Articles
Antara Safa dan Marwah: Pesan di Balik Pencarian Hajar untuk Kita
Sa'i antara Safa dan Marwah mengisahkan kembali pencarian air oleh seorang ibu di lembah yang sunyi. Inilah kisah Hajar, bagaimana tata cara ibadah ini dilakukan sekarang, serta pesan tentang tawakal dan ikhtiar bagi siapa saja yang melaksanakannya.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 5 menit
Dua bukit kecil kini berada di dalam Masjidil Haram, dihubungkan oleh lorong panjang beratap. Para jemaah berjalan di antara keduanya sebanyak tujuh kali—berlari kecil di bagian tengah, dan berjalan biasa di kedua ujungnya—dalam sebuah ibadah yang disebut sa’i, yang berarti “usaha” atau “perjuangan”. Setiap putarannya mengisahkan kembali satu cerita: seorang ibu, bayi laki-lakinya, dan sebuah lembah kosong tanpa air.
Ibnu Abbas meriwayatkan kisah ini sebagaimana yang diceritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibrahim ‘alaihissalam membawa Hajar dan bayi mereka, Ismail, ke Makkah dan meninggalkan keduanya di dekat sebatang pohon, di tempat yang kelak menjadi lokasi Kakbah. Mereka hanya dibekali sekantong kurma dan sekirbat air. Tidak ada siapa pun di lembah itu, dan tidak ada sumber air selain yang ditinggalkan untuk mereka.
Ketika Hajar menyadari bahwa Ibrahim hendak pergi, ia mengikutinya dan bertanya berkali-kali, “Hendak ke mana engkau pergi, meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun dan tidak ada apa-apa ini?” Ibrahim tidak menoleh untuk menjawab. Akhirnya, Hajar bertanya langsung kepadanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar pun berkata, “Jika demikian, Dia tidak akan menelantarkan kami”—lalu ia kembali kepada putranya.
Air pun habis. Hajar melihat Ismail meronta-ronta kehausan dan tidak tega melihatnya. Ia lalu mendaki bukit terdekat, Safa, dan memandang ke arah lembah, mencari-cari jika ada orang yang terlihat. Karena tidak melihat siapa pun, ia turun, berlari melintasi dasar lembah, lalu mendaki bukit Marwah untuk melihat lagi. Ia melakukan ini sebanyak tujuh kali. Tercatat pada halaman cetak 3/1227 dari — Kitab Para Nabi dalam Shahih al-Bukhari — bahwa Nabi bersabda mengenai hal ini: “Itulah sebabnya orang-orang berlari-lari kecil di antara keduanya.”
Pada lintasan ketujuh, ia mendengar sebuah suara dan mendapati malaikat sedang menggali tanah dengan tumitnya hingga air memancar darinya. Hajar mulai meraup air itu ke dalam kirbatnya dengan kedua tangannya. Nabi menambahkan, pada halaman yang sama, bahwa seandainya Hajar membiarkan mata air itu, niscaya airnya akan terus mengalir di permukaan tanah—namun karena ia mengambilnya karena kebutuhan mendesak, air itu pun menggenang dan menjadi sebuah sumur: Zamzam, yang tidak pernah berhenti mengalir sejak saat itu.
Beberapa generasi setelah pencarian Hajar, Al-Qur’an menetapkan lari-lari kecilnya sebagai ibadah bagi siapa saja yang datang ke lembah tersebut:
۞ إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”
Pencarian air yang dilakukan seorang diri di lembah sunyi itu berubah menjadi ibadah yang dilakukan oleh orang banyak, yang diulang oleh setiap jemaah yang memasuki lembah tersebut sejak saat itu—tanpa harus merasakan dahaga yang dialami Hajar, melainkan sekadar menjalankan perintah untuk menelusuri kembali jejak langkahnya.
Penjelasan panjang Jabir bin Abdillah mengenai haji Nabi mencatat dengan saksama bagaimana beliau melakukan sa’i, beserta doa yang beliau baca di setiap bukit. Saat mendekati Safa, beliau membaca ayat yang sama—“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar Allah”—lalu menambahkan, “Aku memulai dengan apa yang Allah mulai dengannya,” dan mendaki Safa terlebih dahulu. Tercatat pada halaman cetak 2/886 dari — bab tentang haji Nabi dalam Shahih Muslim — bahwa begitu beliau dapat melihat Kakbah dari atas bukit, beliau menghadap kiblat dan mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ. أَنْجَزَ وَعْدَهُ. وَنَصَرَ عَبْدَهُ. وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata. Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan sekutu sendirian.”
Halaman yang sama mencatat bahwa beliau memanjatkan doa di antara setiap pengulangan, dan mengucapkan seluruhnya sebanyak tiga kali sebelum turun menuju Marwah—berjalan dengan langkah biasa hingga ke dasar lembah, berlari kecil di sana, lalu berjalan biasa lagi saat mendaki menuju Marwah, di mana beliau mengulang bacaan dan doa yang sama. Penanda saat ini—dua lampu hijau di dalam lorong sa’i—menunjukkan dengan tepat bentangan dasar lembah tersebut. Hanya laki-laki yang disunahkan untuk mempercepat langkah di area itu; sementara perempuan tetap berjalan dengan langkah biasa di sepanjang lintasan.
Sa’i tidak diukur dari seberapa cepat ia diselesaikan. Bentuk ibadah ini berasal dari sebuah tindakan yang membutuhkan tujuh kali lintasan penuh kecemasan dari seorang ibu untuk menyelesaikannya—melakukannya dengan tergesa-gesa justru akan menghilangkan makna dari ibadah itu sendiri.
Jawaban Hajar kepada Ibrahim—“Jika demikian, Dia tidak akan menelantarkan kami”—bukanlah sebuah kepasrahan tanpa usaha. Ia mengucapkannya, namun tetap mendaki Safa, tetap melintasi lembah, dan tetap mencari di bukit kedua, hingga tujuh kali bolak-balik, sebelum air akhirnya muncul. Tawakalnya pada ketetapan Allah dan ikhtiarnya sendiri bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan; keduanya adalah satu kesatuan tindakan yang dilihat dari dua sisi berbeda. Al-Qur’an menyatakan hal ini sebagai prinsip umum, bukan hanya dalam kasus Hajar:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Sa’i mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap orang yang melaksanakannya: apakah Anda hanya menunggu pertolongan datang, ataukah Anda mendaki bukit di depan Anda sembari menunggunya? Hajar tidak tahu ada mata air di bawah kakinya. Ia tetap mencari, karena mencari adalah wujud nyata dari tawakalnya kepada Allah di lembah tersebut.
Berjalan antara Safa dan Marwah juga merupakan tindakan kecil yang diulang-ulang untuk mengikuti sebuah perintah, yang alasan utuhnya tidak diberikan kepada jemaah. Mengapa harus dua bukit ini, dengan kecepatan seperti ini, sebanyak tujuh kali, dimulai dari sini dan berakhir di sana—ibadah ini tidak menjelaskan dirinya sendiri; ia hanya meminta untuk dilaksanakan sebagaimana yang telah dicontohkan. Hal ini patut direnungkan saat Anda melaksanakannya: seberapa besar ketaatan Anda harus menunggu penjelasan sebelum bertindak, dan seberapa besar ketaatan itu bisa bergerak lebih dulu, seperti yang dilakukan Hajar ketika ia belum mendapatkan air maupun jawaban, melainkan hanya ketetapan yang ia yakini.
Patut pula diingat, di setiap bukit, bahwa apa yang tampak bagi Hajar sebagai pencarian yang mungkin gagal, ternyata menjadi mata air yang tidak pernah kering selama ribuan tahun—dan bahwa ikhtiar yang ia lakukan sendirian, tanpa disaksikan siapa pun di lembah itu, kini diulang oleh para jemaah dari seluruh penjuru bumi, di setiap waktu sepanjang tahun. Tidak ada sesuatu pun yang dipersembahkan kepada Allah dengan sungguh-sungguh akan sia-sia, bahkan ketika orang yang mempersembahkannya belum bisa melihat ke mana arah akhirnya.
Zikir yang dibaca di Safa dan Marwah adalah zikir yang bisa terus Anda amalkan jauh setelah kaki Anda meninggalkan lembah tersebut. Jadikan zikir ini—dan zikir harian Anda lainnya—sebagai rutinitas bersama kumpulan zikir Quran Gallery.