Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Makna Talbiyah, dan Mengapa Bumi Turut Menjawabnya

Talbiyah adalah kalimat yang diulang-ulang oleh jemaah sejak mulai ihram hingga tangannya menyentuh Kakbah — lima frasa singkat yang memuat ikrar, deklarasi tauhid, dan, menurut hadis, jawaban dari bumi itu sendiri. Berikut adalah makna setiap barisnya, kapan harus diucapkan, dan mengapa harus dilantunkan dengan suara keras.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Saat seorang jemaah memasuki keadaan ihram, hal pertama yang diminta darinya bukanlah sebuah gerakan, melainkan sebuah kalimat. Sebelum berjalan, mengelilingi Kakbah, dan segala aktivitas fisik lain yang dituntut dalam umrah, ada ucapan — satu kalimat pasti, yang diulang-ulang sejak detik pertama memasuki keadaan suci hingga tangan menyentuh Kakbah untuk memulai tawaf. Kalimat ini disebut talbiyah, dan kebanyakan orang yang melantunkannya mungkin telah mengucapkannya ratusan kali tanpa pernah benar-benar memahami makna di balik kata-katanya.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa ini adalah lafaz yang diucapkan langsung oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana tercatat pada halaman cetak 2/138 dari , dalam bab yang sama yang mencatat beliau bermalam di Zulhulaifah sebelum berangkat. Setiap rumusan lain yang mungkin pernah Anda dengar — baik itu tambahan yang lebih panjang maupun variasi daerah — dibangun di atas fondasi ini. Ini adalah standar dasarnya, bukan sekadar anjuran.

Kata “Labbayk” tidak memiliki padanan satu kata yang pas dalam bahasa Indonesia, itulah sebabnya terjemahan sering kali hanya menggunakan “aku penuhi panggilan-Mu” dan mengabaikan makna tersiratnya. Akar katanya memberikan sebuah gambaran: labbah adalah tali kekang di leher hewan tunggangan yang dipegang erat dan kuat — sehingga mengucapkan “labbayk” ibarat menyerahkan tali kendali diri kita. Secara tata bahasa, kata ini juga berbentuk ganda (dual), yang dalam bahasa Arab digunakan untuk menunjukkan pengulangan dan kesinambungan, bukan sekadar jumlah dua. Anda tidak sedang menjawab satu kali saja. Anda sedang berkata: Aku menjawab panggilan-Mu, lagi dan lagi — sekarang, dan untuk selamanya.

Makna ini patut direnungkan sebelum Anda mengucapkannya untuk pertama kali. Talbiyah bukanlah sekadar slogan untuk ibadah yang akan Anda jalankan. Ia adalah sebuah ikrar yang melampaui ibadah itu sendiri — berlaku untuk tahun-tahun setelah umrah sama halnya dengan hari-hari saat melaksanakannya, untuk apa yang Anda lakukan saat sendirian sama halnya dengan apa yang Anda lakukan saat berdiri di hadapan Kakbah.

Frasa kedua mengulang kata “tiada sekutu” dua kali dalam satu tarikan napas: labbayka lā sharīka laka labbayk. Ini bukanlah sekadar hiasan kata. Inilah alasan mengapa seluruh kalimat ini ada. Anda berdiri di tempat di mana kaum musyrik dahulu pernah berdiri, dan Anda menjawab panggilan yang sama yang diserukan oleh Nabi Ibrahim (‘alaihis salam) untuk Baitullah ini. Anda melakukannya dengan menegaskan — dengan suara lantang, di tempat umum, di tempat yang memang dibangun untuk tujuan ini — apa yang enggan diucapkan oleh orang-orang sebelum Anda: bahwa hanya Allah semata yang memiliki tempat ini, dan tiada satu pun yang sejajar dengan-Nya.

Baris penutup mengarahkan pernyataan tersebut pada rasa syukur dan pengakuan atas kekuasaan-Nya: inna al-ḥamda wa’l-niʿmata laka wa’l-mulk — sesungguhnya segala puji, setiap nikmat, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu semata. Penggunaan partikel definit (alif lam) pada kata “pujian” dalam bahasa Arab memiliki peran penting di sini; ini bukan sekadar sebagian pujian, melainkan seluruh pujian, utuh dan tak terbagi. Anda menyebutkan setiap berkah yang Anda sadari dan, melalui kalimat yang sama, mengakui bahwa masih jauh lebih banyak lagi nikmat yang tidak Anda ketahui. Kemudian, tanpa jeda napas, Anda menafikan adanya sekutu untuk kedua kalinya — karena setelah memuji Sang Maharaja, meniadakan sekutu dalam kerajaan-Nya adalah bentuk pujian yang paling sempurna.

Talbiyah tidak dimaksudkan untuk digumamkan. Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي وَمَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالْإِهْلَالِ

“Jibril datang kepadaku lalu menyuruhku agar aku memerintahkan para sahabatku, dan orang-orang yang bersamaku, untuk mengeraskan suara mereka saat bertalbiyah (memasuki ihram).”

Hadis ini tercatat pada halaman cetak 3/221 dari , di mana catatan penyunting menyebut sanadnya sahih dan mencatat bahwa at-Tirmidzi sendiri menilai riwayat tersebut hasan sahih. Dalam versi yang sama, perawi menambahkan bahwa Nabi mungkin mengucapkan “talbiyah” alih-alih “panggilan memasuki ihram” — dua nama untuk tindakan yang sama, yang digunakan secara bergantian oleh mereka yang meriwayatkannya dari beliau.

Anda terus melantunkannya — di setiap jalan yang menanjak, setelah setiap salat, kapan pun Anda mendapati diri Anda terdiam — sejak saat Anda memasuki ihram hingga Anda tiba di Kakbah dan tangan Anda menyentuh Hajar Aswad untuk memulai tawaf. Di titik itulah lantunan talbiyah berhenti khusus untuk ibadah umrah; karena putaran tawaf itu sendiri memiliki zikirnya tersendiri.

Dari semua hal yang dibahas tentang talbiyah, inilah pernyataan yang akan membuat Anda tertegun saat pertama kali mendengarnya. Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa Utusan Allah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُلَبِّي إِلَّا لَبَّى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ مَدَرٍ، حَتَّى تَنْقَطِعَ الْأَرْضُ مِنْ هَاهُنَا وَهَاهُنَا

“Tidaklah seorang muslim bertalbiyah melainkan segala sesuatu yang ada di sebelah kanan atau kirinya — baik itu batu, pohon, maupun bongkahan tanah — ikut bertalbiyah bersamanya, hingga batas bumi dari arah sini dan arah sana.”

Hadis ini tercatat pada halaman cetak 2/179 dari , dalam bab yang sama di Sunan at-Tirmidzi yang dikhususkan untuk membahas keutamaan talbiyah dan kurban.

Bacalah kembali perlahan-lahan. Setiap batu yang Anda lewati di jalan menuju Tanah Haram, setiap pohon yang menaungi jalan, setiap gumpalan tanah di bawah sandal Anda, menurut riwayat ini, turut menjawab bersama Anda — dan akan berdiri sebagai saksi bagi Anda di hari ketika kesaksian adalah satu-satunya hal yang berarti. Anda tidak sedang melantunkannya ke ruang hampa. Anda sedang memimpin sebuah paduan suara yang tidak bisa Anda dengar.

Patut diingat bahwa talbiyah, secara struktural, juga merupakan sebuah permohonan agar diterima — bukan sebuah jaminan. Anda menyatakan kehadiran Anda, tetapi Anda belum diberi tahu apakah kehadiran tersebut diterima. Ketidakpastian itulah yang menjadi bagian dari bobot kalimat ini, bukan sebuah kekurangannya: Anda mengucapkan “aku penuhi panggilan-Mu” dengan sepenuh hati, lalu Anda melanjutkan sisa rangkaian umrah tanpa mengetahui apakah ucapan itu didengar sebagaimana yang Anda maksudkan. Inilah yang mengubah sebuah kalimat biasa menjadi sebuah doa.

Jadi, sebelum kaki Anda melangkah menuju tawaf, biarkan lisan Anda melakukan ini terlebih dahulu: ucapkan kelima frasa tersebut dan resapi makna masing-masingnya — ikrarnya, penafian sekutu yang diulang dua kali, serta pujian yang mengakui bahwa Anda tidak mampu menghitung nikmat yang telah Anda terima. Ucapkan dengan cukup lantang hingga butuh kesungguhan untuk mengucapkannya. Segala hal lain dalam umrah bermula dari sebuah kalimat yang bebas Anda pilih untuk diucapkan sekadar sebagai formalitas, atau sebagai ucapan paling jujur yang Anda lontarkan sepanjang tahun.

Jika Anda ingin menyimpan lafaz yang tepat agar mudah diakses — untuk di pesawat, di taksi menuju miqat, atau di pagi hari sebelum Anda berangkat — koleksi doa dan zikir di Quran Gallery Adhkar menyediakannya lengkap dengan transliterasi dan penjelasan singkat tentang kapan setiap frasa diucapkan, sehingga Anda tidak hanya mengandalkan ingatan di saat-saat yang paling menentukan.