Articles
Enam Cara Media Sosial Mencuri Ramadan Anda: Cara Merebutnya Kembali Sebelum Dimulai
Penelitian tentang media sosial mengungkap dampaknya terhadap kesehatan mental; para ulama telah menyebutkan dampak spiritualnya berabad-abad yang lalu. Berikut enam bahaya spesifiknya terhadap hati, serta rencana konkret di bulan Ramadan untuk merebut kembali fokus Anda sebelum bulan suci ini dimulai.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 9 menit
Ponsel yang tergeletak di atas meja dengan layar menghadap ke atas akan selalu memancing mata kita setiap beberapa menit, terlepas dari layarnya menyala atau tidak. Tarikan itu bukanlah kelemahan tekad kita semata — platform media sosial memang dirancang sedemikian rupa agar guliran (scroll) berikutnya terasa lebih mudah dari sebelumnya. Penelitian tentang dampak penggunaan terus-menerus terhadap fokus, tidur, dan suasana hati juga sudah tidak bisa dibantah lagi. Namun, ada satu hal yang jarang dibahas, yaitu harga yang harus dibayar di tempat yang lebih sunyi: kondisi hati kita di hadapan Allah.
Ramadan memberi kita momen yang pas untuk mengevaluasi “harga” tersebut sebelum bulan suci ini dimulai, bukan setelah semuanya telanjur terjadi. Di bawah ini adalah enam cara spesifik bagaimana media sosial merusak hati, dilengkapi dengan langkah konkret yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya sebelum malam pertama Ramadan tiba.
Guliran tanpa batas (infinite scroll), putar otomatis (autoplay), dan notifikasi yang diatur untuk muncul tepat saat fokus kita mulai goyah bukanlah fitur yang dibuat secara kebetulan — itulah produk utamanya. Bayarannya adalah segala hal yang membutuhkan fokus penuh: salat yang didirikan tanpa terburu-buru melihat jam, satu halaman Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil, atau obrolan dengan keluarga yang diselesaikan tanpa sedikit pun melirik ke arah lain.
Seorang ulama dari generasi salaf, Hassan bin Athiyyah, pernah berkata — dalam sebuah riwayat yang disampaikan langsung oleh al-Awza’i —
“Apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum, Dia akan menimpakan perdebatan di antara mereka dan menahan ilmu dari mereka.” — al-Khatib al-Baghdadi, halaman cetak 1/554 dari kitab .
Beliau memang sedang berbicara tentang perdebatan yang tidak ada gunanya, tetapi hal ini sangat relevan dengan beranda media sosial yang dirancang untuk membuat Anda terus berdebat di kolom komentar, alih-alih mengamalkan ilmu yang sudah Anda ketahui.
Rebut kembali: jangan sekadar menargetkan “mengurangi penggunaannya” — tujuan seperti itu tidak punya garis akhir yang jelas. Sebaliknya, tentukan waktu khusus: misalnya, dua puluh menit setelah berbuka puasa, dan jangan buka sama sekali di waktu lain. Hapus aplikasi dari ponsel Anda jika menggunakan versi peramban (browser) dirasa cukup merepotkan sehingga Anda bisa lebih disiplin, atau gunakan fitur pembatas waktu layar gratis yang akan mengunci akses Anda jika sudah melewati batas.
Beranda media sosial tidak menyortir konten berdasarkan apa yang baik untuk Anda; algoritma menyortirnya berdasarkan apa yang membuat Anda terus menonton. Hal ini tentu saja mencakup gambar-gambar yang dirancang untuk menarik perhatian dengan alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keimanan. Menundukkan pandangan bukanlah sikap sok suci — itu adalah perintah yang jelas, dengan alasan yang juga jelas:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَـٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Surah An-Nur, 24:30
“Lebih suci” adalah kata kuncinya — pandangan yang dibiarkan liar tidak akan berhenti hanya di layar ponsel; hal itu akan mengubah standar kepuasan hati setelahnya, termasuk dalam urusan ibadah. Hal yang sama berlaku untuk kemewahan yang disajikan oleh algoritma: rumah megah dan liburan mewah yang dikurasi agar terlihat sempurna. Semua itu mengikat hati pada dunia sama kuatnya dengan gambar-gambar haram, hanya saja dengan cara yang lebih halus.
Rebut kembali: unfollow (berhenti ikuti) sebelum Anda mulai berpuasa, bukan setelahnya. Akun mana pun yang kontennya membuat Anda melihat apa yang tidak seharusnya dilihat, atau menginginkan apa yang tidak bisa Anda miliki, adalah target yang tepat untuk di-unfollow — begitu pula dengan apa pun yang Anda unggah yang bisa menjadi godaan serupa bagi orang lain.
Ghibah jarang sekali muncul terang-terangan sebagai ghibah di linimasa — ia datang dalam bentuk tangkapan layar, embel-embel “sekadar tahu saja,” atau potongan video yang dibagikan dengan dalih memperingatkan orang lain. Pihak yang mendengarkan pun tidak berada di posisi netral:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” Surah Al-Hujurat, 49:12
Dan ketika apa yang dibagikan itu bahkan belum diverifikasi kebenarannya — yang mana, sebagai pembaca yang sekadar menggulir layar, Anda jarang punya kesempatan untuk mengeceknya — hal itu bukan lagi sekadar ghibah, melainkan fitnah, sebuah perkara yang jauh lebih berat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan sebuah hukuman yang diperlihatkan kepada beliau dalam sebuah penglihatan malam yang panjang: dua malaikat membawa beliau kepada seorang pria yang berbaring telentang, sementara pria lain merobek satu sisi wajahnya — mulut, hidung, dan matanya — dari depan ke belakang. Saat ia selesai merobek sisi tersebut, sisi yang robek itu telah sembuh kembali, siap untuk dirobek lagi. Ketika beliau bertanya siapa orang ini, beliau diberi tahu:
— Samurah bin Jundab, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ta’bir, halaman cetak 9/44–45 dari cetakan : hukuman bagi seorang pria yang keluar dari rumahnya di pagi hari lalu menceritakan sebuah kebohongan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Sebuah kebohongan yang diunggah kepada ribuan pengikut sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia bahkan sebelum Anda selesai mengetik klarifikasinya.
Rebut kembali: sebelum Anda meneruskan informasi apa pun tentang seseorang atau suatu peristiwa, tanyakan pada diri sendiri apakah hal itu memang perlu disampaikan. Jika iya, verifikasi terlebih dahulu — jika tidak, urungkan niat untuk mengirimnya. Kekhawatiran terhadap seseorang adalah bahan obrolan yang harus dibicarakan langsung dengannya, bukan dijadikan bahan unggahan tentang dirinya.
Setengah abad yang lalu, banyak hal yang kini memenuhi beranda media sosial tanpa disadari, dulunya akan dirahasiakan rapat-rapat, bahkan oleh orang-orang yang sama sekali tidak peduli dengan agama. Dosa dulunya adalah urusan pribadi antara seseorang dengan Tuhannya; namun kini, dosa semakin sering dijadikan konten. Sebuah caption (takarir) yang menyertainya tidak lantas membuat dosa itu menjadi lebih ringan — hal itu justru menambahkan kesalahan kedua di atas kesalahan yang pertama.
“Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Termasuk perbuatan terang-terangan adalah ketika seseorang melakukan suatu perbuatan dosa di malam hari, dan meskipun Allah telah menutupinya, ia bangun di pagi hari lalu berkata: ‘Tadi malam aku melakukan ini dan itu’ — Tuhannya telah menutupi dosanya sepanjang malam, namun di pagi hari ia sendiri yang menyingkap tabir penutup dari Allah tersebut.” — Abu Hurairah, Shahih al-Bukhari, halaman cetak 8/20 dari cetakan .
Perhatikanlah apa yang sebenarnya dimaafkan dan apa yang tidak: dosa itu sendiri bukanlah bagian yang tidak termaafkan — menyingkap tabir yang telah Allah pilih untuk menutupinya, itulah yang tidak termaafkan. Yang lebih parah lagi adalah memperdebatkan sesuatu yang jelas-jelas haram menjadi sesuatu yang seolah-olah boleh di hadapan publik, yang secara tidak langsung mengajak semua orang yang menonton untuk ikut menanggung bagian dari dosa yang sama.
Rebut kembali: jika ada unggahan lama yang memperlihatkan dosa yang tidak lagi ingin Anda kaitkan dengan nama Anda — sekecil apa pun dosa itu terasa saat itu — hapuslah. Biarkan apa yang terjadi setelah sebuah kesalahan tetap menjadi urusan antara Anda dan Allah al-Ghafur, Yang Maha Pengampun, alih-alih mengubahnya menjadi sebuah caption.
Riya, atau pamer, adalah penyakit lama — yang baru adalah platform yang menjadikan “berbagi” sebagai standar dan memberinya imbalan berupa angka (seperti jumlah likes atau views) yang bisa Anda pantau terus kenaikannya. Amal kebaikan yang dilakukan demi penonton akan berhenti menjadi amal karena Allah tepat pada saat niatnya bergeser, meskipun dari luar tindakannya terlihat sama persis:
… فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا ”… Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” Surah Al-Kahfi, 18:110
Pengikut yang menantikan unggahan Anda berikutnya adalah pengganti yang sangat buruk untuk Pengawasan al-Muhaymin, Yang Maha Memelihara. Dan likes yang menyertai sebuah amal kebaikan yang dibagikan punya cara tersendiri untuk membesarkan ego (ujub) jauh setelah amal itu sendiri dilupakan. Ilmu dan dakwah yang dibagikan secara publik sangatlah rentan — semakin terlihat platformnya, semakin keras setan bekerja untuk menyisipkan rasa bangga diri di dalamnya.
Rebut kembali: sebelum mengunggah kebaikan apa pun yang telah Anda lakukan, tanyakan pada diri sendiri untuk apa sebenarnya unggahan itu dibuat. Jika jawaban jujurnya adalah karena Anda butuh pengakuan agar dilihat orang, maka kemungkinan besar hal itu tidak perlu diunggah.
Sebelum layar ponsel ada di setiap saku, rasa iri (hasad) membutuhkan kedekatan fisik — Anda harus benar-benar melihat rumahnya, pernikahannya, atau promosinya secara langsung. Kini, hasad datang dalam bentuk yang sudah difilter, dikurasi, dan tanpa henti. Mengetahui bahwa gambar-gambar itu sudah diatur sedemikian rupa tidak lantas menghentikan perasaan yang muncul setelah melihatnya. Jika dibiarkan, hasad akan menggerogoti hubungan dan, jika dituruti, akan menghanguskan amal kebaikan orang yang menyimpannya.
“Mintalah pertolongan dalam memenuhi kebutuhanmu dengan cara merahasiakannya, karena setiap orang yang diberi nikmat pasti ada yang mendengkinya.” — Mu’adz bin Jabal, al-Thabarani, halaman cetak 3/55 dari kitab , dengan sanad yang dicatat oleh al-Thabarani sendiri sebagai riwayat yang hanya diriwayatkan melalui jalur ini.
Terlepas dari derajat keshahihan redaksi tersebut, pesan yang terkandung di dalamnya sangatlah tepat: membagikan setiap kesuksesan akan mengundang reaksi yang tidak bisa Anda kendalikan. Anda sama bertanggung jawabnya untuk tidak menjadi pemicu hasad bagi orang lain, sebagaimana Anda bertanggung jawab untuk mengelola hasad Anda sendiri.
Rebut kembali: berhentilah mengikuti akun-akun tertentu yang paling berpotensi memicu rasa iri dalam diri Anda — ini bukanlah kelemahan karakter yang harus Anda tahan mati-matian, melainkan asupan yang bisa Anda kendalikan. Sebaliknya, renungkanlah apa yang telah Allah al-‘Adl, Yang Maha Adil, berikan kepada Anda, dan tahanlah diri Anda dari kebiasaan memamerkan pencapaian Anda sendiri.
Semua ini bukan berarti ponsel adalah musuh — beranda yang sama yang membuang-buang waktu malam Anda juga bisa membawa pengingat kebaikan atau kabar tentang seseorang yang membutuhkan bantuan. Poinnya lebih spesifik: sebuah kebiasaan yang dirancang untuk menyita perhatian demi keuntungan platform itu sendiri, jika dibiarkan tanpa evaluasi, akan merampas porsi perhatian yang seharusnya dikhususkan untuk Ramadan.
Jika detoksifikasi penuh (berhenti total dari media sosial) terasa realistis bagi Anda di bulan ini, lakukanlah — para psikolog juga merekomendasikan hal yang sama dengan alasan yang berbeda, dan bulan ini memberi Anda struktur serta komunitas yang juga sedang berpuasa dari hal-hal lain bersama Anda. Jika tidak memungkinkan, keenam perubahan di atas bukanlah sebuah ultimatum tunggal; masing-masing bisa berdiri sendiri dan bisa dimulai hari ini, sebelum ibadah puasa dimulai.
Waktu apa pun yang berhasil Anda rebut kembali bukanlah waktu yang harus dibiarkan kosong. Mengisinya dengan kumpulan Zikir — rangkaian zikir setelah setiap salat, atau zikir-zikir pendek yang pas untuk mengisi celah waktu yang biasanya dipakai untuk menggulir layar — adalah jawaban langsung dan praktis untuk hampir semua bahaya di atas: zikir tidak dilakukan untuk mencari penonton, tidak berjalan berdasarkan perbandingan dengan orang lain, dan tidak ada gunanya untuk di-screenshot.
Semoga Allah al-Thayyib, Yang Maha Suci, menyucikan hati kita dari apa yang ditinggalkan oleh beranda media sosial yang sia-sia, membebaskan kita dari hal-hal yang telanjur mengikat hati kita, dan menjadikan Ramadan kali ini sebagai momen di mana fokus kita akhirnya tertuju pada tempat yang seharusnya.