Articles
Dua Surga: Ketenangan yang Dimulai Sebelum Kematian Menjemput
Generasi awal Islam menggambarkan adanya surga kedua, yang dimasuki sebelum surga yang abadi — hati yang begitu dipenuhi dengan pengenalan kepada Allah sehingga tidak ada lagi hal lain yang menyainginya. Inilah hakikat surga tersebut menurut Ibnu Rajab, Ibnu Qayyim, dan Al-Qur'an.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Tanyakan tentang apa itu surga, dan sebagian besar gambarannya akan dimulai setelah kematian — taman-taman, sungai-sungai, dan berakhirnya segala kesedihan. Itulah Surga yang dijanjikan, dan itu nyata. Namun, itu bukanlah satu-satunya surga yang digambarkan oleh generasi awal Islam (salaf). Sebagian dari mereka berbicara tentang surga yang kedua, lebih kecil namun sama nyatanya, yang dimasuki saat jantung masih berdetak: suatu keadaan di mana hati telah begitu dipenuhi oleh pengenalan (makrifat) dan kedekatan dengan Allah, sehingga tidak ada lagi tawaran duniawi yang mampu mengalihkan perhatiannya. Mereka menyebutnya sebagai surga yang disegerakan — surga yang terbuka sebelum datangnya surga yang abadi.
Ibnu Rajab al-Hanbali (rahimahullah) sampai pada pemikiran ini ketika menjelaskan sebuah hadis yang memperingatkan bahwa seseorang yang menuntut ilmu agama hanya untuk mengejar keuntungan duniawi tidak akan mencium bau Surga pada Hari Kiamat. Penjelasannya mengenai mengapa hukumannya begitu spesifik — bukan sekadar siksaan, melainkan surga yang dibuat tak terjangkau — menyebutkan dua surga, bukan satu:
وسببُ هذا -واللُّه أعلمُ- أَنَّ في الدُّنْيَا جنةً مُعجَّلةً، وهي معرفةُ الله ومحبتُهُ، والأُنسُ به والشَّوقُ إِلَى لقائِهِ، وخشيتُهُ وطاعتُهُ، والعلمُ النافعُ يدلُّ عَلَى ذلك، فمن دلَّهُ علمهُ عَلَى دخول هذه الجنةِ المُعجَّلةِ في الدُّنْيَا دَخَلَ الجنةَ في الآخرةِ، ومن لم يشُم رائحتَها لم يشُم رائحةَ الجنةِ في الآخرةِ. Dan alasan dari hal ini — wallahu a’lam — adalah bahwa di dunia ini terdapat surga yang disegerakan, yaitu mengenal Allah, mencintai-Nya, merasa tenteram bersama-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta takut dan taat kepada-Nya. Ilmu yang bermanfaat akan menuntun seseorang ke arah sana. Maka, barang siapa yang ilmunya membimbing ia masuk ke dalam surga yang disegerakan di dunia ini, ia akan masuk ke dalam Surga di akhirat kelak. Dan barang siapa yang tidak mencium aromanya di dunia, ia tidak akan mencium aroma Surga di akhirat.
— halaman cetak 79 dari
, risalah singkat Ibnu Rajab mengenai hadis dua serigala yang lapar.Jika dibaca dengan saksama, konsekuensinya menjadi sangat jelas. Ilmu yang tidak pernah membuahkan keadaan batin seperti ini — ketenteraman, kerinduan, serta rasa takut yang berwujud ketaatan — menurut pandangan Ibnu Rajab, sebenarnya belum mencapai tujuannya. Ilmu tersebut hanya sebatas informasi. Ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang meresap dan mengubah keadaan hati yang membawanya.
Ibnu Rajab menyebutkan sebuah pengalaman yang digambarkan secara langsung oleh Al-Qur’an. Saat berbicara kepada orang-orang beriman, Al-Qur’an tidak menjanjikan bahwa hati mereka akan menemukan ketenangan suatu hari nanti — Al-Qur’an menyatakan bahwa mereka menemukannya sekarang, dan mengulangi pernyataan tersebut untuk kedua kalinya, seolah mengantisipasi adanya keraguan pada pernyataan pertama:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Tuma’ninah, kata yang diterjemahkan di sini sebagai “tenteram”, bukan berarti ketiadaan masalah. Seorang mukmin yang meyakini kebenaran ayat ini tidak sedang mengklaim bahwa keadaan hidupnya membaik — melainkan bahwa ada sesuatu di dalam dadanya yang telah tenang, terlepas dari apa pun keadaannya, karena mengingat Allah itu sendirilah yang menjadi tujuan utamanya. Itulah “surga yang disegerakan” dalam satu ayat: bukan sekadar pahala untuk nanti, melainkan ketenangan yang bisa diraih saat itu juga ketika hati kembali berpaut kepada Allah.
Struktur ganda yang sama — sesuatu di masa kini, dan sesuatu yang lebih besar di masa depan — muncul kembali dalam janji yang diberikan kepada siapa saja, tanpa memandang status, yang menyandingkan iman dengan amal saleh:
مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Jika kita perhatikan tata bahasa ayat tersebut, terdapat janji akan dua hal yang berbeda, bukan satu hal yang diulang: “kehidupan yang baik” (hayah thayyibah) yang didapatkan di dunia, dan pahala yang diukur dari amal perbuatan yang akan diberikan setelahnya. Kehidupan yang baik bukanlah kiasan untuk pahala di akhirat — ia disebutkan secara khusus dan diberikan kata kerjanya sendiri, dalam bentuk waktu yang menunjukkan kehidupan yang sedang dijalani saat ini. Ini kembali menegaskan konsep dua surga dari Ibnu Rajab, namun kali ini melalui firman Al-Qur’an itu sendiri, bukan sekadar tafsir dari ulama generasi setelahnya.
Jika surga pertama adalah apa yang dirasakan oleh hati yang tenang dari dalam, Al-Qur’an juga menyebutkan seperti apa wujudnya dari luar, pada satu momen yang pada akhirnya akan dicapai oleh setiap jiwa — momen kepulangan kepada Zat yang menciptakannya:
يَـٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Perhatikan kembali bentuk waktunya: jiwa yang diseru di sini sudah dalam keadaan mutma’innah — sudah tenang — sebelum kepulangannya digambarkan, dan ia tiba dalam keadaan sudah radiyah, sudah rida (puas), bukan baru berharap untuk menjadi seperti itu. Hati yang telah menghabiskan seumur hidupnya untuk mencari ketenangan dalam mengingat Allah tidaklah memulai hubungan tersebut dari nol pada saat kepulangannya. Ia hanya melanjutkan apa yang sudah dimulainya sejak lama.
Bahasa yang digunakan Ibnu Rajab bukanlah hal baru ketika ia menulisnya. Seabad sebelumnya, ulama pendahulunya, Ibnu Taimiyyah, dan muridnya, Ibnu Qayyim (rahimahumallah), menggunakan gambaran yang identik — dua surga, yang mana salah satunya menjadi syarat bagi yang lain. Ibnu Qayyim mencatat bahwa ia mendengarnya langsung dari gurunya, di dalam karya besarnya tentang perjalanan jiwa menuju Allah:
فَإِنَّهُ لَا نَعِيمَ لَهُ وَلَا لَذَّةَ، وَلَا ابْتِهَاجَ، وَلَا كَمَالَ، إِلَّا بِمَعْرِفَةِ اللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ، وَالطُّمَأْنِينَةِ بِذِكْرِهِ، وَالْفَرَحِ وَالِابْتِهَاجِ بِقُرْبِهِ، وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِهِ، فَهَذِهِ جَنَّتُهُ الْعَاجِلَةُ، كَمَا أَنَّهُ لَا نَعِيمَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَلَا فَوْزَ إِلَّا بِجِوَارِهِ فِي دَارِ النَّعِيمِ فِي الْجَنَّةِ الْآجِلَةِ، فَلَهُ جَنَّتَانِ لَا يَدْخُلُ الثَّانِيَةَ مِنْهُمَا إِنْ لَمْ يَدْخُلِ الْأُولَى.
وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ يَقُولُ: إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ. Karena sesungguhnya tidak ada kenikmatan, kelezatan, kebahagiaan, dan kesempurnaan baginya kecuali dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, merasa tenang dengan mengingat-Nya, bergembira dan bersukacita dengan kedekatan kepada-Nya, serta rindu untuk bertemu dengan-Nya — inilah surganya yang disegerakan. Sebagaimana ia tidak akan mendapatkan kenikmatan di akhirat, dan tidak pula kemenangan, kecuali dengan berdampingan bersama-Nya di negeri kenikmatan, di surga pada kehidupan mendatang. Maka ia memiliki dua surga: ia tidak akan memasuki surga yang kedua jika belum memasuki surga yang pertama. Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, semoga Allah menyucikan jiwanya, berkata: “Sesungguhnya di dunia ini terdapat sebuah surga; barang siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga di akhirat kelak.”
— halaman cetak 1/452 dari
, kitab *Madarij as-Salikin* karya Ibnu Qayyim.Dua ulama, yang menulis secara terpisah, bermuara pada kesimpulan yang sama persis dengan apa yang dinyatakan oleh Al-Qur’an dalam bahasanya sendiri: hati yang tenang dan “kehidupan yang baik” di masa kini, pahala yang lebih besar di masa depan, dan yang pertama menjadi syarat bagi yang kedua, bukan sekadar hadiah hiburan sembari menunggu datangnya akhirat.
Semua ini tidak sedang menggambarkan suatu keadaan mistis yang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang sangat saleh. Kedua ulama yang dikutip di atas menyebutkan daftar singkat yang sama tentang apa yang sebenarnya dapat mewujudkannya: mengenal Allah, mencintai-Nya, mengingat-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, takut kepada-Nya, dan taat kepada-Nya. Setiap poin dalam daftar tersebut memiliki tempat utamanya di dalam salat lima waktu sebelum ia mendapat tempat di hal lainnya — zikir yang diucapkan dengan penuh kesadaran alih-alih sekadar rutinitas tanpa makna, kiblat yang dihadap dengan kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Sang Pencipta dan bukan sekadar menghadap suatu arah, serta doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dari dalam hati. Pendamping salat dari Quran Gallery tidak akan bisa membentuk hati seperti itu untuk Anda; tidak ada satu pun aplikasi yang bisa melakukannya. Apa yang aplikasi ini ambil alih adalah segala hal teknis yang tidak ada hubungannya dengan hati — jadwal salat yang akurat, arah kiblat yang benar, satu tempat yang jelas untuk kembali lima kali sehari — sehingga satu-satunya hal yang tersisa untuk Anda bawa hanyalah bagian terpenting yang akan menentukan apakah kepulangan yang digambarkan di atas adalah kepulangan yang sudah Anda rintis sejak lama, atau kepulangan yang baru Anda mulai dari nol.