Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Dua Sayap Hati: Menumbuhkan Rasa Takut dan Harap kepada Allah

Rasa takut dan harap tidak menarik seorang mukmin ke arah yang berlawanan — keduanya adalah dua sayap dari satu hati yang terbang menuju Allah. Apa makna sebenarnya dari masing-masing rasa tersebut, mengapa keduanya tidak bisa berdiri sendiri, dan bagaimana Al-Qur'an serta sabda Nabi menjelaskan cara menyatukannya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 9 menit

Setiap mukmin, pada hakikatnya, sedang menempuh sebuah perjalanan — perjalanan yang menuntut tiga bekal untuk dibawa sepanjang jalan: cinta, rasa takut, dan rasa harap. Tinggalkan salah satunya, dan perjalanan ini bukan sekadar melambat; ia akan berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Cinta tanpa rasa takut akan membusuk menjadi kelancangan. Rasa takut tanpa harap akan runtuh menjadi keputusasaan. Dan tidak ada satu pun yang bisa bertahan sendirian, karena seorang hamba yang tidak mencintai Allah pada dasarnya tidak memiliki alasan nyata untuk takut mengecewakan-Nya, atau berharap untuk bisa dekat dengan-Nya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menggambarkan keseimbangan ini melalui perumpamaan seekor burung yang sedang terbang: cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harap adalah kedua sayapnya. Burung dengan kepala yang sehat dan dua sayap yang kuat akan terbang dengan baik. Putus kepalanya, dan burung itu akan langsung mati. Lukai salah satu sayapnya, ia mungkin bertahan hidup, tetapi dengan susah payah — terdampar di tanah, tak berdaya, dan menjadi mangsa empuk bagi apa pun yang mengintainya.

Ini bukanlah sekadar gambaran abstrak. Perumpamaan ini menjelaskan sesuatu yang benar-benar bisa diupayakan oleh seseorang, dengan melatih satu sayap demi sayap lainnya.

Rasa takut kepada Allah tidak dimaksudkan sebagai kegelisahan yang tak beralasan. Al-Qur’an mengaitkannya secara langsung dengan pengenalan tentang siapa Allah itu:

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَـٰبًا مُّتَشَـٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.

— Surah Az-Zumar, 39:23

Perhatikan urutan yang dijelaskan dalam ayat tersebut: membaca atau mendengar Al-Qur’an terjadi lebih dulu, getaran rasa takut muncul dari hal itu, dan ketenangan hati menyusul setelahnya. Rasa takut di sini bukanlah emosi yang berdiri sendiri dan dibuat-buat secara terpisah — ia adalah respons saat benar-benar berinteraksi dengan teks tersebut, ayat demi ayat, dan merenungkan apa yang disampaikannya tentang siapa Allah itu.

Bagian dari perenungan tersebut adalah dengan menyebut nama-Nya secara benar. Dia adalah Al-Qadir, Yang Maha Kuasa; Al-Jabbar, Yang Maha Memaksa, yang hanya perlu berfirman “Jadilah” pada sesuatu maka jadilah ia; Al-Qahhar, Yang Maha Menundukkan, yang di hadapan-Nya tidak ada satu pun yang mampu bertahan; Al-‘Azhim, Yang Maha Agung, yang kebesaran-Nya tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal makhluk mana pun. Semua itu bukanlah sekadar hiasan kata — melainkan hakikat yang membuat rasa takut kepada-Nya menjadi rasional, bukan takhayul. Seseorang yang telah merenungkan sifat-sifat ini memiliki alasan kuat atas rasa takut yang mereka rasakan; sedangkan mereka yang tidak melakukannya, hanya sekadar mereka-reka.

Al-Qur’an juga menghubungkan rasa takut ini dengan jenis keyakinan yang sangat khusus. Ketika Zakariyya dan keluarganya digambarkan sebagai teladan ketaatan, rasa takut mereka tidak dibenturkan dengan rasa harap — keduanya bersanding erat, di dalam ayat yang sama:

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.

— Surah Al-Anbiya’, 21:90

Kalimat yang sama menyebutkan kedua gejolak hati ini sekaligus, karena dalam kehidupan keluarga seorang nabi, keduanya memang tidak pernah dimaksudkan untuk dipisahkan.

Rasa takut pada umumnya membuat orang lari menjauh dari apa pun yang menakutkan mereka. Seseorang yang takut pada laba-laba atau anjing liar akan mematung atau melarikan diri. Rasa takut kepada Allah justru sebaliknya: semakin seseorang merasakannya, semakin ia berbalik mendekat kepada-Nya, bukan menjauh.

Perbedaan tersebut memiliki istilah tersendiri dalam literatur klasik — rasa takut yang disertai ketundukan ini disebut khasyyah, dan ia berbeda dari khauf, yaitu rasa takut biasa terhadap sesuatu yang membahayakan. Rasa takut duniawi biasanya dibarengi dengan ketidaksukaan terhadap objeknya. Khasyyah dibarengi dengan cinta dan rasa hormat, karena Dzat yang ditakuti juga merupakan sumber dari segala kebaikan yang dimiliki seseorang. Anda tidak akan lari dari sosok yang Anda kagumi sekaligus menjadi tempat Anda bergantung untuk segala hal; Anda justru akan mendekat, dengan lebih berhati-hati.

Rasa takut ini juga bukanlah kecemasan yang mengambang tanpa arah. Ia berfungsi sebagai pencegah — benteng yang berdiri di antara seseorang dan dosa yang hendak ia lakukan. Seseorang yang membiarkan rasa takut ini menahannya di dunia, digambarkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, akan dinaungi pada Hari Kiamat dan diselamatkan dari penyesalan. Dan yang patut dicatat, rasa takut tidak digambarkan sebagai kondisi yang permanen. Bagi orang-orang yang mencapai Surga, rasa takut itu berakhir pada saat mereka tiba, digantikan sepenuhnya oleh rasa aman:

… ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ

… “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.”

— Surah Al-A’raf, 7:49

Dengan kata lain, rasa takut bukanlah tujuan akhir. Ia adalah tempaan yang mengantarkan seseorang ke tempat tujuan di mana rasa takut tidak lagi memiliki peran apa pun.

Penyeimbang dari rasa takut adalah raja’ — harapan kepada Allah, yang digambarkan oleh para ulama sebagai pandangan terhadap luasnya rahmat-Nya dan kepercayaan pada kedermawanan-Nya tanpa keraguan. Jika rasa takut berlabuh pada kekuasaan dan keagungan Allah, maka rasa harap berlabuh pada nama-nama-Nya yang penuh kelembutan: Ar-Rahman, yang rahmat-Nya menjangkau setiap makhluk ciptaan; Al-Ghafur, yang menutupi dosa alih-alih menyingkapnya; Al-Hayiyy, yang disifatkan sebagai Dzat yang malu untuk menolak hamba yang berdoa dengan tangan kosong.

Harapan bukanlah angan-angan kosong yang lepas dari ikhtiar. Harapanlah yang membuat ibadah terasa lebih dari sekadar transaksi yang dilakukan karena rasa takut. Harapanlah yang mengubah doa dari sekadar formalitas menjadi sesuatu yang benar-benar diyakini akan dikabulkan oleh Allah. Ibnu Qayyim bahkan menyebut harapan sebagai sebuah keharusan bagi siapa saja yang menempuh jalan ini — seseorang yang kehilangannya sama sekali, meski hanya sesaat, berada dalam bahaya besar untuk menyerah sepenuhnya, karena setiap tahapan perjalanan bergantung padanya: dosa-dosa yang ia harap akan diampuni, kekurangan yang ia harap akan diperbaiki, amal saleh yang ia harap akan diterima, dan kedekatan dengan Allah yang ia harap akan dicapai pada akhirnya.

Bahkan di kedalaman duka sekalipun, harapan ini tidak seharusnya patah. Ya’qub (‘alaihissalam), yang telah kehilangan satu putra dan kini menghadapi kehilangan putra lainnya, memberi tahu putra-putranya yang tersisa di mana batas yang tidak boleh dilewati:

يَـٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”

— Surah Yusuf, 12:87

Itu adalah kalimat yang sangat menggugah untuk diucapkan oleh seorang ayah di tengah tahun-tahun terberatnya: keputusasaan itu sendiri disebut sebagai sesuatu yang lebih dekat kepada kekufuran daripada sekadar kesedihan. Duka cita bukanlah masalahnya. Menyimpulkan bahwa rahmat Allah telah habis, itulah masalahnya.

Mekanisme spesifik yang melahirkan harapan disebut husnuzhan billah — berprasangka baik kepada Allah, mengharapkan yang terbaik dari-Nya alih-alih yang terburuk. Ini bukanlah sekadar adab yang sepele. Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyampaikan bahwa Allah berfirman tentang diri-Nya:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta; jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.”

— diriwayatkan dari Abu Hurairah, Shahih Al-Bukhari, halaman cetak 9/121 dari .

Bacalah dengan saksama dan Anda akan melihat bahwa perhitungannya sengaja dibuat tidak seimbang — setiap langkah kecil menuju Allah dibalas dengan langkah yang jauh lebih besar, dan hamba yang hanya berjalan disambut dengan gambaran Allah yang datang kepadanya dengan berlari. Itu bukanlah bahasa dari Tuhan yang menunggu untuk mencari-cari kesalahan hamba-Nya. Itu adalah undangan terbuka untuk selalu mengharapkan kebaikan.

Hal ini menjadi sangat penting di penghujung usia. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Nabi, inilah yang beliau pilih untuk ditekankan:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.”

— diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Shahih Muslim, halaman cetak 8/165 dari .

Tiga hari sebelum wafatnya, di saat tidak ada lagi kepentingan duniawi yang bisa diraih dengan mengucapkan hal itu, itulah pesan yang dipilih oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk ditinggalkan. Sangat layak bagi kita untuk merenungkan mengapa beliau memilih pesan tersebut, di antara sekian banyak hal, untuk disampaikan pada saat itu.

Semua ini bukanlah izin untuk bersandar sepenuhnya pada harapan dan membiarkan rasa takut menyusut. Harapan yang tak terkendali akan melahirkan rasa cepat puas yang membuat seseorang berhenti mengawasi dosa-dosanya sendiri. Rasa takut yang tak terkendali akan melahirkan keputusasaan yang membuat seseorang berhenti berusaha sama sekali. Para ulama yang mengkaji keseimbangan ini menawarkan sebuah pedoman umum alih-alih rasio yang kaku: condonglah pada rasa takut di saat lapang, ketika kelalaian paling mudah datang, dan condonglah pada harapan di saat sulit, ketika keputusasaan menjadi bahaya yang nyata. Ulama lain berpendapat bahwa rasa takut harus memimpin di sebagian besar fase kehidupan, sementara harapan baru menjadi dominan saat kematian mendekat — persis seperti pembobotan yang digambarkan dalam riwayat Jabir di atas, yang dipilih oleh Nabi untuk diri beliau sendiri.

Bentuk harapan tertinggi yang dijelaskan dalam tradisi Islam bukanlah harapan akan hasil tertentu di dunia ini. Melainkan harapan untuk berjumpa dengan Allah itu sendiri:

… فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

… “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

— Surah Al-Kahf, 18:110

Ibnu Qayyim menyebut harapan khusus tersebut sebagai esensi dari iman itu sendiri, karena ia adalah satu-satunya harapan yang menata ulang segala hal lain di bawahnya: amal saleh berhenti menjadi sekadar alat untuk mendapatkan pahala yang terpisah, dan sebaliknya, berubah menjadi wujud nyata dari keinginan untuk dekat dengan Allah. Segala hal lain yang mungkin diharapkan seseorang dalam hidup ini jauh lebih kecil dari itu, dan setiap ketakutan yang berarti, pada akhirnya, adalah ketakutan kehilangan kesempatan untuk mencapainya.

Rasa takut dan harap bukanlah dua suasana hati yang saling bersaing untuk dikendalikan. Keduanya adalah dua tempaan yang, jika disatukan, akan menjaga hati tetap bergerak ke arah yang sama tanpa membuatnya membeku di tempat atau membiarkannya hanyut tanpa arah. Al-Qur’an itu sendiri adalah tempat di mana keduanya ditumbuhkan secara paling langsung — bacaan yang sama yang seharusnya membuat kulit gemetar adalah bacaan yang, beberapa ayat kemudian, melembutkan hati menuju rahmat yang baru saja ia takutkan akan hilang. Membacanya perlahan, di dalam Al-Qur’an, ayat demi ayat, dengan mengharapkan kedua respons tersebut alih-alih hanya salah satunya, adalah tempat di mana keseimbangan ini benar-benar dibangun — bukan sekadar dibaca, melainkan dipraktikkan.