Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Wujud Nyata Umat: Apa yang Haji Tuntut dari Anda

Haji mengumpulkan jutaan orang beriman yang tidak memiliki kesamaan apa pun selain ikatan iman ke dalam satu pakaian, satu arah, dan satu rangkaian ibadah. Apa yang sebenarnya diwajibkan oleh perkumpulan itu untuk Anda lakukan terhadap saudara seiman yang berdiri di sebelah Anda?

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Berdirilah di mana saja di padang Arafah dan lihatlah sekeliling. Pria di sebelah Anda mungkin tidak memiliki bahasa, negara, tingkat pendapatan, atau warna kulit yang sama dengan Anda. Ia mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan yang sama dengan yang Anda kenakan. Ia menghadap ke arah yang sama dengan Anda. Ia datang dengan alasan yang sama dengan Anda. Selama beberapa hari, konsep abstrak yang disebut umat Islam sebagai “umat” — sebuah kata yang sering dilontarkan dalam khotbah dan berita utama hingga kehilangan makna spesifiknya — berubah menjadi sesuatu yang dapat Anda lihat dengan mata kepala sendiri dan Anda berada di dalamnya.

Haji tidak menciptakan umat. Ibadah ini menyingkapkan apa yang seharusnya sudah menjadi kenyataan di sepanjang tahun, dan meletakkan tanggung jawab di pundak Anda yang tidak berakhir saat Anda menanggalkan kain ihram.

Allah menggambarkan hubungan antarorang beriman dalam satu kalimat lugas:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong [awliyāʾ] bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Surah At-Taubah, 9:71

Kata yang Allah pilih adalah awliyāʾ — penolong, pelindung, orang-orang yang terikat untuk saling membela dan mendukung. Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam ayat ini: ayat ini tidak mengatakan bahwa orang-orang beriman sekadar menyukai satu sama lain, atau bersimpati satu sama lain. Ayat ini menegaskan sebuah persekutuan, dan kemudian langsung mengaitkan persekutuan tersebut dengan serangkaian kewajiban bersama — menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Konsep walāʾ (loyalitas) dalam Al-Qur’an bukanlah sekadar perasaan yang lepas dari tanggung jawab. Ia adalah kesetiaan yang diukur dari apa yang benar-benar Anda lakukan untuk orang-orang yang seagama dengan Anda, terutama mereka yang tidak Anda pilih sendiri dan mungkin tidak akan pernah Anda temui lagi.

Haji adalah tempat ayat tersebut tidak lagi sekadar deskripsi yang Anda setujui secara prinsip, melainkan menjelma menjadi lautan manusia yang menjadi sasaran ayat tersebut, berdiri tepat di hadapan Anda.

Setiap sekat yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengelompokkan manusia lenyap seketika saat kain ihram dikenakan. Seorang penguasa dan pria yang membersihkan rumahnya mengenakan dua helai kain tanpa jahitan yang identik. Tak satu pun dari mereka diizinkan memakai tanda pangkat, merek desainer ternama, atau potongan baju khusus yang menunjukkan siapa diri mereka. Keduanya menghadap Ka’bah dalam salat; keduanya berjalan mengelilingi putaran yang sama sebanyak tujuh kali; keduanya berdiri di Arafah yang sama pada jam yang sama, memohon rahmat yang sama kepada Tuhan yang sama. Kekayaan tidak bisa membeli kedudukan yang lebih baik di hadapan Allah di sini, dan kemiskinan tidak bisa menurunkannya. Kebangsaan, bahasa, dan garis keturunan — segala hal yang digunakan dunia luar untuk menentukan siapa yang pantas dihormati — menjadi tidak berarti.

Ini bukanlah sekadar simbolisme yang indah. Ini adalah prinsip dasar umat yang diwujudkan sebagai fakta fisik: bahwa satu-satunya derajat yang Allah akui di antara hamba-hamba-Nya adalah takwa, dan bahwa haji adalah satu-satunya tempat di bumi yang dirancang untuk membuat dua juta orang merasakannya secara serentak, di tempat yang sama, pada waktu yang sama.

Status sebagai awliyāʾ tidak dibuktikan hanya dengan berdiri di kerumunan yang sama. Hal itu dibuktikan melalui apa yang dituntut oleh kerumunan tersebut dari Anda ketika mulai terasa sulit, melelahkan, atau merepotkan untuk tetap peduli pada orang asing di sebelah Anda. Dua hal yang disabdakan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menggambarkan dengan tepat seperti apa praktik kewajiban tersebut.

“Tidaklah [sempurna] iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”

Hadis ini tercatat pada halaman cetak 1/14 dari , dalam Kitab Iman — Nabi menempatkan cinta ini ke dalam definisi iman itu sendiri, bukan sebagai keutamaan opsional yang menyertainya. Dan mengenai seperti apa seharusnya cinta itu dirasakan dari dalam hati:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh: apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.”

Hadis ini tercatat pada halaman cetak 4/1999 dari . Jika dibaca bersamaan, kedua riwayat ini menggambarkan sebuah kewajiban yang tegas. Mencintai untuk saudara Anda apa yang Anda cintai untuk diri sendiri berarti jemaah haji yang kelelahan dan tidak kuat lagi berjalan akan mendapatkan kesabaran Anda, bukan dorongan kasar. Ini berarti wanita tua yang bersusah payah mencapai Hajar Aswad akan mendapatkan uluran tangan Anda untuk menopangnya, bukan sikutan Anda untuk membuka jalan melewatinya. Ini berarti pria yang bahasa Arabnya tidak Anda pahami dan adat istiadatnya tampak asing bagi Anda tetap diperlakukan sebagai anggota dari tubuh yang sama dengan Anda — karena menurut gambaran Nabi sendiri, rasa sakitnya dan rasa sakit Anda seharusnya mengalir melalui sistem saraf yang sama.

Tindakan: Selama ibadah haji, luangkan waktu untuk mencari saudara seiman dari belahan dunia yang tidak Anda ketahui sama sekali. Tanyakan seperti apa kehidupan mereka, dan apa yang sedang diperjuangkan oleh komunitas mereka. Bawa pulang pelajaran yang Anda dapatkan kepada keluarga dan komunitas Anda sendiri, agar kepedulian yang dilatih oleh perkumpulan ini tidak menguap begitu saja saat kerumunan tersebut bubar.

Inilah kenyataan jujurnya. Dua juta orang yang mengenakan pakaian identik dan menghadap ke arah yang identik tidak serta-merta menjadi saudara satu sama lain. Desak-desakan yang sama, yang membuat Anda bahu-membahu dengan orang asing dari benua lain, bisa dengan mudah memicu aksi saling dorong di Jamarat, kata-kata kasar dalam antrean air, dan ketidakpedulian terhadap orang tua yang kesulitan berjalan satu meter dari Anda — karena kerumunan di bawah tekanan fisik justru menyingkapkan karakter asli seseorang, bukan menggantinya. Keseragaman pakaian bukanlah kesatuan hati. Haji menyediakan latar tempat persatuan umat bisa menjadi nyata; haji tidak menyediakan persatuan itu sendiri. Bagian tersebut tetap harus dipilih, oleh masing-masing individu, tepat pada saat yang paling tidak nyaman untuk memilihnya — ketika Anda lelah, haus, dan hampir kehilangan kesabaran terhadap seseorang yang menghalangi jalan Anda.

Inilah tepatnya mengapa dua riwayat di atas menggambarkan iman dan persaudaraan, bukan ukuran kerumunan. Dua orang beriman yang tidak pernah saling bertatap muka tetap terikat oleh walāʾ; dua juta tubuh yang berdiri berdekatan tidak secara otomatis terikat oleh apa pun.

Jemaah yang pulang dari haji setelah benar-benar meresapi hal ini akan berubah dalam satu hal yang spesifik dan nyata: batas-batas buatan negara tidak lagi berfungsi sebagai alasan untuk bersikap acuh tak acuh. Seorang mukmin yang sedang berjuang di belahan dunia lain bukanlah orang asing yang keadaannya bukan urusan Anda — ia adalah, dalam perumpamaan Nabi sendiri, anggota dari tubuh yang sama dengan Anda, dan anggota tubuh yang kesakitan tidak akan pernah bisa diabaikan begitu saja oleh bagian tubuh lainnya.

Kepedulian tersebut harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata setelah Anda pulang, atau ia hanya akan menjadi perasaan sesaat yang dihasilkan oleh haji dan tidak pernah diperbarui. Tempat paling langsung untuk menyalurkannya adalah dalam doa — memohon kepada Allah, dengan menyebut nama mereka jika Anda bisa, untuk orang-orang beriman yang Anda temui maupun yang tidak akan pernah Anda temui. Koleksi Adhkar di Quran Gallery memuat doa-doa sahih yang tepat untuk hal ini, sehingga kata-kata yang Anda panjatkan terjamin kesahihannya dan bukan sekadar karangan spontan. Jadikan kebiasaan itu bertahan lebih lama dari kain ihram Anda. Umat yang diperlihatkan oleh haji kepada Anda tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar tertinggal di padang Arafah.