Articles
Kewajiban Menolong Mereka yang Terzalimi: Apa yang Sebenarnya Diminta Syariat dari Anda
Melihat mereka yang terzalimi menderita dari kejauhan sering kali membuat kita merasa tak berdaya. Islam tidak membiarkan "pertolongan" sekadar menjadi simpati yang samar — Islam menetapkan tindakan nyata yang bisa dilakukan: doa, sedekah, perkataan yang benar, dan nuṣrah dengan batasan-batasan yang jelas.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 7 menit
Melihat ketidakadilan terjadi dari kejauhan menimbulkan kepedihan tersendiri: ada keinginan kuat untuk bertindak, namun dibarengi perasaan bahwa apa pun yang kita lakukan tidak akan pernah cukup. Perasaan semacam ini bukanlah tanda lemahnya iman. Namun, ini adalah jebakan keputusasaan bagi seorang mukmin — dan Allah tidak membiarkan kita meresponsnya hanya dengan simpati yang samar. Syariat menetapkan amal ibadah yang konkret dan bisa dilakukan untuk situasi seperti ini. Kita perlu memahami bentuk-bentuk amal ini secara presisi, karena dalam hal ini, ketepatan sama pentingnya dengan keikhlasan.
Tulisan ini bukanlah ajakan penggalangan dana dan tidak menyebutkan organisasi, kampanye, atau tujuan tertentu selain tujuan umum: menolong orang-orang yang terzalimi. Jika Anda ingin berdonasi, salurkanlah melalui lembaga yang telah Anda periksa sendiri kredibilitasnya — orang asing di internet, sebaik apa pun niatnya, tidak bisa menjamin ke mana uang Anda akan berlabuh, begitu pula dengan literatur teks-teks klasik. Apa yang bisa diberikan oleh literatur tersebut adalah fondasi untuk hal lain: tindakan itu sendiri, beserta batasan-batasannya.
Allah ﷻ berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.‘”
Perhatikan bentuk janji tersebut: janji itu tidak disyaratkan pada mudah atau tidaknya permintaan tersebut dikabulkan, melainkan hanya pada ketiadaan rasa sombong dari hamba yang berdoa. Angkatlah tangan Anda. Mintalah secara spesifik, sebutkan nama orang-orang yang sedang menderita. Lakukanlah di sepertiga malam terakhir, saat sujud, di antara azan dan ikamah — waktu-waktu yang dikhususkan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebagai waktu yang mustajab — dan jangan biarkan besarnya musibah membuat Anda ragu bahwa doa Anda didengar.
Ada preseden yang jelas untuk melangkah lebih jauh dari sekadar doa pribadi: memanjatkannya di dalam salat itu sendiri. Setelah tujuh puluh Sahabat beliau gugur akibat pengkhianatan di Bi’r Ma’unah, Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) berdoa dengan menyebut nama-nama mereka selama sebulan penuh, pada setiap salat subuh, atas musibah yang menimpa mereka:
“Kabar tersebut sampai kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka beliau melakukan qunut selama sebulan, berdoa di waktu subuh keburukan atas kabilah-kabilah yang bertanggung jawab.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 5/105 dari . Para fukaha menyebutnya qunūt al-nāzilah — doa untuk suatu musibah, yang ditambahkan ke dalam salat fardu selama musibah tersebut masih berlangsung. Ini bukanlah sebuah bidah yang dikarang-karang karena kesedihan; ini adalah Sunah dengan preseden langsung dari sosok yang pertama kali mengajarkan kita tata cara salat.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan [dengan menahan harta], dan berbuat baiklah — sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini bermakna sebagai peringatan dari dua arah: menahan apa yang seharusnya bisa Anda berikan disebut di sini sebagai bentuk kebinasaan diri. Apa yang diminta syariat dari Anda adalah tindakan memberi itu sendiri — bukan daftar penerima, dan bukan pula komentar terus-menerus tentang di mana tempat yang paling membutuhkan bantuan bulan ini. Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebutkan pahalanya seperti ini:
“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada Hari Kiamat.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 4/2074 dari . Berikanlah dengan dermawan, berikanlah secara konsisten, dan salurkan melalui lembaga terverifikasi mana pun yang ada di hadapan Anda — masjid setempat, badan amal resmi yang bisa Anda periksa sendiri, atau organisasi kemanusiaan dengan rekam jejak yang telah Anda pastikan. Verifikasi tersebut adalah tanggung jawab Anda sebagai pemberi, bukan sesuatu yang bisa disuapkan oleh sebuah artikel kepada Anda.
Allah ﷻ berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat ini mudah dipahami sebagai aturan tentang laporan orang lain; padahal sebenarnya ini adalah aturan tentang apa yang Anda bagikan sendiri. Mengunggah ulang klaim yang belum Anda periksa, membesarkan angka yang tidak jelas sumbernya, mengulang-ulang tuduhan yang tidak bisa diverifikasi siapa pun — ini bukanlah tindakan solidaritas yang netral. Hal-hal tersebut persis seperti skenario yang digambarkan oleh ayat ini, dan penyesalan yang diperingatkannya adalah penyesalan yang nyata, bukan sekadar kiasan retoris. Mempelajari situasi dengan saksama — membaca lebih dari sekadar judul berita, memeriksa sebuah klaim sebelum mengulanginya — adalah salah satu bentuk pertolongan yang disebutkan di sini, karena kesaksian palsu tidak menolong siapa pun, termasuk orang-orang yang sedang dibela oleh kesaksian tersebut.
Allah ﷻ berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Qawlan sadīdan adalah perkataan yang diarahkan dengan tepat dan mendarat dengan tepat — tanpa melebih-lebihkan agar argumen terasa lebih kuat, tanpa mengarang detail agar sebuah cerita terdengar lebih memberatkan daripada kenyataan yang sebenarnya. Kemarahan atas ketidakadilan yang nyata tidak menggugurkan kewajiban untuk berbicara secara akurat tentangnya; justru sebaliknya, hal itu meningkatkan risikonya, karena klaim yang di kemudian hari terbukti salah akan digunakan oleh lawan dari pihak yang terzalimi untuk mendiskreditkan semua kebenaran yang diucapkan bersamanya. Bicaralah dengan lugas, sampaikan apa yang bisa Anda buktikan, dan biarkan kebenaran itu sendiri yang menunjukkan kekuatannya.
Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh: apabila ada satu anggota tubuh yang mengeluh kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 4/1999 dari . Kepedihan yang Anda rasakan saat melihat penderitaan orang tak dikenal di layar bukanlah sebuah sentimen yang dianggap aneh oleh Nabi — justru itulah yang beliau gambarkan sebagai kondisi umat yang sehat. Seorang mukmin yang tidak merasakan apa-apa melihat penderitaan mukmin lainnya sedang menunjukkan gejala penyakit, bukan sebuah keutamaan; sedangkan mereka yang tidak bisa tidur memikirkannya sedang merespons sebagaimana layaknya tubuh yang hidup.
Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Tolonglah saudaramu, baik ia yang berbuat zalim maupun yang dizalimi.” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, kami menolongnya jika ia dizalimi — tetapi bagaimana kami menolongnya jika ia yang berbuat zalim?” Beliau menjawab, “Dengan mencegahnya (dari berbuat zalim).”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 3/128 dari . Hadis ini melakukan sesuatu yang spesifik: mendefinisikan “pertolongan” sebelum siapa pun sempat mengarang definisinya sendiri. Menolong orang yang terzalimi adalah bagian yang mudah dari instruksi ini. Bagian yang lebih sulit adalah pengingat bahwa “pertolongan” bukanlah cek kosong — bahkan menolong pihak yang benar pun tidak memberikan izin untuk membalas kezaliman dengan kezaliman. Hadis ini hanya memberikan izin untuk mencegah kezaliman, tidak lebih, dan tidak melampaui apa yang diakibatkan oleh kejahatan pelaku itu sendiri.
Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya — dan itulah selemah-lemahnya iman.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 1/69 dari . Jika dibaca dengan saksama, hadis ini bukanlah sebuah tangga yang harus dipanjat oleh setiap mukmin sejauh keberaniannya memungkinkan. Hadis ini menggambarkan tiga orang yang berbeda. Mengubah kemungkaran “dengan tangan” adalah ranah bagi siapa pun yang benar-benar memegang otoritas atas hal tersebut — penguasa, pengadilan, atau lembaga yang memiliki kekuasaan nyata untuk menindak kemungkaran secara langsung; seorang individu yang berada di seberang lautan tidak bisa mengangkat dirinya sendiri ke tingkatan tersebut hanya dengan bermodalkan keinginan. Apa yang tersisa bagi seseorang di posisi tersebut, dan apa yang diminta dari setiap mukmin tanpa memandang jarak, adalah lisan — perkataan yang benar, informasi yang akurat, pembelaan yang jujur melalui cara-cara yang sah — dan hati: menolak untuk menjadi mati rasa, menolak membiarkan siklus berita menentukan kapan kepedulian dan doa Anda harus berakhir.
Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebut tingkatan ketiga itu sebagai “selemah-lemahnya iman,” bukan ketiadaan iman. Seorang mukmin yang terus berdoa, terus bersedekah, terus berbicara dengan benar, dan terus menolak untuk lupa, jauh setelah berita tersebut turun dari halaman utama, tidaklah gagal mengamalkan hadis ini. Ia telah menunaikan dengan tepat apa yang diminta dari seseorang yang berada di posisinya.
Setiap amal ini — doa, sedekah, tabayun sebelum berbicara, berkata jujur, dan menolak membiarkan hati menjadi bungkam — bisa dilakukan oleh seorang mukmin yang tidak memiliki tentara, tidak memiliki kursi di pemerintahan mana pun, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengubah satu pun fakta di lapangan. Ini bukanlah hal kecil yang diberikan kepada kita; ini adalah keseluruhan dari apa yang diminta syariat dari seseorang di posisi tersebut, dan melakukannya secara konsisten adalah ujian itu sendiri. Kewajiban ini tidak kedaluwarsa ketika berita beralih ke topik lain. Teruslah bersedekah setelah kisahnya tidak lagi tren. Teruslah berqunut setelah hal itu tidak lagi diperbincangkan. Mereka yang terzalimi tidak berhenti membutuhkannya, bahkan ketika seluruh dunia telah beralih ke pembicaraan yang lain.
Jika Anda ingin merenungkan lebih lama ayat-ayat yang dikutip di sini — Surah Ghafir, Surah al-Baqarah, Surah al-Hujurat, dan Surah al-Ahzab — Anda dapat membacanya secara utuh, ayat demi ayat, di fitur pembaca Quran Gallery. Semoga Allah mengangkat kesusahan setiap mukmin yang sedang menderita, menerima doa-doa yang dipanjatkan untuk mereka, dan meminta pertanggungjawaban siapa pun yang telah menzalimi mereka.