Articles
Dikosongkan Hanya untuk Ini: Panduan Praktis Menghilangkan Gangguan dalam Shalat
Khusyuk bukanlah suasana hati yang datang dengan sendirinya — ia dibangun dengan menyingkirkan hal-hal yang mengalihkan hati bahkan sebelum Anda mengucapkan takbir. Langkah-langkah praktis berdasarkan dalil untuk menyiapkan tubuh, ruangan, dan pikiran agar siap berdiri menghadap Allah.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Anda bisa berdiri dalam shalat dengan rukuk dan sujud yang benar, namun pikiran Anda berada di tempat lain — mengingat daftar belanjaan, mengulang kembali sebuah percakapan, atau menunggu ponsel bergetar. Anggota tubuh menyelesaikan shalat, tetapi hati tidak pernah hadir. Para ulama menyebut kebalikannya sebagai khusyuk: hati yang benar-benar hadir, menghadap Dzat yang sedang disapanya. Allah menyifatinya sebagai tanda pertama dari orang-orang mukmin yang beruntung:
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَـٰشِعُونَ Sungguh beruntung orang-orang mukmin — (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.
Kehadiran hati bukanlah sekadar suasana hati yang kebetulan Anda rasakan atau tidak. Ia dibangun, sama seperti membangun ruangan yang tenang: dengan menyingkirkan, satu per satu, hal-hal yang merampas perhatian yang seharusnya ditujukan untuk shalat. Pembahasan berikut ini bukanlah tentang bagaimana shalat dengan lebih keras, melainkan tentang bagaimana shalat dengan lebih sedikit gangguan yang mengalihkan Anda darinya.
Tubuh dengan kebutuhan yang belum terpenuhi tidak akan berhenti menuntutnya hanya karena Anda telah mengangkat tangan untuk memulai shalat. Dua riwayat sahih menyebutkan dua penyebab paling umum secara langsung dan memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.
Jika makanan sudah terhidang di depan Anda, Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) memerintahkan agar tidak meninggalkannya demi shalat:
إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ، وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَابْدَؤُوا بِالْعَشَاءِ Apabila makan malam telah dihidangkan, dan iqamah shalat telah dikumandangkan, maka mulailah dengan makan malam.
Hadits ini tercetak pada halaman 1/238 dari , di mana ‘Aisyah (radhiyallahu ‘anha) meriwayatkannya secara langsung dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Makan terlebih dahulu bukanlah sebuah kelonggaran bagi perut dengan mengorbankan shalat — justru itulah yang membuat shalat Anda setelahnya benar-benar mendapatkan perhatian penuh.
Prinsip yang sama juga berlaku untuk kebutuhan tubuh lainnya: jangan shalat sambil menahan buang air. ‘Aisyah meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
لَا يُصَلَّى بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika seseorang menahan dua kotoran (kencing atau buang air besar).
Hadits ini tercetak pada halaman 1/66 dari , dan dinilai sahih oleh para penyuntingnya. Selesaikan apa yang dibutuhkan tubuh sebelum Anda berdiri — bukan karena shalat yang dilakukan dalam keadaan tersebut tidak sah, tetapi karena hati yang terbelah antara Allah dan kandung kemih yang penuh telah kehilangan sebagian besar tujuan utamanya.
Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, perhatikan apa yang ada di sekitarnya. Beberapa penyesuaian kecil tidak memerlukan biaya apa pun namun mampu menghilangkan banyak sekali gangguan:
- Pilih tempat yang tenang. Ruangan di mana orang-orang sedang mengobrol, atau di mana suara televisi maupun dering notifikasi terdengar di latar belakang, akan terus bersaing merebut perhatian Anda sepanjang shalat.
- Senyapkan ponsel — dan biarkan tetap seperti itu selama shalat sunnah juga, bukan hanya shalat fardhu. Mengeceknya “sebentar saja” di antara kedua shalat tersebut akan menghancurkan ketenangan yang baru saja Anda bangun.
- Titipkan anak kecil jika memungkinkan. Balita yang menarik-narik lengan baju Anda di tengah sujud bukanlah gangguan yang bisa diabaikan begitu saja; hal ini membutuhkan bantuan orang lain, jika ada.
- Selesaikan tugas mendesak terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang sedang dimasak, matikan kompornya. Pikiran yang setengahnya memantau kompor bukanlah pikiran yang sepenuhnya menghadap Allah.
- Shalatlah di tempat yang nyaman secara fisik — bukan di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas sehingga tubuh Anda terus-menerus mengeluhkan suhunya.
Semua ini bukanlah sekadar formalitas. Ini tentang tidak memaksa hati Anda untuk melakukan dua hal sekaligus — shalat, dan mengurus masalah lain di latar belakang — pada saat yang bersamaan.
Dua riwayat dari kediaman Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menunjukkan bahwa gangguan visual sekecil apa pun patut disingkirkan, bukan dibiarkan.
‘Aisyah (radhiyallahu ‘anha) meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah shalat mengenakan pakaian bercorak, dan setelah selesai beliau bersabda:
شَغَلَتْنِي أَعْلَامُ هَذِهِ، اذْهَبُوا بِهَا إِلَى أَبِي جَهْمٍ، وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةٍ Corak pakaian ini telah menggangguku. Bawalah pakaian ini kepada Abu Jahm, dan bawakan untukku pakaian wolnya yang polos.
Percakapan ini tercetak pada halaman 1/262 dari . Corak tersebut bukanlah gangguan yang besar — sekilas pandangan ke arahnya saat shalat sudah cukup bagi beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk menukar pakaian tersebut setelahnya daripada harus memakainya lagi di lain waktu. Pelajarannya sangat mudah diterapkan: shalatlah dengan pakaian yang cukup polos sehingga tidak memancing pandangan mata Anda.
Perhatian yang sama juga berlaku untuk ruangan itu sendiri. Anas (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa ‘Aisyah pernah menggantungkan tirai bercorak di salah satu bagian rumahnya, dan Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) memintanya untuk menurunkannya seraya bersabda:
أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي Jauhkanlah tiraimu ini dari kami — karena gambar-gambarnya terus terbayang di hadapanku dalam shalatku.
Hadits ini tercetak pada halaman 1/147 dari . Jika selembar kain di dinding saja bisa mengalihkan perhatian Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sendiri, maka sangat penting untuk memeriksa apa yang ada tepat di depan pandangan Anda sebelum memulai shalat — meja yang berantakan, layar yang menyala, atau apa pun yang cukup bercorak untuk terus menarik perhatian mata.
Sutrah — dinding, kursi, tas, atau apa pun yang diletakkan dalam jarak dekat di depan Anda — fungsinya lebih dari sekadar menandai arah hadap Anda. Sutrah memberi pandangan Anda titik tetap yang cukup dekat sehingga mata tidak punya ruang untuk berkeliaran. Sahl bin Abi Hatsmah meriwayatkan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا، لَا يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekat kepadanya — agar setan tidak dapat memutus shalatnya.
Hadits ini tercetak pada halaman 2/27 dari , dengan sanad yang dinilai hasan oleh para penyuntingnya. Efek praktisnya sederhana: berdiri dekat dengan sutrah menjaga mata Anda agar tidak melayang melewati tempat shalat Anda sendiri, dan mencegah orang berjalan tepat di depan Anda yang bisa merusak fokus di tengah rakaat.
Meskipun ruangan sudah dikondisikan, kebutuhan fisik sudah terpenuhi, dan sutrah sudah ada di depan Anda, berbagai pikiran akan tetap muncul — tagihan yang harus dibayar, pesan yang harus dibalas, atau hal sepele yang sama sekali tidak pantas berada di kepala Anda pada saat itu. Solusinya bukanlah melawan setiap pikiran tersebut satu per satu; melainkan mengarahkan kembali perhatian kepada siapa Anda sebenarnya sedang berdiri menghadap. Mengingat keagungan Dzat yang sedang Anda ajak bicara, serta kenyataan bahwa hidup setiap orang akan berakhir dan dihisab, memiliki cara tersendiri untuk membuat daftar belanjaan terasa jauh lebih kecil. Pengalihan kembali fokus ini pada hakikatnya adalah sebuah bentuk ibadah — hati yang baru saja mengembara, dengan sengaja memilih untuk kembali.
Ada satu gangguan yang lebih sulit disadari daripada yang lain, karena ia terlihat seperti sebuah kehati-hatian: tidak cukup memahami hukum-hukum shalat, dan menghabiskan waktu shalat dengan bertanya-tanya apakah suatu gerakan tertentu membatalkannya, atau apakah Anda harus mengulanginya, atau apakah Anda perlu melakukan sujud sahwi. Mempelajari — dan menyegarkan kembali secara berkala — fikih dasar shalat akan menghilangkan ketidakpastian tersebut sebelum ia sempat mengganggu Anda. Pikiran yang tenteram akan shalat dengan lebih tenang daripada pikiran yang cemas, dan ketenangan adalah syarat bagi khusyuk, bukan sekadar bonus tambahannya.
Semua ini bukanlah solusi yang hanya dilakukan sekali. Tempat yang tenang, ponsel yang disenyapkan, pakaian yang polos, sutrah dalam jangkauan, pemahaman yang baik tentang hukum-hukum dasar — masing-masing adalah pilihan kecil yang dapat diulang, yang menyingkirkan satu penghalang antara Anda dan shalat yang akan Anda dirikan. Fitur waktu shalat dari Quran Gallery dibangun tepat di atas persiapan semacam itu: mengetahui secara pasti kapan waktu shalat dimulai memberi Anda jeda untuk memenuhi kebutuhan fisik, mengondisikan ruangan, dan mencari sutrah sebelum iqamah, alih-alih datang dengan pikiran terganggu karena Anda terlambat. Semoga Allah menjadikan shalat kita sebagai shalat di mana hati kita hadir seutuhnya sebagaimana tubuh kita.