalimat yang sama: “Saya harap Allah mengampuni saya.” Jika diucapkan dengan satu niat, itu adalah rajāʾ—salah satu bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah, sama nyatanya dengan salat atau puasa. Namun, jika diucapkan dengan niat lain, sekadar menopang hidup tanpa ada keinginan untuk berubah, itu adalah tamannī—angan-angan kosong yang berbalut harapan. Keduanya terasa identik jika hanya dilihat dari susunan kalimatnya. Namun, di hadapan Allah keduanya sama sekali berbeda, dan perbedaannya bukan sekadar pada nada bicara.

Rajāʾ bermula dari keyakinan tentang siapa Allah itu, bukan dari seberapa pantas Anda merasa diri Anda. Ia adalah keyakinan akan luasnya rahmat yang Allah sendiri sebutkan mencakup “segala dosa” tanpa terkecuali:

۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.‘”

Sūrat al-Zumar, 39:53

Perhatikanlah sapaan tersebut. Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang terbebas dari dosa—ayat ini ditujukan kepada mereka yang “melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,” dan Allah tetap memanggil mereka “hamba-hamba-Ku” sebelum Dia melarang mereka berputus asa. Rajāʾ mengambil bentuk dari kalimat tersebut: besarnya rahmat Allah, bukan besarnya catatan dosa Anda, yang menjadi tolok ukur harapan tersebut. Inilah sebabnya mengapa rajāʾ dihitung sebagai ibadah tersendiri, bukan sekadar perasaan nyaman yang kebetulan dialami oleh seorang mukmin—ia adalah amalan hati yang ditujukan kepada Allah, dibangun di atas apa yang telah Dia sampaikan tentang diri-Nya, persis seperti rasa takut (khawf) dan cinta (maḥabbah).

Para ulama klasik menarik garis batas pada satu titik: apa dampak harapan tersebut terhadap perilaku Anda. Ibn al-Qayyim (rahimahullah) merumuskannya dalam satu kalimat yang tajam pada sebuah bab yang secara lugas ia beri judul, “Perbedaan Antara Berprasangka Baik kepada Allah dan Tipu Daya”:

“Prasangka baik kepada Allah, jika ia membawa seseorang kepada amal perbuatan, mendorong dan memacunya untuk beramal, maka itu adalah prasangka yang benar. Namun, jika ia justru mengajaknya pada kemalasan dan tenggelam dalam dosa, maka itu adalah tipu daya. Prasangka baik kepada Allah adalah harapan—maka barang siapa yang harapannya menuntunnya pada ketaatan dan menahannya dari kemaksiatan, harapannya adalah benar. Dan barang siapa yang kemalasannya telah menjadi harapannya, dan harapannya telah menjadi kemalasan serta kelalaian, dialah orang yang tertipu.”

Hal ini tercatat pada halaman cetak 38 dari kitab al-Dāʾ wa-l-Dawāʾ karyanya. Ujian yang beliau berikan bukanlah bersifat introspektif—Anda tidak perlu menebak-nebak ketulusan hati Anda sendiri. Anda bisa melihat apa yang dihasilkan oleh harapan tersebut. Harapan yang mendorong Anda untuk mendirikan salat, memohon ampunan, dan berusaha menjadi lebih baik esok hari daripada hari ini, itulah rajāʾ. Harapan yang sekadar menjadi surat izin untuk terus melakukan apa yang sedang Anda lakukan bukanlah harapan sama sekali; ia hanya meminjam kosakata harapan untuk membenarkan sesuatu yang tidak akan pernah dibenarkan oleh harapan sejati.

Al-Ḥasan al-Baṣrī (rahimahullah) menyebutkan kegagalan yang sama dari sudut pandang yang berbeda—dengan mengamati perilaku manusia alih-alih sekadar mendefinisikan istilah. Al-Qurṭubī mencatat perkataan beliau:

“Ada kaum yang begitu terbuai oleh angan-angan kosong hingga mereka meninggalkan dunia ini tanpa membawa satu pun amal saleh, lalu salah seorang dari mereka berkata, ‘Aku berprasangka baik kepada Tuhanku’—sungguh ia telah berdusta. Seandainya ia berprasangka baik kepada-Nya, niscaya ia akan beramal dengan baik pula.”

Hal ini tercatat pada halaman cetak 1/128 dari kitab al-Tadhkirah bi-Aḥwāl al-Mawtā wa-Umūr al-Ākhirah. Jika keduanya dibaca bersamaan, polanya sangat jelas: harapan yang sejati kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari upaya untuk kembali kepada-Nya. Harapan yang tidak menuntut apa pun dari Anda sejak awal bukanlah rajāʾ—itu adalah tamannī, sebuah kelancangan yang berbalut kalimat yang sama.

Jika harapan tanpa amal runtuh menjadi sebuah kelancangan di satu sisi, maka kegagalan di sisi yang berlawanan—yakni menyimpulkan bahwa rahmat Allah memiliki batas yang akhirnya telah dicapai oleh dosa-dosa Anda—akan runtuh menjadi keputusasaan. Dan Al-Qur’an tidak menganggap keputusasaan sebagai kesalahan kecil. Al-Qur’an menganggapnya sebagai tanda kekufuran.

Yaʿqūb (‘alaihis salam) telah kehilangan satu putra karena apa yang ia yakini sebagai serangan serigala, dan kini ia harus menyaksikan putra lainnya diambil darinya. Ia bersedih hingga “kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.” Ketika ia mengutus putra-putranya yang tersisa untuk kembali mencari saudara-saudara mereka, inilah pesan yang ia berikan:

يَـٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”

Sūrat Yūsuf, 12:87

Seorang ayah yang pada titik itu memiliki segala alasan duniawi untuk berputus asa—dua putra hilang, puluhan tahun dirundung duka, tanpa ada bukti bahwa keadaan akan berubah—justru menjadi sosok yang dipilih Al-Qur’an untuk menyuarakan pesan ini. Ia tidak memberi tahu putra-putranya bahwa pencarian itu pasti berhasil; ia tidak mengetahui hal itu. Ia memberi tahu mereka bahwa keputusasaan itu sendiri sama sekali tidak boleh ada, dan ia melandaskan pesan tersebut pada sifat orang-orang kafir, bukan pada bagaimana hasil pencarian itu nantinya. Bacalah ayat ini bersamaan dengan ayat 39:53 di atas, maka bentuk kewajiban ini menjadi jelas: Allah tidak sekadar menyediakan rahmat bagi mereka yang bertobat. Dia melarang hamba-Nya untuk menyimpulkan, atas kehendaknya sendiri, bahwa dirinya telah berada di luar jangkauan rahmat tersebut.

Pernyataan paling jelas tentang mengapa harapan itu dibenarkan—bukan sekadar diizinkan, tetapi dibenarkan—adalah janji yang Allah buat tentang bagaimana Dia merespons apa yang diharapkan hamba-Nya dari-Nya. Abū Hurayrah (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari itu. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.”

Hal ini tercatat pada halaman cetak 4/2061 dari kitab Ṣaḥīḥ Muslim. Apa yang dijanjikan oleh hadis qudsi ini bukanlah bahwa mengharapkan kebaikan dari Allah akan mengubah hakikat diri-Nya—rahmat Allah tidak diciptakan oleh optimisme seorang hamba. Yang berubah adalah apa yang diterima oleh hamba tersebut: seorang hamba yang mendekat kepada Allah dengan mengharapkan rahmat, ampunan, dan penerimaan akan disambut tepat di titik itu. Dan pergerakan yang digambarkan—sejengkal dibalas sehasta, berjalan dibalas berlari—tidaklah proporsional. Balasan Allah jauh melampaui apa yang ditawarkan hamba-Nya. Ketidakseimbangan inilah yang menjadi argumen utama mengapa rajāʾ, yang dibarengi dengan usaha yang juga disebutkan dalam hadis ini (“mendekat,” “datang… berjalan”), layak untuk terus dipegang teguh, bahkan ketika catatan amal sang hamba memberinya sedikit alasan untuk percaya diri.

Rajāʾ yang dilakukan dengan benar akan mengubah struktur kebergantungan seseorang, bukan sekadar mengubah suasana hatinya. Seorang hamba yang benar-benar menyandarkan harapannya hanya kepada Allah, pada saat yang sama, telah berhenti menyandarkannya pada usahanya sendiri sebagai jaminan, pada pengakuan orang lain, atau pada hasil yang tidak bisa ia kendalikan. Ia terus beramal—perbedaan dengan tamannī di atas menuntut hal itu—tetapi apa yang ia nantikan bukanlah hasil dari kinerjanya sendiri; melainkan respons Allah terhadap amal tersebut. Itulah ʿubūdiyyah dalam arti yang sangat presisi: pengakuan terbuka dari seorang hamba bahwa ia tidak memiliki daya apa pun untuk memastikan hasil yang ia inginkan, dan pengakuan itu sendiri adalah ibadah, bukan kegagalan dalam kemandirian. Sebaliknya, menaruh harapan pada makhluk—pada tabungan, status, atau keandalan orang lain—berarti menyandarkan harapan Anda pada hal-hal yang tidak pernah Allah janjikan kepada Anda, dan setiap hal tersebut bisa saja merenggut apa yang justru Anda andalkan. Harapan yang ditujukan kepada Allah adalah satu-satunya bentuk harapan yang diarahkan kepada Zat yang telah memberi tahu Anda, melalui firman-Nya di atas, bahwa kebaikan-Nya tidak akan pernah bisa diungguli dalam setiap perjumpaan.

Semua ini tidak menghapus rasa takut seorang mukmin akan kekurangannya—keduanya dimaksudkan untuk berjalan beriringan, bukan untuk saling menggantikan. Harapan yang telah mengusir seluruh rasa takut kepada Allah berarti telah menyimpang kembali menjadi kelancangan yang disebutkan di atas. Namun, perbaikan untuk ketidakseimbangan tersebut adalah pembahasan yang berbeda. Apa yang secara spesifik dituntut oleh rajāʾ dari Anda lebih sempit dan, dengan caranya sendiri, lebih menuntut: teruslah beramal, teruslah kembali bertobat, dan tolaklah—sebagai bentuk kewajiban agama, bukan sekadar bawaan sifat pribadi—untuk membiarkan catatan dosa Anda meyakinkan Anda bahwa rahmat Allah telah habis.

Penolakan tersebut harus dipraktikkan, bukan sekadar diyakini. Koleksi Adhkar di Quran Gallery memuat bacaan zikir dan doa sahih yang disusun tepat untuk tujuan ini—memohon kepada Allah dengan Nama-Nama yang membawa harapan terbesar, memohon ampunan-Nya dengan menyebut nama-Nya, di hari-hari biasa ketika tidak ada peristiwa dramatis yang terjadi dan godaan yang muncul hanyalah sekadar membiarkan diri terhanyut alih-alih berputus asa.