Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Ucapkan dengan Lantang: Zikir yang Sebenarnya Paling Dianjurkan di Sepuluh Hari Ini

Sebagian besar ibadah di sepuluh hari pertama Zulhijah membutuhkan tiket pesawat. Namun, ada satu amalan yang tidak memerlukannya — dan dua orang sahabat mencontohkannya bukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan dengan lantang di pasar, sampai-sampai orang asing pun ikut melafalkannya bersama mereka.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Hampir semua ibadah yang dianjurkan pada musim ini mengharuskan seseorang untuk pergi dari rumah. Wukuf di Arafah membutuhkan tenda di padang tertentu. Kurban membutuhkan hewan dan tempat untuk menyembelihnya. Tawaf mengelilingi Kakbah tentu saja membutuhkan Kakbah. Jika Anda tidak bepergian pada bulan Zulhijah ini, sebagian besar momen penting di musim ini, secara harfiah, terjadi di tempat lain.

Namun, ada satu amalan yang tidak seperti itu. Amalan ini tidak butuh tiket, tidak butuh hewan kurban, dan tidak butuh padang. Amalan ini hanya membutuhkan lisan yang biasanya bebas membicarakan apa saja, untuk diarahkan pada hal yang lebih baik. Sumber-sumber riwayat sangat spesifik menggambarkan bagaimana amalan ini dipraktikkan, dan ternyata amalan ini bukanlah kebiasaan pribadi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi di balik pintu yang tertutup.

Titik awalnya adalah sebuah riwayat dari Abdullah bin Umar, yang mendengar Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebutkan rentang waktu ini secara langsung:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah, dan tidak ada amal saleh yang lebih dicintai oleh-Nya di hari-hari tersebut, dibandingkan sepuluh hari ini — maka perbanyaklah di dalamnya membaca tahlil (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ, “tidak ada tuhan selain Allah”), takbir (اَللَّهُ أَكْبَرُ, “Allah Mahabesar”), dan tahmid (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, “segala puji bagi Allah”).

— Musnad Ahmad, halaman cetak 10/296 dari , hadis 6154, diriwayatkan dari Ibnu Umar. Editor cetakan tersebut mencatat bahwa redaksi riwayat ini adalah sahih, meskipun mereka juga memberi catatan bahwa sanad khusus ini lemah karena adanya satu perawi, yaitu Yazid bin Abi Ziyad — dan bahwa riwayat yang sama juga muncul di bagian lain dalam kitab tersebut.

Perhatikan apa yang tidak diperintahkan. Perintahnya bukanlah berpuasa di sepuluh hari ini, atau bepergian ke suatu tempat, atau wukuf di suatu lokasi. Perintahnya adalah ucapkan — tiga kalimat pendek, yang diulang-ulang, di ruangan mana pun seseorang kebetulan berada. Hal ini membuat anjuran tersebut benar-benar bisa dilakukan oleh siapa saja yang menemui musim ini: baik jemaah haji di sela-sela ritual ibadahnya, maupun orang di rumah yang sama sekali tidak melakukan ritual haji apa pun.

Seperti apa bentuk “memperbanyak” zikir ketika generasi awal mempraktikkannya? Al-Bukhari menjawabnya dengan sebuah gambaran suasana, bukan sekadar aturan. Beliau membuka bab tentang keutamaan beramal di hari-hari ini dengan penjelasan dari Ibnu Abbas mengenai frasa Al-Qur’an untuk musim ini — ayyāmin maʿlūmāt, “hari-hari yang telah ditentukan,” yang ia tafsirkan sebagai sepuluh hari bulan Zulhijah — lalu dilanjutkan dengan satu kalimat tentang dua orang sahabat Nabi:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

Ibnu Umar dan Abu Hurairah biasa keluar menuju pasar pada sepuluh hari tersebut sambil bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir bersama takbir mereka berdua.

— Sahih al-Bukhari, halaman cetak 2/20 dari , dalam bab tentang keutamaan beramal di hari-hari ini. Al-Bukhari menyebutkannya di sana tanpa sanad yang bersambung — bentuk yang oleh para ulama hadis disebut mu’allaq, “tergantung” — meskipun disampaikan dengan bentuk kepastian layaknya riwayat yang kuat. Al-Albani, yang menelusuri riwayat ini secara terpisah, menilainya sahih dan mencatat bahwa Abd bin Humaid kemudian meriwayatkannya dengan sanad yang lengkap melalui Amr bin Dinar — Irwāʾ al-Ghalīl, halaman cetak 3/124 dari .

Pahamilah suasana ini sesuai dengan apa yang sebenarnya digambarkan. Pasar bukanlah tempat khusus untuk beribadah. Tidak ada seorang pun di sana yang berkumpul untuk beribadah; mereka berkumpul untuk berjual beli. Dua orang sahabat Nabi berjalan ke tengah kebisingan yang biasa terjadi itu dan menyuarakan lantunan yang berbeda, dengan cukup lantang sehingga orang-orang yang tidak saling kenal pun ikut mendengarnya dan menyambungnya lebih jauh. Zikir, dalam gambaran ini, bukanlah sesuatu yang harus Anda jaga agar tidak terdengar orang lain. Zikir adalah sesuatu yang bersedia Anda mulai dengan lantang, di tempat yang memang tidak dibangun untuk itu, dan membiarkannya menyebar melampaui diri Anda sendiri.

Satu generasi kemudian, sejarawan dan ahli fikih Maimun bin Mahran mengenang kembali kebiasaan yang sama dan terkejut melihat betapa jauhnya kebiasaan itu telah memudar dari apa yang ia ingat. Ibnu Rajab al-Hanbali melestarikan penuturannya, berdasarkan riwayat dari al-Marwazi:

أَدْرَكْتُ النَّاسَ وَإِنَّهُمْ لَيُكَبِّرُونَ فِي الْعَشْرِ، حَتَّى كُنْتُ أُشَبِّهُهُ بِالْأَمْوَاجِ مِنْ كَثْرَتِهَا، وَيَقُولُ: إِنَّ النَّاسَ قَدْ نَقَصُوا فِي تَرْكِهِمُ التَّكْبِيرَ

Aku menjumpai orang-orang yang sangat banyak bertakbir di sepuluh hari tersebut, sampai-sampai aku mengibaratkannya, saking banyaknya, seperti ombak di lautan. Dan ia biasa berkata: orang-orang telah mengalami kemunduran karena mereka meninggalkan takbir.

Fatḥ al-Bārī, syarah Ibnu Rajab al-Hanbali untuk Sahih al-Bukhari, halaman cetak 9/9 dari .

Ada dua hal yang patut kita renungkan di sini. Pertama, gambarannya itu sendiri: bukan sekadar ucapan yang terdengar sayup-sayup di sana-sini, melainkan suara yang terus-menerus bersahutan sehingga pendengarnya menggunakan perumpamaan lautan untuk menggambarkannya. Kedua, keluhan yang tersirat di dalamnya. Maimun bin Mahran wafat pada abad kedua Hijriah — ini bukanlah keluhan modern tentang amalan yang hilang akibat distraksi zaman kiwari. Tampaknya, setiap generasi sejak generasi pertama harus selalu diingatkan untuk kembali mengucapkannya dengan lantang. Hal ini bukanlah alasan untuk merasa tertinggal. Ini adalah bukti bahwa perbaikan selalu tersedia, bagi siapa saja yang mau menghidupkan kembali kebiasaan tersebut. (Takbir ini terus berlanjut hingga tiga Hari Tasyrik yang mengikuti hari raya Id, meskipun redaksi dan waktu pelaksanaannya pada hari-hari tersebut memiliki pembahasannya tersendiri.)

Gabungkan hadis dan gambaran suasana tersebut, maka bentuk anjurannya menjadi jelas. Sepuluh hari ini, di sisi Allah, adalah rentang waktu biasa yang paling berharga yang didapatkan seseorang sepanjang tahun — dan amalan yang disebutkan untuk mengisinya adalah amalan yang tidak memerlukan ibadah haji untuk menunaikannya. Sementara orang lain wukuf di Arafah atau menuntun hewan ke tempat penyembelihan kurban, pembaca yang berada di rumah tidak lantas terpinggirkan dari musim ini. Tiga kalimat yang sama bisa diucapkan saat dalam perjalanan, di meja kerja, di depan wastafel cucian piring, atau saat berjalan ke toko — persis seperti waktu-waktu biasa yang dipilih sendiri oleh Ibnu Umar dan Abu Hurairah untuk mengamalkannya.

Apa yang ditambahkan oleh gambaran suasana di pasar tersebut adalah sebuah koreksi terhadap asumsi yang sering melekat pada zikir: bahwa zikir adalah urusan pribadi, paling baik dilakukan dalam diam, dan paling mendekati keikhlasan ketika tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya. Asumsi semacam itu bukanlah apa yang dicontohkan oleh generasi awal selama sepuluh hari ini. Mereka mengucapkannya sambil berjalan untuk berjual beli, dengan cukup lantang agar bisa diikuti oleh orang lain. Sebuah ayat yang diturunkan tentang mengingat Allah secara umum, yang tidak terikat pada ritual atau musim apa pun, menegaskan poin yang sama tentang kapan hal ini seharusnya dilakukan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

Surah al-Ahzab, 33:41–42

Pagi dan petang bukanlah waktu ibadah yang terpisah dari sisa hari lainnya — keduanya hanyalah dua ujung dari sebuah hari yang biasa. Itulah keseluruhan anjuran bagi seseorang yang akan menghabiskan sepuluh hari ini tepat di tempat mereka berada saat ini: bukan di tempat yang khusus, bukan dalam keheningan yang khusus, melainkan hanya tiga kalimat yang sama, diucapkan berulang kali, dengan cukup lantang, sehingga siapa pun yang berada di dekatnya mungkin akan ikut mengucapkannya bersama Anda.

Aplikasi zikir kami mengumpulkan zikir harian — zikir pagi, petang, dan setelah setiap salat — di satu tempat untuk dibaca atau didengarkan kapan pun sepuluh hari ini mendapati Anda kembali berada di ruangan biasa, alih-alih di masjid.

Jika kami keliru dalam menerjemahkan, menilai derajat hadis, atau mencantumkan halaman di sini, beri tahu kami dan kami akan memperbaikinya secara terbuka — itulah sebabnya setiap kutipan di halaman ini akan membuka halaman cetak dari sumber aslinya.

Semoga Allah ﷻ menerima tahlil, takbir, dan tahmid di sepuluh hari ini dari siapa saja yang mengucapkannya — baik di masjid, di pasar, maupun sendirian di dapur di mana tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya.