Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Janji-Janji Ramadan: Apa yang Sebenarnya Diberikan Bulan Ini bagi Mereka yang Mencarinya

Ramadan biasanya digambarkan secara umum — bulan penuh berkah, kesempatan untuk memulai kembali. Namun, sumber-sumber yang ada menyebutkannya secara lebih spesifik: pintu surga yang memiliki nama, pahala yang tidak dicatat dalam buku amal biasa, hingga satu malam yang nilainya sebanding dengan seribu bulan. Berikut adalah enam janji spesifik tersebut, yang masing-masing ditelusuri langsung ke halaman tempatnya dicatat.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 8 menit

Setiap tahun, Ramadan selalu digambarkan dengan ungkapan yang itu-itu saja — bulan penuh berkah, kesempatan untuk memperbaiki diri. Ungkapan tersebut memang benar, tetapi terkesan samar, tidak seperti sumber-sumber aslinya yang sangat jelas. Jika kita melihat apa yang sebenarnya dijanjikan di sepanjang bulan ini, pernyataannya sangat spesifik: sebuah pintu di Surga yang memiliki nama dan bisa ditutup, bentuk ibadah yang pahalanya tidak diukur seperti amal kebaikan lainnya, hingga satu malam yang nilainya sebanding dengan seumur hidup. Ini bukanlah satu keutamaan yang diulang dalam empat puluh cara berbeda. Ini adalah enam janji yang berbeda, yang masing-masing telah diperiksa dan merujuk langsung pada halaman tempatnya dicatat — sehingga kalimat “Ramadan itu penuh berkah” tidak lagi sekadar slogan, melainkan menjadi enam hal nyata yang bisa Anda buktikan sendiri.

Sebagian besar bulan datang dan pergi tanpa ada yang menyadari peralihannya. Namun, Ramadan digambarkan secara berbeda — kedatangannya diperlakukan sebagai perubahan struktural dalam cara kerja alam gaib selama tiga puluh hari ke depan.

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

— Ṣaḥīḥ Muslim, edisi cetak halaman 3/121 dari , diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Para ulama tafsir memaknai hal ini dalam tiga hal sekaligus, bukan sebagai tiga klaim terpisah yang saling bertentangan tentang mana yang bermakna harfiah: pintu-pintu Surga yang terbuka sebagai gambaran betapa mudahnya ampunan diraih; pintu-pintu Neraka yang ditutup sebagai tanda berkurangnya jalan menuju dosa besar; dan setan-setan yang dibelenggu sebagai tanda berkurangnya — bukan hilangnya — bisikan mereka, yang menjelaskan mengapa seseorang masih bisa berbuat dosa di bulan Ramadan, hanya saja dengan satu alasan yang berkurang. Ketiga janji ini tidak bekerja sendiri-sendiri. Semuanya secara bersamaan menggambarkan sebuah bulan di mana hambatan untuk berbuat baik, dari segala arah, jauh lebih rendah dibandingkan pada bulan Sya’ban.

Ramadan tidak dinamai berdasarkan musim atau masa panen. Di dalam Al-Qur’an, bulan ini dinamai berdasarkan satu peristiwa besar yang terjadi di dalamnya.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ …

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).

— Sūrat al-Baqarah, 2:185

Itu bukanlah sekadar detail tambahan bagi bulan tersebut; melainkan identitas dari bulan itu sendiri. Dan pola yang ditetapkan oleh ayat ini tidak berhenti pada wahyu yang pertama kali turun. Pada setiap bulan Ramadan di sepanjang hidupnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan selalu menyetorkan hafalan Al-Qur’an beliau kepada malaikat Jibril, dan kedermawanan beliau digambarkan mencapai puncaknya tepat pada malam-malam tersebut:

كَانَ رَسُولُ اللهِ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi paling dermawan saat bulan Ramadan ketika Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk menyimak bacaan Al-Qur’an beliau.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 4/113 dari , hadis 3220, diriwayatkan dari Ibnu ʿAbbās.

Ada dua hal yang perlu dibedakan di sini. Mengulang hafalan itu sendiri — saling membacakan Al-Qur’an secara bergantian dengan orang lain — adalah praktik yang disebutkan dalam hadis tersebut, dan ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki mushaf dan rekan yang bersedia menyimak. Kedermawanan yang menyertai setiap sesi tersebut digambarkan sebagai sebuah akibat, bukan kebetulan: interaksi dengan Al-Qur’an diperlakukan sebagai sesuatu yang secara nyata mengubah perilaku seseorang di jam-jam berikutnya, bukan sekadar ibadah ritual yang bersifat pribadi.

Sebagian besar amal kebaikan pada umumnya digambarkan sebagai milik orang yang mengerjakannya. Namun, puasa diperlakukan berbeda — dipisahkan dari semua amal lainnya dan dikhususkan bagi Allah untuk membalasnya secara langsung, tanpa batasan ukuran yang ditetapkan.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ … وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا؛ إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa — puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya … dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: ketika berbuka, ia bergembira dengan bukanya; dan ketika bertemu Tuhannya, ia bergembira karena puasanya.

— Ṣaḥīḥ Muslim, edisi cetak halaman 3/157 dari , hadis 1151, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Riwayat tersebut tidak menyebutkan angka pasti berapa jumlah pahala itu — dan ini disengaja. Setiap amal lain yang disebutkan dalam hadis adalah milik orang yang mengerjakannya, dengan takaran apa pun yang telah Allah tetapkan; hanya puasa yang dikecualikan dari aturan tersebut, pahalanya dibiarkan tidak disebutkan karena ia dibayarkan langsung oleh Dzat yang takaran-Nya tidak memiliki batas maksimal. Sementara itu, apa yang didapatkan oleh orang yang berpuasa di dunia adalah sesuatu yang lebih kecil dan lebih cepat dirasakan: puasa yang dibatalkan di penghujung setiap hari, dan satu puasa terakhir yang saat berbukanya adalah pertemuan dengan Allah.

Pahala yang ditangguhkan itu pada akhirnya mengambil bentuk arsitektur yang nyata — sebuah pintu.

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Di Surga terdapat sebuah pintu yang bernama ar-Rayyān, yang melaluinya orang-orang yang berpuasa akan masuk pada Hari Kiamat, dan tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melaluinya. Jika mereka telah masuk, pintu itu akan ditutup, sehingga tidak ada lagi yang bisa masuk melaluinya.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 3/25 dari , hadis 1896, diriwayatkan dari Sahl bin Saʿd.

Ar-Rayyān secara harfiah berarti “yang terairi dengan baik” — sebuah nama yang dipilih untuk mereka yang menghabiskan hari-harinya dalam keadaan haus. Apa yang digambarkan oleh hadis ini bukanlah pintu masuk umum yang dibuka lebih lebar bagi mereka yang berhak; melainkan sebuah pintu khusus, yang ukurannya disesuaikan hanya untuk satu kelompok, dan langsung ditutup begitu orang terakhir dari mereka telah melewatinya. Sebanyak apa pun amal kebaikan lain yang dimiliki seseorang tidak akan bisa membuatnya melewati pintu khusus tersebut. Hanya puasa yang bisa.

Berpuasa sebulan penuh tidak serta-merta digambarkan dapat mendatangkan ampunan secara otomatis. Syarat yang menyertainya selalu disebutkan setiap kali janji tersebut diulang: iman, dan iḥtisāb (harapan yang tulus akan pahala) — bukan karena kebiasaan, bukan karena tekanan sosial, dan bukan sekadar karena tuntutan kalender.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang mendirikan salat pada Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 3/26 dari , hadis 1901, diriwayatkan dari Abū Hurayrah.

Dua ibadah yang berbeda — puasa di siang hari dan salat di malam hari — disebutkan secara berdampingan dengan hasil akhir yang sama untuk masing-masing ibadah. Itulah sebabnya keduanya patut dibahas bersamaan, bukan sekadar menganggap puasa sebagai hal yang utama dan salat malam hanya sebagai ibadah sunah biasa. Malam yang disebutkan pada paruh kedua hadis tersebut tidak dibiarkan menjadi teka-teki:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ، مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, edisi cetak halaman 3/46 dari , hadis 2017, diriwayatkan dari ʿĀʾishah.

Besarnya nilai dari apa yang sedang dicari itu dinyatakan dengan jelas di dalam Al-Qur’an itu sendiri: satu malam pencarian tersebut digambarkan lebih baik daripada seribu bulan ibadah biasa — Sūrat al-Qadr, 97:3. Sepuluh malam tertentu, dari sekitar tiga ratus lima puluh empat malam dalam satu tahun hijriah, ditunjuk sebagai waktu yang paling memungkinkan untuk menemukan sesuatu yang nilainya lebih berharga daripada hidup selama delapan puluh tiga tahun tanpanya.

Setiap janji di atas datang dengan tenggat waktu yang tersirat: bulan ini akan berakhir. Apa yang dikatakan oleh sumber-sumber syariat tentang orang yang mencapai tenggat waktu tersebut tanpa meraih satu pun dari janji-janji itu sama sekali tidaklah ringan.

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Celakalah seseorang yang bulan Ramadan menemuinya, lalu bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.

— Jāmiʿ al-Tirmidhī, edisi cetak halaman 5/513 dari , hadis 3545, diriwayatkan dari Abū Hurayrah dan dinilai ḥasan gharīb oleh at-Tirmidhī sendiri.

“Rughma anf” adalah sebuah idiom yang secara harfiah bermakna wajah seseorang yang tersungkur ke debu — ungkapan dalam bahasa Arab yang biasanya digunakan untuk menggambarkan kekalahan total, bukan sekadar kekecewaan ringan. Ketegasan ini adalah poin utamanya: semua yang disebutkan di atas — pintu-pintu yang terbuka, setoran hafalan Al-Qur’an, pahala tanpa batas maksimal, pintu khusus di Surga, ampunan yang menyertai iman dan usaha yang tulus, hingga satu malam yang lebih berharga dari seumur hidup — digambarkan sebagai sesuatu yang sangat mungkin terlewatkan. Bukan oleh orang kafir yang berada di luar bulan ini, melainkan oleh orang yang berpuasa, yang berada di dalamnya sepanjang waktu, namun membiarkan bulan ini berlalu tanpa meraih apa pun.


Tidak satu pun dari keenam janji ini membutuhkan hal-hal yang muluk untuk diraih — cukup dengan berpuasa di siang hari, mendirikan salat di malam hari, serta membuka mushaf dan membacanya. Kontribusi Ramadan itu sendiri bukanlah kewajiban-kewajiban baru; melainkan menyebutkan, sejak awal, seberapa besar persisnya nilai dari amal-amal biasa tersebut di bulan yang istimewa ini. Bacalah Al-Qur’an itu sendiri, teks yang menjadi alasan penamaan pintu-pintu Surga dan bulan ini, di pembaca Quran Gallery.

Jika ada hal di atas yang keliru — terjemahan yang meleset dari bahasa Arabnya, kutipan yang tidak akurat, atau klaim derajat hadis yang dinyatakan dengan keyakinan yang melebihi sumber aslinya — beri tahu kami. Koreksi tersebut jauh lebih berharga bagi kami daripada membiarkan tulisan ini tayang tanpa perbaikan.

Semoga Allah ﷻ tidak membiarkan satu pun dari kita mencapai akhir bulan ini dengan wajah yang tersungkur ke debu.