Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Bershalawat kepada Nabi: Balasan yang Akan Anda Dapatkan

Sebuah daftar populer mengklaim ada empat puluh manfaat bershalawat kepada Nabi, namun daftar tersebut beredar tanpa sanad yang jelas. Berikut adalah manfaat yang benar-benar bersumber dari hadis yang sahih — serta penjelasan jujur mengenai apa yang tidak memiliki dasar.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Shalawat — memohon kepada Allah agar melimpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) — bukanlah sebuah kebaikan yang dilakukan umat Islam untuk seseorang yang tidak lagi membutuhkannya. Allah sendiri yang mengawali perintah tersebut:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Sūrat al-Aḥzāb, 33:56

Allah menyebutkan bahwa Diri-Nya dan para malaikat-Nya telah melakukan hal ini sebelum Dia meminta orang-orang beriman untuk ikut serta. Urutan ini patut kita renungkan lebih dalam: amal yang diperintahkan kepada Anda adalah amal yang Allah lakukan terlebih dahulu. Namun, pembahasan berikut ini bukanlah tentang teologi tersebut — melainkan pertanyaan yang lebih spesifik dan praktis. Sebuah tulisan singkat, yang konon diambil dari kitab Jalāʾ al-Afhām karya Ibn al-Qayyim, telah beredar selama bertahun-tahun di internet dengan judul “empat puluh manfaat bershalawat kepada Nabi.” Daftar tersebut tampil apa adanya tanpa penomoran dari sumber aslinya: empat puluh baris singkat, tanpa sanad, tanpa rujukan kitab, dan tanpa halaman yang disertakan pada satu pun poinnya. Padahal, kitab asli karya Ibn al-Qayyim tidaklah ditulis seperti itu — Jalāʾ al-Afhām adalah sebuah kajian panjang yang sarat dengan referensi mengenai topik ini — dan daftar populer tersebut lebih tepat dianggap sebagai ringkasan yang dibuat belakangan, bukan teks asli yang bisa Anda buka dan periksa langsung. Artikel ini melakukan penelusuran yang dilewatkan oleh ringkasan tersebut: melacak sebagian kecil dari klaim manfaat ini ke hadis yang benar-benar dapat Anda temukan, menyebutkan nama kitab koleksinya beserta derajat keabsahannya masing-masing, dan menjelaskan secara terbuka bagian mana dari daftar populer tersebut yang tidak dapat diverifikasi melalui penelusuran ini.

Balasan yang paling langsung disebutkan tanpa syarat apa pun. Anas bin Malik dan Abdullah bin Amr bin al-Ash (semoga Allah meridhai keduanya) meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali lipat karenanya.”

Hadis ini dicatat sebagai hadis nomor 330 dalam kitab al-Adhkār karya Imam an-Nawawi, pada halaman cetak 114 edisi , yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr melalui Shahih Muslim. Tidak ada ambiguitas dalam redaksinya dan tidak ada perdebatan mengenai kesahihannya: setiap shalawat yang Anda panjatkan akan dibalas, setidaknya, sepuluh kali lipat — bukan sekadar kiasan, melainkan sebuah pertukaran yang dijanjikan secara pasti.

Tepat setelahnya di halaman yang sama, an-Nawawi mencatat hadis kedua, dari Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya), dengan penilaian hasan dari at-Tirmidzi:

“Orang yang paling berhak atasku pada hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

Ini adalah hadis nomor 331 di halaman cetak 114 edisi . Kedekatan dengan Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) pada hari itu tidak ditentukan oleh garis keturunan, zaman, atau seberapa terkenalnya nama seseorang — melainkan diukur dari kebiasaan yang bisa dibangun oleh siapa saja mulai hari ini.

Dua hadis berikutnya, pada halaman cetak 115 edisi , lebih menjelaskan tentang respons alih-alih sekadar pahala. Hadis pertama, dari Abu Hurairah melalui Sunan Abi Dawud dengan sanad yang dinilai sahih oleh an-Nawawi:

“Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”

Hadis kedua, diriwayatkan dengan derajat kesahihan yang sama:

“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku, sehingga aku dapat membalas salamnya.”

Jarak ditegaskan di sini sebagai sesuatu yang tidak relevan. Entah orang yang bershalawat itu berdiri di depan makam beliau di Madinah atau belum pernah bepergian ke sana, hadis ini menggambarkan penerimaan yang sama di sisi beliau — serta balasan yang bersifat personal dan individual, bukan sekadar pengakuan secara umum.

Di halaman yang sama, an-Nawawi mencatat sebuah peringatan yang dinyatakan dalam hadis tersendiri — berderajat hasan menurut at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah:

“Celakalah (semoga hidungnya berlumur debu) seseorang yang namaku disebut di hadapannya, namun ia tidak bershalawat kepadaku.”

Ini bukanlah kutukan yang diucapkan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) karena marah; ini adalah doa kehinaan yang ditujukan pada kelalaian spesifik yang sebenarnya bisa dihindari. Bershalawat ketika nama beliau disebut adalah hal yang menjauhkan seseorang dari doa tersebut, tanpa memerlukan usaha khusus di luar itu.

Halaman cetak 116 edisi memuat hadis terkait dari Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhainya), yang dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzi:

“Orang yang pelit adalah dia yang namaku disebut di hadapannya, namun ia tidak bershalawat kepadaku.”

Sifat pelit (kikir), di dalam Al-Qur’an dan hadis, hampir selalu berkaitan dengan menahan harta. Di sini, Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menggunakan kata yang sama untuk tindakan menahan sesuatu yang sama sekali tidak memakan biaya — beberapa patah kata shalawat — pada saat hal itu paling pantas untuk diucapkan.

Lebih dari sekadar amalan shalawat secara individu, ketiadaan shalawat dalam sebuah majelis membawa konsekuensinya tersendiri. Ibnu Rajab al-Hanbali mencatat redaksi dari at-Tirmidzi, yang dinilai hasan sahih, dari Abu Hurairah:

“Tidaklah sekelompok orang duduk di suatu majelis di mana mereka tidak mengingat Allah dan tidak pula bershalawat kepada Nabi mereka, melainkan hal itu akan menjadi penyesalan bagi mereka — jika Allah berkehendak, Dia akan mengazab mereka, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.”

Hal ini dicatat pada halaman cetak 1/370 edisi dalam kitab Jāmiʿ al-ʿUlūm wa-l-Ḥikam karya Ibnu Rajab, di mana beliau juga mencatat bahwa Musnad Ahmad memelihara beberapa jalur periwayatan independen dengan redaksi yang sama. Sebuah perkumpulan umat Islam — baik itu saat makan bersama, rapat, maupun percakapan panjang — pada dasarnya bukanlah ruang yang netral; beberapa kalimat zikir dan shalawat sebelum majelis berakhir adalah hal yang menjaganya agar tidak berubah menjadi kerugian alih-alih keuntungan.

Kejujuran menuntut kita untuk menyebutkan apa saja yang tidak terbukti kebenarannya dalam penelusuran ini. Klaim bahwa shalawat akan dibalas dengan dikabulkannya doa bersumber dari sebuah riwayat yang dicatat oleh an-Nawawi pada halaman cetak 117 edisi :

“Doa itu tertahan di antara langit dan bumi; tidak ada satu pun darinya yang naik sampai engkau bershalawat kepada Nabimu.”

Namun, ini sama sekali bukanlah hadis dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) — melainkan mawqūf, sebuah pernyataan yang disandarkan kepada Umar bin Khattab (semoga Allah meridhainya), dan perawinya, Abu Qurrah al-Asadi, adalah seseorang yang nama dan kredibilitasnya tidak diakui, sebagaimana ditunjukkan oleh para kritikus hadis belakangan yang meneliti riwayat ini secara spesifik. Riwayat ini boleh saja disampaikan asalkan disertai dengan catatan tersebut, bukan tanpa penjelasan sama sekali. Beberapa poin lain dalam daftar populer itu — bahwa shalawat secara spesifik menolak kemiskinan, bahwa shalawat menjamin syafaat Nabi pada waktu yang telah ditentukan, bahwa sebuah nama “diperlihatkan” kepada beliau melalui mekanisme tertentu yang bisa digambarkan — tidak dapat dilacak ke hadis mana pun dalam penelusuran ini yang halamannya bisa dibuka oleh pembaca. Ringkas dan dilabeli dengan jujur adalah standar yang dipegang oleh artikel ini; mengulang daftar empat puluh manfaat tanpa sumber yang jelas tidak akan memenuhi standar tersebut.

Apa yang telah terbukti sahih, tanpa perlu ditambah-tambahi, sebenarnya sudah lebih dari cukup: balasan sepuluh kali lipat yang dijanjikan langsung oleh Allah, kedekatan dengan Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) pada hari di mana kedekatan itu menjadi hal yang paling penting, balasan salam secara personal melintasi jarak mana pun, serta perlindungan agar tidak digolongkan sebagai orang yang kikir atau hina. Redaksi yang benar untuk mengucapkannya, beserta seluruh koleksi zikir sahih dari Quran Gallery, dapat ditemukan di aplikasi Adhkar — sebuah tempat untuk mempraktikkan ibadah spesifik ini dengan teks-teks yang sudah dipastikan kesahihannya, bukan sekadar daftar yang hanya terdengar seolah-olah sahih.