Articles
Tamu Allah di Setiap Pemberhentian: Doa Sepanjang Rangkaian Ibadah Haji
Ibadah haji tidak hanya mengkhususkan doa pada satu hari panjang di Arafah. Di Bukit Shafa, di Masy'aril Haram Muzdalifah, hingga setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diriwayatkan berdiri dan berdoa di setiap pemberhentian tersebut—dan dalil-dalil yang ada secara jujur memaparkan di mana riwayat tersebut kuat dan di mana ia melemah.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Allah menyebutkan rangkaian ibadah haji sebagai momen untuk berzikir dua kali dalam satu tarikan napas—satu kali saat bertolak dari Arafah, dan satu kali lagi untuk apa yang harus dilakukan setelahnya:
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا۟ فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَـٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ ۖ وَٱذْكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ
“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang sesat.”
Dua titik pemberhentian, satu perintah: ingatlah Allah di sini, dan di sini lagi. Seperti apa persisnya zikir tersebut diucapkan oleh sosok yang pertama kali menelusuri rute ini, telah tercatat dengan detail yang luar biasa—bukan sebagai satu instruksi tunggal yang diulang di mana-mana, melainkan sebagai serangkaian ucapan dan tindakan spesifik yang dilakukan di titik-titik tertentu.
Sebuah ungkapan yang sering diulang di kalangan jemaah menyebut orang yang berhaji sebagai tamu Allah, yang diundang secara langsung dan doanya dikabulkan secara langsung pula. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu-tamu Allah: Dia memanggil mereka dan mereka memenuhi panggilan-Nya, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 4/141 dari , dan para editor menilai sanadnya lemah—satu perawi digambarkan sebagai “tidak kuat,” perawi lain dilaporkan hafalannya telah menurun—dan mereka mencatat bahwa setiap jalur alternatif yang ditelusuri menuju hadis ini justru lebih lemah lagi. Hal ini patut disampaikan secara terus terang daripada sekadar dilewatkan: redaksi persis seperti ini tidak bisa berdiri sendiri sebagai dalil yang kuat. Namun, pembahasan selanjutnya tidak bersandar pada hadis ini. Pembahasan ini bersandar pada apa yang secara sahih diriwayatkan telah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya, dan dalam hal ini gambarannya sama sekali tidaklah kabur.
Tidak ada satu pun dari rangkaian ibadah haji yang disebut secara langsung sebagai hari untuk berdoa selain wukuf di Arafah, dan dalil terkuat mengenai alasannya sama sekali tidak berkaitan dengan kata-kata yang diucapkan di sana. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka selain Hari Arafah. Dia mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berfirman: ‘Apa yang diinginkan oleh orang-orang ini?‘”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 2/982 dari . Hari yang ditandai dengan kedekatan istimewa tersebut adalah hari untuk meminta, dan perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di sana hampir sepenuhnya jauh dari kesan seremonial. Jabir bin Abdullah, saat menggambarkan haji Nabi secara sangat rinci, meriwayatkan:
“Beliau menghadap kiblat, dan terus berdiri di sana hingga matahari terbenam.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 2/886 dari , dalam riwayat panjang yang sama tentang haji Nabi. Tidak ada transkrip mengenai apa yang diucapkan yang tersisa bersamanya, karena memang tidak ada yang diriwayatkan—seorang pria berdiri, menghadap ke arah kiblat, sepanjang sore, jelas-jelas menghabiskan seluruh waktunya dengan sesuatu antara dirinya dan Tuhannya yang menurut para sahabat tidak perlu dicatat. Instruksi yang tersirat dalam keheningan itu justru lebih sulit diikuti daripada sebuah teks doa: isilah jam-jam tersebut oleh Anda sendiri.
Di Shafa dan Marwah, riwayat yang sama memberikan sesuatu yang lebih spesifik: sebuah kalimat yang diulang-ulang, dan ruang di sekitarnya yang jelas-jelas dibiarkan terbuka. Jabir meriwayatkan bahwa di Bukit Shafa, Nabi:
“Mendakinya hingga beliau dapat melihat Ka’bah, menghadap kiblat, lalu mengesakan Allah dan mengagungkan-Nya, seraya mengucapkan: ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata; Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan sekutu sendirian.’ Kemudian beliau berdoa di sela-selanya. Beliau mengucapkan ini sebanyak tiga kali.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 2/886 dari . Beliau melakukan hal yang sama di Bukit Marwah. Apa yang tetap di sini adalah bingkainya—pernyataan keesaan Allah, yang diucapkan tiga kali di kedua bukit tersebut—dan apa yang dibiarkan terbuka, setiap kalinya, adalah bagian “kemudian beliau berdoa di sela-selanya”: tidak ada redaksi yang diberikan, tidak ada durasi yang ditentukan, hanya sebuah ruang kosong yang diisi sendiri oleh Nabi dan dibiarkan agar setiap jemaah haji setelah beliau mengisinya dengan cara yang sama. Strukturnya berulang; namun bagian tengahnya tidak.
Titik pemberhentian kedua yang disebut secara langsung dalam ayat di atas mendapat perlakuan yang sama. Setelah bermalam di Muzdalifah dan menunaikan salat Subuh, Jabir meriwayatkan:
“Beliau berkendara menuju Masy’aril Haram, menghadap kiblat, berdoa kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mengesakan-Nya, dan menyatakan ketunggalan-Nya, lalu terus berdiri di sana hingga hari mulai sangat terang.”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 2/886 dari , dalam riwayat panjang yang sama. Hampir seluruh jemaah haji sedang tertidur pada jam tersebut, atau sedang membongkar tenda, atau sekadar menunggu dimulainya urusan praktis hari itu. Ini adalah momen kedua dari dua momen yang secara khusus disebutkan oleh Al-Qur’an untuk berzikir, dan momen ini menjadi milik siapa saja yang cukup terjaga, di hamparan tanah yang spesifik tersebut sebelum matahari terbit, untuk memanfaatkannya.
Instruksi tentang berdiri yang paling jelas dalam seluruh riwayat ini berkaitan dengan hari-hari setelah penyembelihan (Tasyrik), ketika tiga jumrah dilempar setiap harinya, bukan hanya satu. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menggambarkan dengan tepat apa yang dilakukan Nabi, cukup presisi sehingga deskripsinya berfungsi sebagai sebuah aturan:
“Beliau melempar Jumrah Ula (yang kecil) dengan tujuh batu kerikil, bertakbir pada setiap lemparan, kemudian maju ke tanah yang datar, menghadap kiblat, dan berdiri di sana dalam waktu yang lama, berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau melempar Jumrah Wustha (yang tengah), mengambil sisi kiri menuju tanah yang datar, menghadap kiblat, dan kembali berdiri dalam waktu yang lama untuk berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau melempar Jumrah Aqabah dari dasar lembah, tanpa berhenti di sana sama sekali, lalu pergi seraya berkata: ‘Beginilah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.‘”
Hal ini tercatat pada halaman cetak 2/623 dari . Asimetri inilah yang menjadi poin utamanya: dua pemberhentian yang panjang dan disengaja untuk berdoa, dan jumrah ketiga yang dilempar lalu ditinggalkan tanpa jeda. Balikkan pola tersebut—perlakukan setiap jumrah dengan cara yang sama, atau lebih buruk lagi, jadikan jumrah terakhir sebagai momen untuk berlama-lama—maka sunah tersebut justru diputarbalikkan, bukan diikuti. Instruksi ini sangat spesifik tentang di mana harus berdiri dan meminta, dan sama spesifiknya tentang di mana tidak boleh melakukannya.
Satu tempat di mana artikel ini tidak akan menyuruh Anda mencari teks doa yang baku adalah saat tawaf. Daftar panjang beredar di internet yang menetapkan doa berbeda untuk masing-masing dari tujuh putaran mengelilingi Ka’bah; namun praktik yang sahih sebenarnya lebih sempit dari itu, dan sebuah artikel pendamping tentang tawaf membahasnya secara lengkap—artikel ini menyerahkan pembahasan tersebut ke sana daripada mengulang dalil yang sama di sini.
Jejerkan pemberhentian-pemberhentian ini secara berdampingan dan akan muncul sebuah pola yang tidak dapat diberikan oleh sanad lemah dari hadis pembuka tadi, namun dalil yang sahih menyediakannya tanpa membutuhkan hadis tersebut: seorang jemaah yang menjalani ibadah haji berulang kali ditempatkan di suatu tempat yang spesifik, diperintahkan untuk menghadap kiblat, dan kemudian diberikan redaksi doa yang baku untuk mengukuhkan momen tersebut atau tidak diberikan apa-apa sama sekali selain instruksi untuk meminta. Kedua bagian ini tidak bersifat opsional. Redaksi yang baku—di Shafa, di Marwah, di Muzdalifah—menjaga lisan agar tidak kosong ketika hati terlalu kewalahan untuk merangkai kata-kata; sementara keheningan yang terbuka—di Arafah, di sela-sela setiap zikir di kedua bukit—menegaskan bahwa ada bagian dari ibadah ini yang tidak bisa diserahkan kepada Anda dalam bentuk teks yang sudah ditulis sebelumnya, karena bagian itu memang dimaksudkan untuk menjadi milik Anda sendiri.
Membawa pola tersebut melewati Jumrah terakhir adalah separuh instruksi yang lebih sulit. Koleksi Adhkar di Quran Gallery menyimpan redaksi yang sahih tepat untuk momen-momen yang dijelaskan di sini—saat berdiri, saat mengangkat tangan, kata-kata yang diucapkan di antara zikir-zikir yang baku—sehingga apa yang diucapkan di dalamnya, baik selama haji maupun pada hari biasa di rumah, adalah sesuatu yang diketahui kesahihannya, bukan sekadar dirangkai dari apa yang kebetulan sedang beredar pada tahun tersebut.