Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Mengelilingi Baitullah: Tata Cara Tawaf dan Maknanya bagi Hati

Dari luar, tawaf tampak sederhana — berjalan tujuh kali mengelilingi bangunan batu berbentuk kubus. Berikut adalah tata cara pelaksanaannya, apa saja yang diucapkan, dan mengapa mengelilingi Baitullah menjadi salah satu jalan paling langsung untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Dari kejauhan, tawaf tampak seperti ibadah yang paling sederhana dalam seluruh rangkaian haji dan umrah: Anda hanya berjalan mengelilingi sebuah bangunan sebanyak tujuh kali. Namun jika diresapi lebih dalam, tawaf adalah salah satu bentuk ibadah paling khusyuk yang pernah dilakukan oleh seorang mukmin — tanpa bacaan yang kaku, tanpa duduk diam, hanya tubuh yang terus bergerak mengelilingi satu-satunya Rumah yang telah Allah pilih secara khusus untuk ibadah ini:

وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِـۧمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِـۧمَ وَإِسْمَـٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَـٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.‘”

Surah Al-Baqarah, 2:125

Allah menyebutkan “orang-orang yang tawaf” — al-ṭāʾifīn — sebelum mereka yang berdiri atau rukuk dalam shalat di sana. Tawaf bukanlah sekadar pemanasan sebelum ibadah yang sesungguhnya dimulai; tawaf itu sendiri adalah ibadah inti. Berikut ini adalah penjelasan tentang bagaimana tawaf sebenarnya dilakukan, dan apa yang dituntut dari hati Anda pada setiap bagiannya.

Tawaf adalah berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran penuh, dilakukan dengan berjalan kaki, berlawanan arah jarum jam, dengan posisi Ka’bah selalu berada di sebelah kiri Anda. Setiap putaran dimulai dan diakhiri di sudut yang terdapat Hajar Aswad (al-Ḥajar al-Aswad). Tujuh putaran penuh dihitung sebagai satu tawaf; putaran yang tidak lengkap tidak dianggap sah.

Ada pahala besar di balik ibadah ini yang mungkin jarang didengar secara langsung oleh kebanyakan jemaah. Ibnu Umar (semoga Allah meridhai beliau dan ayahnya) meriwayatkan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

“Barangsiapa yang mengelilingi Baitullah dan shalat dua rakaat, maka seolah-olah ia telah memerdekakan seorang budak.”

Hadits ini tercatat pada halaman cetak 4/181 dari kitab , di mana penyuntingnya menilai sanadnya hasan. Hal ini patut kita renungkan: membebaskan seseorang dari perbudakan adalah salah satu bentuk amal paling mahal dan berdampak besar yang diakui dalam Islam. Berjalan mengelilingi sebuah bangunan tujuh kali dan mendirikan shalat dua rakaat yang singkat ternyata disejajarkan dengan timbangan amal tersebut.

Setiap putaran dibuka dengan istilam: memberikan penghormatan ke arah Hajar Aswad di awal putaran. Bergantung pada seberapa dekat Anda bisa menghampirinya dengan aman, istilam dapat dilakukan dalam tiga cara — mencium Hajar Aswad secara langsung, menyentuhnya dengan tangan atau benda lalu mencium tangan/benda tersebut, atau sekadar mengangkat tangan ke arahnya sambil mengucapkan “Allahu akbar” tanpa menyentuhnya sama sekali. Mengingat padatnya kerumunan di sekitarnya hampir setiap saat, cara ketigalah yang paling sering dilakukan oleh jemaah, dan itu sudah sepenuhnya memenuhi sunnah. Mencium Hajar Aswad adalah sunnah; melukai atau mendorong orang lain untuk mencapainya bukanlah sunnah, dan tidak ada pahala dari Hajar Aswad yang sepadan dengan kerugian menyakiti orang lain.

Satu hal yang pasti, istilam bukanlah bentuk pemujaan terhadap benda itu sendiri. Umar bin Khattab (semoga Allah meridhainya) diriwayatkan pernah berdiri di hadapannya dan berkata:

“Aku tahu betul bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan bahaya maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Riwayat ini tercatat pada halaman cetak 2/925 dari kitab . Khalifah kedua umat Islam ini, saat berdiri di titik paling suci di bumi, menolak membiarkan penghormatan orang-orang terhadap Hajar Aswad berubah menjadi sesuatu yang melampaui hakikat batu itu sendiri. Batu tersebut tidak memiliki kekuatan untuk menolong atau membahayakan siapa pun; menyentuhnya adalah bentuk ketaatan dalam mengikuti jejak Nabi, bukan tindakan memohon kepadanya. Namun, istilam membawa sebuah kesaksian, sebagaimana sabda Nabi tentang batu yang sama: beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda mengenai Hajar Aswad, “Demi Allah, Allah akan membangkitkannya pada hari Kiamat dengan dua mata yang dengannya ia melihat dan lisan yang dengannya ia berbicara, memberikan kesaksian bagi siapa saja yang menyentuhnya dengan benar” — tercatat pada halaman cetak 2/283 dari kitab , di mana al-Tirmidzi sendiri menilainya hasan. Dengan demikian, setiap sentuhan pada Hajar Aswad akan diingat oleh sesuatu yang kelak akan berbicara.

Pada tiga putaran pertama dari tujuh putaran tawaf, jemaah laki-laki disunnahkan berjalan cepat dengan langkah-langkah pendek yang disebut ramal, lalu berjalan normal pada empat putaran sisanya. Ibnu Umar (semoga Allah meridhainya) menggambarkannya secara langsung:

“Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) melakukan ramal dari Hajar (Aswad) ke Hajar (Aswad) selama tiga putaran, dan berjalan biasa selama empat putaran.”

Riwayat ini tercatat pada halaman cetak 2/921 dari kitab . Bersamaan dengan ramal, jemaah laki-laki juga membuka bahu kanan mereka selama tawaf berlangsung — sebuah praktik yang disebut idhthiba’, dilakukan dengan menyelempangkan kain atas (ihram) di bawah lengan kanan dan menyampirkannya di atas bahu kiri. Kedua kebiasaan ini bermula dari satu momen bersejarah: ketika kaum muslimin generasi awal tiba di Makkah setelah menderita demam di Madinah, mereka berjalan dengan penuh semangat agar orang-orang musyrik yang mengira mereka lemah melihat kenyataan yang sebaliknya. Perintah ini tetap berlaku meskipun alasan awalnya sudah tidak ada — Anda kini melakukannya sebagai sunnah, bukan sebagai ajang pamer bagi siapa pun yang melihat. Jika direnungkan lebih dalam, hal ini patut menjadi refleksi diri: apa yang sedang Anda tinggalkan dengan tergesa-gesa, dan ke arah mana Anda melangkah setelah lari cepat itu usai?

Di antara Rukun Yamani — sudut tepat sebelum sudut Hajar Aswad — dan Hajar Aswad itu sendiri, Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) diketahui selalu membaca satu doa singkat pada setiap putaran:

… رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Surah Al-Baqarah, 2:201

Perhatikan apa yang tidak ada dalam doa tersebut: tidak ada daftar permintaan duniawi, tidak ada rincian keinginan yang spesifik. Doa ini memohon kebaikan di kedua alam secara utuh, serta perlindungan dari satu-satunya akhir yang akan membuat segalanya menjadi sia-sia. Banyak penceramah dan situs web menyebarkan naskah doa tawaf yang panjang untuk setiap putaran — doa yang berbeda-beda untuk masing-masing dari tujuh putaran. Sebagian besar dari doa-doa tersebut tidak bersumber dari apa yang diucapkan atau diajarkan oleh Nabi, dan artikel ini tidak akan mengulanginya. Apa yang secara sahih ditetapkan justru lebih sederhana dan, bisa dibilang, lebih menuntut kesungguhan hati: isilah putaran Anda dengan zikir, doa, atau bacaan Al-Qur’an apa pun yang tulus dari hati Anda, dan rutinkan satu doa ini di antara dua sudut tempat beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam) diriwayatkan membacanya.

Setelah putaran ketujuh selesai, ada dua hal yang menyusul. Pertama, shalat dua rakaat, idealnya di belakang Maqam Ibrahim — batu yang menandai tempat Ibrahim (‘alaihis salam) berdiri saat meninggikan dinding Ka’bah — dengan membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kedua surah ini adalah deklarasi tauhid: yang satu berlepas diri dari segala sesembahan selain Allah, yang lainnya mendefinisikan keesaan-Nya. Berdiri tepat di titik yang berkaitan dengan sosok yang membangun kembali Rumah ini untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Anda menutup tawaf dengan menegaskan kembali hal tersebut.

Kedua, minum dari sumur Zamzam yang letaknya hanya beberapa langkah dari sana. Sumur ini terus mengalir sejak Allah memancarkannya di bawah kaki putra Hajar yang masih bayi ketika ia sedang mencari air yang belum ada, sendirian, di antara dua bukit. Sejak saat itu, airnya tidak pernah berhenti mengalir.

Para ulama telah lama merenungkan mengapa Allah mensyariatkan serangkaian tindakan fisik — mengelilingi bangunan, berjalan cepat, menyentuh batu — alih-alih membatasi ibadah hanya pada shalat dan tilawah semata. Sebagian dari jawabannya adalah bahwa tawaf membuat tubuh mampu mengungkapkan apa yang tidak bisa diucapkan oleh lisan sendirian: tujuh putaran adalah cerminan kecil dan disengaja dari sebuah kehidupan yang dihabiskan untuk mengorbit pada pusat yang sama — bangun, bekerja, beristirahat, dan kembali. Setiap putaran bukanlah sekadar jarak yang ditempuh; melainkan sebuah latihan untuk terus kembali kepada Allah, berulang kali, pada jalur yang tetap dan berulang, hingga kepulangan itu sendiri menjadi sebuah kedisiplinan.

Itulah sebabnya tidak ada tulisan tentang tawaf yang benar-benar tuntas hanya dengan membacanya. Pertanyaan-pertanyaan praktis — doa, zikir, atau bagian Al-Qur’an mana yang harus dibaca pada putaran ke berapa, dan bagaimana mempertahankan ritme zikir yang sama setelah Anda pulang ke rumah dan tidak ada lagi Ka’bah di hadapan Anda — jauh lebih baik dijawab melalui praktik langsung daripada sekadar untaian kata. Koleksi Adzkar di Quran Gallery memuat doa-doa dan zikir-zikir sahih yang ditujukan tepat untuk hal ini: untuk berdiri di hadapan Allah dengan kalimat-kalimat yang terjamin kesahihannya, baik pada tujuh putaran tawaf maupun pada hari-hari biasa setelahnya.