Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Reflections

Rabb: Nama yang Mengandung Makna Kepemilikan, Pemeliharaan, dan Kekuasaan

Kata "Tuhan" adalah padanan yang selalu dipilih dalam setiap terjemahan, namun kata ini kehilangan hampir seluruh makna aslinya. Mari kita telaah apa yang sebenarnya terkandung dalam kata Rabb menurut para mufasir Al-Qur'an—dan apa maknanya ketika kita berdoa kepada Zat yang merupakan Rabb bagi mereka yang dizalimi sekaligus Rabb bagi mereka yang menzalimi.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Hampir setiap terjemahan Al-Qur’an mengartikannya dengan cara yang sama: “Tuhan”. Satu kata yang mewakili sebuah istilah yang dipahami oleh audiens pertama wahyu ini—yang berbahasa Arab—sebagai sesuatu yang jauh lebih besar. Istilah ini adalah sebuah penegasan tentang siapa yang memiliki mereka, siapa yang memelihara dan membimbing mereka menuju kebaikan, siapa yang memberi mereka rezeki, dan siapa yang memegang keputusan akhir atas apa yang terjadi pada mereka. Semua makna ini terangkum dalam satu suku kata yang diulang dalam hampir setiap doa yang dipanjatkan oleh seorang mukmin. Sebelum bertanya apa makna nama ini bagi seseorang yang menyaksikan penderitaan orang lain dan mempertanyakan di mana Allah dalam semua itu, ada baiknya kita bertanya apa sebenarnya makna dari kata itu sendiri. Jawabannya tidak datang dari sebuah terjemahan, melainkan dari mereka yang menghabiskan hidupnya untuk menjelaskan kitab ini kata demi kata.

Ayat kedua dalam Al-Qur’an diawali dengan kalimat yang telah dibaca oleh kebanyakan orang sejak kecil tanpa pernah benar-benar merenungkannya: “segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” Saat menafsirkan frasa ini, sejarawan dan mufasir Ibnu Katsir (semoga Allah merahmatinya) berhenti sejenak untuk mendefinisikan kata itu sendiri sebelum beralih ke kata-kata berikutnya. Beliau menulis bahwa al-Rabb adalah “pemilik yang memiliki kendali penuh”—al-mālik al-mutaṣarrif—dan bahwa kata ini juga digunakan dalam bahasa Arab untuk menyebut seorang tuan, serta seseorang yang mengurus sesuatu demi keteraturan dan kebaikannya, al-mutaṣarrif li-l-iṣlāḥ .

Gabungkan ketiga unsur tersebut, maka gambaran utuh dari kata ini menjadi jelas. Kepemilikan adalah penegasan pertama—bukan sekadar hak guna atau pinjaman, melainkan kepemilikan mutlak yang tidak tunduk pada siapa pun. Pengaturan (kekuasaan) adalah yang kedua—sang pemilik tidak hanya menggenggam sesuatu, tetapi ia secara aktif mengarahkan apa yang terjadi padanya. Dan perbaikan (pemeliharaan) adalah yang ketiga, bagian yang sering kali luput sepenuhnya dari terjemahan “Tuhan”—arah dari pengaturan ini bermuara pada apa yang baik bagi pihak yang diatur. Seorang rabb, berdasarkan definisi ini, bukanlah penguasa berjarak yang kebetulan juga memiliki apa yang ia kuasai. Kepemilikan dan kepedulian tersebut adalah satu hubungan yang sama, yang digambarkan dari dua sisi berbeda.

Kemudian, Ibnu Katsir menambahkan sebuah batasan yang mengubah cara kita memahami nama ini secara keseluruhan. Setiap dari ketiga makna tersebut, catat beliau, sejatinya juga berlaku pada hubungan antar makhluk—seseorang bisa menjadi mālik (pemilik) sebuah rumah, sayyid (tuan) dari sebuah keluarga, atau seseorang yang mengurus suatu urusan demi kebaikannya. Namun, kata rabb itu sendiri tidak pernah digunakan untuk manusia tanpa ada kata lain yang disandarkan kepadanya: Anda bisa mengatakan “rabb rumah ini,” “rabb dari anu dan anu,” yang selalu dirangkai dengan sesuatu yang dimiliki. Al-Rabb secara mutlak—nama yang berdiri sendiri, dengan alif lam ma’rifah (artikel definit) dan tanpa ada kata yang mengikutinya—tidak disematkan kepada siapa pun kecuali Allah. Sebagian ulama, sebagaimana yang beliau catat, menganggapnya sebagai salah satu nama-Nya yang paling agung justru karena alasan ini .

Batasan tersebut bukanlah sekadar keunikan tata bahasa. Hal ini berarti bahwa kepemilikan, pengaturan, dan dorongan menuju kebaikan yang terkandung dalam kata rabb tidak dibagi-bagi di antara banyak pemilik seperti halnya kepemilikan atas sebuah rumah atau keluarga. Tidak ada satu pun makhluk yang memiliki semua itu secara mutlak, tanpa tunduk pada entitas di atasnya, dan tanpa batas atas apa yang sebenarnya ia kendalikan. Hanya Allah semata yang memilikinya secara utuh—atas siapa pun, tanpa terkecuali, dan tanpa perlu nama tersebut ditopang oleh kata lain yang disandarkan kepadanya.

﴿ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ﴾

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

Sūrat al-Fātiḥah, 1:2

“Semesta alam”—al-ʿālamīn—bukanlah sekadar hiasan puitis. Kata ini mencakup semuanya: setiap bangsa, setiap generasi, setiap kubu di setiap sisi dari setiap konflik yang pernah ada. Ini adalah ayat yang diulang oleh seorang mukmin di awal setiap rakaat salatnya, dan ayat ini mengikat orang yang berdoa pada satu hal yang pasti: siapa pun yang kita doakan keburukan atasnya, siapa pun yang telah menzalimi kita, siapa pun yang sedang melakukan kezaliman saat ini—mereka juga berada di dalam cakupan “semesta alam”. Allah tidak baru menjadi Rabb mereka ketika Dia diminta untuk turun tangan membela orang-orang yang mereka sakiti. Dia sudah menjadi Rabb mereka, dalam segala makna kepemilikan, pengaturan, dan tarikan menuju kebaikan, jauh sebelum kedua belah pihak yang terlibat dalam kezaliman itu ada.

Ini bukanlah pemikiran yang nyaman untuk direnungkan, dan Al-Qur’an tidak membiarkannya tetap abstrak. Al-Qur’an menampilkan konfrontasi ini secara langsung, dalam kisah seorang tiran yang diberi tahu dengan gamblang di wilayah ciptaan siapa ia sebenarnya berpijak.

Musa dan Harun (‘alaihimassalam) diutus kepada Fir’aun dengan satu perkenalan tunggal: “sesungguhnya kami adalah utusan Rabb semesta alam” Sūrat al-Shuʿarāʾ, 26:16. Jawaban Fir’aun adalah sebuah penghinaan yang disamarkan dalam bentuk pertanyaan:

﴿قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ﴾

“Fir’aun berkata, ‘Dan apakah Rabb semesta alam itu?‘”

Sūrat al-Shuʿarāʾ, 26:23

Jawaban Musa tidak mendebatnya. Ia sekadar menyatakan ruang lingkup yang tidak bisa dibantah oleh Fir’aun untuk melepaskan diri:

﴿قَالَ رَبُّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ﴾

“Dia (Musa) menjawab, ‘Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu orang-orang yang meyakini.‘”

Sūrat al-Shuʿarāʾ, 26:24

Fir’aun adalah potret tiran yang paling jelas di dalam Al-Qur’an—seorang pria yang memperbudak suatu kaum, membunuh anak-anak laki-laki mereka, dan menyebut dirinya sebagai tuhan mereka yang paling tinggi. Dan konfrontasi yang Allah pilih untuk ditampilkan bukanlah tentang “di pihak mana Rabb al-ʿĀlamīn berada.” Melainkan bahwa Fir’aun sendiri, betapapun zalimnya ia, tidak memiliki kedudukan sedikit pun untuk sekadar mempertanyakan apakah Rabb semacam itu berkuasa atas dirinya. Ia tidak memiliki apa pun dari dirinya sendiri. Setiap klaim yang digambarkan oleh Ibnu Katsir—kepemilikan, pengaturan, tarikan menuju keteraturan yang baik—berlaku pada tubuh dan kerajaan Fir’aun itu sendiri, persis sebagaimana hal itu berlaku pada orang-orang yang ia tindas. Sang tiran tidak lantas dikecualikan dari kekuasaan nama yang ia tolak untuk ucapkan.

Jika Rabb dari orang yang dizalimi dan Rabb dari orang yang menzalimi adalah Zat yang satu dan sama, dengan kekuasaan atas keduanya yang tak satu pun dari mereka bisa keluar darinya, maka jeritan orang yang dizalimi tidaklah lenyap ke dalam alam semesta yang tak acuh. Jeritan itu sampai kepada Pemilik yang sama, yang memiliki kendali penuh atas orang yang menzalimi mereka.

Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebutkan hal ini secara langsung: “Tiga doa yang mustajab, tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi,” sebuah riwayat yang dinilai ḥasan li-ghayrihi pada halaman cetak 2/639 dari . Dan Allah berfirman tentang Diri-Nya, menyeru semua orang dengan nama yang sama yang telah ditelusuri dalam renungan ini:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾

“Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.‘”

Sūrat Ghāfir, 40:60

Jawaban tersebut mungkin tidak terlihat, dari sudut pandang orang yang dizalimi, seperti ada sesuatu yang berubah. Definisi Ibnu Katsir sendiri menjelaskan mengapa celah ini bukanlah sebuah kontradiksi: rubūbiyyah adalah mutaṣarrif li-l-iṣlāḥ, sebuah pengaturan menuju keteraturan yang baik—dan keteraturan yang baik, dalam skala seorang Rabb yang memiliki semua orang dan segala sesuatu tanpa terkecuali, tidak berkewajiban untuk tiba pada garis waktu yang dipilih oleh orang yang berdoa. Apa yang dijamin oleh nama ini bukanlah sebuah jadwal. Melainkan bahwa kepemilikan itu nyata, pengaturan itu aktif, dan hasil akhirnya bergerak menuju kebaikan—termasuk perhitungan yang masih harus dibayar oleh siapa pun yang menyebabkan penderitaan tersebut.

Maka, mengucapkan “Rabb kami,” bukanlah sekadar panggilan yang lembut. Ini adalah sebuah klaim kepemilikan atas orang yang menderita sekaligus orang yang menyebabkan penderitaan, sebuah klaim pengaturan yang tidak dapat dihindari oleh keduanya, dan sebuah klaim bahwa apa pun yang dibiarkan berlanjut untuk sementara waktu oleh Rabb ini tidak sama dengan membiarkannya tanpa balasan. Setiap doa yang diawali dengan al-ḥamdu lillāhi rabbi l-ʿālamīn adalah langkah seorang mukmin untuk kembali berpijak pada klaim tersebut, mewakili semua orang yang masih menunggu hingga balasan itu ditampakkan.

Jika Anda ingin mendalami nama ini dalam bahasa aslinya—bagaimana nama ini berulang di seluruh Al-Qur’an, dan apa yang dikatakan oleh tafsir klasik pada setiap kemunculannya—Quran Gallery reader menyandingkan teks Arab, terjemahan, dan tafsir secara berdampingan, ayat demi ayat.