Articles
Tempat Berlindung dan Nama-Nya: Apa yang Anda Ucapkan Sebelum Bacaan Dimulai
Dua kalimat pendek memisahkan pembukaan shalat dan kata pertama dari bacaan Al-Qur'an — satu menyebutkan musuh, yang lain menyebut nama Allah. Inilah yang sebenarnya dikatakan oleh berbagai sumber tentang keduanya, termasuk redaksi yang lebih panjang yang sanadnya diberi catatan oleh para penyunting, serta dua pertanyaan tentang basmalah yang belum pernah disepakati oleh mazhab-mazhab fikih.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 11 menit
Takbir telah diucapkan. Doa iftitah telah selesai. Apa yang selanjutnya dibaca dalam shalat masih belum berupa bacaan Al-Qur’an — melainkan dua kalimat pendek yang hanya memakan waktu sekitar empat detik, dan keduanya adalah bacaan yang paling sering diucapkan tanpa bersuara dalam keseluruhan shalat.
Salah satunya menyebutkan musuh. Yang lainnya menyebut nama Allah. Keduanya bukanlah sekadar basa-basi sebelum bacaan inti dimulai, dan sumber-sumber rujukan memiliki penjelasan yang jauh lebih mendalam tentang keduanya daripada yang mungkin dibayangkan oleh seseorang yang membacanya secara otomatis — termasuk dua pertanyaan tentang kalimat kedua yang belum pernah disepakati oleh mazhab-mazhab fikih.
فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ ٱلرَّجِيمِ Maka apabila engkau membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Redaksi yang diketahui semua orang — أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, Aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk — diambil hampir kata per kata dari ayat tersebut. Ini bukanlah rumusan yang dikarang oleh seseorang untuk kesempatan ini; melainkan kosakata dari ayat itu sendiri yang dikembalikan kepada-Nya.
Di mana tepatnya posisi bacaan ini dalam shalat adalah pertanyaan nyata dengan beragam jawaban yang disandarkan pada para ulama, bukan sebuah rincian yang sudah mutlak. Ibnu Katsir mencatat bahwa Abu Hanifah dan Muhammad bin Al-Hasan berpendapat bahwa istiazhah dalam shalat adalah bagian dari bacaan, sementara Abu Yusuf berpendapat bahwa ia adalah bagian dari shalat itu sendiri — sebuah perbedaan yang memiliki konsekuensi nyata. Menurut pandangan Abu Yusuf, seseorang yang shalat di belakang imam tetap membacanya meskipun ia tidak membaca Al-Qur’an, dan dalam shalat Id, bacaan ini diucapkan setelah masuk ke dalam shalat dan sebelum takbir-takbir Id; mayoritas ulama, tambah Ibnu Katsir, menempatkannya setelah takbir-takbir tersebut dan tepat sebelum bacaan Al-Qur’an.
Halaman yang sama memberikan definisinya:
والاستعاذة هي الالتجاء إلى الله تعالى، والالتصاق بجنابه، من شر كل ذي شر Istiazhah adalah mencari tempat berlindung kepada Allah, dan merapat ke sisi-Nya, dari keburukan segala sesuatu yang membawa keburukan.
— Tafsir Ibnu Katsir, halaman cetak 1/168 dari
Ibnu Katsir membedakan dua kata yang saling berkaitan di halaman tersebut: ‘iyadh adalah untuk menolak keburukan, sedangkan liyadh adalah untuk menarik kebaikan. Kalimat yang Anda ucapkan sebelum membaca Al-Qur’an termasuk jenis yang pertama. Sifatnya defensif (bertahan), dan hal ini tersirat dari akar katanya sendiri.
Beliau juga secara lugas menjelaskan mengapa pertahanan ini harus diminta, bukan diusahakan sendiri. Istiazhah, tulisnya, adalah permohonan pertolongan kepada Allah dan pengakuan atas kekuasaan-Nya — serta kelemahan hamba di hadapan musuh yang tidak dapat ditahan oleh siapa pun kecuali oleh Zat yang menciptakannya: musuh yang tidak menerima kompromi dan tidak akan melunak meski diperlakukan dengan baik, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Kemudian, kalimat yang merangkum seluruh logika dari bacaan ini: karena setan melihat manusia dari tempat di mana manusia tidak dapat melihatnya, maka perlindungan dari setan dimohonkan kepada Zat yang melihat setan sementara setan tidak dapat melihat-Nya.
Anda tidak diminta untuk bertarung. Anda diminta untuk menyebutkan apa yang tidak dapat Anda lihat dan menyerahkannya kepada Zat yang Maha Melihat.
Bahwa bacaan Al-Qur’an secara khusus membutuhkan penjagaan bukanlah sekadar kesimpulan. Hal ini digambarkan secara jelas:
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ، أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ، حَتَّى يَخْطُِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ: اذْكُرْ كَذَا، اذْكُرْ كَذَا، لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى Apabila panggilan shalat dikumandangkan, setan berbalik dan lari sambil terkentut-kentut, agar ia tidak mendengar azan. Apabila panggilan tersebut selesai, ia kembali; apabila iqamah dikumandangkan, ia lari lagi; dan apabila iqamah selesai, ia kembali, hingga ia menyusup di antara seseorang dan dirinya sendiri, seraya berkata: ingatlah ini, ingatlah itu — hal-hal yang sebelumnya tidak dipikirkan oleh orang tersebut — hingga orang itu tidak tahu lagi sudah berapa rakaat ia shalat.
— Shahih Al-Bukhari, halaman cetak 1/125 dari
, hadis 608, diriwayatkan dari Abu Hurairah.Bagian terakhir inilah yang patut kita renungkan. Apa yang digambarkan bukanlah keraguan tentang agama atau serangan terhadap keyakinan. Melainkan ingatlah ini, ingatlah itu — urusan sehari-hari, perdebatan, pesan yang ingin Anda balas, yang tak satu pun terlintas di pikiran Anda sampai shalat dimulai. Serangan ini ditujukan pada fokus perhatian, dan waktunya disesuaikan dengan saat shalat.
Imam Muslim mencantumkan riwayat pendamping di bawah bab yang beliau beri judul بَاب التَّعَوُّذِ مِنْ شَيْطَانِ الْوَسْوَسَةِ فِي الصَّلَاةِ — memohon perlindungan dari setan yang membisikkan waswas dalam shalat:
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ أَتَى النَّبِيَّ فَقَالَ: يا رسول اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يَلْبِسُهَا عَلَيَّ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، واتفل على يسارك ثلاثا. فقال: ففعلت ذلك فأذهبه الله عني Utsman bin Abi Al-Ash datang kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan berkata: Wahai Utusan Allah, setan telah menghalangi antara aku dengan shalat dan bacaanku, serta mengacaukannya untukku. Utusan Allah bersabda: Itu adalah setan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, mohonlah perlindungan kepada Allah darinya dan meludahlah perlahan ke kirimu tiga kali. Ia berkata: Aku pun melakukannya, dan Allah menjauhkannya dariku.
— Shahih Muslim, halaman cetak 4/1728 dari
, hadis 2203.Perhatikan apa yang tidak disarankan dalam resep tersebut. Itu bukanlah nasihat untuk berkonsentrasi lebih keras, dan bukan pula sebuah teknik khusus. Itu adalah tindakan yang sama seperti yang diperintahkan oleh ayat Al-Qur’an, yang diterapkan pada saat gangguan itu terasa. Ibnu Majah memberi judul babnya sendiri mengenai topik ini dengan kalimat yang sangat sederhana, yaitu بَابُ الِاسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ — memohon perlindungan di dalam shalat.
Selain bentuk pendek yang diambil dari ayat tersebut, terdapat redaksi yang lebih panjang yang diriwayatkan, dan di sinilah tulisan seperti ini harus berhati-hati dan tidak sekadar antusias. Abu Dawud mencatat Abu Sa’id Al-Khudri yang menggambarkan shalat malam Nabi: beliau mengucapkan takbir, lalu subhanaka Allahumma, lalu tahlil tiga kali, lalu Allahu akbar kabiran tiga kali, dan kemudian:
أعوذُ بالله السميع العليم من الشَيطان الرجيم من هَمزِه ونَفْخِه ونَفثِه Aku memohon perlindungan kepada Allah, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk — dari hamz-nya, nafkh-nya, dan nafth-nya.
— Sunan Abi Dawud, halaman cetak 2/82 dari
, hadis 775.Catatan dalam edisi tersebut tidak membiarkan sanad itu tanpa kualifikasi, dan kita pun seharusnya demikian. Pada halaman yang sama, penyunting menilai bagian doa iftitah dari riwayat tersebut sebagai sahih lighairihi, sambil menyatakan dengan jelas bahwa sanad ini rentan terhadap kritik, dengan menyebutkan Ja’far bin Sulaiman Adh-Dhuba’i dan Ali bin Ali Ar-Rifa’i sebagai perawi yang riwayat tunggalnya tidak mencapai tingkat yang bisa dijadikan dalil.
Kualifikasi ini berlanjut di halaman berikutnya. Abu Dawud sendiri menambahkan catatan bahwa para perawi mengatakan riwayat ini berasal dari Ali bin Ali dari Al-Hasan, dan bahwa kesalahannya ada pada Ja’far; catatan penyunting di sana merekam komentar At-Tirmidzi bahwa sanad riwayat Abu Sa’id telah diperbincangkan, dan menyertakan jalur mursal terpisah di mana tahlil, takbir, dan istiazhah semuanya muncul sebelum takbiratul ihram, bukan setelahnya.
— Sunan Abi Dawud, halaman cetak 2/83 dari
Jalur kedua mempertahankan tiga kata yang sama dengan disertai penjelasan. Ibnu Majah mencatat putra Jubair bin Muth’im yang meriwayatkan dari ayahnya bahwa saat memasuki shalat, Nabi mengucapkan Allahu akbar kabiran tiga kali, lalu pujian, lalu tasbih, kemudian:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari setan yang terkutuk — dari hamz-nya, nafkh-nya, dan nafth-nya.
Salah satu perawi riwayat tersebut, ‘Amr bin Murrah, kemudian menjelaskan ketiga kata itu di halaman yang sama: hamz adalah al-mutah, semacam kegilaan atau cekikan; nafth adalah syair; nafkh adalah kesombongan. Mengenai penilaiannya, edisi ini sekali lagi menolak untuk menyederhanakannya: riwayat ini dinilai hasan lighairihi dengan sanad yang lemah karena ‘Ashim Al-‘Anazi tidak teridentifikasi, mencatat bahwa Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim menyatakannya sahih, serta mencatat bahwa Al-Bukhari menilainya tidak sahih.
— Sunan Ibnu Majah, hadis 807, yang dimulai pada halaman cetak 2/7 dari
dan berakhir, beserta penjelasan dan penilaiannya, pada halaman cetak 2/8 dari .Jadi, ringkasan yang jujur adalah berlapis, bukan datar: redaksi pendek bersandar langsung pada perintah Al-Qur’an, sedangkan redaksi yang lebih panjang diriwayatkan melalui sanad-sanad yang telah dinilai dan diperdebatkan secara terbuka oleh para penyunting yang kompeten. Siapa pun yang memberi tahu Anda bahwa bentuk yang lebih panjang itu mutlak sahih, atau sama sekali tidak berdasar, telah menyederhanakan halaman yang tidak mereka baca.
Kalimat kedua sama sekali tidak bersifat defensif. Setelah berlindung, Anda membuka bacaan.
Al-Qur’an sendiri menunjukkan rumusan ini digunakan sebagai pembuka — bukan dalam surah tentang shalat, melainkan di dalam sebuah kisah, sebagai baris pertama dari surat yang dibacakan dengan lantang oleh Bilqis kepada para pembesarnya:
إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya (isinya): Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dan di situlah mushaf itu sendiri dimulai:
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Bahasa Arabnya menggunakan preposisi yang memiliki fungsi nyata. Bismillāh bukanlah sekadar label yang ditempelkan di atas bacaan; huruf ba menjadikan Nama tersebut sebagai sarana yang Anda gunakan untuk memulai — pertolongan yang mengawali langkah Anda. Satu kalimat sebelumnya, Anda mengakui bahwa Anda tidak dapat menghadapi musuh sendirian. Di sinilah Anda menyatakan dengan pertolongan siapa Anda memulai.
Di sinilah sumber-sumber rujukan berhenti bersepakat, dan langkah yang jujur adalah menunjukkannya daripada memihak salah satu pandangan dan membiarkan pembaca berasumsi bahwa hanya ada satu pendapat.
Penyusunan yang dilakukan oleh Imam Muslim adalah isyarat yang paling jelas. Beliau memberikan dua bab yang berurutan untuk kedua posisi tersebut dan menyertakan hadis untuk masing-masingnya. Bab pertama diberi judul بَاب حُجَّةِ مَنْ قَالَ لَا يُجْهَرُ بِالْبَسْمَلَةِ — dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa basmalah tidak dibaca keras:
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بسم الله الرحمن الرحيم Aku shalat bersama Utusan Allah, dan bersama Abu Bakar, Umar, serta Utsman, dan aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
— Shahih Muslim, halaman cetak 1/299 dari
, hadis 399, diriwayatkan dari Anas bin Malik.Bab berikutnya diberi judul بَاب حُجَّةِ مَنْ قَالَ: الْبَسْمَلَةُ آيَةٌ مِنْ أَوَّلِ كُلِّ سُورَةٍ، سِوَى بَرَاءَةٌ — dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa basmalah adalah ayat di awal setiap surah kecuali Bara’ah:
بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا، إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا، فَقُلْنَا: مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ Suatu hari ketika Utusan Allah sedang berada di tengah-tengah kami, beliau tertidur sejenak, lalu mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya: Apa yang membuatmu tersenyum, wahai Utusan Allah? Beliau menjawab: Sebuah surah baru saja diturunkan kepadaku.
Beliau kemudian membacanya — dimulai dengan bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dan membaca surah Al-Kautsar hingga selesai, yang justru menjadi alasan mengapa riwayat ini dipahami sebagai bukti bahwa basmalah adalah bagian dari surah tersebut, bukan sekadar berada di depannya.
— Shahih Muslim, halaman cetak 1/300 dari
, hadis 400, diriwayatkan dari Anas bin Malik.Ibnu Rusyd memaparkan bagaimana hal ini memengaruhi para ahli fikih, lengkap dengan nama-nama mereka. Malik tidak membacanya sama sekali dalam shalat fardu — baik secara keras maupun pelan, baik di awal Al-Fatihah maupun surah lainnya — namun membolehkannya dalam shalat sunah. Abu Hanifah, Ats-Tsauri, dan Ahmad berpendapat bahwa basmalah dibaca pelan bersama Al-Fatihah di setiap rakaat. Asy-Syafi’i mewajibkannya, dibaca keras pada shalat yang bacaannya dikeraskan dan pelan pada shalat yang bacaannya dipelankan, serta menganggapnya sebagai salah satu ayat dari Al-Fatihah — pandangan yang juga disandarkan oleh Ibnu Rusyd kepada Ahmad, Abu Tsaur, dan Abu ‘Ubaid, dan mengenai hal ini Asy-Syafi’i sendiri diriwayatkan memiliki dua pendapat tentang apakah basmalah adalah ayat dari setiap surah atau hanya dari An-Naml dan Al-Fatihah.
— Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, halaman cetak 1/132 dari
Ibnu Rusyd kemudian menyebutkan akar dari perbedaan pendapat tersebut daripada membiarkannya sebagai perselisihan tanpa sebab: riwayat-riwayat mengenai masalah ini memang benar-benar berbeda satu sama lain, dan di balik itu terdapat pertanyaan kedua tentang apakah basmalah itu sendiri merupakan ayat dari Al-Fatihah atau bukan.
Tak satu pun dari hal ini menjadi wewenang kita untuk menghakiminya, dan akan menjadi tidak jujur jika kita berpura-pura sebaliknya dalam sebuah tulisan yang premis utamanya adalah bahwa Anda harus bisa membuka halamannya sendiri. Shalatlah sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama yang Anda ikuti. Apa yang tidak akan didukung oleh sumber-sumber rujukan adalah klaim bahwa salah satu dari praktik-praktik ini adalah satu-satunya yang pernah dipegang oleh siapa pun — Imam Muslim, yang memiliki setiap kesempatan untuk menutup pertanyaan ini, justru memilih untuk memberikan bab tersendiri bagi masing-masing pihak.
Apa yang bertahan dari perbedaan pendapat tersebut tanpa tersentuh adalah substansi dari kedua kalimat itu. Sebelum membaca Al-Qur’an, Anda mengucapkan, dengan redaksi apa pun dan dengan volume suara apa pun yang telah diajarkan kepada Anda, bahwa Anda tidak dapat menghadapi musuh yang tidak dapat Anda lihat. Kemudian Anda memulai dengan Nama Zat yang Maha Mampu.
Mengetahui kapan harus berdiri adalah bagian dari hal ini yang lebih bersifat perhitungan matematis daripada fokus perhatian — pendamping shalat kami menyediakan jadwal shalat harian dan arah kiblat di mana pun Anda berada, sehingga satu-satunya pertanyaan yang tersisa saat Anda memulai adalah apa yang Anda ucapkan.
Jika kami salah menerjemahkan sebuah baris, melebih-lebihkan penilaian hadis, atau salah membaca halaman di sini, beri tahu kami dan kami akan memperbaikinya secara terbuka — setiap kutipan di atas membuka halaman cetak asalnya agar Anda dapat memeriksanya sendiri.
Semoga Allah ﷻ memberi kita perlindungan dari apa yang tidak dapat kita lihat, dan menjadikan Nama yang kita gunakan untuk memulai sebagai Nama yang benar-benar kita seru.