Articles
Hari-Hari yang Tersisa: Apa yang Harus Dilakukan di Makkah Setelah Umrah Anda Selesai
Umrah Anda telah selesai, tetapi jika Anda masih berada di dalam Masjidil Haram, pahala yang ditawarkan belum berakhir. Inilah yang dapat Anda lakukan dengan sisa waktu yang ada — tawaf sunah, berdoa di Multazam, menjaga salat, dan salat jenazah yang mungkin hanya bisa Anda ikuti saat ini.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Kain ihram telah dilepas, tawaf dan sai telah dilalui, dan rambut pun telah dipotong atau dicukur. Berdasarkan semua hukum fikih, umrah Anda telah selesai. Namun, jika Anda masih berdiri di pelataran Masjidil Haram — entah pada sore hari sebelum penerbangan pulang, atau seminggu sebelum rutinitas kehidupan kembali normal — perjalanan ini belum usai, begitu pula dengan limpahan pahala yang ditawarkan di sana. Apa yang Anda lakukan dengan sisa waktu di Makkah bukanlah sekadar pelengkap dari umrah yang baru saja Anda selesaikan. Bagi banyak orang yang telah menempuh perjalanan sejauh ini, momen-momen tersebut justru menjadi kenangan yang paling lama membekas di hati.
Al-Qur’an tidak membiarkan momen setelah ibadah ini berlalu tanpa arah. Menyapa para jemaah secara langsung, Allah berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَـٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنْ خَلَـٰقٍ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.”
Perhatikan kata kerjanya dengan saksama: qaḍaytum — apabila kamu telah menyelesaikan. Perintahnya bukanlah untuk mengendurkan zikir yang telah mengiringi Anda sepanjang tawaf dan sai, melainkan untuk membuatnya lebih kuat daripada apa yang selama ini Anda biasakan. Ayat ini bahkan menyebutkan jebakan yang menanti di titik ini: doa yang menyusut hanya untuk urusan dunia semata, seolah-olah bagian yang berat telah usai dan permohonan tidak lagi membutuhkan kesungguhan yang sama. Hari-hari setelah umrah justru diperuntukkan bagi hal yang sebaliknya — zikir yang melampaui apa yang Anda bawa saat berihram, bukan malah menyurut kembali.
Tidak ada yang mengharuskan Anda untuk segera meninggalkan masjid begitu salat dua rakaat setelah tawaf selesai. Setiap putaran tambahan yang Anda lakukan mengelilingi Baitullah selama Anda masih di sana adalah ibadah tersendiri, dan ini adalah amalan yang dijelaskan secara nyata oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ibnu Umar meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Barang siapa yang bertawaf mengelilingi Baitullah ini sebanyak tujuh kali dan menghitungnya dengan saksama, maka setiap langkahnya akan dicatat sebagai satu kebaikan, dihapuskan satu keburukan, diangkat satu derajat, dan pahalanya setara dengan memerdekakan seorang budak.”
Hadis tersebut tercatat pada halaman cetak 9/514 dari kitab , sebuah edisi yang para penyuntingnya menilai riwayat ini berderajat hasan. Perhatikan apa yang tidak dijanjikannya: hadis ini tidak melipatgandakan pahala menjadi sepuluh atau seratus kali lipat, seperti yang diklaim oleh beberapa cerita yang beredar — hadis ini menjelaskan satu kebaikan untuk satu langkah, satu dosa dihapus untuk satu langkah, dan diangkat satu derajat pada satu waktu. Hal itu sudah cukup luar biasa untuk menjadikan setiap jam luang di Masjidil Haram sangat berharga untuk dihabiskan dengan menambah putaran tawaf, daripada sekadar duduk-duduk di pelataran.
Di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah terdapat bentangan dinding pendek yang dikenal sebagai Multazam — secara harfiah berarti “tempat seseorang berpegangan erat”. Ibnu Abbas terbiasa menempelkan dirinya tepat di titik tersebut, dan sebuah riwayat yang terpelihara darinya menjelaskan mengapa ia menyebutnya demikian:
“Antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu disebut al-Multazam. Tidaklah seorang hamba menempelkan dirinya di sana dan meminta sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkannya.”
Riwayat tersebut tercatat pada halaman cetak 5/492 dari kitab . Jika ada ruang kosong di sana, jangan sia-siakan untuk sekadar berfoto. Tempelkan dada dan wajah Anda ke kiswah seperti yang digambarkan oleh Ibnu Abbas, dan mintalah apa yang benar-benar Anda butuhkan — ampunan terlebih dahulu, karena Anda sedang berdiri di tempat di mana seorang pendosa berpegangan erat pada pakaian sosok yang telah ia zalimi, sangat berharap untuk dilepaskan hanya setelah ia dimaafkan.
Setiap salat yang didirikan di dalam Masjidil Haram memiliki bobot pahala yang tidak dapat ditandingi oleh masjid mana pun di muka bumi. Jabir meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Salat di masjidku ini lebih utama daripada seribu salat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram; dan salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu salat di tempat lain.”
Para penyunting mencatat hal ini pada halaman cetak 2/412 dari kitab dan menilai sanadnya sahih. Hal ini bukanlah alasan untuk sekadar menggugurkan kewajiban salat fardu lima waktu lalu merasa cukup. Kerjakanlah setiap salat tersebut secara berjemaah dengan hati yang sepenuhnya hadir, lalu manfaatkan waktu yang tersisa — salat sunah rawatib yang mengiringi setiap salat fardu, salat duha di pagi hari, salat tahajud jika Anda masih terjaga di sepertiga malam terakhir — karena setiap ibadah tersebut juga dilipatgandakan pahalanya oleh tanah suci tempat Anda berpijak.
Hampir di setiap waktu salat di Makkah atau Madinah, Anda kemungkinan besar akan mendapati adanya salat jenazah — jemaah berkumpul untuk menyalatkan seseorang yang namanya tidak akan pernah Anda ketahui, disalatkan di antara satu waktu salat fardu dan waktu salat berikutnya. Ambil kesempatan ini, terutama jika salat jenazah adalah sesuatu yang jarang Anda ikuti di tanah air. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Barang siapa yang menghadiri penyelenggaraan jenazah hingga disalatkan, maka ia akan mendapatkan pahala satu qīrāṭ, dan barang siapa yang tetap tinggal hingga dimakamkan, maka ia akan mendapatkan dua qīrāṭ.” Beliau ditanya, “Apakah dua qīrāṭ itu?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang sangat besar.”
Hadis tersebut tercatat pada halaman cetak 1/445 dari kitab . Berdirilah untuk melaksanakannya, pelajari doa-doa yang dibaca setelah takbir jika Anda belum menghafalnya, dan biarkan momen tersebut menjalankan fungsinya: mengingatkan Anda, saat berdiri beberapa langkah dari tubuh yang terbungkus kain kafan, bahwa segala ibadah yang baru saja Anda kejar selama berhari-hari adalah persiapan untuk menghadapi saat-saat seperti ini.
Ada alasan mengapa orang-orang yang pernah berdiri di hadapan Kakbah selalu menggambarkan perasaan yang sama saat mereka beranjak pergi — bahwa kedekatan dengannya tidak pernah benar-benar memuaskan dahaga, dan jarak darinya tidak pernah benar-benar menenangkan hati. Para ulama yang menulis tentang Baitullah jauh sebelum kemudahan transportasi membuat kunjungan berulang menjadi hal yang biasa, menyadari daya tarik yang sama: bahwa penyandarannya kepada Allah semata, terlepas dari setiap keutamaan lain yang melekat padanya, sudah cukup untuk menjelaskan mengapa hati manusia di seluruh dunia terus berpaling kembali kepadanya, semakin menginginkannya saat mereka semakin banyak mendapatkannya.
Jika penerbangan Anda masih beberapa hari lagi, habiskanlah waktu tersebut seperti yang telah dijelaskan dalam artikel ini — satu tawaf lagi, beberapa menit di Multazam, menjaga salat, dan menyalatkan jenazah yang tak dikenal. Jika Anda berangkat pulang hari ini, bawalah naluri yang sama ke tanah air: zikir yang semakin bertumbuh dan bukan memudar, salat yang tidak lagi Anda abaikan, serta hati yang terus mengarahkan dirinya kembali ke Baitullah ini, bahkan dari negeri yang tak pernah melihatnya.
Rangkaian ibadah telah usai, tetapi kebiasaan yang ditanamkannya tidak seharusnya berakhir di bandara. Koleksi zikir Quran Gallery menjaga zikir harian — zikir pagi dan petang, doa-doa setelah salat, dan bacaan saat menyalatkan jenazah — tetap dalam jangkauan, tepat untuk hari-hari setelah umrah, ketika kedisiplinan paling mudah hilang namun paling berharga untuk dipertahankan. Semoga Allah menerima amal ibadah yang telah diselesaikan, dan menjadikan sisa perjalanan pulang Anda sama dicintai-Nya.