Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Tercatat, Bukan Rekaan: Betapa Akuratnya Para Sahabat Menggambarkan Sosok Nabi

Tidak ada lukisan, ikon, maupun potret yang disepakati tentang Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) — dan memang tidak pernah dimaksudkan ada. Sebagai gantinya, para Sahabat mewariskan sesuatu yang jauh lebih langka: sebuah deskripsi yang begitu akurat hingga bisa ditelusuri kebenarannya, kalimat demi kalimat, langsung dari lembaran kitab aslinya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Tidak ada satu pun potret Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang tersisa saat ini. Tidak ada gambar dari masa beliau hidup, tidak ada koin yang memuat wajah beliau, tidak ada pula ikon yang disepakati di mana pun selama empat belas abad sejak beliau hidup. Bagi sosok sepenting beliau, kesunyian ini mungkin terlihat seperti sebuah ketiadaan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Sebagai gantinya, para Sahabat yang benar-benar pernah berdiri di hadapan beliau mewariskan sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh sebuah potret: sebuah deskripsi lisan, yang begitu akurat hingga para ulama di masa setelahnya dapat menyalinnya kata demi kata ke dalam kitab-kitab yang masih bisa kita buka hari ini.

Ini bukanlah upaya untuk merekonstruksi wajah beliau. Ini adalah bukti tentang betapa cermatnya sebuah ingatan spesifik dijaga — jenis ingatan yang ketika orang-orang biasa ditanya dengan pertanyaan sederhana oleh seseorang yang mencintai beliau, mereka menjawabnya dengan ketepatan yang luar biasa. Apa yang akan Anda baca berikut ini adalah catatan tersebut, yang telah dicocokkan dengan lembaran kitab cetak asalnya, bukan sekadar diperhalus agar lebih mudah dibayangkan.

Deskripsi paling lengkap yang kita miliki saat ini ada berkat sebuah obrolan keluarga yang sederhana. Al-Hasan bin Ali — cucu Nabi — ingin tahu seperti apa rupa kakeknya, dan ia tahu persis siapa yang harus ditanya: paman dari pihak ibunya, Hindun bin Abi Halah, seorang pria yang dikenal di kalangan para Sahabat sebagai washshaf — seseorang yang mampu mendeskripsikan sesuatu dengan sangat cermat. Al-Hasan di kemudian hari mengatakan bahwa ia bertanya karena ia “berharap pamannya bisa menggambarkan sesuatu tentang beliau yang bisa aku jadikan pegangan.” Jawaban yang diberikan Hindun terekam hampir sepenuhnya:

“Rasulullah tampil begitu mengesankan dan penuh wibawa, wajahnya bersinar layaknya bulan purnama. Beliau lebih tinggi dari ukuran rata-rata, namun tidak sampai terlalu tinggi. Kepalanya besar, rambutnya bergelombang — jika rambutnya terbelah dengan sendirinya, beliau membiarkannya, jika tidak, rambutnya tidak melewati daun telinga saat dibiarkan lebat. Kulitnya cerah, dahinya lebar, alisnya melengkung indah dan hampir menyatu tanpa benar-benar bersentuhan — di antara kedua alisnya terdapat urat yang akan menonjol saat beliau marah. Hidungnya sedikit mancung, dengan cahaya yang melingkupinya sehingga siapa pun yang tidak memperhatikannya dengan saksama mungkin akan mengira hidungnya sangat mancung. Janggutnya lebat, pipinya halus, mulutnya lebar, dan ada sedikit celah di antara gigi-giginya. Garis rambut yang halus memanjang dari dada hingga ke pusarnya. Lehernya bagaikan leher patung pualam dalam kejernihannya, postur tubuhnya proporsional, dengan dada dan bahu yang bidang … Beliau berjalan dengan mengangkat kakinya seolah-olah sedang turun dari tempat yang lebih tinggi, melangkah dengan tegap namun tanpa tergesa-gesa, dan ketika menoleh untuk melihat sesuatu, beliau membalikkan seluruh tubuhnya. Beliau selalu menundukkan pandangannya, lebih sering menatap ke tanah daripada ke langit, dan beliau selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepada siapa pun yang dijumpainya.”

Hal ini tercatat pada halaman cetak 34 dari — sebuah riwayat yang utuh, rincian fisik lengkap yang disampaikan oleh seorang pria yang memang dikenang oleh keluarganya karena keahliannya ini. Perhatikan apa yang disampaikan dan apa yang tidak. Riwayat ini tidak berlama-lama memuji ketampanan hanya demi keindahan semata. Riwayat ini mencatat ukuran: panjang janggut, celah antar gigi, sudut hidung, arah pandangan. Ini adalah gaya bahasa sebuah kesaksian, bukan syair pujaan.

Penuturan Hindun memang yang paling panjang, tetapi bukan satu-satunya. Laporan-laporan yang lebih singkat justru menjadi penting karena saling melengkapi tanpa saling menyalin satu sama lain. Anas bin Malik, yang melayani Nabi selama sepuluh tahun dan melihat beliau setiap hari, memberikan ringkasan yang lebih lugas — diriwayatkan melalui sanad yang bersambung hingga Imam Malik sendiri:

“Rasulullah tidaklah terlalu tinggi dan tidak pula pendek, kulitnya tidak pucat pasi dan tidak pula gelap, rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Allah mengutus beliau sebagai nabi pada usia empat puluh tahun. Beliau kemudian tinggal sepuluh tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah, lalu Allah mewafatkan beliau pada usia enam puluh tahun, dengan tidak sampai dua puluh helai uban di kepala dan janggutnya.”

Ini terdapat pada halaman cetak 28 dari . Di tempat lain, ketika ditanya secara spesifik tentang rambut beliau, Anas menjawab dalam satu kalimat singkat: “Rambut Rasulullah mencapai pertengahan telinganya” — halaman cetak 47 dari .

Al-Bara’ bin ‘Azib, yang mendeskripsikan beliau secara terpisah, menambahkan gambaran yang sama dari sudut pandang yang berbeda:

“Rasulullah adalah seorang pria dengan postur tubuh sedang, berbahu bidang, dengan rambut lebat yang mencapai cuping telinga kirinya. Beliau mengenakan pakaian berwarna merah — aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari beliau.”

Itu tercatat pada halaman cetak 30 dari , di mana pada riwayat kedua di halaman yang sama al-Bara’ menambahkan: “rambut yang menyentuh bahunya, berbahu bidang, tidak pendek dan tidak pula tinggi.” Tiga saksi yang berbeda — paman dari sang cucu, pelayan setia yang lama mengabdi, dan sahabat yang berjuang di sisinya — sepakat pada postur tubuh sedang yang sama, rambut sebahu yang sama, tanpa satu pun dari mereka mengutip satu sama lain.

Ketika ditanya langsung oleh seseorang yang jelas-jelas menginginkan gambaran pasti, al-Bara’ memberikan salah satu jawaban tersingkat dan paling akurat dalam seluruh catatan sejarah. Seorang pria bertanya kepadanya: “Apakah wajah Rasulullah seperti pedang?” — maksudnya panjang dan tirus. Al-Bara’ langsung mengoreksinya saat itu juga: “Bukan — melainkan seperti bulan.” Jabir bin Samurah, pada halaman cetak yang sama, menceritakan saat ia menatap beliau di malam terang bulan dan membandingkan keduanya secara langsung:

“Aku melihat Rasulullah pada malam yang cerah dan terang bulan, mengenakan pakaian berwarna merah. Aku mulai menatap beliau dan kemudian menatap bulan. Demi Allah, di mataku, beliau lebih indah daripada bulan.”

Kedua riwayat ini berada pada halaman cetak 39 dari . Dua orang pria, yang ditanya dalam dua situasi berbeda, menggunakan perumpamaan yang sama — dan salah satu dari mereka secara tegas mengoreksi tebakan yang salah, bukan sekadar melontarkan sanjungan.

Abu Hurairah, yang tiba di Madinah belakangan dan menghabiskan tahun-tahunnya untuk menghafal apa yang ia dengar dan lihat, meninggalkan versi yang lebih singkat dari gambaran yang sama, beserta catatan tentang bagaimana cara Nabi berjalan:

“Aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih tampan dari Rasulullah — seolah-olah matahari berjalan melintasi wajahnya. Dan aku belum pernah melihat seseorang yang berjalan lebih cepat dari Rasulullah — seolah-olah bumi dilipat untuknya. Kami harus bersusah payah mengimbangi langkahnya, sementara beliau tidak terlihat kelelahan sama sekali.”

Al-Tirmidzi mencatat hal ini pada halaman cetak 6/33 dari — dan beliau sendiri menilainya sebagai gharib, sebuah sanad yang menyendiri, bukan tingkatan autentikasi yang paling kuat. Riwayat ini disertakan dalam catatan ini justru karena alasan tersebut: karena para sahabat ini tidak sedang membangun sebuah legenda yang tak terbantahkan. Beberapa riwayat mereka diturunkan dengan sanad yang lebih kuat daripada yang lain, dan para ulama yang melestarikannya memberi tahu kita mana yang kuat dan mana yang lemah, di halaman yang sama, alih-alih diam-diam mengangkat derajat sanad yang lemah agar terlihat lebih meyakinkan.

Semua materi ini tidak ada agar pembaca hari ini bisa membayangkan wajah Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) secara pribadi. Islam tidak pernah meminta siapa pun untuk melakukan hal itu, dan tidak ada satu pun di sini yang disajikan sebagai instruksi untuk mencobanya. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh riwayat-riwayat ini, bagi generasi yang menyampaikannya, lebih dekat pada identifikasi daripada imajinasi: menetapkan, dalam kata-kata yang cukup spesifik untuk diverifikasi, apa yang benar-benar dilihat oleh saksi mata, sehingga generasi berikutnya mewarisi sebuah deskripsi, bukan sekadar desas-desus. Urat di antara alis yang menonjol saat beliau marah. Celah di antara gigi depan. Rambut yang mencapai telinga pada satu riwayat dan sebahu pada riwayat lain, keduanya dari orang-orang yang memperhatikan beliau selama bertahun-tahun dan melaporkan kepala yang sama pada waktu yang berbeda dalam hidup beliau. Itu bukanlah kosakata untuk membangun sebuah legenda. Itu adalah kosakata dari orang-orang yang berusaha menyampaikan detail dengan sangat tepat, karena mereka tahu hal itu akan terus diulang setelah mereka tiada.

Naluri yang sama — hanya katakan apa yang benar-benar telah Anda verifikasi, dan katakan dengan akurat — adalah disiplin yang sama yang diminta oleh deskripsi ini dari siapa pun yang mengulangnya sekarang. Ini juga, dalam skala yang lebih kecil, merupakan tindakan cinta yang tidak menuntut hal mistis apa pun dari orang yang mempraktikkannya: mengingat seseorang dengan begitu akurat, ciri demi ciri, adalah bentuk nyata dari sebuah perhatian ketika ditujukan kepada seseorang yang tidak akan pernah berhenti Anda cintai. Para Sahabat tidak bisa melukis beliau. Mereka memberikan hal terbaik berikutnya yang bisa diberikan oleh seorang saksi yang sungguh-sungguh — sebuah catatan yang masih terbuka di halaman yang sama, dengan kata-kata yang sama, tidak peduli berapa kali Anda kembali dan memeriksanya.

Jika bersalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah bagian dari cara Anda membawa cinta itu dari hari ke hari, kumpulan doa-doa nabawi dan zikir harian di Adhkar — dengan referensinya masing-masing, yang dapat diperiksa dengan cara yang sama — adalah tempat yang tepat untuk memulai atau melanjutkan kebiasaan tersebut.