Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Menghadapi Sang Pembisik: Cara Melawan Gangguan Setan dalam Salat

Teringat barang yang hilang di tengah salat bukanlah sebuah kebetulan — Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutnya sebagai ulah setan dan mewariskan penawar khusus untuk mengatasinya. Inilah yang sebenarnya disampaikan dalam hadis, beserta lima langkah praktis untuk menerapkannya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Anda mulai bertakbir, dan dalam hitungan detik, muncul pikiran yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan salat: barang yang Anda kira hilang, pesan yang lupa dikirim, atau obrolan tiga hari yang lalu. Kelihatannya seperti kebetulan. Padahal tidak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan dengan gamblang fenomena ini dan, yang lebih penting, mengajarkan para Sahabat cara mengatasinya. Artikel ini akan mengupas sabda beliau, merujuk langsung pada lembaran kitab-kitab hadis yang memuatnya.

Gambaran paling jelas mengenai serangan ini berkaitan erat dengan seruan azan itu sendiri. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila azan dikumandangkan, setan berpaling dan lari sambil terkentut-kentut agar tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai, ia datang kembali. Apabila ikamah dikumandangkan, ia lari lagi, dan apabila ikamah selesai, ia datang kembali untuk menyusup di antara seseorang dan hatinya, seraya membisikkan: ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’ — hal-hal yang sebelumnya tidak ia ingat — sampai orang tersebut tidak tahu lagi sudah berapa rakaat ia salat.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 1/220 dari .

Ada dua detail penting dalam riwayat tersebut yang lebih bermakna daripada sekadar gambaran aneh tentang musuh yang lari terbirit-birit. Pertama, waktunya bukanlah sebuah kebetulan — setan kembali tepat saat ikamah selesai. Artinya, detik-detik awal salat Anda adalah momen di mana gangguan terasa paling berat, bukan sekadar titik lemah acak di pertengahan salat. Kedua, tujuan yang disebutkan dalam hadis tersebut bukanlah untuk membuat Anda berdosa. Tujuannya lebih sempit dan lebih mudah dicapai olehnya: membuat Anda lupa jumlah rakaat. Salat yang dikerjakan dengan hati yang melayang-layang tetaplah sah, tetapi salat itu diam-diam telah dikosongkan dari esensi utamanya.

Hadis kedua memberikan gambaran matematis tentang pengosongan makna tersebut, dan ini jauh lebih menyadarkan daripada sekadar teguran “Anda kurang fokus.” ‘Ammar bin Yasir meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Seseorang mungkin selesai dari salatnya, namun yang dicatat baginya hanyalah sepersepuluhnya, atau sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya saja.”

— Sunan Abī Dāwūd, halaman cetak 2/97 dari .

Coba resapi baik-baik: orang dalam hadis tersebut menyelesaikan setiap rakaat, mengucapkan setiap bacaan, namun hanya mendapatkan sebagian kecil pahala. Apa yang dicatat berbanding lurus dengan apa yang dihadirkan — rukuk dan berdirinya mungkin secara fisik sudah benar, tetapi kehadiran hatilah yang menjadi penentu seberapa besar salat tersebut benar-benar bernilai. Itulah harga mahal yang harus dibayar jika kita membiarkan bisikan setan merajalela tanpa perlawanan. Ini pula alasannya mengapa perjuangan melawan bisikan ini layak dilakukan setiap saat, bukan hanya ketika Anda kebetulan merasa sedang tidak fokus.

Salah seorang Sahabat tidak begitu saja menerima gangguan ini sebagai hal yang lumrah. ‘Utsman bin Abi al-‘Ash datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadu, “Wahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dengan salat dan bacaanku, ia mengacaukannya.” Nabi pun menjawab:

“Itu adalah setan yang bernama Khinzab. Jika engkau merasakan kehadirannya, mintalah perlindungan kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke kiri tiga kali.” Ia berkata, “Aku pun melakukannya, dan Allah menjauhkannya dariku.”

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 4/1728 dari .

Ada tiga hal menonjol yang membuat hadis ini lebih dari sekadar informasi menarik. Nabi tidak mengatakan kepada ‘Utsman bahwa salatnya baik-baik saja, beliau juga tidak mengatakan bahwa gangguan itu mustahil dikalahkan. Beliau menyebutkan nama sang pembisik, yang mengubah sesuatu yang abstrak menjadi musuh yang spesifik. Beliau juga memberikan tindakan konkret yang bisa diulang untuk melawannya — ucapan yang disertai gerakan fisik, bukan sekadar instruksi mengambang untuk “lebih khusyuk lagi.” Laporan ‘Utsman diakhiri dengan hilangnya bisikan tersebut, bukan sekadar berkurang. Para ulama sejak lama menyandingkan nama Khinzab dengan sebutan Al-Qur’an untuk musuh ini, yaitu al-Khannās — “yang bersembunyi” — dalam Sūrat an-Nās, surah terakhir dalam mushaf yang secara khusus diturunkan untuk memohon perlindungan dari bisikan semacam ini.

Instruksi untuk memohon perlindungan bukanlah petuah usang yang dikarang-karang — ini adalah perintah langsung dari Al-Qur’an, yang disampaikan dengan istilah yang sama seperti dalam hadis:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَـٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka dibayang-bayangi godaan dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).

Sūrat al-Aʿrāf, 7:200–201

Perhatikan urutan pada ayat kedua. Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa orang yang bertakwa tidak pernah merasakan godaan — ayat itu mengatakan bahwa mereka ingat, dan kejernihan pikiran akan datang setelah mereka ingat. Datangnya bisikan bukanlah sebuah kegagalan. Namun, membiarkan diri terhanyut di dalamnya dan mengikuti pikiran demi pikiran, itulah kegagalan yang sebenarnya.

Jika digabungkan, hadis dan ayat tersebut memberikan rangkaian langkah singkat yang bisa diulang, bukan sekadar satu trik semata:

  1. Ucapkan “aʿūdhu billāhi min asy-syaiṭāni r-rajīm” saat Anda menyadari adanya gangguan, lalu meludahlah ringan ke kiri tiga kali, seperti yang diperintahkan kepada ‘Utsman — lakukan dengan pelan jika Anda salat sendirian, dan abaikan gerakan meludah jika sedang salat berjemaah agar tidak mengganggu saf.
  2. Tolak untuk mengikuti alur pikirannya. Bisikan itu memancing pikiran kedua dan ketiga; jangan beri celah. Kembalikan fokus Anda pada bacaan salat daripada berdebat dengan gangguan tersebut.
  3. Tahan kuapan saat salat, yang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikaitkan dengan musuh yang sama: “Jika salah seorang dari kalian menguap dalam salat, hendaklah ia menahannya semampu mungkin, karena setan akan masuk” — Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 4/2293 dari .
  4. Hayati maknanya, bukan sekadar membaca. Paksakan diri Anda, kata demi kata, untuk menyadari apa yang sebenarnya sedang Anda ucapkan — bisikan setan tumbuh subur saat Anda salat tanpa kesadaran penuh.
  5. Sadarilah bahwa perlawanan di awal mungkin terasa berat, dan jangan anggap itu sebagai kekalahan. Pada awalnya, gangguan sering kali mendominasi sebagian besar porsi salat; tujuannya adalah untuk terus melawannya, rakaat demi rakaat, sampai kekhusyukan — bukan gangguan — yang mengisi sebagian besar salat Anda.

Semua ini bukanlah solusi instan yang sekali jadi. Ini lebih menyerupai kebiasaan yang harus Anda bangun kembali pada setiap takbir, selama Anda masih mendirikan salat.

Membaca hadis adalah bagian yang mudah. Bagian yang lebih sulit adalah menyadari datangnya bisikan saat Anda berdiri untuk salat berikutnya dan benar-benar menjalankan rangkaian langkah tersebut — memohon perlindungan, menolak untuk mengikuti alur pikiran, dan kembali menghayati makna — sebelum rakaat berakhir. Jadwal salat dan fitur pendamping kami dirancang untuk momen tersebut: hitung mundur yang jelas menuju waktu salat berikutnya, serta pengingat agar Anda hadir seutuhnya dan tidak terburu-buru. Lawanlah Khinzab di setiap salat, dan mintalah kepada Allah agar menjadikan salat Anda sebagai bagian dari hari yang paling tidak bisa disentuh olehnya.