Articles
Mengapa Shalat Menjadi yang Utama: Tiang Penopang Segala Amal
Shalat bukanlah sekadar satu lagi amal kebaikan dalam daftar. Ia adalah hal pertama yang ditimbang pada Hari Kiamat, wasiat terakhir Sang Nabi, dan garis pemisah antara keimanan dan kekufuran bagi generasi awal Muslim — berlandaskan pada Al-Qur'an dan dua halaman hadis yang telah dipastikan rujukannya di sini.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Tanyakan kepada kebanyakan orang tentang apa yang membuat seseorang menjadi Muslim yang baik, maka sedekah, kejujuran, atau berbakti kepada orang tua biasanya disebut lebih dulu sebelum shalat. Shalat sering kali hanya dikategorikan sebagai “kewajiban agama” — penting, tetapi hanya satu dari sekian banyak kewajiban lainnya. Namun, anggapan semacam ini runtuh ketika kita merujuk pada sumber-sumber syariat. Shalat bukanlah sekadar satu kewajiban yang sejajar dengan kewajiban lainnya. Ia adalah tolok ukur yang menentukan nilai dari semua amal perbuatan kita.
Setiap amal yang dilakukan seseorang dalam hidup ini pada akhirnya akan ditimbang. Namun, tidak semua amal ditimbang dalam urutan yang sama, dan Al-Qur’an secara gamblang menyebutkan apa yang berada di urutan pertama:
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
— Surah al-ʿAnkabūt, 29:45
Ayat ini tidak menggambarkan shalat sebagai wadah bagi kebaikan-kebaikan lain. Ia menggambarkannya sebagai pengekang — sesuatu yang secara aktif menahan seseorang dari perbuatan keji dan mungkar yang bisa saja menjerumuskannya. Hilangkan pengekang ini, maka tidak ada satu pun amal ibadah lain yang dijamin akan bertahan. Itulah sebabnya para ulama klasik menempatkan shalat sebagai amal yang dihisab pertama kali: jika shalatnya baik, maka sisa hisabnya cenderung akan berjalan lancar; jika diabaikan, maka segala amal lainnya akan dinilai di atas fondasi yang sebenarnya tidak pernah ada.
Semua kewajiban lain dalam Islam — puasa, zakat, haji — diwahyukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bumi, melalui perantara malaikat Jibril, sebagaimana turunnya ayat-ayat Al-Qur’an yang lain. Shalat adalah pengecualian. Ia diwajibkan pada peristiwa Isra dan Mikraj (laylat al-isrāʾ wa-l-miʿrāj), ketika Sang Nabi diangkat ke atas langit ketujuh dan menerima perintah tersebut secara langsung, tanpa perantara. Tidak ada syariat lain dalam agama ini yang ditetapkan dengan cara seperti itu. Cara pewahyuannya saja sudah menegaskan bahwa shalat menempati kedudukan yang jauh berbeda dibandingkan kewajiban-kewajiban lain yang turun melalui jalur biasa.
Allah menyebutkan kaitan yang sama secara langsung, menjelaskan mengapa perintah ini diberikan sejak awal:
إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.
— Surah Ṭāhā, 20:14
Di sini, shalat dibingkai sebagai sarana untuk mengingat Allah, bukan sekadar tugas yang dikerjakan demi mendapatkan hak untuk diampuni atau diberi rezeki. Segala hal yang didapatkan oleh seorang mukmin dari shalat — kedisiplinan, ketenangan batin, hingga kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi — bermuara pada satu tujuan utama tersebut.
Bobot suatu hal terlihat dari apa yang bersikeras diucapkan seseorang di saat-saat terakhirnya, ketika merangkai kalimat yang utuh saja sudah terasa sulit. Menjelang wafatnya, perhatian terbesar Sang Nabi tidak ditinggalkan untuk khotbah perpisahan yang disampaikan di waktu luang. Anas bin Malik, yang hadir saat itu, meriwayatkannya seperti ini:
Anas bin Malik berkata: Sebagian besar wasiat terakhir Utusan Allah, ketika ajal menjemputnya dan napasnya mulai tersengal, adalah: “Shalat, dan hamba sahaya yang kalian miliki.”
— halaman cetak 4/7 dari kitab , diriwayatkan dari Anas bin Malik, dengan riwayat kedua di halaman yang sama dari Ali bin Abi Thalib yang menggambarkan kata-kata serupa sebagai ucapan terakhir Sang Nabi. Ada dua hal yang disebutkan dalam wasiat tersebut — shalat, dan orang-orang di bawah kekuasaan kita yang tidak memiliki suara untuk membela diri — dan salah satunya adalah shalat. Tidak ada hal lain yang masuk dalam daftar tersebut.
Bukti paling nyata tentang bagaimana generasi awal Muslim menempatkan kedudukan shalat bukanlah dari apa yang mereka katakan saat keadaan sedang tenang. Melainkan dari apa yang mereka lakukan dalam kondisi yang paling buruk sekalipun. Umar bin Khattab, khalifah kedua, ditikam saat mengimami shalat subuh dan dibawa pulang dalam keadaan bersimbah darah, tak sadarkan diri sepanjang malam. Ketika ia akhirnya siuman, sebelum hal lain disampaikan kepadanya, ia ditanya apakah orang-orang sudah shalat:
Ibnu Abbas meriwayatkan: Kami membawanya — Umar — ke rumahnya bersama sekelompok kaum Anshar, dan ia terus tak sadarkan diri dalam satu pingsan panjang hingga cahaya pagi muncul. Seseorang berkata, “Kalian tidak akan bisa membangunkannya dengan apa pun kecuali dengan shalat.” Maka kami berseru, “Shalat, wahai Amirul Mukminin!” Ia membuka matanya dan bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Sudah.” Ia berkata, “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Kemudian ia shalat, sementara lukanya terus mengucurkan darah.
— halaman cetak 1/235 dari kitab , yang menghimpun beberapa sanad riwayat ini dari Ibnu Abdil Barr, berdampingan dengan versi yang lebih singkat melalui kitab Muwaṭṭaʾ karya Imam Malik di halaman yang sama.
Seorang pria yang terluka parah, antara sadar dan tidak, memilih untuk tetap shalat dalam keadaan berdarah daripada membiarkan waktu shalat berlalu — dan ia menghukumi bahwa seseorang yang meninggalkan shalat saat dirinya utuh dan sehat berarti telah melepaskan bagian Islam dari dalam dirinya. Ini bukanlah tafsiran ulama di masa belakangan. Ini adalah vonis seorang sahabat, yang disampaikan pada saat ia sama sekali tidak punya alasan untuk berpura-pura di hadapan siapa pun.
Adalah sebuah kekeliruan jika kita menganggap semua ini sekadar peringatan bagi orang-orang yang telah berhenti shalat sepenuhnya. Al-Qur’an juga memperingatkan mereka yang masih shalat, tetapi menganggapnya sebagai rutinitas sambil lalu:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.
— Surah al-Māʿūn, 107:4-5
Ayat ini tidak mengecam ketiadaan shalat. Ayat ini mengecam shalat yang dilakukan tanpa kehadiran hati — terburu-buru, ditunda hingga menit-menit terakhir, atau diperlakukan sekadar sebagai formalitas yang harus digugurkan alih-alih sebuah percakapan yang harus dijalin. Fakta bahwa shalat menjadi hal pertama yang ditimbang bukan berarti sekadar melakukan gerakan lima waktu sehari sudah cukup untuk memenuhinya. Ini berarti kualitas dari hubungan tersebutlah yang dinilai paling berat, yang mana ini merupakan standar yang lebih tinggi, bukan lebih rendah.
Singkirkan sejenak segala peringatan tersebut, dan apa yang tersisa bukanlah sekadar kewajiban demi kewajiban itu sendiri. Di berbagai sumber syariat, shalat digambarkan memiliki fungsi yang sangat spesifik:
- Menyucikan. Sang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya: seandainya ada sebuah sungai mengalir di depan pintu rumahmu dan engkau mandi di dalamnya lima kali sehari, apakah akan tersisa sedikit pun kotoran di tubuhmu? “Maka seperti itulah,” sabda beliau, “perumpamaan shalat lima waktu — dengannya Allah menghapus dosa-dosa.” — halaman cetak 387 dari kitab , halaman 387, diriwayatkan dari Abu Hurairah.
- Menjadi pembeda. Menjaganya berarti menjaga seluruh amal ibadah seseorang; melepaskannya cenderung akan membuat amal ibadah lainnya ikut terlepas.
- Menghubungkan. Ia adalah percakapan langsung tanpa perantara dengan Allah, yang ditetapkan lima kali dalam setiap harinya, terlepas dari seberapa buruk hari yang sedang Anda lalui.
- Meneguhkan. Menjaganya dengan ketat — bukan sekadar mengerjakannya, tetapi menjaga waktu-waktunya dan kekhusyukan di dalamnya — diperintahkan secara langsung dalam Surah al-Baqarah, 2:238, sebagai tanda seorang mukmin, bukan sekadar ibadah tambahan yang bersifat opsional.
Semua itu tidak akan didapatkan oleh seseorang yang memperlakukan shalat sekadar sebagai daftar tugas yang harus dicentang di sela-sela urusan lain yang dianggap lebih mendesak. Keutamaan tersebut hanya tersedia bagi mereka yang memperlakukan shalat sebagai urusan yang paling mendesak.
Jika shalat benar-benar menjadi yang pertama dalam hisab, yang pertama dalam wasiat terakhir Sang Nabi, dan yang pertama dipegang teguh oleh generasi awal Muslim dalam kondisi terburuk sekalipun, maka ia juga berhak menjadi yang pertama dalam prioritas hidup seseorang — bukan sekadar diselipkan di sisa waktu luang. Pendamping shalat kami memberikan jadwal shalat yang akurat di mana pun Anda berada, lengkap dengan arah kiblat dan pengingat yang menjaga agar lima janji temu ini tidak tersingkirkan oleh segala kesibukan harian Anda.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang menjaga shalatnya, bukan sekadar mengerjakannya, dan mengampuni kita atas setiap momen di mana kita memperlakukannya sebagai hal yang terakhir, alih-alih yang utama.