Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Dua Belas Rakaat, Satu Istana di Surga: Mengapa Kita Harus Disiplin Menjaga Salat Sunah

Salat sunah bukanlah sekadar ibadah tambahan yang menempel pada salat fardu — ia melembutkan hati sebelum salat wajib dan menambal kekurangannya setelahnya. Inilah penjelasan sebenarnya dari literatur hadis mengenai dua belas rakaat dan mengapa kedisiplinan dalam mengerjakannya sangatlah penting.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Sebagian besar dari kita menganggap salat sunah sebagai sebuah pilihan — sekadar ibadah bonus setelah kewajiban utama tertunaikan, yang mudah saja ditinggalkan saat jadwal sedang padat. Pandangan ini justru terbalik. Salat sunah bukanlah sekadar hiasan bagi salat fardu; ia adalah elemen yang menyempurnakan salat fardu itu sendiri. Kerjakanlah sebelum salat wajib, maka ia akan melembutkan hati sehingga kita bisa mendirikan salat fardu dengan lebih khusyuk. Kerjakanlah setelahnya, maka ia akan diam-diam menambal apa pun yang kurang dari salat fardu tersebut. Meninggalkannya tidak sekadar menghemat waktu Anda beberapa menit — hal itu justru menghilangkan satu-satunya mekanisme yang dijelaskan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk menutupi celah antara kualitas salat yang Anda harapkan dengan salat yang sebenarnya Anda kerjakan.

Titik tolak dari semua ini adalah sebuah hadis yang menempatkan salat sebagai perkara pertama dalam catatan amal di Hari Kiamat kelak. Abū Hurayrah meriwayatkan bahwa ia meminta kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebuah hadis yang bisa ia bawa pulang dan sampaikan, lalu beliau bersabda:

Amal yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses; jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi. Jika ada sesuatu yang kurang dari salat wajibnya, Rabb — ‘Azza wa Jalla — akan berfirman: “Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki salat sunah, agar kekurangan pada salat wajibnya dapat disempurnakan dengannya.” Kemudian seluruh amalnya yang lain akan dihisab dengan cara yang sama.

Hadis ini tercetak pada halaman 1/437–439 dari , di mana al-Tirmidhī sendiri menilai riwayat Abū Hurayrah ini sebagai ḥasan gharīb.

Jika dibaca dengan saksama, hadis ini tidak sedang menggambarkan dua kategori salat yang tidak saling berkaitan. Hadis ini menjelaskan satu kesatuan salat yang memiliki mekanisme perbaikan bawaan. Salat fardu menggugurkan kewajiban; sementara salat sunah adalah apa yang Allah periksa ketika salat fardu tersebut memiliki kekurangan — bukan semata-mata karena kelonggaran, melainkan karena kekurangan itu memang sudah diperkirakan. Tidak ada seorang pun yang khusyuk (kehadiran hatinya) bertahan utuh dalam setiap salatnya. Salat sunah adalah koreksi bawaan untuk menambalnya.

Koreksi tersebut bekerja dalam dua arah, dan arah pelaksanaannya mengubah fungsi dari salat itu sendiri.

Salat sunah yang dikerjakan sebelum salat fardu berfungsi layaknya pemanasan sebelum melakukan aktivitas berat — ia bukanlah aktivitas utamanya, tetapi ia mempersiapkan tubuh dan fokus kita. Berdiri untuk dua atau empat rakaat sebelum Ẓuhr atau sebelum Fajr akan menenangkan pikiran, meredakan hiruk-pikuk kesibukan hari itu, dan menempatkan Anda di hadapan Allah bahkan sebelum kewajiban itu dimulai. Anda memasuki salat fardu dalam keadaan sudah terhubung dengan Allah, bukan memulainya dengan hati yang kosong.

Salat sunah yang dikerjakan setelah salat fardu memiliki tugas sebaliknya: ia memperbaiki. Apa pun yang mengganggu pikiran selama salat fardu — getaran ponsel, bacaan yang terlewat, atau rakaat yang diselesaikan tanpa sadar — mendapatkan kesempatan kedua untuk diperbaiki. Inilah mekanisme harfiah yang dijelaskan dalam hadis di atas: Allah mencari salat sunah untuk menyempurnakan apa yang kurang dari salat wajib.

Kedua fungsi ini tidak bisa saling menggantikan, dan tidak bisa pula digantikan hanya dengan berusaha lebih keras saat mengerjakan salat fardu. Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) memberikan umatnya sebuah jaring pengaman terstruktur, alih-alih menuntut kesempurnaan yang tidak mungkin dicapai secara konsisten oleh siapa pun.

Inti dari jaring pengaman tersebut adalah rangkaian spesifik dan terukur sebanyak dua belas rakaat yang dikenal sebagai rawātib — salat sunah muakkad yang mengiringi salat lima waktu. Umm Ḥabībah, salah seorang istri Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam), meriwayatkan bahwa beliau bersabda:

Barang siapa yang mengerjakan salat dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di Surga: empat rakaat sebelum Ẓuhr, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah ʿIshāʾ, dan dua rakaat sebelum salat Fajr — salat subuh.

Halaman cetak 1/440 dari memuat riwayat ini, dan al-Tirmidhī menilai sanad dari ʿAnbasah hingga Umm Ḥabībah sebagai ḥasan ṣaḥīḥ.

Dua belas rakaat bukanlah jumlah yang besar — kira-kira setara dengan durasi berdiri dalam satu kali salat fardu, yang tersebar di sepanjang hari. Yang membuatnya terasa berat bukanlah jumlahnya, melainkan kedisiplinannya: dua rakaat sebelum azan subuh selesai berkumandang di rumah, empat rakaat sebelum kesibukan kantor menelan waktu Ẓuhr, dua rakaat segera setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib saat urusan dapur dan keluarga sedang menyita perhatian Anda, serta dua rakaat setelah ʿIshāʾ ketika tenaga sudah terkuras habis. Melewatkan salah satunya mungkin terlihat tidak berbahaya. Namun, menjadikannya sebagai kebiasaan adalah cara bagaimana seluruh rangkaian salat sunah ini perlahan-lahan menghilang dari hidup kita.

Ẓuhr memikul porsi terberat dari dua belas rakaat tersebut — empat rakaat sebelum dan dua rakaat sesudahnya — dan sebuah hadis lain secara khusus menyebutkan pasangan rakaat ini dengan janjinya tersendiri. Umm Ḥabībah kembali meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda:

Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Ẓuhr dan empat rakaat setelahnya, Allah akan mengharamkannya dari api Neraka.

Hadis ini tercetak pada halaman 2/449 dari , di mana para penyunting mencatat bahwa hadis ini berderajat ḥasan meskipun terdapat keterputusan pada sanad khusus ini, karena ia diperkuat melalui jalur-jalur lain yang bersambung kembali kepada Umm Ḥabībah.

Perhatikan kata kerjanya: menjaga (ḥāfaẓa), bukan sekadar mengerjakannya sekali. Pahala ini dijanjikan bagi orang yang terus merutinkan delapan rakaat ini sebagai bagian tetap dari kesehariannya, bukan sekadar kebetulan mengerjakannya di satu waktu luang. Ẓuhr berada di tengah-tengah hari kerja, waktu di mana kita paling mudah mencari alasan untuk meninggalkan salat sunah — karena itulah hadis ini memberikan ganjaran besar atas kedisiplinan untuk tidak meninggalkannya.

Dari dua belas rakaat tersebut, ada satu pasang yang mendapatkan pujian paling istimewa: dua rakaat sebelum Fajr. ʿĀʾishah meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda:

Dua rakaat (sebelum) Fajr lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Hadis ini tercetak pada halaman 1/501 dari .

Dua rakaat ini jugalah yang diketahui paling sering diringkas oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dibandingkan salat sunah lainnya, di mana beliau hanya membaca surah-surah pendek sebelum beralih ke salat wajib Fajr. Pelajaran yang tersirat dari praktik ini patut kita renungkan: nilai dari dua rakaat ini tidak pernah diukur dari durasinya. Salat ini sengaja dipersingkat, agar tidak ada satu pun hal — baik itu rasa kantuk, begadang di malam hari, maupun dorongan untuk langsung bergegas menuju salat fardu — yang bisa menjadi alasan untuk meninggalkannya.

Salat sunah sebelum ʿAṣr berada di luar hitungan dua belas rakaat tersebut — ia bukanlah bagian dari rawātib yang muakkad — namun Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) tetap mengistimewakannya dengan doa beliau sendiri. Ibn ʿUmar meriwayatkan bahwa beliau bersabda:

Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan salat empat rakaat sebelum ʿAṣr.

Musnad Aḥmad mencatat riwayat ini pada halaman cetak 10/188 dari , di mana para penyunting menilai sanadnya sebagai ḥasan.

Sebuah doa yang dipanjatkan khusus untuk Anda oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) — untuk sebuah salat sunah yang mungkin belum pernah didengar oleh sebagian besar orang — adalah sesuatu yang sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja. ʿAṣr cenderung menjadi salat yang terjepit di penghujung jam kerja, dan justru karena itulah salat sunah ini sangat mudah terlewatkan sehingga patut untuk dijaga dengan sungguh-sungguh.

Ada manfaat praktis dari semua ini yang tidak ada kaitannya dengan pahala di akhirat kelak. Jika kebiasaan Anda adalah tiba di masjid — atau sekadar bersiap di atas sajadah — cukup awal untuk mengerjakan salat sunah sebelum salat fardu, Anda telah membangun batas aman agar tidak terlambat. Kemacetan di jalan, antrean panjang di tempat wudu, atau anak yang butuh perhatian sebentar: semuanya akan tertutupi oleh jeda waktu yang Anda siapkan saat berencana datang lebih awal untuk salat sunah, alih-alih datang tepat waktu hanya untuk salat fardu. Jika Anda hanya menargetkan salat fardu, sedikit saja keterlambatan akan membuat Anda kehilangan takbiratul ihram bersama imam. Namun, jika Anda menargetkan salat sunah terlebih dahulu, keterlambatan yang sama nyaris tidak akan terasa dampaknya.

ʿAbdullāh ibn al-Mubārak, seorang ulama dan ahli hadis abad kedua hijriah, diriwayatkan telah merangkum seluruh hubungan ini dalam satu kalimat, yang diabadikan oleh Ibn al-Qayyim dalam kitabnya, Madārij al-Sālikīn:

Barang siapa yang meremehkan adab, ia akan dihukum dengan diharamkan dari (mengamalkan) sunah. Barang siapa yang meremehkan sunah, ia akan dihukum dengan diharamkan dari (mengerjakan) kewajiban. Dan barang siapa yang meremehkan kewajiban, ia akan diharamkan dari ma’rifatullah (mengenal Allah).

Kutipan ini tercetak pada halaman 2/360 dari .

Ini adalah sebuah rantai sebab-akibat, bukan kebetulan: kelalaian kecil akan mendahului kelalaian besar. Tidak ada orang yang tiba-tiba bangun di suatu pagi lalu meninggalkan salat fardu begitu saja. Semuanya bermula dari hal yang lebih kecil — salat sunah yang ditinggalkan karena hari sedang sibuk, lalu ditinggalkan lagi karena meninggalkannya sekali ternyata tidak memberikan dampak yang terlihat, hingga kebiasaan yang seharusnya melindungi salat fardu itu perlahan-lahan terkikis habis, dan akhirnya salat fardu itu sendirilah yang mulai terabaikan.

Anda tidak perlu langsung menambahkan seluruh dua belas rakaat ke dalam keseharian Anda sekaligus. Mulailah dengan dua rakaat sebelum Fajr — pendek, sengaja diringkas, dan memiliki keutamaan paling kuat di antara seluruh rangkaian ini. Selanjutnya, tambahkan empat rakaat sebelum Ẓuhr, karena ia menjadi penopang bagi salat dengan porsi terberat di siang hari. Bangunlah kebiasaan Anda secara bertahap dari sana.

Fitur waktu salat Quran Gallery akan memberi tahu Anda secara tepat kapan setiap waktu salat fardu dimulai, yang juga merupakan batas akhir dari waktu pelaksanaan salat sunah qabliyah (sebelumnya) — gunakanlah fitur ini untuk membangun kebiasaan datang lebih awal, bukan sekadar tepat waktu.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang menjaga salat sunah sama telitinya dengan salat fardu, dan tidak pernah diharamkan dari keduanya.